Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Aku Bukan Lawan yang Mudah Untuk Ditangani


__ADS_3

"Cantik sekali, lebih cantik daripada di foto-foto yang beredar di dunia maia."


"Bajunya juga sangat cocok dengan kulit putih pucatnya."


"Lihat rambutnya! begitu halus dan terawat. Aku berasa jadi ingin muda kembali."


"Riasannya natural dan tetesan sederhana, tapi itu sangat cocok untuknya."


"Jika Nona Abbysca belum punya tunangan, saya pasti akan mendaftarkan anak saya."


Padahal, Abby yakin sekali kalau dirinya baru saja menghabiskan waktu kurang dari sepuluh menit di sana. Tapi entah kenapa dia merasa waktu berjalan begitu lama.


Bibirnya harus tetap memancarkan senyuman dengan binar mata yang cerah, khas seseorang yang tertarik dengan pembicaraan orang-orang di sekitarnya. Abby harus memuji dirinya sendiri karena mampu menempatkan diri dengan baik meski dia tidak bisa sepenuhnya menikmati.


"Mama."


Suara halus milik seseorang membuat para wanita konglomerat itu sontak menoleh, termasuk Abby yang menjadi satu-satunya perempuan muda di sana.


Abby mengerutkan kening saat melihat seorang perempuan seusianya berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka. Meski diteliti lebih lama pun, Abby tak memiliki satu pun ingatan tentang perempuan tersebut. Itu berarti kalau keduanya tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Tapi mengapa Abby merasakan aura permusuhan dari orang tersebut?


"Oh, Karina sayang. Mama tadi mencari kamu karena ingin mengenalkanmu dengan seseorang yang begitu istimewa. Mari duduk bersama!" Indira berdiri dan menggandeng lengan putrinya agar duduk di sampingnya.


"Oh, Nak Karina. Semakin cantik saja."


"Terimakasih Tante, aku biasa saja padahal." Jawab Karina dengan lemah lembut, namun ada sedikit nada kemanjaan di sana.


"Sayang, kenalkan. Ini Nona Abbysca, tunangan dari Tuan Sagara Aditama. Ayo beri salam." Indira terlihat bersemangat, ingin sekali putrinya mengenal sosok yang luar biasa seperti Abbysca.


Abby masih diam dengan tenang saat Karina mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman. Senyum tipisnya terukir saat menerima uluran tangan tersebut.


"Selamat datang di kediaman kami, Nona Abbysca. Saya Karina, putri dari pemilik acara ini." Ujarnya dengan nada bangga.

__ADS_1


"Terimakasih, Nona Karina. Saya Abbysca. Senang sekali bisa mengunjungi acara yang luar biasa ini." Jawab Abby seadanya. Sebenarnya, dia ingin sekali pergi dari sana karena merasa suasana menjadi lebih tidak menarik. Dia dapat menebak kalau perempuan muda di depannya ini cukup berambisi untuk membuat sebuah drama.


Karina tidak lagi menjawab saat tautan tangan mereka terlepas. Perempuan itu segera mengalihkan pandangan ke arah para wanita yang lain di sana. "Tante, aku sudah lulus S1. Apa aku akan mendapatkan hadiah?" tanya Karina tiba-tiba.


Para wanita itu menunjukkan raut terkejut saat mendengarnya. Kemudian, satu persatu dari mereka mengucapkan selamat dengan kalimat penuh pujian.


"Wah, selamat ya sayang. Kamu pasti sudah bekerja keras selama ini."


"Pasti kamu lulus dengan nilai terbaik, bukan? Tante bangga sekali."


"Selamat ya, semoga ke depannya kamu segera meraih apa yang kamu inginkan."


Karina tersenyum lebar dengan rona merah muda yang menyebar di sekitar pipi tirusnya. Perempuan itu nampaknya begitu senang dengan pujian-pujian tersebut. Terlebih lagi, kini dirinya menjadi pusat perhatian para wanita berpengaruh di kota ini.


Sedangkan Indira hanya menatap semuanya dalam diam sembari mengelus punggung dan kepala anaknya dengan sayang. Merasa bangga dengan pencapaian sang putri.


