
Setelah percakapannya dengan seorang gadis kecil di yayasan panti untuk pertama dan terakhir kali, Abby menjalani hari-harinya dengan sedikit kegundahan di hati. Bukan karena tahu kalau dirinya bisa saja kembali mati dengan cepat, tapi karena teka-teki yang mengelilingi jalan takdirnya.
Meski begitu, hidup orang-orang di sekelilingnya berjalan sebagaimana biasanya. Gara yang rutin mengunjungi atau menghubunginya hanya untuk menanyakan kabar, Juna yang semakin sibuk dengan pekerjaannya meski Abby cukup penasaran dengan rumor dari Erik kalau kakaknya itu sudah memiliki kekasih, juga orang-orang rumah yang selalu memperhatikan kebutuhannya.
Sore hari itu, Abby tengah berkutat dengan tugasnya yang lumayan menumpuk. Mumpung dirinya libur dan tak memiliki keinginan untuk bepergian, Abby memilih menyibukkan diri dengan sebuah laptop dan tumpukan buku yang berserakan di atas meja belajar. Sebenarnya, Elang dan Lilyana mengajaknya pergi makan di luar karena mereka juga sedang libur, namun Abby jelas menolak. Dia tidak ingin menjadi pengganggu di antara dua orang yang tengah menjalani pendekatan.
Omong-omong, hubungan Lilyana dan Elang memang belum sejauh itu. Namun Abby dapat memastikan kalau keduanya akan resmi bersama dalam waktu dekat. Terbukti dengan usaha Elang yang tidak main-main, juga Lilyana yang kelihatannya tidak menolak sama sekali. Abby sendiri tidak melakukan banyak hal selain berharap yang terbaik untuk mereka. Lilyana memang pernah melakukan hal buruk padanya di masa lalu, namun bukan berarti Abby akan terus mengingatnya. Kelihatannya, perempuan itu sudah berubah menjadi lebih baik.
"Materi ini terasa lebih sulit daripada memahami taktik perang." Gerutu Abby saat dirinya tak kunjung memahami bacaan di depannya. Padahal, sebentar lagi tugasnya selesai, namun kepalanya sudah kepalang pening.
Perempuan yang mengenakan pakaian tidur yang cukup terbuka itu menghela nafas kasar sembari meremat kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu pada permukaan meja. "Sialan! kenapa para ilmuwan harus menciptakan ilmu yang tak mudah dijangkau oleh otak manusia seperti ini?" lanjutnya sembari memejamkan mata. Sepertinya, dia butuh istirahat.
Cukup lama Abby terdiam dalam posisi seperti itu dengan kesadaran yang hampir hilang. Namun saat ada tangan lain yang menggantikan tangannya untuk memijat keningnya, Abby hampir memaki karena kaget.
Netranya yang bulat itu melotot saat dirinya mendongak dan mendapati sosok lelaki tampan yang tengah menatapnya datar bercampur khawatir. "Gara? kenapa kamu bisa ada di sini?"
Gara mendengus, namun tak menghentikan kegiatannya yang begitu ahli saat memijat kepala, leher dan kening perempuan itu. "Harusnya kamu tak perlu memaksakan diri! tidurlah saat kamu butuh tidur!" Gara mulai mengomel, satu hal yang menjadi kebiasaan lelaki itu setelah keduanya sepakat untuk memperbaiki hubungan.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Gara." Ujar Abby, namun matanya kembali terpejam. Terlihat menikmati pijatan Gara yang seolah dapat meluruskan kembali ototnya yang kejang dan semrawut.
Terdengar helaan nafas kasar dari Gara sebelum lelaki itu menjawab, "aku mengetuk pintumu lebih tiga kali, namun tak ada jawaban sama sekali. Karena khawatir, jadi aku langsung masuk saja." Jawabnya tanpa merasa bersalah.
"Baiklah, aku mengerti. Sekarang kamu bisa berhenti, kepalaku sudah agak mendingan." Pinta Abby yang langsung dipatuhi oleh Gara. Lelaki itu menjauhkan tangannya, namun tidak mengalihkan tatapannya sama sekali. Dan Abby cukup risih diperhatikan seperti itu. "Ada apa?"
