
Abby duduk dengan tenang di atas sofa lembut yang berada di ruangan kerja Gara. Perempuan itu baru tiba di kantor Gara sejak lima belas menit yang lalu. Dan karena lelaki itu sedang mengadakan rapat penting menurut info dari sekretaris dua Gara, maka Abby meminta wanita itu untuk tidak mengatakan kedatangannya. Lagipula, dia tidak sedang terburu-buru. Dia bisa menunggu sampai lelaki itu selesai dengan urusannya.
Sudah tiga hari semenjak dirinya mengelola restoran yang diberikan Gara. Itu cukup berjalan lancar berkat bantuan dan saran dari Juna yang begitu pengalaman dalam mengelola sebuah usaha. Namun Abby ingat kalau dirinya belum mengucapkan terimakasih dengan benar pada Gara yang telah memberinya restoran itu secara cuma-cuma. Maka untuk itulah kedatangannya ke sini.
Karena merasa pegal, Abby bangkit perlahan dan mendekati dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan yang menakjubkan. Untuk beberapa saat, perempuan itu terpaku. Menatap langit biru yang begitu cerah menyelimuti gedung-gedung tinggi dan perumahan padat ibukota.
Siluet perempuan itu begitu menakjubkan saat dilihat dari samping. Wajah mungilnya begitu cantik dengan tatanan rambut yang hanya digulung, menyisakan anak rambut yang berterbangan dengan nakal di sekitarnya. Leher putihnya terlihat jelas karena jenis pakaiannya memang tak berkerah. Abby nampak mempesona meski hanya diam seperti itu. Namun sayang, orangnya tidak terlalu peka dengan hal tersebut.
Di tengah lamunannya, Abby dapat mendengar suara pintu yang terbuka. Dia tidak menoleh ataupun bergerak dari tempatnya karena sudah menduga kalau yang datang adalah orang yang ditunggunya.
Untuk sesaat, tidak ada yang terdengar lagi selain helaan nafasnya sendiri yang begitu halus. Karena penasaran, Abby perlahan menoleh. Namun gerakannya tertahan karena pihak lain sudah lebih dulu mendatanginya. Abby bahkan harus menahan nafas saat merasakan rengkuhan erat Gara di sekeliling pinggangnya. Disusul dengan dagu lelaki itu yang bersandar pada bahunya yang terbuka. Gara mendekapnya dengan erat dari belakang.
"Gara.." bisik Abby yang hanya dibalas gumaman oleh lelaki itu. Dalam keterkejutannya, Abby sedang berpikir. Apa hubungan mereka sudah melangkah sejauh itu sampai Gara semakin berani melakukan kontak fisik padanya seperti ini?
"Aku pikir kamu hanya halusinasiku saja. Tapi ternyata kamu nyata." Suara Gara terdengar lelah dan putus asa.
Abby terdiam, sedang berpikir. Bagian tubuh mana yang seharusnya dia pukul lebih awal? perut, kaki atau kepala lelaki itu? namun saat merasakan suasana hati Gara yang sedang tidak baik, Abby mengurungkan niat itu. Sudah dia bilang kalau hatinya begitu peka saat meraba perasaan Gara.
"Kamu baik-baik saja?" Abby menghela nafas, menyerah pada logika dan membiarkan perasaannya mengambil alih. Dia akan memberi waktu pada Gara untuk bersandar.
Gara semakin mengeratkan pelukannya, mengubur wajahnya disela leher dan tulang selangka gadis itu. Mencari kehangatan dan kenyamanan yang selama ini tak pernah dia dapatkan dari siapapun.
"Aku akan merasa baik jika kamu memelukku."
Abby tidak bisa untuk tidak mendengus sembari memalingkan wajah ke arah lain, "kamu sedang memelukku kalau kamu lupa."
Cepat lepaskan atau aku akan menginjak kakimu! ujar Abby di dalam hati.
"Aku butuh kamu yang memelukku, Abby. Bukan aku yang memelukmu." Balas Gara tidak mau kalah.
Setelahnya, Gara memutar tubuh Abby agar menghadap ke arahnya sepenuhnya. Kemudian, lelaki itu mundur beberapa langkah agar posisi mereka berjarak. Dia ingin Abby datang padanya dan memeluknya, menunjukkan kepemilikan dan keinginannya atas Gara.
Sedangkan Abby menatap itu semua dalam diam dan bingung.
"Peluk aku, Abbysca." Netra elang itu bersinar sendu, membuat Abby merasa terhipnotis.
Baiklah, dia akan mengalah untuk saat ini. Tak lama, Abby mendekati Gara dengan pandangan yang tak lepas dari lelaki itu. Lalu tak lama, Abby masuk ke dalam pelukan Gara. Melingkarkan dua tangan kecilnya di sekitar tubuh tunangannya. Meski dia ingin sedikit tertawa karena menyadari ukuran tubuh mereka yang begitu timpang. Tangannya bahkan tidak bisa memeluk pinggang Gara saking tinggi dan besarnya tubuh itu.
__ADS_1
Gara tersenyum manis saat merasakan kehangatan yang dia inginkan. Tangannya terangkat untuk membalas pelukan Abby, membawa tubuh ramping itu agar semakin merapat padanya. Matanya terpejam menikmati momen menyenangkan yang tengah terjadi di antara mereka. Dagunya dia simpan di atas kepala Abby, dengan begitu dia bisa mengendus aroma lembut dan wangi dari rambut halus perempuan itu.
"Kamu tertawa?" Gara ikut tersenyum geli saat mendengar kekehan Abby yang menyenangkan.
"Aku baru sadar kalau kamu seperti Hulk." Abby menyebut karakter kartun dari film yang ditontonnya bersama Mira dan Lina beberapa minggu ke belakang.
"Hm..aku bisa meremukkan tubuhmu kapan saja."
Abby berdecih pelan, "kamu tidak ingin melepaskanku? padahal aku datang ke sini karena ingin bicara padamu." Suara perempuan itu tidak terlalu jelas karena wajahnya terbenam di dada bidang Gara yang hangat dan wangi. Degup jantung lelaki itu bahkan bisa dia dengar jelas saking dekatnya mereka, membuat wajahnya agak bersemu.
"Aku tidak keberatan mendengarkanmu dengan posisi seperti ini." Gara membawa tubuh Abby ke kanan dan ke kiri, enggan untuk melepaskan pelukan.
"Kamu begitu keras kepala. Aku bisa saja menginjak kakimu sekarang juga, Gara." Ancam Abby yang hanya dibalas kekehan oleh Gara. Tapi karena tidak ingin membuat keributan yang tak perlu, akhirnya lelaki itu melepaskan diri dan memberi jarak.
"Baiklah, mari kita dengar apa yang ingin kamu bicarakan." Lelaki itu mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Abby berlalu dari depan Gara dan memilih kembali duduk di atas sofa, "kenapa kamu begitu kaku? ayo, silahkan!" menunjuk sofa kosong di depannya dengan dagu. Bersikap layaknya tuan rumah pada seorang tamu.
"Aku pikir setidaknya kamu akan menendang tulang keringku lebih dulu." Gara berujar dengan senyuman yang tak pernah pudar. Mendapati kehadiran Abby di ruang kerjanya setelah dia dipusingkan dengan para bawahannya yang mulai bertindak bodoh adalah hal yang menakjubkan. Rasa lelahnya perlahan hilang.
"Aku akan melakukannya nanti saat suasana hatimu agak membaik." Jawabnya tanpa sadar.
Gara yang mendengarnya tertegun, "benar, seharusnya dari dulu aku sadar kalau hanya kamu yang mampu membaca kekalutanku." Ingatan tentang Abby remaja yang setiap hari mendatanginya ke kantor dengan membawa bekal makan siang dan vitamin berputar di kepala Gara. Meski dia selalu mengabaikan kehadiran Abby, namun bukan berarti dia tidak mendengarkan ocehan perempuan itu saat sedang menata makan siang di atas meja. Abby akan memberinya cokelat jika suasana hati Gara sedang jelek, Abby akan memberinya satu buah permen jika kedapatan tengah tersenyum, lalu Abby akan memberinya sapu tangan saat Gara merasa lelah. Dengan polosnya, Abby berkata, "aku akan pulang sekarang, jadi kamu bisa menangis tanpa harus merasa malu."
Perempuan itu berkerut bingung, belum memahami sepenuhnya apa yang Gara maksud. Namun detik berikutnya dia berdehem canggung saat sadar kalau lelaki itu tengah menyinggung perbuatan konyolnya di masa lalu.
"Aku ke sini karena ingin mengucapkan terimakasih." Memilih mengungkapkan tujuannya alih-alih meladeni ucapan Gara yang membuatnya malu.
Alis tebal lelaki itu terangkat, "untuk?" raut wajahnya kembali tenang. Dan hal itu sukses membuat Abby merasa sedikit gugup. Pembawaan Gara yang seperti ini terasa jauh untuknya. Gara yang terlihat tidak bisa mengendalikan diri dan perasaannya seperti tadi nampak lebih mudah untuk Abby tangani daripada yang ini.
"Aku tahu uangmu banyak. Tapi memberikan aset mahal pada orang lain secara cuma-cuma bukanlah kebiasaan kamu Gara. Jadi, apa ada hal yang bisa aku lakukan untukmu sebagai tanda terimakasih ini?" lagi dan lagi, Abby menunjukkan kalau dirinya begitu mengerti perangai Gara tanpa disengaja. Lelaki itu bahkan kini tengah menatapnya lekat dengan pandangan yang tak bisa dia artikan.
"Gara!" Abby menegurnya dengan pelan.
Yang dipanggil tidak langsung menjawab. Lelaki itu terlihat tengah berpikir keras. Namun tak lama, seringai tipis tiba-tiba menghiasi wajah tampan Gara.
"Kamu akan melakukan apa yang aku minta?"
__ADS_1
Abby tetap mengangguk meski hatinya sudah memberikan peringatan waspada, "katakan saja. Jika itu masih dalam batas kemampuanku, aku mungkin akan berusaha untuk melakukannya demi membalas budi." Luar biasa, dia masih bisa menjawab dengan tenang meski di dalam sana sudah ketar-ketir.
"Kamu tidak bisa mengingkari janjimu sendiri, Abbysca!" ucapan Gara terdengar seperti sebuah ancaman menyeramkan bagi Abby.
"Memangnya..apa yang kamu inginkan?"
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Gara tidak menjawab.
Sampai di detik ke tujuh, lelaki itu kembali membuka mulutnya.
"Jangan pergi!" Nada suara Gara begitu lugas tak ingin dibantah. Matanya pun menyorot penuh keyakinan.
"Apa?" balasan Abby lebih terdengar seperti bisikan.
"Jangan pergi! karena sekarang aku yang akan memperjuangkanmu. Apapun yang akan ku lakukan nanti, jangan menolaknya! karena itu merupakan bagian dari usahaku."
Ha? Bagiamana?
"Gara.."
. . .
TBC
Selamat malam. Saya datang dengan scene manis-manis tipis. Hehe. Semoga teman-teman suka. Terimakasih atas dukungannya. ^_^
Jangan lupa vote dan komentarnya!
Salam,
Nasal Dinarta.
__ADS_1