"Nona Abbysca, boleh saya tahu tentang kuliah Anda? apa Anda sudah lulus atau masih mengulang semester?" celetuk Karina di tengah-tengah gurauan para wanita yang belum berhenti membicarakannya.


Sontak saja, perkataan itu mampu membuat suasana hangat dan ceria di sana menjadi canggung dengan suasana yang hening. Kini, semua orang tengah menatap Abby dengan raut wajah penasaran, meski dalam hati mereka merasa tidak nyaman karena Karina menyinggung sesuatu yang seharusnya tak boleh disinggung.


Namun Karina tak merespon. Dia hanya menatap Abby dengan senyuman polos seolah tak ada yang salah dengan ucapannya.


Tak seperti yang Karina harapkan, Abby terlihat begitu tenang dengan ekspresi yang terjaga. Seperti tidak terganggu sama sekali dengan pertanyaan Karina yang memojokkannya.


"Maaf sebelumnya, Nona Karina. Tapi saya tidak pernah mengulang semester. Jadi, bagian mana yang Anda maksud?" tanya Abby. Untuk ukuran seorang perempuan yang belum menginjak usia dua puluh, Abby begitu pandai untuk menutupi emosi.


Ada raut keterkejutan di wajah Karina, namun dengan cepat dia menutupinya. Tentu saja dengan senyuman polos andalannya yang sejauh ini selalu berhasil menipu semua orang. "Maaf, saya tidak bermaksud membuat Anda tersinggung. Tapi dari yang saya dengar, Anda cukup sering membolos bahkan itu sampai berbulan-bulan." Karina malah semakin berani karena merasa yakin dengan berita yang dia dapat. Rasanya, dia ingin sekali melihat Abby dipermalukan meski pada kenyataannya perempuan itu tak memiliki salah apapun padanya.


"Karina, hentikan! ucapanmu sungguh tidak sopan. Cepat minta maaf!" Indira terlihat semakin berang. Wajahnya memerah karena merasa malu dengan tingkah laku putrinya.


Abby menghela nafas pelan, merasa ini semua tidak akan selesai dengan cepat. Sudah dia bilang kalau menghadapi perempuan yang ahli bermain opera sabun seperti Karina ini, butuh ketenangan yang tinggi. Mari kita lihat siapa yang akan menang.

__ADS_1


"Berita? berita apa yang Anda dengar memangnya? dari seseorang yang begitu Anda percaya atau dari beberapa media?" masih seperti sebelumnya, Abby tak mudah untuk digoyahkan. Lihatlah ketenangan yang dimiliknya, masih melekat meski otaknya sudah cukup mendidih sekarang. Karina yang melihatnya tentu saja merasa tidak senang.


"Tentu saja dari orang yang sangat saya percayai. Dia adalah teman dekat dari Tuan Sagara, jadi saya sangat mempercayainya. Bukankah Anda mengenal Kak Amanda? perempuan cantik yang menjadi teman kuliah Tuan Sagara. Jadi bagaimana mungkin kalau ucapannya hanya omong kosong." Jawab Karina dengan penuh percaya diri, tak lupa dengan ekspresi lugu yang membuat Abby ingin memukul wajahnya itu.


"Sudah, Karina! kamu sudah keterlaluan. Ayo ikut Mama! bagaimana mungkin kamu bersikap kurang ajar pada tamu kehormatan kita?" Indira menarik sikut putrinya agar segera berdiri meninggalkan suasana di sana yang begitu tegang. Para wanita lain tak ada yang berani membuka mulut, tak ada juga yang berani melerai. Mereka tidak ingin ikut campur, lebih tepatnya mereka hanya ingin menjadi pengamat.


"Mama, Mama kenapa? tidak ada yang salah dengan ucapanku. Lagipula, aku hanya bertanya tentang satu hal. Jika memang dia tidak seperti itu, maka dia tinggal menjawab. Kenapa begitu sulit?" pertanyaan itu dibuat agar membuat Abby semakin terpojok. Juga untuk menggiring opini orang-orang bahwa Abby memang tidak ingin menjawab pertanyaannya, yang berarti apa yang dimaksud oleh Karina adalah sebuah kebenaran.


