
Sebuah mobil jenis SUV keluaran terbaru terlihat berhenti di depan pintu lobi perusahaan Anggara. Kala itu, tempat tersebut cukup dipadati karyawan yang berlalu-lalang karena jam istirahat telah berlangsung sejak lima menit yang lalu.
Ini adalah kedua kalinya Abby menginjakan kaki di sebuah perusahaan besar. Jika dilihat-lihat, tempat ini sedikit lebih besar daripada kantor Gara yang beberapa waktu lalu Abby kunjungi.
Perempuan itu melangkah ringan dengan tangan kosong tanpa membawa apa-apa. Sedangkan Erik, si bawahan yang begitu setia, berjalan beberapa langkah di belakangnya sembari menenteng satu plastik besar berisikan makanan yang mereka beli tadi di jalan.
Entah karena sudah biasa atau apa, namun Abby sakarang tidak terlalu merasa terganggu dengan tatapan orang-orang yang mengarah padanya. Kebanyakan dari mereka akan berhenti saat Abby mendekat, lalu membungkuk dengan sopan sembari mengulas senyum manis. Menyapa nona besar, adik dari pimpinan mereka. Dan Abby, tentu saja menyapa mereka kembali dengan senyuman kecil yang seperti bukan senyuman.
Datangnya Abby ke sini sebenarnya tanpa diketahui oleh Juna, tapi entah kalau Erik sudah melaporkannya. Lelaki itu lebih patuh pada sang kakak daripada Abby sendiri sepertinya.
Abby mendekat pada meja resepsionis yang diisi oleh dua orang perempuan berpakaian rapi. Kilatan terkejut yang bercampur dengan rasa kagum dapat Abby lihat di sana. "Selamat siang, apa Kak Juna sedang berada di ruangannya?"
Salah-satu dari mereka mengulas senyum setelah berhasil menguasai diri, "selamat siang Nona Abbysca. Pada jam seperti ini, Pak Arjuna biasanya sedang istirahat di ruangannya. Anda bisa langsung naik."
"Nona, kenapa Anda harus bertanya dulu?" Erik berujar pelan, matanya menatap ke sekeliling dengan tatapan tajam. Orang-orang itu, kenapa mereka sama saja? melihat nonanya seperti tidak pernah melihat perempuan cantik saja. "Kita bisa langsung naik lewat lift di sana. Mari!" lanjut Erik memimpin jalan.
Abby terdiam sejenak dengan pandangan sedikit bingung. Dia melirik dua perempuan tadi sekilas hanya untuk memberikan senyuman, sebelum kembali melangkah untuk mengikuti Erik.
Sedangkan di lantai teratas, tempat yang dua orang itu tuju, Juna nampak tengah berbicara dengan Damar, sekretarisnya. Wajah tampan itu sedikit keruh setelah mengantar kepergian dua tamu yang tak diundangnya. Kehadiran orang-orang itu membuat kepalanya yang sudah pusing karena sibuk dengan pekerjaan kantor dan juga selingannya sebagai 'pembantu' Gara, menjadi lebih pusing.
Juna menyilangkan dua kaki panjangnya di atas sofa sembari menyandarkan punggung. Dengan tangan yang memijat keningnya pelan, lelaki itu berujar, "apa sebenarnya yang mereka inginkan?"
Dia tidak pernah menyangka akan mendapat kunjungan dari ketua umum dari salah-satu partai politik terbesar di negeri ini. Dengan wajah penuh muslihat dan kata-kata manis yang dapat menjerumuskan orang, mereka mengajak Juna untuk bergabung bersama di pemilihan umum dewan anggota periode selanjutnya sebagai perwakilan dari partai mereka.
Haha. Apa mereka itu dungu? atau buta? sehingga mereka tidak dapat melihat kekayaan dan kekuasaan yang Juna miliki di negeri ini? Lalu, untuk apa dia terjun ke dunia politik? dia ingin menguasai apa lagi? apa yang tidak dia miliki sejauh ini?
"Mereka memang penjilat handal." Desisnya dengan tajam. Orang-orang seperti mereka jelas hanya mengincar latar belakang Juna yang luar biasa agar mendapat dukungan penuh nanti. "Pastikan mereka tidak akan menginjakkan kaki di sini lagi!"
Damar yang berdiri dengan tegap di depan Juna mengangguk patuh, "saya mengerti, Pak."
Lelaki itu sedikit merasa bersalah karena tidak dapat menolak keinginan 'tamu' mereka tadi untuk bertemu dengan Juna. Apalagi dengan titel mereka yang merupakan seorang pejabat politik, Damar semakin segan untuk menolaknya. Namun resikonya cukup mengerikan, atasannya itu marah bukan main. Semoga saja dia tidak dipindah tugaskan ke kantor cabang yang berada di pelosok negeri nantinya.
"Jangan diulangi lagi, Damar!" dengan mata yang masih terpejam, Juna kembali berujar.
Damar di tempatnya sudah menggigil ketakutan. Memandang atasannya dengan wajah pias namun hati yang mengucap syukur. Dia selamat kali ini.
"Maafkan saya, Pak. Itu tidak akan terulang lagi." Membungkuk sedalam-dalamnya, meski tahu kalau Juna tidak akan bisa melihatnya.
Tok! tok!
Damar langsung menoleh ke arah pintu yang sedikit terbuka. Sedangkan Juna langsung membuka matanya yang terpejam.
"Permisi, Pak. Maaf mengganggu. Saya datang bersama Nona Abbysca."
__ADS_1
Mendengar nama adiknya disebut, Juna ikut melirik ke arah daun pintu. Di sana, Abby berdiri dengan wajah tenangnya bersama Erik yang terlihat agak canggung karena melihat situasi di ruangan tersebut yang tidak terlalu menyenangkan.
"Abby!"
"Selamat siang, Nona." Damar memberi salam, kemudian sedikit menyingkir ke arah samping, memberi jalan agar Abby lebih leluasa untuk melangkah.
"Kakak terlihat kacau." Komentar perempuan itu sembari memasuki ruangan yang sudah cukup lama tidak dia kunjungi. Abby berhenti di depan Damar, "selamat siang juga, Kak Damar. Belum makan? aku membawa makan siang yang cukup banyak ke sini. Mintalah pada Kak Erik nanti."
Damar tersenyum kaku, "terimakasih, Nona." Meski hampir sekarat barusan karena menghadapi singa yang marah, namun dia tidak akan menolak jika ada Dewi baik hati yang memberinya makanan gratis.
"Cih! kamu bahkan belum menanyakan kondisiku, tapi sudah menawarkan makanan ke orang lain. Adik macam apa itu?" entah Juna sadar atau tidak, tapi wajah merajuk lelaki itu sungguh tidak sedap untuk dilihat.
Abby menggeleng, "Sepertinya Kakak memang butuh makan siang !" perempuan itu duduk tepat di samping Juna, kemudian mengeluarkan makanan dari plastik besar yang Erik bawa sejak tadi. "Ini makanan dari kedai pinggir jalan, tapi pelanggannya cukup banyak dan sepertinya enak. Mereka menyebutnya nasi Padang."
Juna maupun Damar sama-sama melongo, menatap Abby yang begitu antusias membuka bungkus nasi berukuran besar di depannya. Sejak kapan adiknya itu mau mengonsumsi makanan berlemak seperti ini? dan lagi, apa katanya tadi? makanan ini dari kedai pinggir jalan? Abby berhenti di pinggir jalan hanya untuk membeli makanan yang digandrungi oleh masyarakat lokal ini?
"Jangan menangis jika nanti kamu sakit perut setelah memakannya!"
Abby mendengus, "tidak akan."
"Kak Erik dan Kak Damar, ayo makan bersama!" Abby hampir melupakan eksistensi dua orang tersebut.
Damar menggeleng sopan, "saya akan membawakan alat makan untuk Anda berdua. Mohon tunggu sebentar Nona!" Langsung melesat secepat kilat
Sedangkan Erik hanya bisa memaksakan senyuman sembari berujar, "saya akan membagikan bungkusan lebihnya pada yang lain dulu, Nona. Permisi." Itu adalah satu-satunya alasan yang terdengar masuk akal untuk Erik. Lagipula, memang benar, Abby membeli hampir dua puluh bungkus dengan berbagai macam lauk pauk di dalamnya. Abby sepertinya memang berniat untuk membagikannya.
"Apa Kakak baik-baik saja?" Abby tidak bisa tidak bertanya.
"Beberapa menit yang lalu, aku memang sedang kesal. Tapi sekarang, aku baik-baik saja." Juna menjawab apa adanya, sesuai dengan apa yang dia rasakan.
"Benarkah?"
Juna mengangguk, "ya. Kamu ke sini pasti karena ingin membahas hal yang kamu bicarakan di telepon waktu itu bukan?"
Dengan senyuman tidak enaknya, Abby mengangguk, "ya, Kakak tahu itu. Maaf, membuat Kakak terus repot." Abby paham kalau pekerjaan Juna itu banyak, dan dia malah menambah beban pikiran sang kakak.
Lelaki itu tersenyum simpul, "meski masih terdengar aneh, namun kamu terlihat manis saat meminta maaf. Jadi, aku akan memaafkanmu."
Yang digoda hanya mendengus kecil.
"Damar sudah menyelidiki semuanya. Dan ya, seperti yang telah kamu duga. Keduanya memang memiliki ikatan darah seorang kakek dan cucunya." Juna mendapatkan laporan itu dua hari yang lalu, berjarak satu hari setelah Abby mengatakan maksudnya pada Juna di sambungan telepon.
Abby cukup terkejut setelah mendengarnya. Dia memang telah menebaknya, namun dia tidak menyangka kalau itu akan begitu akurat. Bagiamana bisa ada kebetulan seperti ini?
__ADS_1
"Jadi, anak perempuan yang Kakek Danu maksud itu ternyata masih satu kota dengan kita? di sini?" Abby masih ingat ucapan Danu, lelaki tua itu bilang kalau anak perempuannya tinggal di tempat yang jauh. Dan hal itu pulalah yang membuat mereka susah untuk bertemu. Katanya. Namun, apa yang baru saja dia dengar ini?
Juna sedikit menghela nafas, "anak perempuan Pak Danu menikah dengan seorang lelaki dari keluarga berkecukupan di ibukota. Sedangkan Pak Danu sendiri, kamu tahu bagaimana keadaannya."
Dengan wajah berpikirnya, Abby mengutarakan pendapat, "anak perempuan Kakek Danu itu, dia merasa malu karena memiliki ayah yang tidak punya sehingga dia memilih pergi dari hidup ayahnya sendiri, atau pihak keluarga suaminya yang tidak memperbolehkan?" berbagai macam kemungkinan tengah berkeliaran di pikiran Abby sekarang. Namun yang mana pun yang menjadi alasannya, fakta bahwa anak perempuan Danu berada di kota ini namun enggan untuk pulang, adalah hal yang sangat dia kecam. Bagiamana bisa ada anak yang tega seperti itu?
"Semua alasan itu bisa benar, atau bisa juga tidak. Aku tidak tahu. Mungkin kamu bisa menanyakannya langsung padanya nanti." Juna bisa saja mencari tahu sampai ke akar-akarnya, namun itu terlalu membuang waktunya yang berharga.
"Menanyakannya pada siapa?" tidak mengerti dengan ucapan Juna.
"Tentu saja pada ibu dari temanmu itu. Aku tahu kalau kamu akan bertindak lebih jauh dari ini, jadi bukan tidak mungkin kamu akan bertemu dengan perempuan itu di waktu mendatang." Juna membuka segel pada tutup botol minumannya, kemudian menenggak isinya perlahan. "Kamu terlihat peduli." Lanjutnya.
Abby termenung mendengar kalimat panjang dari Juna, "apa itu tidak apa-apa?"
Juna terkekeh, "memangnya kenapa? kamu melakukannya karena ada alasan bukan? dan apapun itu alasannya, kamu tidak melakukan hal yang salah." Menatap Abby dengan sinar mata yang tulus, "kamu terlihat lebih hidup sekarang, Abby. Aku lega melihatnya."
"Kakak.." bisik Abby pelan.
"Aku senang karena sekarang kamu bisa berpikir lebih dewasa. Dan kamu juga mulai paham tentang mana yang pantas dan mana yang tidak. Itu adalah hal yang tidak pernah kamu pertimbangkan sebelumnya." Tak dapat Juna pungkiri, kalau perubahan baik Abby adalah hal yang dia nantikan sejak lama. Bukannya melarang seseorang untuk menjadi diri sendiri, tapi Juna hanya tidak ingin Abby terus terpaku pada hal yang tak berarti secara berulang kali. Abby harus bisa memikirkan hal lain dan membuat jalan hidupnya sendiri.
"Kamu masih mencintai Gara?" bodoh sekali Juna menanyakan hal ini, tentu saja jawabannya adalah iya.
"Apa?" Abby tidak salah bukan? kenapa kakaknya itu tiba-tiba membahas hal ini? membuatnya jengkel saja.
"Meski kamu menyangkal pun, perasaan seperti itu akan sulit untuk dihilangkan. Maka, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk melepas Gara. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan! namun untuk kali ini, tolong lihat Gara dari sisi lain." Juna berkata dengan wajah yang serius.
Ini..apa maksudnya?
Sisi lain?
"Ada satu hal dari Gara yang belum pernah kamu lihat. Maka, temukan itu dulu. Setelahnya, kamu bisa memutuskan apa yang menjadi keinginanmu, Abby." Itu adalah nasihat paling panjang yang pernah Juna ucapkan, "aku tidak ingin kamu menjadi pihak yang menyesal nanti."
. . .
TBC
Panjang sekali babnya. Iya, saya tahu. Soalnya saya sengaja, ingin menyampaikan beberapa poin di bab ini kepada teman-teman. 😁
Senang sekali karena pembaca cukup antusias menunggu kelanjutan cerita ini. Itu adalah sesuatu yang sangat saya syukuri dan saya hargai. ^_^
Terimakasih atas dukungan teman-teman yang selalu setia hadir dan memberikan cinta untuk Abby. Semoga hari-harinya selalu menyenangkan.
Jangan lupa vote dan komentarnya ya, teman-teman! ^_^
__ADS_1
Salam,
Nasal Dinarta.