
Dua hari berlalu dengan cepat. Abby bahkan belum sempat menikmati hari istirahatnya dengan baik pasca pulang dari rumah sakit, tapi sudah diharuskan bersiap demi menghadiri pesta ulang tahun perusahaan Aditama. Sejak jam menunjukkan pukul empat sore, dua pelayannya mulai sibuk menjadikan Abby sebagai boneka percobaan mereka.
Abby disuruh berendam dalam bak berisikan susu dan madu yang mengeluarkan aroma manis dan juga kesegaran bunga. Dan karena luka di bahunya tidak boleh basah, mereka berhati-hati agar air tersebut tidak sampai melewati tangan bagian atas Abby. Meski sulit, ajaibnya mereka berhasil.
Perempuan itu begitu pasrah kala diminta untuk melakukan ini dan itu oleh Mira maupun Lina. Dan sekarang, sampailah dia pada tahap akhir. Duduk dengan manis di depan meja rias, di mana tubuhnya sudah dibalut dengan gaun cantik yang waktu itu Gara berikan. Meski dia sedikit risih karena tangan dan bahunya tidak tertutupi, namun itu lebih baik daripada dia mengenakan gaun berlengan panjang yang akan membuat jahitannya tergesek oleh kain.
Netra jernihnya menatap area bahu yang sudah tak terpasang oleh kain kasa lagi, dia melepasnya tadi malam. Sehingga, bahu putihnya itu hanya memperlihatkan sedikit garis memanjang yang membentang. Itu tidak akan terlihat dengan jelas jika dari kejauhan. Akan sangat merepotkan kalau dia menarik perhatian yang tidak perlu nanti hanya karena lukanya yang tak seberapa ini.
Wajahnya dirias dengan gaya yang Abby cukup sukai. Tipis dan terlihat natural. Rambut panjang sepinggangnya dibuat lebih bergelombang di area ujung, kemudian mereka mengambil bagian kecil dari masing-masing rambut Abby dari bagian depan untuk diikat satu di belakang. Kemudian memberikan sentuhan manis dengan memakaikan jepit cantik di sana.
Abby memperhatikan gambaran dirinya dari cermin. Seorang perempuan muda dengan gaun hitam tanpa lengan berbahan lembut, kulit putih pucatnya terlihat mencolok karena warga gaun yang gelap, wajahnya yang kecil dan sedikit bulat itu begitu mempesona dengan mata yang jernih saat menatap. Abby sedikit takut kalau penampilannya ini dapat menghancurkan pesta nanti. Baik, sepertinya dia mulai berlebihan.
Mira memberikan sentuhan terakhir, yaitu memakaikan anting kecil berwarna putih yang sedikit menjuntai. Itu benar-benar mempercantik penampilan Abby yang memang sudah luar biasa.
"Anda terlihat seperti peri, Nona." Mira menatap Abby dengan binaran di matanya.
Lina yang berdiri di samping lain Abby mengangguk setuju, "saya sedikit khawatir harus membiarkan Anda dilihat oleh banyak orang nanti." Terdengar seperti seorang ibu yang tidak ingin melepas anak perempuannya untuk pergi bermain.
Abby menghela nafas kecil. Bukan hanya mereka saja yang khawatir sebenarnya. Dia juga, meksi definisi khawatir mereka jelas berbeda. Tapi, tidak mungkin bukan dia membatalkannya? Abby tidak ingin membuat kecewa beberapa orang dan melanggar janjinya pada seseorang.
"Ini sudah waktunya, Nona. Tuan Juna menunggu Anda di luar."
Ucapan Mira membuat Abby perlahan bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya. Setiap langkah yang dia ambil terasa begitu berat. Abby merasa kalau malam ini akan menjadi awal dari dimulainya permainan hidup yang menyebalkan.
__ADS_1
Langkanya terhenti saat melihat Juna yang tengah berdiri di depan mobil mewah yang akan membawa mereka. Lelaki itu begitu tampan dengan setelan serba hitamnya. Juna begitu acuh dengan keadaan karena sibuk dengan tablet di tangannya. Kakaknya itu, tidak bisakah melepas pekerjannya untuk waktu seperti ini?
"Hei, Kakak yang tampan. Berhentilah bekerja! ini waktunya pesta." Menghampiri Juna dengan ekspresi wajah yang berbanding terbalik dengan apa yang diucapkannya. Abby terlihat malas.
Juna menoleh ke sumber suara dan tidak bisa tidak terkejut saat melihat penampilan Abby yang begitu berbeda dengan kesehariannya. "Wah, apa kamu Dewi langit yang tersesat di bumi?" lelaki itu serius dengan ucapannya, namun itu terdengar seperti ejekan halus untuk Abby.
"Sudahlah, Kak. Ayo pergi!" Menggaet tangan kanan Juna agar memasuki pintu mobil yang telah dibuka oleh Erik. Abby ingin malam ini segera berakhir. Dengan begitu, dia bisa kembali menyapa kasurnya.
. . .
Sesuai apa yang pernah Juna bicarakan pada Abby sebelumnya, pesta ini terlihat begitu mewah dan besar. Diadakan di aula hotel bintang lima yang masih merupakan aset kekayaan keluarga Aditama. Ribuan orang memadati area luar. Terdiri dari para tamu undangan, petugas, juga ratusan wartawan yang siap dengan kamera mereka.
Abby sedikit ngeri saat melihat karpet merah yang membentang dari tempat pemberhentian mobil menuju pintu masuk. Daripada sebuah pesta ulang tahun, ini lebih terlihat seperti pesta penyambutan keluarga kerajaan.
"Tante Melly memiliki selera yang jauh dari nalar manusia." Bisiknya pada Juna yang hanya direspon kekehan dari lelaki itu.
Kilatan cahaya dari kamera langsung menyerbu keduanya saat dua bersaudara dari keluarga Anggara itu keluar sepenuhnya dari mobil. Para wartawan sepertinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini. Calon besan dari keluarga Aditama telah hadir di depan mata dengan visual yang menyilaukan.
Mereka berjalan dengan tenang di tengah-tengah tangga bersama dua pengawal yang menuntun di depan. Suara berisik dari orang-orang hanya dianggap angin lalu oleh Abby maupun Juna. Dua wajah rupawan yang sangat mirip itu memiliki ekspresi yang hampir sama. Begitu datar dan hampir tak tersentuh. Bukannya memberikan kesan sombong dan angkuh, mereka malah terlihat anggun dan berkelas.
"Mereka menyeramkan." Ujar Abby pelan saat keduanya sudah sampai di tengah aula.
Melly dan Gara terlihat berdiri di sana, menyambut kedatangan tamu yang tak berhenti datang. Walau sama-sama berdiri bersisian, namun raut wajah keduanya memperlihatkan aura yang berbeda. Melly begitu anggun dengan senyum ramahnya, sedangkan Gara..lelaki itu luar biasa tampan meski tak ada sedikitpun senyuman di wajahnya. Sialan! pikir Abby.
__ADS_1
"Sayang! aduh, Tante rindu sekali padamu." Tubuh mungil Abby langsung diraup oleh Melly ke dalam pelukan, lalu dihadiahi oleh kecupan ringan di pipi kanan dan kirinya. Perempuan itu hanya meringis dalam hati saat luka di bahunya sedikit tersenggol.
"Nak Juna. Selamat datang. Terimakasih sudah bekerja keras dengan semua ini. Tante sangat puas." Melly beralih menatap Juna yang sejak tadi belum bersuara setelah menyimpan Abby tepat di samping Gara yang terdiam kaku.
Juna yang melihat itu sedikit mengerutkan kening tidak suka, namun tidak mengatakan apa-apa. Hanya tersenyum kecil dan menyapa Melly dengan sopan seadanya. "Selamat malam, Tante. Itu semua tidak lepas dari kerja keras Gara." Melirik temannya yang kini tengah menatapnya datar.
Sedikit kekesalan muncul di hati Juna saat melihat betapa serasinya Gara dan Abby saat disandingkan berdua seperti itu. Mereka memiliki paras di atas rata-rata. Pakaian keduanya pun entah mengapa terlihat begitu cocok. Apa Gara sengaja melakukannya untuk membuat Juna kesal? menyebalkan.
"Gara, kamu bisa menemani Abby berkeliling sebelum acara intinya dimulai." Usulan Melly lebih terdengar seperti perintah bagi tiga orang muda yang ada di sana.
"Ha?" Gara hanya berhasil mengeluarkan satu kata itu demi menyadarkan dirinya dari keterkejutan.
Sedangkan Abby, dia hanya diam sembari melihat ke sekeliling. Pura-pura tertarik dengan aula yang dipenuhi oleh manusia berisik.
Abby sungguh ingin segera pergi dari sana.
. . .
TBC
Halo, selamat pagi teman-teman. Saya kembali dengan bab baru. Semoga bisa menjadi penyemangat di pagi hari ini.
Terimakasih atas dukungan dan cinta yang teman-teman berikan untuk Abbysca. Saya sangat menghargai itu. Semoga sehat selalu. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^
__ADS_1
Salam,
Nasal Dinarta