Abby termenung untuk beberapa saat. Dia cukup terkejut karena Karina menyebutkan satu nama perempuan yang beberapa bulan yang lalu pernah sedikit berseteru dengannya di pesta ulang tahun perusahaan Gara. Luar biasa, bagaimana mungkin Karina bisa mengenal sosok angkuh dan tak tahu malu seperti Manda?


Tapi jika dilihat dari kepribadian mereka yang begitu mirip, Abby jadi sedikit paham. Meski dia tidak ingin tahu alasan dibalik bagaimana dua orang itu bisa bertemu dan menjadi saling dekat satu sama lain, namun Abby merasa keduanya memang cocok. Sama-sama angkuh, sombong, merasa paling baik dan benar, juga selalu kekeh dengan keinginannya. Apa yang dia inginkan harus dia dapatkan. Itulah gambaran Manda dan Karina di mata Abby.


Abby menunduk, untuk menatap kedua tangannya yang saling bertautan di atas pangkuan. Setelahnya, dia kembali mengangkat pandangan dan langsung memusatkan netra jernihnya pada sosok Karina yang tengah menyeringai kemenangan. Jika bukan karena matanya yang tajam, Abby tak akan mampu melihat ekspresi yang terlihat secara singkat itu di wajah Karina. Benar-benar rubah yang mengerikan.


"Sebelumnya, terimakasih karena Anda begitu perhatian terhadap kehidupan pendidikan saya. Namun, alasan mengapa dulu saya tidak masuk selama beberapa bulan adalah untuk proses penyembuhan pasca kecelakaan. Dokter sendiri yang menyarankannya demi kesehatan saya sendiri. Jadi, itu bukan keinginan diri saya pribadi." Sedikit sinar sendu Abby perlihatkan di sana, untuk menarik rasa kasihan orang-orang yang sedang memperhatikannya. Jika Karina bisa bermain peran, maka Abby pun tidak akan kalah. Dan benar saja, para wanita di sana langsung melembutkan tatapan setelah mendengar ucapannya.


"Namun satu hal yang tidak saya mengerti, mengapa Anda bisa begitu leluasa saat membahas tentang teman dekat dari tunangan seseorang?" senyum tipis yang sejak tadi Abby pertahankan, kini menghilang. Tergantikan dengan tatapan tajam yang bercampur dengan cemoohan. "Tentu saya tahu tentang sosok Amanda, namun orang itu hanya sebatas teman kuliah Gara. Tidak lebih dari itu. Apapun yang dia katakan pada Anda, tidak bisa Anda percayai begitu saja. Amanda tidak sepenting itu di kehidupan tunangan saya."


Mengambil tas kecilnya di samping tubuh, Abby bangkit perlahan. Menatap Karina yang terdiam dengan wajah yang agak pucat, "untuk ke depannya, tolong jaga ucapan Anda, Nona Karina Mahesa." Tutur Abby penuh peringatan. Para wanita yang berada di sana langsung merinding dibuatnya, tahu kalau keturunan Anggara tidak bisa diganggu dengan mudah.


Mengalihkan tatapan pada sang nyonya pemilik acara yang sudah ikut berdiri dengan wajah panik dan sedikit ketakutan, Abby berkata. "Maaf Nyonya Indira, sepertinya saya akan pulang lebih awal. Terimakasih untuk sambutannya."


Itu adalah sebuah sindiran. Bagi Indira dan Karina sebagai tuan rumah yang tak bisa bersikap baik, juga bagi para wanita yang hanya bisa diam melihat- tanpa mau melerai atau menyangkal.


. . .


TBC


Selamat pagi, salam sehat untuk kita semua. Saya kembali dengan bab terbaru dari cerita ini. Terimakasih atas dukungan, kesetiaan, juga cinta dari teman-teman pembaca. Love you. ^_^


Jangan lupa vote dan komentarnya!

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta.


__ADS_2