
Siang menjelang sore. Kala itu cuaca terasa sedikit panas, hal itu pula yang membuat Abby dan Juna menghabiskan waktu cukup lama di restoran dengan nuansa alami tadi.
Seperti yang Abby harapkan, museum terlihat agak lengang. Mungkin karena ini bukanlah hari libur. Sepasang saudara itu memasuki pintu utama dengan langkah ringan setelah melewati dua penjaga yang berdiri patuh di dekat pintu.
Daripada museum yang mengabadikan sejarah perjuangan nenek moyang dari sebuah negara, bangunan yang mereka pijak ini lebih terlihat seperti peninggalan bangsa Eropa. Terlihat dari bentuk bangunan yang menyerupai kubah, pilar besar dan tinggi, juga ornamen dinding yang begitu khas dengan ciri dari benua sana.
"Aku baru tahu kalau ada museum seperti ini di ibukota." Ujar Juna saat memperhatikan ke sekelilingnya.
Abby menoleh, "apa biasanya tidak seperti ini?" jujur saja, dirinya cukup senang saat masuk ke tempat ini. Melihat semua hal yang berada di dalam sini seperti mengingatkan Abby tentang 'pulang'.
Lelaki itu menggeleng pelan, "aku tidak cukup yakin, tapi beberapa museum yang aku kunjungi tidak terlihat seperti ini."
Abby memalingkan wajah dan mulai mendekati beberapa benda yang berjajar di sana. Matanya langsung tertuju pada sebuah lukisan yang menempel di dinding, tepat di depannya.
Jika dilihat sekejap, tak ada yang aneh ataupun yang janggal dari lukisan tersebut. Hanya sebuah pemandangan alam biasa, hamparan bukit yang berwarna hijau di bawah langit malam yang terlihat cerah. Ada bulan purnama yang bulatnya begitu sempurna, dengan warna kuning agak kemerahan.
Namun hal yang membuat Abby merenung adalah, sebuah pohon rindang dengan dahan yang cukup pendek ada di sana. Bayangannya terlihat begitu jelas karena pantulan sinar bulan. Perempuan itu menyipitkan mata sembari terus memperhatikan pohon tersebut.
"Kau di sini lagi?"
Seorang perempuan muda yang sejak sore hari beristirahat dengan nyaman di bawah pohon itu mendongak, lalu menemukan pemuda tampan yang tengah berdiri menjulang di depannya.
Perempuan itu mendengus sebelum kembali menunduk untuk melanjutkan pekerjaannya. "Bukankah latihan sudah selesai sejak tadi? lagipula, aku sedang tidak ada tugas saat ini." Ucapnya begitu pandai menemukan jawaban.
Pemuda yang mengenakan pakaian kesatria lengkap dengan jubahnya itu mengerutkan kening heran namun tak mengatakan apa-apa. Detik berikutnya, dia mengambil tempat kosong di samping si perempuan. Dan pada akhirnya, dua orang itu duduk berdampingan di atas rumput kering, di bawah rindangnya pohon.
Helaan nafas kasar terdengar beberapa kali dari mulutnya, membuat perempuan yang berpenampilan sama sepertinya itu tidak bisa untuk tidak menoleh.
"Ada apa denganmu?" tanya si perempuan basa-basi.
Pemuda itu tidak langsung menjawab, melainkan hanya diam untuk beberapa menit sembari menatap jauh ke depan, pada hamparan rumput yang begitu hijau. "Pasti sulit untukmu."
Rambut panjang perempuan itu berkibar oleh angin saat menatap 'ketuanya' dengan pandangan yang begitu rumit. Cukup lama dia memandang si pemuda, sampai yang dipandang menoleh pun perempuan itu tidak berniat untuk memalingkan wajah sedikitpun.
"Duke Greer menugaskan putra pertamanya ke perbatasan sebagai hukuman karena telah mencoreng nama baik keluarga, juga mengingkari janji setianya pada tunangannya sendiri. Selain itu, dia juga tidak diperbolehkan untuk pulang sebelum kericuhan dan kemiskinan di sana teratasi." Pemuda itu begitu betah saat menatap perempuan yang tengah mencoba tegar di depannya, "Duke Greer begitu menghargaimu, tapi sayang putranya sangat tak tahu diri."
Saat matanya memburam karena air mata, perempuan itu segera memalingkan wajah ke arah lain. Dengan tangan yang saling terkepal di sisi tubuh, perempuan itu mengutuk dirinya yang begitu lemah saat menghadapi persoalan murahan seperti ini. Dia cukup menyesal karena telah menggunakan 'hati' saat itu.
__ADS_1
"Dan Alice.."
Tubuh perempuan itu membeku saat mendengar nama seseorang yang sangat dia hindari akhir-akhir ini.
"Dia diturunkan dari jabatannya karena telah mencoreng nama baik kesatria. Dan tak ada satupun dari keluarga bangsawan yang menginginkannya sekarang." Lanjut si pemuda.
Dua orang itu telah mendapatkan karma karena telah mengkhianati dan menyakitinya begitu dalam. Apapun dapat dia maafkan kecuali sebuah pengkhianatan. Itu adalah hal yang tak dapat dia tolerir sedikitpun.
"Kepercayaan memang tidak akan kembali jika sudah lebih dulu dikhianati." Tutur pemuda itu setelah beberapa detik terdiam. Netranya kembali menatap si perempuan yang kini terlihat enggan untuk sekedar memandang ke arahnya.
Tangannya terangkat untuk mengusap surai lembut perempuan itu yang panjangnya sebatas pinggang, "kau adalah perempuan yang paling kuat yang pernah aku temui." Pemuda itu mendekatkan diri dan menangkup wajah cantik si perempuan yang berderai air mata, lalu mengusapkan ibu jarinya di sana. "Jangan terlalu larut dalam kesedihan! mereka tidak pantas mendapatkan air matamu."
"Abby!"
"Abby!"
Abby tersentak kala tubuhnya terguncang dan mendapati Juna yang kini tengah menatapnya khawatir. "Ka..kak."
"Hei, ada apa denganmu? kenapa menangis?" tanya Juna sembari mengusap air mata yang tidak berhenti mengalir di pipi adiknya. "Kamu sakit?"
Abby termangu di tempatnya, dengan air mata yang semakin deras. Tak lama, tangisan itu berubah menjadi isakan yang tak tertahankan. Abby tersedu sembari memegang erat ujung pakaian kakaknya.
"Tidak apa, aku di sini. Semuanya akan baik-baik saja." Ujar Juna sambil mengusap punggung dan kepala adiknya dengan lembut. Netranya tak sengaja menatap lukisan yang membuat Abby menangis saat menatapnya.
Dalam hati, Juna bertanya-tanya. Ada apa dengan lukisan itu? dia bahkan tak menemukan apapun kecuali pemandangan sederhana. Wajahnya menunduk untuk menatap Abby yang tengah menangis pilu. "Jangan membuatku khawatir!"
. . .
"Apa dia akan menyukainya?" Gara mengangkat sebuah kotak perhiasan berwarna hitam pekat, di dalamnya terdapat sebuah cincin dan gelang. Bentuknya cukup sederhana, namun sekali lihat pun orang akan tahu kalau perhiasan tersebut terbuat dari berlian murni.
Tak seperti biasanya di mana Gara akan terus menyibukkan diri dengan pekerjaan saat berada di kantornya, kali ini lelaki itu terlihat santai dan agak berleha-leha. Namun meski begitu, raut wajahnya persis seperti dia tengah mencari jalan keluar dalam masalah internal di perusahaannya.
"Atau aku memberikan itu saja?" netranya melirik kotak kecil kaca yang berisikan jam tangan wanita berwarna putih gading. "Tapi aku tak pernah melihatnya mengenakan jam tangan." Keningnya berkerut, terlihat begitu pusing. Padahal dia hanya tengah memikirkan benda apa yang bagusnya dia berikan pada Abby untuk hadiah ulang tahun perempuan itu.
Mahen yang telah berdiri sejak tiga puluh menit yang lalu di belakang Gara, nampak memejamkan mata sembari mengembuskan nafas pelan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Mahen lebih menginginkan Gara dilanda kemarahan dan memberinya tugas segunung daripada dibebastugaskan seperti ini.
Ya, demi mencari hadiah terbaik demi tunangan sang atasan yang akan berulang tahun besok hari, Gara membebaskan Mahen dari segala
__ADS_1
bentuk pekerjaan yang seharusnya lelaki itu kerjakan.
Tidak terhitung sudah berapa kali Mahen mengangkat telepon atau sekedar turun ke lantai satu demi menerima barang mahal yang datang atas nama Gara.
"Bagaimana menurutmu? apa yang lebih dia sukai di antara beberapa barang ini?" tanya Gara dengan wajah datar tak berdosa.
Mahen memaksakan senyum manisnya meski dalam hati sibuk memaki. Apanya yang beberapa? Mahen bahkan yakin kalau ada lebih dari tiga puluh barang dengan berbagai ukuran yang dihias dengan indah di ruangan ini.
"Saya rasa, Nona Abbysca akan menyukai apapun yang Anda berikan, Pak." Jawab Mahen dengan sepenuh hati. Demi Tuhan, dia merasa dua kali lebih pusing saat menghadapi tingkah Gara yang sedang menjadi budak cinta daripada saat lelaki itu menjadi iblis tukang perintah.
Gara sedikit menunduk kemudian berujar lirih, "jawabanmu seratus persen benar jika itu adalah dulu. Namun sekarang, aku bahkan harus berjuang dengan keras untuk mendapatkan kembali kepercayaannya."
Suasana cerah yang tercipta di ruangan itu tiba-tiba redup, digantikan dengan hawa mencekam yang penuh dengan kepedihan. Mahen cukup menyesal karena telah mengatakan itu.
Gara menghembuskan nafas pelan, kemudian menyandarkan tubuhnya pada kepala kursi yang tengah dia duduki. "Aku ingin sekali kembali ke masa lalu."
Masa di mana Abby yang begitu semangat saat memperjuangkannya.
Masa di mana Abby terang-terangan dalam menyatakan cintanya.
Masa di mana hanya ada binar cerah di mata Abby saat menatapnya.
Masa di mana Gara seharusnya menyambut cinta Abby lebih cepat, juga menghargai setiap usaha yang perempuan itu lakukan untuknya.
Semoga masih ada namaku di dalam hatimu, Abbysca.
. . .
TBC
Hallo, selamat siang. Kembali berjumpa setelah dua hari absen. ^_^
Terimakasih untuk teman-teman yang setia menunggu dan mendukung cerita ini. Semoga sehat selalu.
Jangan lupa vote dan komentarnya!
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta.