
Pesta yang cukup meriah itu berjalan lancar meski ada gangguan cukup fatal di dalamnya. Para tamu undangan sudah pergi sejak satu jam yang lalu. Dan kini, si pemilik acara tengah duduk di kursi kebesarannya- menatap tersangka yang menjadi pemicu masalah besar yang menimpanya.
"Papa tak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap kurang ajar, Karina." Nada suaranya terdengar berat dengan mata yang memicing tajam. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Mahesa memberikan ekspresi wajah seperti itu terhadap putrinya sendiri.
Yang menjadi terdakwa, hanya bisa menunduk. Tidak sepenuhnya menyesal ataupun merasa bersalah, dia malah sibuk mengutuk seseorang yang menurutnya menjadi penyebab kemarahan sang ayah. Bagaimana mungkin Mahesa yang setiap saat selalu menyayangi dan mentolerir kesalahannya sekarang terlihat sangat marah?
"Jangan malah menyalahkan orang lain! di sini, jelas kamu yang bersalah." Tekan Mahesa seolah tahu apa yang putrinya pikirkan saat ini. "Membanggakan prestasi diri sendiri dengan cara merendahkan orang lain. Itu bukanlah watak keturunan Mahesa yang terkenal bijak, Karina." Meski intonasinya turun, namun aura ketegasan tidak sepenuhnya menghilang. Mahesa ingin anaknya paham dengan apa yang dia sampaikan.
Melihat tidak ada tanda-tanda Karina akan menjawab, Mahesa melanjutkan, "apa yang membuatmu bersikap kasar seperti itu? terlebih lagi pada seseorang yang memiliki latar belakang yang kuat?"
Tangan Karina saling terkepal satu sama lain di atas pangkuan. Dia tidak pernah berada di situasi seperti ini sebelumnya, jadi dia tidak tahu harus bersikap apa. Kemarahan ayahnya ternyata cukup mengerikan.
"Aku hanya..hanya ingin memberinya pelajaran karena-"
"Memberinya pelajaran." Potong Mahesa dengan cepat, tak lupa senyum miring yang tiba-tiba hadir di bibirnya. "Memang kesalahan apa yang dia perbuat padamu? bukankah ini pertama kalinya kalian bertemu?"
Diam-diam, Karina meneguk ludahnya kasar. Merasa gentar dengan serangan sang ayah yang sepertinya tidak akan berhenti begitu saja. "Dia..di-dia.." netranya bergulir ke kanan dan ke kiri, merasa pusing dengan alasan yang akan dia sampaikan. Dia gugup, takut, kesal juga gelisah.
Mahesa menghela nafas lelah, "dia telah merebut seseorang yang seharusnya menjadi milikmu, begitu?" lelaki paruh baya itu menyandarkan tubuhnya pada bantalan sofa, "Karina, kenapa kamu harus mengincar seseorang yang sudah menjadi milik orang lain? belum lagi caramu yang begitu murahan, tidakkah kamu merasa malu?"
"Mungkin selama ini Papa terlalu memanjakanmu. Tapi Karina, kamu harus mengetahui satu hal." Mahesa menjeda kalimatnya, merasa sedikit ragu dengan apa yang akan dia ucapkan. "Tidak semua hal yang kamu inginkan akan selalu kamu dapatkan."
Akhirnya, Karina mendongak setelah beberapa lama hanya diam menunduk. Perempuan itu menatap ayahnya dengan mata yang berkaca-kaca, "Pa..pa, aku..aku.."
__ADS_1
"Kamu tahu akibat dari perilaku kamu tadi?" Mahesa kembali mengeraskan wajahnya saat mengingat apa yang Gara ucapkan. "Sagara akan membatalkan kerjasama dengan perusahaan keluarga kita kalau kamu tidak meminta maaf langsung pada Abbysca. Itu lebih baik daripada beliau membatalkan langsung kerjasama kami. Namun Papa tahu kalau Sagara merupakan orang yang bijak, jadi dia memberikan peringatan lebih dulu."
"Kenapa dia bisa semarah itu, Papa?"
Mahesa mendengus, "kamu akhirnya dapat bicara dengan lancar setelah dari tadi hanya bisa terbata-bata?" tanyanya dengan sarkas. Dia jadi yakin kalau anaknya ini memang menaruh hati pada lelaki muda yang menjadi incaran wanita di ibukota tersebut. "Memang siapa yang tidak akan marah di saat ada orang asing yang menyerang tunangannya dengan cercaan, hinaan dan kata-kata kasar? Papa pun akan bersikap seperti itu jika ada yang menyakiti kalian, karena apa? karena Papa begitu mencintai dan menyayangi keluarga Papa. Dan itu artinya, Abbysca sangat berarti untuk Sagara."
Mahesa terdiam untuk beberapa saat, setelahnya dia berdiri karena merasa itu semua sudah cukup. "Renungkan kesalahanmu malam ini, Nak! Papa ingin tahu, bagaimana cara kamu menyelesaikan masalah ini dengan gelar tinggi yang sempat kamu singgung tadi."
Tepat setelah mengatakan itu, Mahesa benar-benar pergi meninggalkan ruang keluarga yang besar itu. Meninggalkan istri dan kedua anaknya yang masih diam, menatap kepergiannya.
"Ma, tolong buatkan Papa kopi." Suara Mahesa samar-samar masih terdengar dari balik tangga. Dan Indira tidak bisa untuk mengabaikan permintaan suaminya.
"Tolong berpikir jernih dalam merenungi kesalahan kamu malam ini, Sayang. Mama tahu kamu bisa bersikap bijak." Indira mengusap kepala si bungsu sebelum menyusul suaminya.
Kekehan yang terdengar dari arah sampingnya membuat Karina sontak mendongak. Di sana, Abimana tengah menatapnya dengan aura main-main yang entah mengapa terasa menyebalkan menurutnya.
"Sudah diperingatkan masih saja melakukan. Selain mempermalukan diri sendiri, kamu juga membuat malu keluarga." Abimana berdiri menjulang di samping adiknya yang juga tengah menatapnya, "lakukan saja apa yang sekarang sedang berkeliaran di pikiranmu! lalu kita lihat, apa yang akan Papa lakukan pada putri kesayangannya ini."
Abimana mengusap surai lembut adiknya dengan sayang, namun itu berbanding terbalik dengan wajahnya yang begitu datar. "Kakak sangat menyayangimu, tapi Kakak tidak akan bisa berbuat apa-apa jika nanti Papa sudah bertindak jauh karena sikap kamu yang tidak mau berubah."
. . .
Prang prang!
__ADS_1
Bruk!
Suara gaduh dari benda-benda yang dilemparkan menghiasi kamar luas bernuansa merah muda. Si pelaku yang mana adalah orang yang sama- yaitu Karina, nampak marah sembari menghancurkan sesuatu yang tak jauh darinya.
Gaunnya masih sama, tatanan rambutnya masih indah, riasannya masih rapi, hanya saja wajahnya cukup mengerikan untuk dilihat saat ini.
Buk! prang!
Karena merasa belum puas, Karina kembali menghancurkan satu vas bunga yang berada di atas meja rias. Dan hasilnya, kamar itu menjadi sangat berantakan. Sama dengan hati dan pikirannya yang tidak bisa tersusun dengan baik semenjak dirinya ditetapkan sebagai tersangka atas hengkangnya tamu kehormatan di pesta milik orangtuanya tadi.
"Hanya demi perempuan itu, Papa dan Kakak sampai memarahiku? aku?" menunjuk dirinya sendiri di depan cermin yang hampir retak sembari tertawa terbahak-bahak, persis seperti orang tidak waras. "Aku yang selalu bisa mendapatkan apapun yang aku mau, harus mengalah pada perempuan tak seberapa itu? wah, yang benar saja." Karina menghela nafas kasar setelah memasang kembali wajah datarnya, kedua tangannya dia simpan di atas meja rias.
"Apa yang salah? apa Kak Manda berbohong soal Gara yang tak peduli dan tak mencintai tunangannya?" tangan mulus itu meremas ujung meja rias dengan kuat hingga menimbulkan rasa nyeri yang dia abaikan begitu saja. "Gara bahkan terlihat sangat menyayanginya. Sialan!"
"Memiliki banyak harta karena menjadi adik dari seorang pewaris, mendapatkan ketenaran karena menjadi tunangan dari seorang pengusaha hebat. Hanya mengandalkan wajah cantik tanpa otak, wanita seperti itu sangat tidak cocok untuk sosok sesempurna Sagara Aditama." Lanjutnya dengan penuh perhitungan, seolah apa yang dia katakan adalah sebuah kebenaran yang harus diterima semua orang.
Perlahan, netra yang dilapisi lensa berwarna biru itu menajam, "Abbysca Anggara, mari aku tunjukkan bagaimana seharusnya menjadi seorang tunangan dari lelaki paling hebat di kota ini."
. . .
TBC
Selamat siang teman-teman, semoga sehat selalu. Saya kembali dengan bab terbaru. Semoga tidak bosan dan masih setia untuk menunggu kelanjutan cerita ini. Terimakasih atas dukungan dan cinta yang teman-teman berikan.
__ADS_1
Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^