Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Satu Demi Satu Dari Lembaran Masa Lalu


__ADS_3

Cerita kartun dengan judul 'Tangled' itu sudah berakhir. Rapunzel hidup bahagia bersama kekasih dan keluarga aslinya. Sedangkan sang ibu angkat yang selama ini merawatnya, ternyata adalah seorang penyihir yang menculik dirinya dari orangtuanya. Wanita itu memanfaatkan keajaiban emas dari rambut Rapunzel agar wajah dan tubuhnya tetap muda meski sudah hidup ratusan tahun.


Abby mengangkat kepalanya dari bahu Juna saat layar televisi di depannya kini berganti, menayangkan tulisan-tulisan yang menampilkan para pengisi suara juga para crew yang bekerja di balik layar.


"Orang yang memiliki niat buruk memang akan selalu berakhir buruk, meski dia melakukan kebaikan sebanyak apapun." Komentar Abby terhadap cerita tersebut. Alih-alih kagum dengan kisah petualangan Rapunzel sampai menemukan orang tua kandungnya, Abby malah tertarik dengan latar belakang hidup Dame Gothel yang tidak banyak diceritakan di dalamnya selain ketamakan dan ambisi wanita itu untuk menjadi awet muda.


"Maksudmu, wanita penyihir itu?" timpal Juna.


Abby mengangguk, "meski dia memang memanfaatkan keajaiban rambut emas Rapunzel, tapi sejak bayi dia memperlakukan Rapunzel dengan baik. Memberinya rumah, memenuhi kebutuhannya, sampai-sampai dia menyebut dirinya sendiri sebagai ibu."


"Ck, aku tidak mengerti dengan pikiranmu. Dia bahkan bukan tokoh utama. Kenapa kamu harus pusing memikirkannya?" Juna cukup tidak paham dengan dengan apa yang Abby maksud.


"Tapi dia adalah tokoh utama di dalam hidupnya sendiri. Sama seperti kita." Abby menjawab rasional. Terlalu rasional malah. "Harusnya penulis memberinya kesempatan untuk merasakan hidup tenang dan bahagia." Lanjutnya dengan lesu.


"Dia mati karena ulahnya sendiri bukan? dia terlalu serakah, mengambil hak orang lain dengan begitu mudahnya, melakukan tindak kriminal dan menjauhkan seorang anak dari orangtuanya. Kamu pikir dia tidak pantas berakhir seperti itu?" sialan, Juna malah ikut pusing memikirkan alur cerita kartun yang baru saja berakhir itu. Haruskah mereka memperdebatkan hal itu?


Dengan tegas Abby menggeleng, "dalam hati kecilnya, dia pasti tahu kalau yang dilakukannya itu salah." Wajah cantik itu tetap tenang meski hatinya kini bergemuruh tak nyaman. Otaknya sedang mengingat kenangan hidupnya yang begitu buruk, terpaksa membunuh orang lain demi perintah yang dia dapatkan dari Raja adalah kegiatannya hampir setiap hari. Orang yang dibunuhnya memang bersalah dan memiliki jejak pengkhianatan terhadap kerajaan, tapi hatinya selalu merasa bersalah saat harus menghabisi nyawa mereka. Apalagi saat orang-orang itu meminta pengampunan dengan mata penuh keputusasaan.


"Ayolah, jangan terlalu dipikirkan! itu hanya cerita bukan?" Juna tersenyum kecil sembari menepuk-nepuk kepala mungil Abby.


Abby berdehem, berharap kalau kewarasannya akan kembali. Mengapa dia harus terbawa emosi dan suasana hanya karena sebuah dongeng?


"Maaf, aku hanya penasaran." Gadis cantik itu memperlihatkan deretan giginya yang rapih. Berharap Juna mengerti kalau ucapannya barusan tidak mengarah ke mana-mana.


"Daripada mengurusi hal itu, bukankah lebih baik kamu menceritakan bagiamana pengalamanmu dalam mengelola restoran?" satu minggu telah berlalu semenjak Abby mendapatkan kepemilikan dari restoran Gara. Dan dia belum mendapat laporan apapun selain Abby yang mengubah jadwal buka restoran tersebut menjadi restoran dua puluh empat jam.


Abby berkedip beberapa kali dengan wajah yang sedikit bingung, "aku akan sangat malu kalau tidak bisa melakukannya di saat Kakak sendiri yah memberiku saran ini dan itu." Ucapnya sembari meringis kecil, mengundang kekehan gemas dari Juna yang melihatnya. Gemas ingin memukul kepala adiknya.

__ADS_1


"Kamu jadi memperkerjakan mereka?" Juna hanya tahu saat Erik mencari data mengenai orang-orang itu tanpa tahu apa yang akan Abby lakukan pada mereka.


Abby kini membuat tubuhnya menjadi tegak. Kedua lengan gadis itu memeluk kakinya sendiri sembari menopang dagunya di atas lutut. "Empat di antara mereka aku kerjakan di restoran karena penghasilan mereka akhir-akhir ini tak menentu, begitu sulit hanya untuk mendapatkan nominal dua puluh ribu saja." Raut wajah Abby terlihat sedikit rumit.


Juna yang mendengarnya jadi ikut berpikir, "untuk itu kamu menjadikannya sebagai restoran dua puluh empat jam? agar bisa menampung lebih banyak pegawai?"


Tanpa ragu Abby mengangguk. Sebenarnya, selain karena alasan itu, dia juga mendengar bahwa hampir delapan puluh persen pegawai di sana adalah mahasiswa. Dan restoran itu biasanya buka dari pukul delapan pagi hingga sembilan malam. Jadi, bekerja selama empat belas jam sehari bagi mereka sangat sulit karena harus membagi waktu dengan kuliah.


Bila dipikir-pikir, sistem kerja di tempat itu agak tidak manusiawi. Bagaimana mungkin mereka kuat bekerja melebihi jam kerja normal biasanya yang hanya delapan jam saja? dan saat dia bertanya mengenai hal itu pada sang manajer, orang itu berkata bahwa restoran itu selalu ramai dari pagi hingga malam. Entah Gara tahu atau tidak mengenai sistem kerja tersebut mengingat lelaki itu tidak memantau semuanya secara langsung. Namun karena sekarang dirinya yang mengambil alih, maka dia akan berusaha untuk membuat semuanya lebih ringan.


"Sebenarnya itu tidak sepenuhnya dua puluh empat jam. Restoran itu buka dua jam lebih awal dan tutup dua jam lebih akhir. Jadi, masing-masing dari mereka bekerja selama delapan jam. Yang bagian pertama, bekerja dari pukul enam sampai pukul dua siang. Dan yang lainnya bekerja dari pukul dua siang sampai pukul sepuluh malam." Abby tidak tahu bagaimana ke depannya nanti, akan efisien atau tidak. Hanya saja, sejauh ini cukup lancar. Apalagi, dirinya selalu mengikuti saran dari Juna.


"Padahal aku hanya mengucapakan satu dua kata saat kamu menanyakan ini dan itu, tapi ternyata kamu sudah cukup berkembang. Itu bagus." Senyum simetris terlihat di sana, membuat wajah tampan Juna terlihat semakin tampan.


"Aku tidak banyak melakukan banyak hal. Itu karena Gara mengelola dengan cukup baik sebelumnya." Itu benar, walau bagaimanapun restoran itu milik Gara. Jadi, tidak mungkin lelaki itu tidak ikut campur tangan sedikitpun atas aset yang dimilikinya.


Abby mendengus kesal, "kenapa jadi membahas ke arah sana?" wajahnya cemberut, menatap Juna dengan keluhan yang kentara.


"Memangnya kenapa? aku hanya bertanya. Jadi kamu setuju untuk memberinya kesempatan lagi?" entah setan apa yang merasuki tubuh Gara sampai atensi lelaki itu kini delapan puluh persen diisi oleh Abby. Padahal, Juna masih ingat dengan jelas saat Abby yang mulai berpikiran waras ke depan dan tak melulu memikirkan cara bagaimana mendapatkan Gara. Tapi semua itu berbalik dengan cepat. Kini, Gara yang memilih berjuang di saat Abby sudah menyerah.


Gadis itu menunduk dengan wajah yang agak bersemu, "Kakak yang memberiku saran seperti itu. Kenapa berlagak lupa?" diakhiri dengan dengusan sinis.


Juna terkekeh, merasa lucu dengan reaksi alami Abby. Tidak salah lagi, adiknya itu memang masih memiliki perasaan lebih untuk Gara.


"Ya, aku melakukannya untukmu. Penyesalan itu selalu datang terlambat." Jadi, jangan sampai kamu terkubur dalam lubang nestapa seperti itu! Lanjut Juna dalam hati.


Cukup lama Abby terdiam. Dengan serius mendengarkan ucapan Juna, mencoba memahami apa yang ingin lelaki itu sampaikan padanya.

__ADS_1


"Apa Kakak pernah di posisi seperti itu?" sampai kalimat itu keluar dari mulut Abby. Kini, wajahnya menatap Juna dengan penasaran.


Sedangkan yang ditanya terdiam kaku. Ingatan demi ingatan perlahan berputar di kepalanya membuat lelaki itu sedikit mengerutkan alis. Tubuhnya menjadi sedikit kaku dengan rahang yang agak mengeras.


Abby yang melihat pemandangan itu sedikit menjauhkan kepalanya. Ada apa dengan Juna?


Perlahan, Juna mengalihkan atensinya pada Abby. Untuk sesaat, entah itu hanya halusinasinya atau bukan. Tapi Abby melihat kilatan tajam kebencian di netra Juna saat menatapnya. Tak lama, karena setelahnya, mata yang mirip dengannya itu kini memberinya sinar sendu yang tak dapat Abby pahami.


"Sampai saat ini, aku masih merasakannya, Abbysca. Dan waktu sepuluh tahun pun tak cukup untuk menyembuhkannya."


Abby tidak tahu apa yang kini dirasakannya. Namun otaknya langsung memberi sinyal kalau hal yang sedang Juna bicarakan itu ada kaitannya dengannya.


Apa ada hal yang dia lewatkan sejauh ini?


. . .


TBC


Selamat pagi. Semoga kesehatan selalu menyertai kita semua. Saya datang dengan bab khusus Abby dan Juna. Semoga teman-teman terhibur dan semangat untuk menjalani hari. ^_^


Terimakasih saya ucapkan untuk teman-teman yang selalu setia menunggu dan memberikan dukungan. Entah itu melalui like atupun komentar. Saya sangat berterimakasih untuk hal itu.


Semoga hari ini kita diliputi kebahagiaan. ^_^


Salam,


Nasal Dinarta.

__ADS_1


__ADS_2