Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Akan Selalu Ada 'Kenapa' Dibalik Peristiwa 'Apa'


__ADS_3

"Selamat datang, Tuan Sagara, Nona Abbysca."


Damar yang kala itu sedang berkutat dengan laptopnya, langsung berdiri saat melihat dua orang terdekat atasannya keluar dari lift. Melihat raut suram di wajah Gara, lelaki itu tidak berani bertanya lebih. Beberapa kali berbicara santai dengan Mahen, membuat dia cukup tahu bagaimana perangai seorang Gara.


"Hm. Apa Juna ada di dalam?" Mengatakan tujuan tanpa basa-basi. Sedangkan Abby hanya tersenyum kecil untuk merespon sapaan sekretaris kakaknya tersebut.


"Ada Pak, kebetulan baru selesai makan siang. Silahkan ma-"


Pintu ruangan di dekat mereka terbuka dari dalam, membuat mereka kompak menoleh, Damar bahkan tak memiliki kesempatan untuk meneruskan ucapannya.


Andita baru saja keluar dengan sebuah nampan di tangannya. Perempuan itu seperti terkejut saat menyadari tamu tak diundang di sana. Sekuat tenaga, dia menahan kegelapan di raut wajahnya saat melihat tatapan agak merendahkan dari sosok Gara. Entah apa maksudnya.


"Selamat siang, Pak Gara." Menyapa dengan sopan dan senyuman manis. Namun reaksinya sedikit berbeda saat menyapa Abby, "Nona Abby." Itu lebih terdengar malas dan bosan, meski perempuan itu cukup pandai menutupi.


Tak ada yang menyahut salam tersebut. Gara yang terlihat tidak peduli, dan Abby yang seperti tengah berpikir.


"Ayo masuk!" Gara menarik tangan tunangannya dan mengajak perempuan itu agar memasuki pintu yang tidak tertutup sepenuhnya.


"Tak perlu menyapa jika tidak ingin." Itu adalah ucapan Gara saat mereka berdua melewati Andita yang berdiri di dekat pintu, seolah menjaga pintu tersebut agar tak ada yang memasukinya selain dirinya.


Andita tercengang saat mendengar ucapan tak terduga dari Gara. Begitupun dengan Damar yang tak mengerti apa-apa. Dalam hati dia merenung, berharap bukan dirinya yang Gara maksud. Dia tak melakukan kesalahan apapun kan barusan?


Di sisi lain, Gara dan Abby yang masuk ke dalam ruangan Juna, tengah berdiri kaku di ujung ruangan kala si pemilik tempat hanya diam di balik meja kerjanya. Terlihat mengacuhkan kehadiran dua tamunya. Entah karena tidak tahu atau memang tidak ingin tahu.


"Apakah kedatangan kami mengganggu waktu Anda, Pak Arjuna?" Gara berujar sopan dan formal. Namun kakinya melangkah ringan dan dengan santainya duduk di sofa tanpa harus dipersilahkan. "Duduk, Abby Sayang!" Menarik tangan tunangannya dengan lembut agar duduk tenang di sampingnya.


Juna memperhatikan sepasang kekasih yang baru saja tiba. Masih bersikap acuh, laki-laki itu berdiri dan meninggalkan pekerjaannya. Lalu menghampiri keduanya dengan ekspresi tak berarti.


"Apa kabar, Gara?" Juna duduk di sofa lain yang menghadap langsung pada Gara. Namun entah apa maksudnya, laki-laki itu tak mengindahkan kehadiran Abby sama sekali. Menatapnya saja tidak, hal yang membuat Gara mengernyit heran. Sedangkan Abby yang sudah dapat menebak, hanya diam memandangi kakaknya yang sekarang terasa begitu asing.


Menekan rasa tak nyaman di dalam hati, Gara menjawab, "baik. Dan kamu terlihat agak berbeda." Ujarnya penuh makna sambil memandang Juna penuh penilaian. Gara seperti menemukan hal yang tak seharusnya ada di dalam diri temannya itu.


Juna menuangkan air minum dari poci kristal ke dalam dua gelas kecil dan meletakkannya di depan mereka. "Harus ada perubahan agar hidup berjalan sesuai keinginan, bukan?" Ucapannya penuh dengan sarkasme. Pun dengan lirikan sudut matanya yang mengarah pada Abby yang sejak tadi memandangnya.

__ADS_1


Kekehan sinis terdengar, "apa perubahan itu termasuk mengabaikan orang-orang terdekatmu?" Menyerang langsung tanpa basa-basi.


Lirikan tajam Juna berikan pada Gara. "Orang terdekatku? Siapa yang kamu maksud? Aku selalu bertemu dengannya setiap hari, bahkan kami sering menghabiskan waktu bersama." Raut wajahnya menyiratkan kebingungan yang terlihat begitu palsu di mata Gara dan Abby.


Gara diam sejenak dengan raut yang semakin tak menyenangkan.


"Apa kamu gila?" kalimat itu akhirnya keluar juga.


Alih-alih marah, Juna malah tersenyum makin lebar. Netranya berpindah pada Abby yang tak mengatakan apa-apa. "Oh, apa wanitamu baru saja mengadu? apa yang dia katakan? apa dia mengeluh karena aku sekarang tak mempedulikannya?"


Ucapannya benar-benar memancing emosi Gara yang sejak tadi dia tahan. Namun saat akan membalas perkataan tersebut, ada sebuah yang yang memegang bahunya agar berhenti. Gara menoleh, dan menemukan wajah Abby yang begitu tenang dan datar. Terlihat tak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Juna.


"Tak perlu ditanggapi. Anggap saja dia sedang gila." Tanpa merasa harus berbisik-bisik, Abby mengatakannya dengan nada biasa. Seolah Juna memang harus mendengarnya.


Abby berdehem pelan, lalu melirik minuman yang tersedia di atas meja. "Tak baik menolak minuman dari tuan rumah." Ujarnya ketika mengambil satu cangkir, lalu berkata sesuatu sebelum meminumnya, "terimakasih untuk minumannya, Kak."


Rasanya manis dan segar, namun lidahnya yang sudah terbiasa dengan berbagai macam rasa sejak dulu, dapat merasakan pahit di ujung tenggorokannya kala cairan itu habis di mulutnya. Juga aroma aneh yang cukup menyengat di hidungnya.


Abby menoleh dengan cepat ke arah Gara yang baru saja mengangkat cangkir miliknya. Lalu dia mengentikan gerakan Gara dengan tangan kecilnya. Berhasil, laki-laki itu langsung menoleh saat melihat tangan Abby yang menggenggam pergelangan tangannya. Seperti sedang mencegah sesuatu.


"Ada apa?" tanyanya heran.


Perempuan itu belum mampu mengatakan apa-apa, hanya menatap tunangannya dengan wajah rumit. Namun dia merasa lega karena minuman itu belum tersentuh oleh Gara.


Sedangkan di sisi lain, Abby bingung untuk memberikan alasan. Akan sangat rumit bila dia mengatakan minuman yang Juna suguhkan mengandung sesuatu yang membahayakan.


"Itu.." Abby sedang mencari kata yang tepat.


"Tenang saja, aku belum terpikir untuk memasukkan racun di dalamnya."


Juna yang sejak tadi ikut memperhatikan interaksi keduanya, tak bisa menahan kesal akibat egonya yang tersentil oleh tindakan Abby. Apa-apaan perempuan itu? apa Abby berpikir bahwa dirinya akan bertindak sejauh itu?


"Tidak sekarang, mungkin." Lanjut Juna dengan sikap yang sudah kembali acuh. Entah sejak kapan dia menjadi malas bicara jika bertemu dengan adiknya.

__ADS_1


Melihat jika Abby memilih diam tak menanggapi ucapannya, juga Gara yang kini telah menyimpan kembali cangkir miliknya tanpa diminum sedikitpun, Juna hanya bisa terkekeh sinis. Seringai menyebalkan terlihat jelas di wajah tampannya saat mengingat sesuatu yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.


"Katakan, apa kamu sudah menyadari kesalahanmu sekarang?" netranya menatap Abby dengan lekat, pun dengan raut wajahnya yang kembali datar tak terbaca.


Ada sinar keterkejutan di wajah perempuan itu kala menyadari Juna mengajaknya bicara. Dia pikir, dirinya akan terus diacuhkan selama mereka berada di sini.


"Kesa..lahan?" Abby bertanya ulang, lebih untuk dirinya sendiri.


Aku memiliki banyak dosa dan kesalahan. Jadi, hal mana yang kamu maksud? tentu saja itu semua hanya Abby ucapkan dalam hati.


"Cih!" Juna mencebik sambil mengalihkan pandangan ke arah lain. "Masih bersikap tidak berguna seperti biasanya. Tidakkah kamu merasa muak dengan semua kepura-puraan ini? ayo, tunjukanlah dirimu yang sebenarnya! tak perlu lagi menyembunyikan diri di balik wajah malaikat itu." Berkata panjang lebar dengan nada yang tak main-main.


Abby terhenyak di tempatnya. Kalimat panjang penuh tuduhan ini. Apa Juna sudah mengetahui identitasnya yang asli? apa ini akhir dari hidupnya? perempuan itu menahan rautnya agar tetap tenang. Juga diam-diam berharap agar detak jantungnya yang berdegup kencang saat ini tak terdengar oleh siapapun selain dirinya.


"Kakak, apa maksud-"


"Tolong berhenti!" Juna memotong ucapannya.


"Hah?" Abby menimpali dengan linglung dan sedikit kosong.


Hening sejenak. Sepasang saudara itu saling menatap dengan sorot mata yang berbeda. Keduanya nampak saling menyelami netra masing-masing, mencari sesuatu yang bisa saja tersembunyi di sana. Sedangkan Gara memilih diam dengan tenang, dia akan membiarkan adik kakak di depannya ini saling bicara. Jika semuanya sudah tak kondusif lagi, baru dia akan turun tangan nanti.


"Aku sungguh muak mendengar panggilan itu. Bisakah kamu menghentikannya?"


Dan Abby benar-benar dibuat terhenyak oleh ucapan Juna. Sorot matanya berubah menjadi nanar dan rasa ketidakpercayaan. Pun dengan Gara yang menatap Juna seolah laki-laki itu bukanlah orang yang selama ini dikenalnya.


. . .


TBC


Salam,


Nasal Dinarta.

__ADS_1


__ADS_2