Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Hujan yang Tak Kunjung Berakhir Menyelimuti Dua Nama yang Mulai Terukir


__ADS_3

Setelah menangis dalam pelukan Abby untuk pertama kali di dalam hidupnya, Gara langsung tak sadarkan diri. Dan pada akhirnya, lelaki itu dipindahkan ke ruang rawat yang berada di lantai yang sama.


Abby sangat terkejut saat mendengarkan penjelasan dari dokter mengenai kesehatan fisik dan mental Gara. Dari awal Abby datang dan melihat ruangan yang akan dimasukinya tadi, dia bisa sedikit menduga kalau ada yang tidak beres dengan Gara. Namun dia tidak menyangka kalau kondisi lelaki itu akan seburuk ini.


Dan sekarang, Abby terlihat seperti seorang tunangan yang baik. Duduk dengan patuh di dekat Gara yang tengah berbaring, selang infus sudah menancap di tangan lelaki itu. Sesekali, tangannya akan mengusap keringat yang muncul di atas pelipis Gara. Untuk kejadian yang tak terduga ini, Abby bahkan sedang mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri? apa yang dia lakukan sebenarnya?


Netra jernihnya meneliti wajah Gara dengan pandangan tenang. Jika lelaki itu sedang sadar, mungkin Abby tidak akan pernah mau membuang harga dirinya demi menikmati paras tampan itu. Namun karena Gara sendiri tengah terpejam, Abby tidak bisa untuk tidak menoleh ke arah sana. Lagipula, harus ke mana lagi dia menatap di saat orang yang tengah berada di pikirannya memang ada di sana.


Dilihat dari sisi manapun, Gara memang memiliki visual yang luar biasa. Sayang, mulutnya sering kali mengeluarkan kalimat berbisa, membuat Abby merasa sedikit trauma. Tadinya, Abby sudah berpikiran matang untuk mengakhiri semua kesengsaraan hidupnya dengan cara melupakan sumber kesakitannya. Namun jika dipikir kembali, tubuh ini bukan sepenuhnya milik Abby. Dia merasa harus sedikit memberi kesempatan agar 'Abbysca Anggara' ini bisa memiliki jalan hidup yang sedikit berbunga. Tidak melulu dihujani debu dan daun kering yang berterbangan.


Dan semua orang pun sepertinya setuju kalau Gara adalah orang yang akan menentukan semua hal di antara mereka berdua. Bisakah laki-laki itu mempertanggungjawabkan ucapannya tempo hari? benarkah Gara ingin berjuang dari awal?


Logika dan perasaan Abby tentu saja masih berjalan seimbang. Dia tidak ingin kembali disakiti, namun dia juga tidak ingin menjadi egois dengan hanya memikirkan kesakitannya sendiri. Dari yang dia lihat sekarang, sepertinya Gara juga memiliki sisi sakit dan gelapnya. Hal yang tak pernah Abby ketahui sebelumnya. Inikah yang Juna maksud?


Abby menunduk hanya untuk melihat ponsel dan dompet Gara yang diberikan oleh seorang perawat padanya. Tak lama, layar ponsel mahal yang tadinya gelap itu menjadi terang, diiringi dengan sebuah getaran. Nama Mahendra tertera di sana.


Haruskah Abby mengangkatnya? dia menunggu panggilan itu mati sendiri, namun setelah panggilan pertama mati pun, lelaki itu tetap menghubungi Gara. Merasa jika ada sesuatu yang penting, maka Abby mengangkatnya dengan malas.


"Selamat siang, Pak. Maaf mengganggu. Saya-"


"Ini aku Abbysca, Kak Mahen." Abby lebih dulu menyela sebelum Mahen meneruskan ucapannya. Siapa tahu lelaki itu akan mengatakan sesuatu yang hanya boleh diketahui Gara. Dan dia bukan Gara, tentu saja.


"Y-ya?"

__ADS_1


"Gara sedang istirahat. Dia pingsan setelah melakukan terapi. Jadi aku yang mengangkat teleponnya." Abby menatap ke arah dinding kaca, hujan belum juga reda sejak dia tiba di sini. "Ada yang ingin kamu sampaikan?" lanjutnya.


"Maaf Nona sebelumnya, apa ada hal serius yang terjadi pada Pak Gara tadi?"


Abby menggeleng meski tahu kalau Mahen tentu tidak bisa melihatnya, "tidak. Dokter bilang itu hal biasa yang akan terjadi pada pasien setelah melakukan terapi. Kamu tidak perlu khawatir, sepertinya besok pun dia akan bisa mengomeli kamu lagi." Ocehan Abby dibalas dengan ringisan oleh Mahen.


"Saya lega mendengarnya, Nona. Kalau begitu, saya akan berusaha meng-handle di sini selama Pak Gara istirahat. Anda bisa memberitahu saya kalau beliau sudah sadar nanti, Nona."


"Ya, tentu saja. Kamu pasti sudah sering melakukannya, jangan khawatir."


Sambungan itu terputus setelah Mahen mengucapkan terimakasih dan salam yang dibalas oleh Abby dengan kalimat yang sama.


Perempuan itu terdiam sejenak sembari menatap layar ponsel yang kembali padam, diam-diam dia merasa bersyukur dalam hati karena Gara memiliki bawahan yang loyalitas seperti Mahen. Lelaki itu sepertinya memang bisa diandalkan. Abby pun pernah mengandalkannya dulu saat meminta jadwal kegiatan Gara selama satu bulan penuh di masa lalu. Mengingat hal itu membuat Abby mendengus kesal. Abbysca Anggara benar-benar bertingkah konyol.


Abby berdiri sembari bergidik saat merasakan hawa dingin yang semakin menusuk, efek dari hujan deras yang tak kunjung reda. Dia menghampiri sebuah lemari yang disimpan di sudut ruangan untuk mencari selimut tambahan. Wajar saja fasilitas seperti itu ada karena ini adalah ruangan VIP. Meski dia sedikit merasa heran karena biasanya ruangan istimewa seperti itu akan disimpan di lantai atas, tapi dia tidak mau pusing memikirkannya.


Netranya yang kini sayu kembali menatap Gara, kemudian berujar pelan, "kamu harus segera bangun." Setelahnya, Abby memejamkan mata sembari bersandar pada punggung sofa.


. . .


Entah sudah berapa lama waktu yang Gara habiskan sejak tadi hanya untuk menatap sosok Abby yang tengah tidur di atas sofa. Saat dia sadar, hanya satu hal yang ingin dia lakukan. Yaitu memastikan kehadiran Abby di dekatnya. Meyakinkan diri bahwa pelukan hangat yang dia rasakan tadi memang benar datang dari perempuan itu.


Dan siapa sangka kalau Gara mendapatkan hal yang lebih dari itu. Abby benar-benar nyata, perempuan itu memang ada di sana, bersamanya. Bahkan tertidur karena lelah menjaga Gara yang tak kunjung bangun. Kenapa perempuan itu tidak pergi saja jika memang merasa bosan dan terbebani? kenapa harus menunggunya sampai malam hari seperti ini? bukankah itu berarti Abby memang peduli? Bolehkah Gara merasa besar kepala sekarang karena nyatanya Abby perlahan kembali membuka diri?

__ADS_1


Gara perlahan turun dari ranjang pasien setelah melepaskan selang infus yang cukup mengganggunya. Dia tidak selemah itu, kenapa para tim medis begitu berlebihan? Gara berceloteh penuh protes di dalam hati.


Dengan langkah pelan, Gara mendekati Abby. Untuk beberapa detik, lelaki itu hanya diam memperhatikan wajah damai Abby yang sedang tidur. Gara tahu kalau tidur dengan posisi seperti itu hanya akan membuat punggung dan leher sakit. Maka, dia tanpa ragu menggendong tubuh Abby dan membaringkannya di atas ranjang yang sebelumnya dia tempati. Setelah memastikan posisi yang nyaman, Gara membungkus tubuh Abby dengan dua selimut yang ada sana agar perempuan itu tidak kedinginan. Ajaibnya, Abby tidak terganggu sama sekali. Mungkin perempuan itu kelelahan.


Tangannya terulur, menjangkau wajah Abby yang sempurna tanpa cacat. Hatinya menghangat saat merasakan tekstur lembut di ujung jemarinya saat menyentuh pipi putih kemerahan milik Abby. Sentuhan coba-coba itu perlahan berubah menjadi usapan, hingga telapak tangan Gara yang besar tersebut mampu menangkup sebagian besar wajah Abby dengan mudah.


Inikah yang disebut keajaiban? ke mana perginya rasa jijik dan muak yang selalu Gara rasakan saat bersentuhan dengan orang lain? Gara bahkan masih ingat bagaimana marahnya dia saat Abby tak sengaja menyentuhnya di masa lalu? apa sebenarnya yang berubah?


Apakah ini berkat terapi yang dia jalani? atau logikanya sudah mulai didahului oleh hati?


"Apa yang kamu lakukan padaku sebenarnya, Abbysca?"


. . .


TBC


Selamat malam. Senang sekali bisa menempati janji untuk up dua kali hari ini. Semoga bisa menjadi pengantar tidur indah buat teman-teman yang selalu setia menunggu cerita Abbysca-Sagara.


Terimakasih tidak bosan saya ucapkan buat teman-teman yang selalu mendukung dan memberikan banyak cinta. Semoga sehat selalu. Love you. ^_^


Jangan lupa vote dan komentarnya!


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta.


PS; bab ini udah aku up jam 8 malam tgl 4 kemarin. Tapi pas aku tinggal tidur, lupa matiin data seluler, jadinya gak lulus review. Untungnya kebangun jam satu malem, jadi bisa up ulang. Maaf teman-teman. -_-


__ADS_2