Gara perlahan mundur dan bersandar pada lemari di belakangnya. Gesturnya begitu santai namun cukup menantang. Pakaian lelaki itu masih rapi meski jasnya sudah tak berada lagi di tempatnya. Namun itu malah membuat Gara terlihat semakin mempesona. Dengan wajah tenangnya, Gara melipat kedua tangan di depan dada. Memperlihatkan otot lengan yang begitu kokoh karena lelaki itu menggulung lengan kemejanya sampai sikut.
Abby yakin seratus persen kalau posisinya sekarang digantikan oleh perempuan lain, maka perempuan itu pasti tidak akan bisa bernafas dengan benar saking menawannya sosok Gara. Namun Abby bukanlah mereka. Maka dengan wajah angkuhnya, Abby memutar kursinya agar menghadap Gara dan melakukan gestur yang serupa dengan lelaki itu.
Satu alis indahnya terangkat, "kamu punya masalah denganku?" Abby bertanya dengan nada sinis dan mata yang agak menyipit.
Bukannya takut atau terkejut, Gara malah terkekeh dengan wajah malaikatnya. "Kamu tidak ingin mengucapkan terimakasih?" tanyanya main-main.
__ADS_1
"Untuk?"
Gara mengangkat kedua bahunya, "bukankah kamu merasa lebih baik setelah aku memberimu pijatan?"
Abby terdiam sejenak, "ah.." dia mengangguk paham, ".. terimakasih untuk pijatannya. Kamu sepertinya berbakat untuk menjadi tukang pijat." Wajah cantik itu memperlihatkan raut bosan.
Gara menggeleng, "aku ingin ucapan terimakasih dalam bentuk lain." Ujarnya dengan ambigu.
Awalnya, Abby masih bisa bersikap tenang. Namun, saat Gara mendekatinya dan mengurung tubuh mungilnya dengan tubuh besar lelaki itu, Abby sempat menahan nafas selama beberapa detik. Cukup terkejut dengan tindakan Gara yang tak terduga.
"A-apa yang ka..kamu lakukan?" sial, kenapa dia malah gugup seperti ini? itu hanya akan membuat Gara semakin senang. Nah, lihat saja seringai menyebalkan yang terpatri di wajah lelaki itu. Seolah menikmati kegugupan Abby yang sangat jarang terjadi.
Gara semakin menunduk, membuat Abby bisa mencium aroma parfum mahal yang menguar dari tubuh Gara. Perempuan itu merinding bukan main saat merasakan jemari panjang Gara yang agak kasar tengah menyusuri kulit lengannya yang telanjang. Untuk sesaat, Abby mengumpat dalam hati karena memilih mengenakan pakaian terbuka meski itu di dalam kamarnya sendiri. Siapa yang menyangka kalau akan ada predator ganas yang sedang menahan diri untuk tidak memakannya sekarang.
"Kamu terlihat menggemaskan saat sedang gugup seperti ini." Tangan Gara sudah sampai di pipi merona milik Abby, lelaki itu memberikan elusan lembut dan pandangan mata yang dapat meluluhkan hati wanita manapun.
Abby jadi takut kalau dirinya akan lupa diri nanti. "Mundur, Gara! kamu membuatku sulit bernafas." Jujurnya tanpa merasa malu.
Abby memutar kedua bola matanya, "apa yang kamu inginkan?"
Senyuman Gara melebar, "aku ingin sebuah ciuman."
Mata Abby melotot, kenapa lelaki itu frontal sekali saat berbicara di depan seorang gadis?
"Kamu bahkan tak pernah meminta izinku saat melakukannya, kenapa sekarang kamu bertingkah layaknya seorang anak yang patuh?" Abby kembali mendapatkan kepercayaan dirinya setelah beberapa detik menenangkan diri. Dia dengan berani menatap Gara dengan wajah tenangnya.
"Karena sekarang yang aku inginkan adalah kamu yang melakukannya lebih dulu." Mata lelaki itu berkilat penuh jenaka, Abby jadi ingin mencoloknya saat itu juga.
Abby terdiam sejenak dengan wajah menimbang. Tak lama, tangan kanannya naik untuk menjangkau leher Gara dan menariknya agar lebih membungkuk. Mereka sempat bertatapan dalam jarak yang begitu dekat, sebelum Abby memiringkan wajah dan melabuhkan bibirnya di rahang tegas lelaki itu. Tidak lama, namun sentuhan itu mampu melumpuhkan kinerja otak Gara.
Abby menjauhkan diri, kemudian tersenyum kecil saat melihat Gara yang masih membeku. Tahu kalau itu adalah kesempatannya untuk kabur, Abby memundurkan kursi belajarnya, kemudian bangkit dari sana tanpa aba-aba.
__ADS_1
Namun sayang, Abby bahkan belum menginjak langkah yang ketiga, tapi tubuhnya sudah ditarik kembali ke belakang. Perempuan itu dapat merasakan sebuah dada bidang yang menempel di punggungnya, juga dua lengan kekar yang melingkari tubuhnya.
Gara menunduk hanya untuk menyimpan wajahnya di antara bahu dan lehernya yang tak tertutupi apapun, hanya ada sepasang tali kecil yang jika dilepaskan akan membuat Abby setengah telanjang saat itu juga. Sebuah kecupan basah dapat Abby rasakan di sana. Dan perempuan itu tak berbohong kalau saat ini dirinya begitu merinding.
"Aku suka melihatmu berpakaian seperti ini. Cantik dan mengagumkan." Jemari tangan Gara terasa menggelitik saat menyusuri pinggangnya yang juga tak tertutupi pakaian. Sialan sekali, Abby jadi benar-benar menyesal karena mengenakan pakaian laknat seperti ini. "Tapi jangan pernah sekalipun berpikir untuk memakainya di depan orang lain."
"Celana pendek setengah paha, pinggang dan perut yang terpampang nyata, bahu dan leher yang terbuka. Kamu pikir aku tidak sedang menahan diri sekarang?" Abby tak tahu apa ada yang salah dengan pendengarannya atau tidak, namun suara Gara terdengar serak dan frustasi.
Tidak bisa seperti ini. Abby tidak mungkin mengaku kalah tanpa memberikan perlawanan. Dengan perhitungan dan kecepatan yang tepat, Abby membebaskan diri dari kungkungan Gara yang terasa menakutkan.
Abby membalikan badannya sembari mundur beberapa meter, "kurang ajar! dasar lelaki mesum! pergi kamu!" perempuan itu mencerca Gara penuh cemoohan. Sadar kalau dirinya masih memakai pakaian yang tak pantas, Abby segera berjalan ke arah kamar mandi.
Tawa menyebalkan dari Gara memenuhi kamar luas Abby, membuat perempuan itu semakin merasa muak.
"Baiklah, aku minta maaf. Aku tunggu di bawah nanti, ada yang ingin aku bicarakan." Senyuman di bibirnya tak luntur, apalagi saat melihat Abby yang tak menggubris ucapannya. "Dan omong-omong, kamu terlihat seksi saat sedang marah."
Brak!
Pintu kamar mandi ditutup dengan kencang oleh Abby, beriringan dengan suara keras perempuan itu yang menyuruhnya agar segera pergi. Dan Gara tak memiliki pilihan lain selain keluar dari kamar dengan perasaan menyenangkan yang tak dapat dijelaskan.
Dia memang agak keterlaluan, tapi melihat Abby kesal adalah sesuatu yang cukup sulit dia dapatkan. Jadi, dia akan menikmatinya selagi masih ada kesempatan.
. . .
TBC
Selamat malam, teman-teman. Terimakasih untuk dukungan dan cinta dari pembaca setia Abbysca. Semoga teman-teman merasa terhibur karena bab ini penuh dengan gula dan madu. Awas diabet! -_-
Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta.