Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Keajaiban Dari Sebuah Nama


__ADS_3

"Diminum dulu ya, Pak. Sehabis itu, Bapak bisa kembali istirahat." Ujar seorang perawat wanita dengan seragam hijau muda. Sebuah gelas dan toples kecil berisi kapsul vitamin masih dalam genggamannya. Sedangkan perawat wanita satunya lagi hanya diam memantau, sesekali akan mencatat hal yang perlu dia catat di atas kertas yang dia bawa.


Lelaki tua yang masih terlihat tampan itu menurut, melakukan apa yang perawat itu minta tanpa bicara ataupun tingkah penolakan. Namun bukannya terlihat baik, respon seperti itu justru meyakinkan semua orang kalau kondisinya memang memperihatinkan.


Gara yang sejak tadi duduk tak jauh di sana hanya diam memperhatikan. Kegiatannya saat mengunjungi sang ayah memang tak pernah jauh-jauh dari hal seperti itu. Dia akan diam, memperhatikan setiap gerakan maupun ekspresi di wajah ayahnya. Setelah itu, Gara akan mulai mengajaknya bicara. Meski lelaki tua itu tak memberinya respon apapun, namun Gara yakin kalau ayahnya mendengar semua yang dia ucapkan.


"Kami sudah selesai Tuan, mari." Kedua perawat itu pamit setelah menyelesaikan tugasnya.


Seperti kebiasaannya saat berhadapan dengan orang asing, Gara tak pernah memberikan ucapan tak perlu. Gara hanya sedikit mengangguk saat kedua wanita itu pergi dari hadapannya.


"Papa."


Senyum tulusnya terbit saat matanya bisa bertatapan secara langsung dengan netra sang ayah. Menurut dokter, ayahnya itu bisa saja perlahan sembuh jika otaknya bisa merangsang dan menyerap apa yang orang lain katakan. Untuk itu, Gara disarankan untuk selalu mengajak ayahnya bicara jika sedang berkunjung.


"Papa terlihat sehat. Aku senang melihatnya." Tatapan mata Gara tidak berubah saat berhadapan dengan sang ayah. Tetap lembut, tulus namun sedikit sendu. Menyiratkan kerinduan yang begitu dalam namun terlalu sulit untuk tersampaikan karena keadaan yang tak memungkinkan.


"Aku juga mendengar dari dokter kalau Papa makan dan minum vitamin dengan baik. Dengan begitu aku yakin kalau Papa akan segera sembuh." Entah apa yang Gara maksud dengan kata 'sembuh'. Karena nyatanya, keadaan jiwa dan pikiran ayahnya itu tak semudah itu untuk disembuhkan. Apalagi jika harus sehat seperti sedia kala. Tapi setidaknya, Gara ingin ayahnya kembali bugar dan memiliki semangat untuk hidup.


Gara mengambil satu tangan lelaki tua itu, lalu menggenggamnya dengan erat. Hatinya begitu senang saat ayahnya tak menolak sama sekali dengan apa yang tengah dia lakukan, "tangan Papa selalu hangat dan nyaman. Aku rindu tangan ini mengusap kepala dan punggungku seperti dulu." Bibir pemuda itu tersenyum miris. Namun itu tak lama, setelahnya Gara kembali tersenyum manis karena sudah berjanji untuk tidak menampilkan kesedihan di depan ayahnya.


"Pa, Papa ingat dengan Abbysca?" akhirnya Gara menemukan hal yang ingin dia bahas dengan sang ayah. Meski dia tidak yakin kalau ayahnya akan mengingat sosok Abby, namun dia tidak berniat untuk berhenti. "Sekarang, gadis kecil yang dulunya pernah Papa gendong itu tumbuh menjadi perempuan cantik dan.." Gara mengehentikan ucapannya sembari mengingat tingkah Abby akhir-akhir ini, "..dan begitu menjadi pemberani."


"Setelah kami resmi bertunangan lima tahun yang lalu, begitu banyak hal yang dia lakukan untukku. Tapi aku dengan brengseknya mengabaikan ketulusannya. Memberikan kata-kata penolakan, mendorongnya menjauh dan membuatnya terus merasakan sakit. Entah sudah berapa kali dia menangis karena aku." Gara tentu bukannya tidak sadar dengan apa yang selama ini pernah dia perbuat. Namun lagi-lagi keadaannya yang buruk lah yang membuatnya berpikir untuk menjauhi Abby.


"Dan setelah dia menyerah karena lelah yang tak berujung, aku malah menariknya kembali. Bersikap seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara kami, karena aku tidak rela saat melihat dia pergi menjauh. Aku memang tak tahu malu." Gara mengangkat pandangannya dan langsung tertegun saat sang ayah tengah menatapnya dengan dalam. Hal yang sebelumnya tak pernah lelaki tua itu lakukan. "Papa.." bisiknya penuh kerinduan.


Cukup lama keduanya hanya diam dengan mata yang saling memandang, sampai suara serak yang sudah lama tak Gara dengar keluar tanpa diminta.


"A..Abby..sca.."


Gara mengerjap beberapa kali, mencoba meyakinkan diri bahwa telinganya tidak salah mendengar. Ayahnya itu baru saja mengeluarkan suara?


"Papa..Papa bicara?" ujar Gara dengan mata yang kembali memburam karena terharu.


"Abbysca."

__ADS_1


Nama itu kembali disebut oleh sang ayah dengan intonasi yang lebih jelas, membuat Gara yakin kalau ayahnya memang sudah dapat merespon apa yang dia katakan. Namun yang lebih membuatnya terkejut adalah, kenapa dari semua hal yang dia ucapkan selama ini, hanya nama Abbysca yang disebut?


. . .


Abby keluar dari kelas terakhirnya dengan langkah yang lesu, pundaknya bahkan terasa lunglai tak bertenaga. Dia tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi saat menerima materi karena pikirannya terus melayang pada Juna dan berita dadakan yang dia dapat dari Lina.


Entah apa yang harus Abby lakukan agar semangatnya bisa kembali. Baik, Abby mengakui kalau dirinya bukanlah orang yang mudah terbawa perasaan. Namun Juna adalah kakaknya di sini. Jadi, mau tidak mau otaknya terus berputar untuk menemukan jalan keluar agar perasaannya membaik.


Netranya menatap pesan yang dia kirimkan pada Juna dan belum mendapatkan balasan sejak pagi. Kalau sudah begini, Abby mau tidak berpikiran buruk bagaimana pada kakaknya itu?


Abby menghela nafas berat sembari menggulirkan matanya pada pesan yang baru masuk. Itu Elang, lelaki itu meminta bertemu di kantin. Benar, Abby hanya bertemu Elang di kelas pertama tadi pagi. Setelahnya, mereka benar-benar berpisah.


Tanpa menunggu lama, Abby mengganti tujuan kakinya melangkah. Tadinya, dia ingin langsung pulang saja karena merasa lelah dan sedikit pusing. Namun dia juga tak bisa mengabaikan permintaan Elang.


"Abby!"


Yang dipanggil langsung menoleh ke arah sumber suara. Di sana, lelaki itu berdiri dari kursinya dan melambai padanya dengan senyuman ceria. Sepertinya suasana hati Elang sedang baik hari ini.


Dan setelah Abby sampai di depan Elang, pemuda itu langsung memberinya pelukan ringan layaknya seorang teman yang sudah lama tak berjumpa. Pagi tadi mereka memang hanya saling bertegur sapa.


"Kamu terlihat senang." Ujar Abby saat Elang melepaskan pelukan mereka.


Abby melirik makanan berkuah yang masih mengepul dan satu gelas jus jeruk di atas meja. "Ini untukku?"


Elang mengangguk, "ya..makanlah!"


"Terimakasih, meski kamu terlihat agak aneh tapi aku cukup lapar. " Abby menggapai minuman dan menenggaknya sedikit. Setelahnya, perempuan itu makan dengan tenang. Membiarkan Elang menatapnya dengan senyuman geli yang tak mampu ditahan.


"Katakan, kamu memintaku datang bukan karena merindukanku kan?" pikiran konyol itu tiba-tiba mampir di kepala Abby.


Sontak lelaki muda itu menggeleng, "kamu memang tidak peka. Memangnya sesama teman tidak boleh mengajak bertemu?" ujar Elang dengan nada yang bersungut-sungut.


Abby yang kala itu tengah menikmati sup-nya, menatap Elang dengan mata yang menyipit. Seperti tak percaya dengan apa yang baru saja lelaki itu katakan. Perumpamaan kata teman menurut definisi Elang cukup baru di telinga Abby.


Di kehidupannya dulu, Abby tidak memiliki teman yang benar-benar teman. Mereka yang selalu ada di sisi Abby setiap hari tidak lain dan tidak bukan hanyalah sebatas rekan seperjuangan karena memiliki pekerjaan yang sama. Jadi, saat bertemu pun hanya ucapan penting dan serius yang akan mereka bicarakan.

__ADS_1


Dan sekarang, Elang mengatakan hal seperti itu. Abby jelas tidak bisa untuk tidak mengernyit heran. Dia pikir, mereka selama ini hanya saling membutuhkan dan memanfaatkan satu sama lain. Tapi ternyata Elang tidak menganggapnya seperti itu.


"Kamu sehat bukan?" malah pertanyaan itu yang keluar dari mulut Abby.


Elang mendengus kesal, setelahnya lelaki menghela nafas. Merasa cukup main-main dengan Abby. "Baiklah, aku hanya ingin mengucapkan terimakasih padamu karena sudah merawat kakekku dengan baik."


Oh. Ternyata karena hal itu.


"Apa kamu sering ke yayasan sekarang? bagaimana keadaan Kakek Danu? aku belum sempat menjenguknya lagi." Abby menyimpan sendoknya di dalam mangkuk yang hampir kosong, mengakhiri makan siangnya dengan cepat.


Elang tersenyum tipis, "Kakek baik, aku juga senang melihatnya sehat dan bahagia. Tapi aku hanya bisa mengunjunginya seminggu sekali. Ya, kamu tahu alasannya." Senyuman manis lelaki mendadak sirna, tergantikan dengan raut miris yang tak sedap untuk dilihat.


"Kamu tidak berniat untuk mengatakannya pada ibumu?"


"Aku ingin, tapi aku tidak tahu kapan waktu yang tepat. Aku juga takut kalau ibuku malah membuat semuanya tambah rumit." Elang menaikkan pandangannya, menatap Abby dengan segala keresahan hati. "Sebenarnya, kakakmu sudah memberiku saran. Dia juga menjamin kalau tidak akan ada yang bisa mengganggu kakek, sekalipun itu orangtuaku."


Netra jernih Abby membuat, "Kakakku? Juna?"


"Ya. Kami cukup sering bicara akhir-akhir ini. Dia juga sering menitipkanmu padaku." Lanjut Elang.


"Me..menitipkan aku?"


Elang mengangguk polos, "hm..tadi pagi dia juga mengirimkan pesan agar kamu tidak telat makan siang. Untuk itu, aku mengajakmu bertemu."


Oh. Juna.


. . .


TBC


Selamat pagi, salam hangat untuk kita semua. Saya kembali dengan bab terbaru. Semoga bisa menjadi penyemangat bagi teman-teman untuk menjalani hari di pagi yang cerah ini.


Terimakasih untuk dukungan dari cinta dari teman-teman. Sayang kalian banyak. ^_^


Jangan lupa vote dan dukungannya!

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta.


__ADS_2