Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Sisi Kelam yang Tak Hilang Meski Ditelan Zaman


__ADS_3

Bandung, 13 Juni 2009


Itu adalah sore hari yang sedikit mendung, tidak secerah siang tadi. Gara kecil yang kala itu sudah mengganti seragam sekolahnya, terlihat menuruni anak tangga dengan hati-hati. Maklum, kakinya begitu pendek, tidak sepanjang ayahnya yang bisa melewati tiga anak tangga sekaligus tanpa hambatan.


Biasanya, Gara tidak suka turun ke lantai utama jika bukan untuk makan malam bersama ayah dan ibunya. Namun untuk kali ini, bocah yang sebentar lagi lulus sekolah dasar tersebut melakukan hal yang tidak seperti biasanya. Hening yang mencekam di dalam rumah besar tersebut membuat Gara merasa sedikit penasaran, ingin mencari keberadaan orang-orang yang tinggal di sini. Saat pulang sekolah pun, Gara hanya berdua dengan sang supir yang langsung kembali ke pos depan setelah memastikan tuan mudanya sampai dengan selamat.


Netra elang yang masih murni itu menatap ke sekeliling saat kaki mungilnya sudah sampai di ruang keluarga. Bibir kecil itu mengerucut saat mendapati suasana di sana yang masih sama seperti tadi. Lalu, dia melangkah menuju ruang makan yang letaknya tak jauh dari sana. Dan di sana pun tak ada orang. Gara memiringkan kepala, merasa aneh dan juga bingung.


"Ma?"


"Papa?"


Ke mana semua orang? para pelayan pun tidak ada di sana. Apa mereka sedang di taman belakang?


Mengikuti instingnya, Gara kecil melewati pintu samping yang langsung menghubungkannya dengan tanaman hijau yang luas. Melewati jalan setapak yang terbuat dari batu-batu kecil yang tidak akan melukai kaki. Dia berhenti saat melihat meja makan panjang yang berada di samping kolam renang begitu berantakan, penuh dengan makanan dan minuman yang berserakan di tempat yang tak seharusnya. Namun, tak ada satu pun orang di sana. Apa semuanya tiba-tiba menghilang saat dirinya pulang?


"Apa mereka makan-makan besar tanpaku?" suara kecil Gara nampak menggerutu, dia terlihat tidak suka dengan kenyataan itu.


Kakinya kembali melangkah lebih dalam, hampir melewati paviliun kecil yang jarang dikunjunginya. Gara bersemangat untuk mendekat saat mendengar suara samar yang terdengar dari dalam sana. Mungkin orang-orang ada di sana. Dia berhenti tepat di depan pintu besar yang sedikit terbuka. Matanya menyipit, mencoba menemukan sesuatu.


"Hentikan!"


"Kenapa? kamu takut wanita yang mengandung anakmu mati?"


"Kamu apa-apaan Melly? aku sudah bilang kalau dia sudah ku anggap sebagai adikku."


"Haha. Mana ada adik yang hamil anak kakaknya? kamu bercanda?"


"Dia adik dari temanku yang sudah lama meninggal, Melly. Dia sedikit mengalami gangguan mental karena harus hamil oleh seseorang yang tak dikenalnya. Aku mohon mengertilah."


"Dasar pembohong ulung! pandai sekali kamu merangkai cerita palsu. Kamu tinggal bilang kalau dia hamil anakmu. Apa susahnya? dasar lelaki bajingan."


"Kenapa kamu terus menuduhku? kamu punya bukti untuk hal yang kamu katakan?"


"Dia hampir setiap Minggu datang ke rumah ini, lalu kamu akan menyuruh pelayan untuk membuat masakan yang dia sukai. Kamu pikir pikiranku akan tertuju ke mana selain ke arah sana?"


"Dia sakit dan tak punya keluarga. Temanku menitipkannya padaku. Lalu aku harus bagiamana?"


"Kamu tinggal berikan dia uang agar bisa hidup dengan nyaman di bawah perawatan seseorang. Bukannya malah seperti ini."

__ADS_1


"Kamu tidak akan mengerti, Melly."


"Karena kamu tidak pernah mengatakan apapun. Hanya diam dan diam yang selama ini kamu lakukan. Lalu di bagian mana yang harus ku mengerti?"


"Melly!"


"Apa? bukankah bagus kalau dia mati? ayo buat dia mati agar kesalahanmu bisa tertutupi."


Prang!


Bruk!


Suara keributan di dalam ruangan itu semakin kacau. Gara yang sejak tadi mengintip dari celah pintu yang terbuka gemetaran takut. Wajah kekanakannya pucat dengan keringat dingin yang membasahi kening dan pelipis. Kedua tangannya saling mengepal di samping tubuh, seperti tengah menyemangati dirinya sendiri agar bisa tetap berdiri tegak.


Netranya bergulir, menatap semua orang yang ada di sana. Ayah dan ibunya yang saling menatap tajam dengan aura penuh permusuhan, para pelayan yang sejak tadi dicarinya, kemudian seorang wanita muda yang akhir-akhir ini cukup sering dilihatnya. Mereka terlihat tidak baik-baik saja, pun dengan Gara yang syok berat karena melihat sebuah pisau yang penuh dengan darah di tangan wanita itu.


Gara tidak tahu siapa yang terluka. Namun dari suara jeritan yang terdengar, sepertinya semua orang tengah ketakutan.


"Turunkan itu! kita bisa bicarakan semua ini baik-baik. Tanganmu sudah terluka."


