
"Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja."
Juna yang saat itu hampir terjatuh karena dorongan seseorang dari belakang tubuhnya- hanya mengangguk kecil dan berjongkok untuk mengambil barangnya yang tergeletak di lantai marmer.
Setelah keduanya membereskan barang mereka masing-masing, Juna sedikit melirik ke arah perempuan muda yang baru saja menabraknya.
"Sekali lagi saya minta maaf, Tuan." Perempuan berambut sebahu itu lagi-lagi meminta maaf. Kali ini bahkan disertai membungkuk ke arah Juna. Mungkin merasa tidak enak karena lelaki di depannya tak menimpali ucapannya.
Dan akhirnya, Juna menghela nafas, "saya tidak apa-apa, Nona. Lain kali hati-hati!"
Merasa urusannya sudah selesai, Juna kembali melanjutkan langkah dengan ponsel yang menempel di telinga. Nada dering yang terdengar cukup lama membuat Juna mengernyit heran.
"Ya, Kak?"
Suara rendah dan tenang milik Abby menyapa indra pendengarannya. Membuat Juna tersenyum tanpa sadar, senang karena adiknya sudah bisa berbicara dengannya.
"Syukurlah, aku senang mendengar suaramu. Apa kamu bangun tak lama setelah aku pergi?" Juna tetap berjalan di atas lantai bandara yang begitu luas. Tangan kanannya menjinjing sebuah tas mahal yang berisikan pakaian dinasnya. Sedangkan di tangan kirinya yang tengah memegang ponsel itu, terdapat dua paper bag berukuran kecil yang dia simpan di antara lekukan sikut.
"Maaf membuat Kakak khawatir, aku sudah sehat. Dan ya, Gara bilang aku bangun tak lama setelah Kakak pergi. Apa di sana baik-baik saja?"
Netranya yang mirip dengan Abby itu menatap awas ke sekeliling, menyadari kalau bandara hari ini terasa cukup penuh oleh orang-orang. "Baguslah, sepertinya dia mengerjakan tugas dengan baik. Tidak ada masalah besar di sini, kami sudah menyelesaikannya."
Dua hari tiga malam adalah waktu yang dia habiskan untuk menyelesaikan pekerjaannya di Kota Surabaya. Dan siang ini, dia sudah siap untuk kembali ke rumah.
"Kakak pergi bersama Kak Damar?"
Juna memilih duduk di salah-satu kursi yang berjejer rapi menghadap dinding kaca, memperlihatkan secara langsung pada lapangan luas di mana pesawat-pesawat besar berada. Dia menunggu Damar yang tengah melakukan sedikit urusan di belakang sana. "Hm, aku bersamanya. Dan kami akan pulang sekarang."
"Benarkah? itu bagus, semoga perjalanan kalian menyenangkan. Dan akan lebih bagus kalau Kakak membawa calon ipar untukku dari sana." Ujar Abby sedikit bercanda. Terdengar kekehan renyah yang begitu menyenangkan di telinga Juna. Tak ayal hal itu membuatnya tersenyum tipis sembari memikirkan apa yang baru saja adikya katakan.
"Ya, kita lihat saja nanti. Siapa tahu keinginanmu terkabul." Jawab Juna tanpa banyak berpikir, dia menimpali Abby dengan ringan.
__ADS_1
Juna mengakhiri panggilannya saat melihat Damar yang tengah berjalan ke arahnya. Di tangan kanan dan kiri lelaki itu terdapat beberapa tas belanjaan dari merek ternama.
"Saya sudah selesai, Pak."
Juna berdiri, "baiklah, ayo kita pulang!"
. . .
Di bawah bimbingan Lina dan Mira, Abby menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan di tengah taman. Karena kondisinya belum begitu pulih, dia izin tidak masuk kelas hari ini. Elang yang mendengar kabar itu memaksa ingin menjenguk sore nanti. Dan Abby yang tak kuasa menolak hanya memberikan alamat rumahnya pada lelaki itu.
"Anda bisa duduk dengan nyaman di sini, Nona. Matahari tidak terlalu terik jika berada di gazebo." Ujar Lina yang membantu Abby duduk. Sedangkan Mira tengah menyiapkan makan siang Abby di atas meja bundar yang berada di sana. "Makan siang di sini pasti terasa menyenangkan." Sambung Mira.
Abby yang melihat kelakuan dua pelayannya yang begitu sibuk mengurus dirinya hanya bisa mendengus dalam hati, merasa tingkah keduanya cukup berlebihan.
"Kalian memperlakukanku seperti orang yang lumpuh, padahal aku baik-baik saja." Komentar Abby dengan pandangan yang mengarah ke arah depan, menatap sekelompok bunga mawar yang tengah mekar. Itu terlihat menakjubkan karena tiga warna menyatu tanpa sekat.
