
"Aku dengar, Kakak sudah punya kekasih? benarkah?"
Juna yang kala itu tengah menenggak minumannya hampir tersedak. Matanya melotot menatap Abby yang juga tengah menatapnya, sinar penasaran dapat Juna lihat di sana.
Lelaki itu berdehem sejenak, sebelum kembali bersikap tenang. "Siapa yang mengatakan itu padamu?"
"Kak Erik?" jawab Abby dengan nada yang bukan seperti jawaban, melainkan sebuah pertanyaan.
Juna mengibaskan tangannya sembari menyuap makanannya yang sempat tertunda, "jangan pedulikan ucapannya! aku belum kepikiran ke arah sana."
Abby malah lebih tidak peduli dengan ucapan Juna saat ini. Entah kenapa, ucapan Erik terdengar lebih menyakinkan daripada pembelaan dari kakaknya ini. "Bukankah ada seorang perempuan yang akhir-akhir ini dekat dengan Kakak?" lanjutnya mengintrogasi.
Lelaki yang mengenakan pakaian santai itu mengernyit heran, "bukankah itu kamu?" rautnya dibuat sealami mungkin. Abby bahkan hampir saja percaya kalau tidak mengingat apa yang diucapkan Erik padanya waktu itu .
Abby menggeleng, "bukan, tapi perempuan yang belakangan ini menjadi sekretaris dua kakak. Emm..siapa namanya? Adila atau Anita?" dia tidak terlalu memperhatikan saat Erik mengucapkan nama perempuan itu karena Abby masih terkejut dengan kabar yang didapatkannya.
"Andita" Jawab Juna singkat tanpa sadar. Namun detik berikutnya, lelaki itu mengerjap kaget dengan ucapannya sendiri. Perlahan, Juna mengangkat pandangan dan langsung bertemu dengan wajah Abby yang penuh dengan seringai kemenangan.
"Nah, Kakak ketahuan." Masih dengan senyuman miring di bibirnya, Abby menyimpan alat makan dan menenggak minumannya. Setelah itu, dia bersandar pada kursi dan menatap Juna yang nampak tak tenang meski lelaki itu berusaha untuk menutupinya.
"Selamat kalau begitu." Ucap Abby pada akhirnya.
"Ha?" Juna pikir Abby akan marah, kesal, atau setidaknya mengejeknya. Namun perempuan itu malah mengatakan hal yang tak diduganya sama sekali.
Abby mencebik, "kenapa Kakak malah terkejut? apa Kakak pikir aku akan mengatakan hal lain?" perempuan itu menjeda ucapannya, "aku senang karena ke depannya, Kakak tidak akan kesepian lagi nanti."
"Ada kamu, aku tak pernah merasa kesepian." Timpal Juna, "lagipula, dia hanya pegawai baruku. Dan kebetulan, ini adalah pertama kalinya aku memiliki pegawai wanita yang bekerja langsung di bawahku. Jadi, Erik dan Damar terus-terusan mengatakan omong kosong. Jangan dengarkan mereka!"
"Tidak apa, akhir-akhir ini banyak atasan yang mengencani bawahannya. Jadi, Kakak jangan khawatir! teruskan saja!"
"Apanya yang diteruskan?" tanya Juna dengan sedikit jengkel. Kenapa Abby sama saja dengan dua lelaki itu?
Abby menggeleng, "pekerjaan dan kehidupan pribadi itu harus seimbang Kak. Berkencan lah sesekali di saat Kakak sedang lenggang. Aku ingin segera mempunyai kakak ipar, pasti menyenangkan."
Lelaki itu menghembuskan nafasnya perlahan, mencoba menghilangkan rasa jengkel di dalam hati. "Kamu masih ingin melanjutkan?" tanya Juna dengan nada bersungut-sungut.
Setelah itu, hanya tawa geli Abby yang terdengar memenuhi ruang makan yang luas tersebut. Perempuan itu sepertinya senang karena berhasil menggoda kakaknya.
Juna yang melihat itu pun tak kuasa untuk tersenyum, seperti ikut senang dengan kesenangan yang Abby miliki. Padahal, dirinyalah yang sedang Abby tertawakan. Sungguh konyol.
__ADS_1
Senyum lelaki itu perlahan pudar seiring dengan pikirannya yang mulai bekerja kembali. Mungkin, Juna memang akan memikirkan hal yang Abby sarankan. Tapi tidak sekarang. Tidak di saat adiknya masih belum mendapatkan kepastian. Lagipula, Juna belum yakin seratus persen dengan Gara meski temannya itu sudah sering menunjukan keseriusannya.
Selama hidupnya ini, Juna menyadari satu hal. Yaitu, ucapan yang tak bisa sepenuhnya kamu percayai adalah ucapan seorang lelaki yang menjanjikan sebuah kesetiaan. Karena pada dasarnya, dirinya pun pernah berada di posisi tersebut. Mengucapkan janji setia dengan mulut manisnya pada seseorang, namun pada akhirnya dia sendiri yang mengingkarinya. Memang tidak semua lelaki seperti itu, hanya saja enam puluh persen kaumnya memang seperti itu.
Juna hanya berharap, semoga saja Gara tidak kembali mengulangi kebodohan yang sama.
. . .
Pukul tujuh malam, dan Gara masih terlihat sibuk dengan tablet pintarnya. Namun bukan berada di kantor lagi, kali ini dia sedang mengunjungi sebuah butik ternama di ibukota.
Dengan pakaian kantor yang masih melekat, Gara duduk nyaman di sebuah sofa empuk dengan dua kaki yang disilangkan. Gayanya persis seperti bos besar, dan sayangnya itu memang dia.
Jemari itu terus menggulir layar dengan tempo yang cukup cepat hanya untuk mendapatkan apa yang ingin dia lihat. Gerakannya terhenti saat langkah kaki mendekatinya.
"Miss Anne sudah datang dengan koleksi gaun malamnya, Pak." Itu Mahen yang kebetulan malam ini profesinya beralih dari sekretaris menjadi seorang asisten. Meski merasa harga dirinya sedikit tercoreng karena menemani sang atasan untuk memasuki butik yang dipenuhi dengan gaun dan aksesoris mahal, namun Mahen melakukan tugasnya dengan cukup baik.
"Tuan Sagara, ini adalah beberapa gaun cantik yang saya rasa akan cocok dengan Nona Abbysca." Miss Anne membiarkan para pegawainya menjejerkan gaun yang dia maksud di depan Gara. Sebagai seorang perancang busana yang sudah dipercaya oleh keluarga Anggara selama beberapa tahun terakhir, Miss Anne cukup yakin kalau pilihannya tidak akan salah.
Gara menyimpan tabletnya dan mulai meneliti gaun di depannya. Membiarkan perempuan modis itu menjelaskan satu persatu gaun rancangannya meski tak ada satu kalimat pun yang masuk ke otaknya.
"Jangan yang terlalu terbuka. Pilihkan gaun dengan potongan sederhana dan warna yang tidak akan menyakiti mata." Ujar Gara, tidak peduli kalau ucapannya dapat mengehentikan Miss Anne yang tengah serius menjelaskan ini dan itu. "Dan ini bukanlah acara resmi seperti pesta perusahaan besar. Hanya acara memperingati ulang tahun pernikahan. Saya harap Anda dapat menemukan gaun yang saya maksud." Raut wajahnya tak berubah sama sekali, tetap datar dan menyiratkan ketenangan.
"Anda baik-baik saja, Miss?" tanya Mahen, agak merasa kasihan dengan wanita pertengahan tiga puluh di sampingnya ini.
"O-oh ya, saya baik-baik saja." Miss Anne segera sadar dari keterkejutannya dan kembali mengulas senyum manis. Netranya beralih pada jejeran gaun yang dia bawa, kemudian mencocokan mereka dengan deskripsi Gara yang begitu rinci. Sampai pada akhirnya, sebuah gaun berwarna krem menarik perhatiannya. Tangannya dengan hati-hati membawa gaun tersebut ke arah tengah, "bagaimana dengan yang ini, Tuan?"
Melihat jika Gara hanya diam menatap gaun tersebut, Miss Anne berinsiatif untuk memberikan penjelasan sederhana. "Warna dan potongannya akan sangat cocok dengan apa yang Anda maksud. Tidak terlalu terbuka, namun tidak terlalu panjang juga."
Dalam diamnya, Gara menyetujui apa yang Miss Anne ucapkan. Gaun itu memiliki panjang di atas lutut, berlengan pendek dengan warna yang terkesan natural. Membayangkan Abby mengenakannya besok, perempuan itu pasti akan terlihat cantik.
"Tolong pilihkan pakaian untukku juga! dan cocokkan warnanya dengan gaun itu!"
Miss Anne tersenyum lebar, "saya mengerti, Tuan."
Tidak sampai dua menit, Miss Anne dan para pegawainya membubarkan diri dari hadapan Gara. Dan Mahen diam-diam menghela nafas lega. Merasa senang karena Gara tidak sekeras kepala biasanya. Itu bagus untuk kesehatan jantungnya.
"Mahen." Panggil Gara tiba-tiba.
"Ya, Pak?" tubuh lelaki itu langsung terasa kaku. Menebak-nebak kalau malam ini tidak akan selesai semudah itu.
__ADS_1
"Susul Miss Anne! bilang padanya untuk memilihkan tiga gaun yang berbeda namun dengan deskripsi yang sama!" Wajah tampan Gara nampak berpikir keras, "aku takut Abby tidak akan menyukai warnanya. Jadi, biar dia yang memilihnya sendiri."
Mahen merasa tenggorokannya kering, "ya, pak."
"Oh, Mahen!"
Langkah Mahen terhenti, dengan baik hati lelaki itu kembali mendekati Gara. "Ada yang lain, Pak?"
"Minta juga Miss Anne untuk memilihkan aksesoris dan tiga pasang sepatu yang cocok dengan gaun yang dia pilih!" Ujar Gara.
Mahen mengangguk mengerti, "saya mengerti, Pak."
"Oh iya, dan kirimkan semuanya besok pagi. Ingat, harus besok pagi!" Ujar Gara kembali dengan nada yang tak ingin dibantah.
Sang sekretaris memaksakan senyum manisnya, "baik Pak, saya mengerti."
Gara mengangguk sembari mengusir Mahen dengan kibasan tangannya.
"Oh ya, Mahen."
Ya, Tuhan. Apa belum selesai juga? jerit Mahen di dalam hati. Dengan hati yang begitu jengkel, Mahen kembali menghentikan langkah dan mendekati Gara.
"Ya, Pak?"
Gara menatapnya dengan alis yang saling bertaut, "jangan marah! nanti tidak ada wanita yang mau mendekatimu." Ucap Gara dengan wajah yang tak berdosa.
Sialan, kalau Gara bukan bosnya, Mahen pasti tidak akan ragu untuk mengatakan kalimat umpatan saat ini juga.
. . .
TBC
Selamat pagi. Salam sehat untuk kita semua. Terimakasih untuk teman-teman setia pembaca yang selalu memberikan dukungan dan cinta untuk cerita ini.
Jangan lupa berikan vote dan tulis kesan dan pesan teman-teman di kolom komentar! ^_^
Salam,
Nasal Dinarta.
__ADS_1