"Lihatlah, kamu seperti seorang kekasih yang membujuk pasangannya yang depresi."


"Kamu yang egois!"


"Cukup! tidak bisakah kamu mengikuti ucapanku? ini sedang genting."


Gara sudah tidak mampu lagi untuk memperhatikan mereka. Nafasnya tersengal, dadanya sedikit nyeri, matanya memerah menahan tangis. Yang terakhir kali dia ingat adalah teriakan sang ibu, pekikan sang ayah, juga jeritan para pelayan wanita.


Lelaki kecil itu tumbang. Tubuh Gara tergeletak di depan pintu dengan kepala yang menghadap celah pintu. Matanya masih terbuka, namun kesadarannya sudah hampir hilang. Gara merinding bukan main saat melihat wanita itu menatap ke arahnya dengan seringai menyeramkan di bibir merah darahnya. Sebelum matanya benar-benar tertutup, dia juga melihat kedua tangan wanita itu yang penuh dengan darah. Terulur mendekatinya, seperti siap untuk mencekik lehernya.


Gara menjerit dalam hati. Namun hanya gelap yang mendengar deritanya.


12 September, 2022


"Aghh!"


"Hentikan! tolong!"


"Tolong aku!"

__ADS_1


Netra elang itu terbuka dengan tiba-tiba. Gara yang linglung menatap ke sekelilingnya dan menyadari kalau dirinya tengah duduk di sebuah kursi dengan posisi setengah berbaring. Nafasnya tersengal, wajahnya pucat, tubuhnya gemetar ketakutan. Menekan rasa gemuruh di dadanya, Gara memberanikan diri untuk menatap seseorang yang berdiri di dekatnya.


Lelaki yang sedikit lebih tua dari Gara tersebut tersenyum tipis, "Anda kembali? syukurlah." Ujarnya sembari melepaskan sesuatu dari tangannya.


"Apa..apa yang terjadi?" suara yang serak keluar dari tenggorokannya yang kering.


"Hanya tidur. Namun sepertinya Anda bermimpi buruk." Sang dokter menjeda kalimatnya sembari mengisi gelas kosong dengan air mineral, kemudian menyerahkannya pada Gara, "minumlah dulu!"


Gara menatap gelas tersebut dengan pandangan kosong, namun tangannya terulur mencoba meraih gelas tersebut meski dengan keadaan bergetar. Sayang, Gara seperti tidak memiliki tenaga sama sekali. Tangan itu terhenti di tengah jalan, kemudian jatuh dengan lunglai ke atas pangkuannya sendiri. Ada apa dengannya?


"Em, mungkin Nona Abbysca bisa membatu Anda." Dokter tersebut memberikan gelasnya pada seseorang yang berada di belakang Gara.


Abbysca yang sejak tadi diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun bergerak. Meski agak ragu, namun dia tetap melakukan apa yang dokter itu minta. Tangan mungilnya meraih gelas dan dengan hati-hati membantu Gara untuk minum. Dan ajaibnya, lelaki itu tidak menolak. Meski agak terkejut karena kehadiran Abby yang tak terduga, namun rasa takutnya setelah bangun dari mimpi buruk lebih besar daripada hal tersebut.


Abby menyimpan gelas di tangannya di atas meja, kemudian baru sadar kalau tak ada orang lain di ruangan itu selain dirinya dan Gara. Sepertinya, dokter tadi pergi tanpa sepengetahuan mereka. Perempuan itu mengangkat kedua bahunya, mencoba tidak peduli. Kemudian, tangannya mengambil beberapa lembar tisu yang kebetulan terletak di atas meja yang sama.


Setelahnya, Abby kembali pada Gara dan mengusap keringat yang membanjiri wajah tampan itu tanpa aba-aba, membuat si empunya mengerjap kaget.


"Kamu pasti takut." Ujar Abby pelan dengan mata yang fokus pada kegiatannya. Tidak memperdulikan Gara yang kini tengah menatapnya lekat.


"Memendam mimpi buruk selama puluhan tahun itu memang tidak menyenangkan." Abby baru saja akan menjauh sebelum tangannya digenggam oleh Gara.


Mata mereka saling beradu, seolah sedang menyelami kedalaman masa lalu mereka masing-masing. Perempuan itu berkedip beberapa kali saat melihat netra elang Gara yang memerah dan berkaca-kaca.


"Kamu.. baik-baik sa-"


Dan setelahnya, Abby benar-benar tidak bisa berucap lagi. Tubuhnya sudah lebih dulu tenggelam di dalam pelukan Gara. Tubuh besar itu melingkupi tubuh mungilnya dengan mudah, pun dengan lengan kekar Gara yang melingkari pinggang rampingnya. Tidak seperti pelukan yang sebelumnya, kali ini Abby merasakan getaran takut dan gelisah dari tubuh Gara. Lelaki itu seperti tengah mencari perlindungan dari seseorang yang bisa membantunya.


Tak lama, Abby merasakan basah di bahu kirinya. Gara menangis.


. . .


TBC


Selamat pagi. Salam sehat untuk kita semua. Maaf baru hadir lagi setalah dua hari menghilang. Terimakasih buat teman-teman yang selalu setia menunggu kelanjutan cerita ini dan maaf karena belum balas komentar penuh dukungan dan cinta dari para pembaca.


Hari ini saya berencana untuk up dua kali. Semoga bisa. Semangat buat kita semua. ^_^


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta.


__ADS_2