Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Suatu Tindakan Harus Disertai Dengan Alasan


__ADS_3

"Kamu akan memakai itu?"


Juna melirik adiknya yang saat ini tengah membenahi penampilan. Karena melihat dua pelayannya tadi, Abby berinisiatif untuk melakukan hal yang sama demi menghormati tuan rumah.


"Bukankah ini acara yang cukup sakral?" tanya Abby sembari menggelung rambut panjangnya menjadi satu . Cukup sulit karena dia tidak terbiasa mengikatnya seperti itu.


Juna mengangguk, "tapi seingatku, kamu tak pernah memakainya." Lelaki itu kembali menatap ke arah depan, memperhatikan jalanan yang cukup padat. Kali ini mereka kembali memasuki pemukiman padat ibukota.


"Benarkah?" tangan Abby yang sedang membenarkan letak kain lembut di kepalanya berhenti bergerak. Ucapan sang kakak sedikit mengusik pikirannya.


Juna terdengar mendengus, "ya, kamu bahkan jarang sekali pergi ke rumah ibadah selama ini." Dia merasa sadar kalau membicarakan hal tersebut dengan seorang Abby begitu tabu.


Abby berkedip beberapa kali, "oh, begitukah?" kembali melanjutkan kegiatannya. "Memangnya..aku seperti apa selama ini?" bukan hanya bertanya asal, Abby benar-benar ingin mengetahuinya. Bagiamana pandangan seorang Juna pada Abby sejauh ini?


Kakaknya itu terlihat menerawang, mengingat sesuatu di masa lalu. "Waktu kecil, kamu selalu kabur saat Mama dan Papa mengajak kita ke rumah ibadah. Kamu seperti tidak tertarik dengan hal yang seperti itu sejak dulu. Tidak heran kalau kamu tumbuh dewasa tanpa memusingkan pemahaman tentang sebuah kepercayaan."


Bibir Abby tersenyum tipis, ternyata dia memiliki satu kesamaan dengan seorang Abbysca Anggara. Saat menjalani hidup yang pertama pun, Abby tak terlalu memusingkan hal-hal yang bersangkutan dengan kepercayaan kelompok tertentu seperti itu. Dia hanya menjalani hidup sesuai dengan rencana dan keinginannya.


"Apa Kakak pernah merasa terganggu dengan itu?"


Juna kembali menoleh, kemudian menggeleng ringan. "Tidak, Aku lebih terganggu saat kamu begitu sering mangkir dari kelas. Untung saja kamu memperbaikinya akhir-akhir ini."


Kali ini, Abby yang mendengus. Bukannya merasa tersinggung, hanya saja Abby jadi kembali mengingat kebodohannya kala itu. Meski bukan dirinya yang benar-benar menjalani hal tersebut, namun sialnya dia harus ikut merasakan akibatnya.


"Aku sedang berusaha untuk memperbaikinya." Ujar Abby pada akhirnya.


Juna tak langsung menjawab. Lelaki itu membiarkan hening menyelimuti mereka, hanya menyisakan suara deru mesin yang terdengar halus.


"Kalau begitu, kamu juga harus memperbaiki kesehatanmu sendiri. Aku tidak ingin kembali mendengar kamu pingsan karena kelelahan." Sejenak, Juna terdengar menghela nafas. Nasihat ini sebenarnya bukan hanya untuk Abby, tapi untuk dirinya juga. Mengingat Juna juga cukup sering lupa waktu saat sudah berkutat dengan pekerjaan. "Melakukan segala hal sesuai dengan porsinya adalah yang terbaik."


Senyum tulus muncul di wajah Abby. Cukup senang karena meski tak terlalu blak-blakan, Juna memang mengkhawatirkannya. "Aku tahu."


Percakapan mereka berakhir dengan cepat, seiring dengan mobil yang mereka tumpangi berhenti di tempat tujuan. Itu adalah sebuah yayasan panti asuhan. Tempat di mana anak-anak kurang beruntung harus kuat melawan kerasnya hidup.


Abby berdiri di samping Juna saat keduanya keluar dari mobil. Meski tahu kalau keluarga Anggara memiliki ratusan yayasan panti sosial, namun Abby hanya tahu beberapa saja. Dan yang sedang mereka kunjungi ini adalah tempat yang baru untuknya.


"Nona, Anda terlihat sangat berbeda."

__ADS_1


"Nona akan tetap cantik saat mengenakan apapun."


Itu adalah komentar dari Mira dan Lina yang baru tiba di sana. Seperti halnya Juna, dua pelayan itu cukup terkejut saat melihat penampilan Abby yang begitu baru. Perempuan itu memang tidak mengganti pakaiannya, tetap memakai celana hitam panjang dan atasan tunik berwarna senada. Hanya saja, rambut indah yang biasanya digerai itu kini tertutupi oleh seutas kain berwarna krem. Meski hanya disampirkan dengan asal, namun itu tak terlihat mengganggu.


Abby sedikit menunduk, merasa sedikit malu dengan respon yang mereka berikan. "Terimakasih, aku hanya penasaran saat melihat kalian memakainya tadi."


"Oh, itu Tuan Gara."


Suara Erik tiba-tiba terdengar di antara mereka. Sontak semua orang yang berada di sana menoleh ke arah gerbang kedatangan.


Juna mendengus kesal saat melihat kedatangan Gara. Entah kenapa, akhir-akhir ini dia sering merasa sebal dengan Gara. Mungkin karena pembicaraan terakhir mereka waktu itu tak menemukan titik terang.


"Siapa yang mengundangmu?" tanya Juna sinis saat Gara sudah tiba di hadapan mereka.


"Tentu saja tunanganku yang melakukannya. Siapa lagi?" jawab Gara dengan nada santai. Tak merasa terganggu dengan sikap antisipasi dari Juna sedikitpun. Lelaki itu malah mendekati Abby dan memandang perempuan itu dengan lekat, "kamu terlihat berbeda." Ujarnya sembari mengusap kepala Abby. Begitu alami seolah Gara sudah pernah melakukannya ribuan kali.


Abby tak menanggapi serius perdebatan dua lelaki itu. Jadi, dia dengan tenang menimpali. "Terimakasih sudah datang, Gara."


Abby memang menghubungi Gara dua hari yang lalu, meminta lelaki itu agar datang ke acara kecil ini. Meski kemungkinan Gara akan datang hanya sekian persen saja, namun Abby tetap mengatakan tujuannya lewat telepon. Dan itu adalah kali pertama Abby menghubungi Gara setelah dirinya bangun dari koma.


.


"Maaf, Tuan Muda. Apakah saya harus memberitahu mereka mengenai kedatangan Anda semua?" Hari yang entah sejak kapan berada di sana angkat bicara.


"Tidak perlu, para pengurus panti pasti sedang sibuk sekarang. Kami tinggal masuk nanti." Jawab Juna sembari menatap ke arah sekeliling, seolah tengah mencari sesuatu. "Paman, apa kamu sudah memastikan semuanya beres?"


Hari mengangguk sopan, "semuanya sudah siap, Tuan."


"Baiklah, ayo kita masuk! sepertinya orang yang akan memimpin acara sebentar lagi tiba."


. . .


"Benarkah dia akan datang ke rumah ini nanti, Kak?"


Seorang perempuan dengan paras rupawan terlihat bergelayut dengan manja di lengan kekar kakaknya.


Yang ditanya hanya mengedikkan bahu, "aku tidak tahu tentang kepastiannya, tapi aku memang sudah mengundangnya. Persis seperti apa yang Papi katakan."

__ADS_1


Abimana mengerutkan kening saat melihat binar bahagia di wajah sang adik, "kamu kenapa?" merasa ada yang aneh dengan kelakuan perempuan muda di sampingnya.


Rona merah muda menjalar di kedua pipi putihnya, "tidak, aku hanya senang. Bukankah Kakak juga tahu kalau aku begitu mengagumi sosok Sagara Aditama?"


Abimana terdiam, membiarkan otak pintarnya bekerja. Dia langsung terhenyak saat sekelibat kemungkinan muncul di pikirannya. Netranya yang hitam pekat begitu lekat saat memandang sang adik.


"Apapun yang ada di pikiranmu, tolong hentikan!" ucap Abimana dengan tegas.


Perempuan cantik itu merengut tak terima, "memang apa yang aku pikirkan?"


Ekspresi di wajah Abimana tetap tak berubah, itu begitu serius. "Jangan melakukan apapun yang akan membuat kamu malu ke depannya."


Abimana langsung melanjutkan ucapannya sebelum sang adik menyela, "Sagara Aditama sudah memiliki seorang tunangan. Dan siapapun tahu kalau perempuan yang menjadi tunangannya itu mempunyai banyak kelebihan. Abbysca Anggara, kamu tahu orang itu bukan?"


Bibir kecil adiknya mencebik, "lalu apa masalahnya? rumor mengatakan bahwa Sagara tak pernah mencintai tunangannya. Bukankah itu artinya masih ada kesempatan?" perempuan muda itu merasa semakin tertantang.


"Dan kamu percaya dengan rumor? cih! " Abimana sangat ingin memukul kepala adiknya saat ini juga.


"Apa kamu tidak tahu seberapa berkuasanya keluarga Anggara di negeri ini? itu hampir setara dengan keluarga Aditama, keluarga kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka." Aditama memegang dua bahu kecil adiknya, dan menatap perempuan itu dengan keseriusan yang nyata. "Berani kamu mengusik mereka, maka kemakmuran dan kedamaian keluarga kita akan berakhir."


Sang adik terlihat terkejut dan tertekan secara bersamaan. Dia tidak pernah menduga kalau kakaknya akan memberi peringatan sekeras ini. Biasanya, Abimana akan selalu mengabulkan apa yang dia minta. Sesulit apapun itu. Lalu, kenapa yang sekarang harus berbeda?


"Kakak.."


"Tanamkan peringatan itu di otak kecilmu!"


. . .


TBC


Selamat malam teman-teman setia pembaca Abbysca. Saya kembali membawa episode terbaru. Semoga teman-teman terhibur dan tidak pernah bosan untuk mengikuti cerita ini sampai akhir. ^_^


Terimakasih atas dukungan dan cintanya. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^


Salam,


Nasal Dinarta.

__ADS_1


__ADS_2