"Maaf, Nona. Kami hanya khawatir." Timpal Mira.
Tak sanggup mendengarkan pembelaan mereka yang cukup masuk akal, Abby menyerah. "Baiklah, aku mengerti. Sekarang, bisakah aku minta tolong?"
"Apa yang bisa kami lakukan Nona?" Mira mendekat ke arah Abby.
"Bisa tolong panggilkan Paman Hari ke sini? aku ada sedikit keperluan dengannya." Tangan kanannya terangkat, hanya untuk menggenggam sebuah kalung yang baru dia kenakan pagi tadi. Banda berkilau itu melingkar dengan indah di leher putih nan jengjangnya meski itu tersembunyi di balik pakaian yang dia kenakan.
Meski merasa bingung, Mira tidak protes. "Baik, Nona. Saya akan segera kembali."
"Kalau begitu m saya akan kembali ke belakang untuk membuatkan Anda jus segar, Nona." Tanpa menunggu jawaban dari Abby, Lina mengundurkan diri. Menyusul rekannya untuk meninggalkan Abby sendiri.
Abby yang melihat itu tidak mengatakan apa-apa. Pandangannya tetap mengarah ke depan dengan pikiran yang melalang buana. Kehadiran Abbysca Anggara dalam mimpinya begitu nyata, dan memikirkan itu semua membuat Abby sakit kepala. Berakhir dengan tak sadarkan diri dan membuat semua orang tak berdaya. Apa efek pertemuan mereka memang separah itu? lalu bagiamana jika ada pertemuan yang ke dua, ke tiga dan seterusnya? apa Abby akan mendapatkan akibat yang lebih parah dari ini?
Suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya membuat Abby menoleh, bibirnya tersenyum ringan saat melihat kedatangan Hari. Lelaki setengah baya itu terlihat tenang seperti biasa. Dengan balutan jas hitam yang rapi, Hari mendekati Abby dan menunduk sopan setelah tiba di depannya.
__ADS_1
"Nona."
Abby mempersilahkan Hari untuk duduk di kursi yang kosong, "Paman Hari bisa duduk. Karena sepertinya pembicaraan ini akan cukup panjang."
Sedikit raut segan terpatri di wajah berkeriput itu, namun demi sopan santun terhadap majikannya, Hari duduk tanpa membantah.
"Apa ada yang bisa saya lakukan untuk Anda, Nona?" Hari merasa aneh karena tak biasanya Abby memintanya untuk datang demi bicara empat mata. Hatinya sudah menebak-nebak akan ke arah mana pembicaraan Abby nanti. Namun dia tidak mengatakan apa-apa, hanya bertanya sewajarnya saja.
Abby terlihat ragu untuk sejenak, namun tangannya mengeluarkan kalung dari dalam kerahnya dan menunjukannya pada Hari. "Paman Hari, apa ada sesuatu dari kalung ini yang harus aku ketahui?"
Netra cokelat yang sudah tak terlalu tajam itu agak membulat, mengeluarkan sinar terkejut yang tak dapat disembunyikan dengan baik. Abby semakin yakin kalau ucapan Abbysca dalam mimpinya memang nyata. Hari memang mengetahui sesuatu yang besar- yang harusnya dia ketahui.
"Ba-bagaimana Anda..?" Hari begitu linglung untuk sejenak, raut tak percaya yang bercampur dengan kesedihan terpancar di sana.
Abby menghela nafas kasar, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu Hari mengenai hal yang dia sembunyikan sejak dia terbangun di tubuh ini.
"Aku bukan majikanmu yang sebenarnya. Aku tidak tahu bagiamana bisa terbangun di tubuh ini , tapi yang pasti aku bukan Abbysca Anggara yang kamu ketahui. Aku-"
Suara deritan kursi yang ditarik tiba-tiba membuat Abby menghentikan ucapan dan menatap ke arah Hari dengan pandangan bingung. Lelaki itu berdiri dengan tubuh tegap dan menunduk sopan ke arah Abby. Satu tangannya dia simpan di depan dada, lalu membungkuk ke arah Abby dengan penuh penghormatan.
"Salam hormat saya untuk leluhur dari bangsawan Lienol, Nona Abbysca Lionel."
. . .
TBC
Selamat siang teman-teman. Saya kembali dengan bab terbaru. Semoga masih pada setia nunggu, maaf karena kemarin tidak sempat up. Terimakasih untuk dukungan dan cintanya. Semoga sehat selalu. ^_^
Jangan lupa vote dan komentarnya!
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta.