
Abby tersenyum tipis saat melihat antusiasme anak-anak ketika mendapatkan bingkisan dan juga makanan. Mereka begitu patuh dan sopan, bahkan ucapan terimakasih tak henti-hentinya keluar dari mulut mereka. Sepertinya, ibu panti di sini mengajarkan tata krama yang baik. Abby jadi tersentuh melihatnya.
Ruangan yang cukup besar itu begitu bising karena suara anak-anak. Ada yang sedang memamerkan hadiah yang mereka dapat pada temannya, ada yang sibuk dengan berbagai jenis cemilan di depannya, ada juga yang hanya diam memperhatikan teman-temannya sembari memeluk bingkisan miliknya erat. Mungkin takut kalau ada yang akan mengambilnya.
Entah ke mana perginya Juna dan Gara. Abby tak melihat dua lelaki itu setelah acara selesai dua puluh menit yang lalu. Sedangkan Lina dan Mira sepertinya tengah di belakang, membantu para pengurus yang sedang menyiapkan daging bakar untuk semua orang.
Saat matanya sibuk menatap ke sekeliling, Abby tak sengaja melihat seorang anak perempuan yang tengah menatapnya lekat dari sudut ruangan. Tak seperti yang lainnya, anak perempuan itu tak bergabung dengan siapapun. Hanya seorang diri dengan raut wajah yang tak semestinya ada di sana. Benarkah yang dilihat Abby ini? anak itu memperlihatkan raut bosan dan malas seolah dia sedang terjebak bersama orang asing.
Cukup lama mereka saling memandang sampai anak perempuan itu memalingkan wajah ke arah lain. Sosok mungil itu perlahan bangkit dan keluar dari ruangan tersebut, melewati pintu samping yang langsung mengarah ke taman bermain sembari menenteng bingkisan miliknya dengan asal.
Abby yang melihat itu mengerutkan kening, merasa heran. Namun karena cukup penasaran, perempuan itu mengikuti si anak dari jarak yang cukup jauh. Abby melihatnya, anak perempuan itu sedang duduk di atas bangku panjang yang terbuat dari kayu. Dua kaki mungilnya yang tak bisa menyentuh tanah terlihat mengayun. Senandung lirih yang sepertinya merupakan penggalan dari lagu anak-anak terdengar di telinga Abby.
Karena tak tahu harus melakukan apa, Abby melangkah lebih dekat dan mengambil tempat di samping anak tersebut. Hal yang membuat anak perempuan itu menoleh namun dengan cepat menatap ke arah depan kembali. Seperti tidak tertarik dengan kehadiran Abby.
"Kenapa kamu sendirian?" itu adalah satu-satunya kalimat yang mampir di otak Abby saat ini. Memangnya apa lagi yang bisa dia ucapkan pada seorang anak kecil?
"Karena aku ingin." Jawab anak perempuan itu dengan singkat. Meski tidak ada cadel di sana, namun suaranya cukup lucu untuk didengar.
"Tidak bermain bersama temanmu?" tanya Abby kembali.
Anak perempuan itu sedikit mencebik, "mereka berisik, aku tidak suka." Lagi-lagi dia menjawab singkat, persis seperti orang dewasa yang tak mau diganggu di saat sedang menyendiri.
"Apa sekarang kamu juga ingin sendiri? kamu terganggu dengan kedatanganku?" Entah kenapa Abby malah memperlakukan anak perempuan itu layaknya orang seusianya sekarang
Anak perempuan itu menggeleng, membuat kunciran kuda di belakangnya bergoyang. "Tidak, sesekali aku juga ingin bicara dengan orang dewasa. Tapi mereka semua memperlakukanku sama dengan anak-anak yang lain. Aku benci itu." Jelasnya panjang lebar. Hal yang cukup membuat Abby takjub. Dia tidak menyangka kalau anak perempuan itu akan banyak bicara dan menjelaskan dengan rinci padanya. Padahal jika dilihat dari luar, anak tersebut sepertinya cukup sulit untuk didekati.
__ADS_1
"Kamu terdengar agak pemilih." Ujar Abby sembari memperhatikan wajah anak perempuan itu yang dirasa cukup tidak asing. Abby mendengus, kenapa dia sering sekali menemui wajah-wajah yang tak asing di dunia ini? padahal dia yakin sekali kalau mereka tak pernah bertemu sebelumnya.
Anak perempuan itu tidak menjawab, malah bertanya hal lain, "apa Kakak yang mengadakan acara ini?" kini, raut penasaran terlihat di wajah mungil itu.
Abby mengangguk, "ya, itu aku dan kakakku."
"Terimakasih, walau aku tak terlalu menyukai keramaian. Tapi anak-anak yang lain terlihat senang. Apalagi saat banyak makanan." Timpal si anak perempuan dengan bibir yang mengerucut kecil, "apa itu untuk memperingati sesuatu?"
"Hari ini adalah hari peringatan berpulangnya orang tua kami, jadi kami ingin melakukan hal yang sedikit bermanfaat." Jika ditilik dari perawakannya, sepertinya anak perempuan ini berusia sebelas atau dua belas tahun. Usia yang cukup untuk bisa merespon ucapan orang dewasa dengan pikiran sederhananya.
"Kenapa memilih anak-anak?"
Abby terlihat sedikit ragu untuk menjawab, "aku dengar, doa dan harapan yang dipanjatkan oleh anak-anak akan cepat terkabul. Aku hanya ingin kedua orang tuaku mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan di sana."
"Itu tujuan yang begitu mulia." Anak perempuan itu menunduk, menatap bingkisan yang dia terima setelah mengikuti acara doa bersama. "Apa di dalamnya ada makanan enak?" tanyanya dengan suara kecil.
Perlahan, tangan mungil itu membuka sampul pita kecil yang membungkus bingkisan tersebut. Matanya membulat lucu saat melihat ada yang menarik di dalamnya. "Permen, aku suka permen." Dia terlihat lebih riang daripada sebelumnya. "Di sini juga ada biskuit. Aku lebih suka itu."
"Ah, ternyata kamu menyukai makanan manis ya?" Abby merespon ringan. "Sini, biar aku yang buka!"
Anak perempuan itu tak menolak, dia langsung memberikan satu bungkus makanan berwarna cokelat terang pada Abby. "Tolong hati-hati saat membukanya, aku tidak suka biskuit bubuk."
Abby terkekeh kecil sembari membuka bungkus makanan tersebut, "kamu terdengar seperti ibuku, selalu menyuruh untuk berhati-hati." Dia langsung memberikannya kembali saat sudah berhasil membukanya, "ini, makanlah dengan tenang!" tangannya terangkat untuk mengusap surai lembut anak tersebut.
"Siapa namamu?" Abby kembali bertanya saat anak kecil itu mulai menikmati makanannya.
__ADS_1
Kepala kecil itu menggeleng, "aku tidak tahu."
Alis indah milik Abby terangkat, merasa bingung dengan jawaban itu. "Kamu tidak tahu?" bagaimana bisa ada seseorang yang lupa akan namanya sendiri?
Si anak tak langsung menjawab, biskuit di tangannya begitu sayang untuk dilewatkan. Dan Abby tak kuasa mengganggunya, jadi dia membiarkan saja.
Abby menatap ke arah depan di mana anak-anak yang lebih kecil dari manusia di sampingnya ini tengah bermain kejar-kejaran dengan seorang perempuan dewasa berseragam putih hijau. Mereka terlihat bahagia dengan senyum cerah dan raut wajah tanpa beban.
Kapan terakhir kali Abby melihat pemandangan seperti itu? saat berada di dunianya dulu pun, Abby tak pernah benar-benar dekat dengan lingkungan anak kecil yang dipenuhi dengan kesucian dan kelembutan. Hidupnya begitu keras, gelap dan sedikit mengerikan. Tapi dia tak pernah menyesalinya karena itu adalah jalan yang dia ambil.
Tanpa sadar, Abby menghela nafas lelah. Memikirkan takdir hidupnya yang rumit dan tak terduga. Siapa yang bisa menyangka kalau dirinya akan terdampar di dunia asing tanpa persiapan apapun.
"Pasti sulit untuk Kakak." Gadis kecil disampingnya tiba-tiba mengeluarkan suara. Dan Abby tidak bisa untuk tidak menoleh, meski hanya untuk sekedar memberi perhatian.
Abby tetap diam saat anak perempuan itu menunjuk kalung yang dikenakannya dengan jari telunjuk yang menyisakan remahan biskuit. "Bandul kalung itu akan memudar seiring waktu." Ujar si anak, mengatakan hal yang tak pernah Abby sangka.
"Apa?" tenggorokan Abby terasa tercekat, begitu pun dengan ekspresi di wajahnya yang perlahan memperhatikan keseriusan. Padahal bisa saja anak perempuan itu berkata dengan asal karena anak-anak memang memiliki imajinasi yang tinggi, tapi kenapa hati Abby langsung gelisah seolah ucapan itu keluar dari mulut orang dewasa?
"Semoga Kakak bisa menyelesaikan semuanya sebelum waktu yang Kakak miliki habis tak tersisa."
. . .
TBC
Selamat malam. Terimakasih untuk dukungannya, semoga sehat selalu. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^
__ADS_1
Salam,
Nasal Dinarta.