Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Sepi Hanya Akan Membuatmu Merasa Sendiri


__ADS_3

Sepi sebenarnya sudah menjadi bagian dari hidup Gara setelah sekian lama, hampir setara dengan usianya yang kini mencapai seperempat abad. Selain hati dan perasaannya yang lama tak tersentuh, rumah yang menjadi tempatnya tumbuh pun tak memiliki makna lebih selain untuk tidur dan melepas rasa lelah di tubuh.


Terkadang, dirinya ingin sekali menyalahkan 'mereka' yang menjadikannya sebagai anak tunggal. Karena nyatanya, hidup tanpa memiliki saudara kandung itu cukup menyedihkan. Gara rasanya ingin memiliki seseorang yang bisa dia ajak bicara di rumah ini selain para pegawai dan juga pelayan.


"Selamat pagi, Tuan Muda." Yang menyapanya di ujung tangga adalah Mada, seorang lelaki tua yang sudah menemani Gara sejak kecil. Dari seorang pelayan, kemudian menjadi ketua pelayan, dan kini posisi Mada bahkan lebih dari itu bagi Gara.


"Pagi, Paman." Gara memberikan senyuman tipis sebelum mengambil tempat duduk di atas kursi depan meja makan. Dan tarikan di sudut bibirnya langsung pudar saat sadar kalau tidak ada orang lain di sana kecuali dirinya.


"Apakah Mama sudah pergi lagi?" lelaki itu bertanya dengan nada datar.


Mada mengangguk sopan, "ya, Tuan Muda. Nyonya berangkat pukul lima pagi dan berpesan akan kembali setelah kondisi di sana membaik."


Melly dan pekerjaan memang tidak bisa dipisahkan. Apalagi, semenjak kejadian besar waktu itu, Melly seperti tidak betah berada di rumah. Kegilaan wanita itu terhadap uang melebihi Gara yang notabene seorang direktur utama di perusahaan besar.


Meski Gara tahu kalau ada alasan lain dibalik sikap Melly yang seperti acuh tak acuh, namun dia tidak ingin terlalu pusing memikirkannya. Jika bukan karena dirinya memiliki tanggungjawab atas kediaman Aditama ini, mungkin sudah sejak lama dia tinggal di apartemen. Untuk apa hidup di tempat yang selalu membuatnya sesak? namun mengingat belasan pegawai yang menggantungkan hidup dari bekerja di rumah ini, Gara tidak mungkin melakukan hal itu.


"Kenapa menunya terasa sedikit aneh?" Gara tidak mau membahas urusan ibunya lagi. Maka dari itu, dia bertanya hal lain yang sedikit menarik perhatiannya pagi ini.


Gara adalah manusia pemilih soal makanan. Dia hanya akan mengonsumsi makanan sehat yang diolah secara higienis dan harus dihidangkan dengan hangat. Jika bukan direbus atau dikukus, maka makanannya akan dibuat dengan cara dipanggang. Tidak ada tahapan menggoreng sama sekali. Jadi, melihat daging berbumbu dengan minyak yang mengkilap di area luarnya membuat Gara mengernyit heran.


Mada berdehem canggung, "itu sebenarnya saran dari Nona Abbysca, Tuan Muda."


Secepat kilat Gara menoleh, "kamu bilang apa?"


Mada memperlihatkan wajah rumit, seperti tengah berpikir. Mengingat kembali percakapannya dengan Abby saat berada di rumah sakit waktu itu.


"Paman, aku pikir Paman harus memberi Gara sedikit makanan berlemak agar hidupnya lebih licin. Tidak terlalu kaku."


"Lalu, katakan padanya untuk tidak terlalu mengekang diri. Sekali-kali bertindak gila itu tidak masalah."


Abby mengatakannya dengan wajah datar namun menatap Mada dengan mata yang teduh. Setelah itu, Abby pergi. Membiarkan Mada mengurus kepulangan Gara dari rumah sakit.

__ADS_1


"Nona Abbysca sepertinya mengkhawatirkan Anda." Mada berkata hal jujur tentang itu. Meski sudah cukup lama semenjak Abby mengunjungi kediaman ini, begitu pula dengan sikap perempuan itu yang agak menjaga jarak dari kehidupan Gara, namun tatapan penuh perhatian yang terpancar di netra Abby saat membicarakan Gara membuat Mada yakin kalau perempuan itu tidak sepenuhnya berubah.


Gara mengunyah daging berlemak tersebut dalam diam, merasakan tekstur lembut dan rasa baru yang menyapa lidahnya. Bibirnya kembali tersenyum tipis dengan hati yang menghangat saat tahu kalau posisi Abby tidak sejauh itu untuk dia jangkau.


Meski hidangan di depannya tidak terlalu sesuai dengan menu sarapannya yang biasanya sehat, namun itu tidak terlalu buruk. Ya, mungkin sebaiknya dia mendengarkan saran dari Abby.


. . .


"Lima dari mereka adalah lelaki pertengahan empat puluh. Bekerja sebagai pedagang asongan yang akan menjajalkan dagangan mereka pada pengendara saat lampu merah menyala. Mereka sudah berkeluarga dan hidup sebagai tulang punggung ekonomi.."


"..lalu, dua orang dari mereka adalah seorang lansia yang hidup sebatang kara dan menggantungkan hidup dari berjualan mainan anak yang hasilnya tak seberapa.."


"..kemudian ada tiga wanita berusia hampir lima puluh tahun. Mereka harus bekerja karena kehilangan suami sebagai penyokong nafkah.."


"..dan sisanya adalah anak-anak yatim piatu yang seharusnya mengenyam pendidikan, tapi harus berjuang mencari uang karena kesulitan ekonomi dengan cara mengamen, berharap akan ada orang baik yang memberi mereka uang setelah mendengar suara mereka yang pas-pasan."


Abby memijit keningnya yang terasa pening saat mendengar penjelasan Erik mengenai orang-orang kurang beruntung yang datanya dia pinta waktu itu.


Abby dengan cepat mengangkat tangannya, meminta Erik untuk berhenti. "Aku tidak ingin dibuat semakin pusing, Kak. Itu saja sudah cukup." Perempuan itu menegakkan tubuhnya yang sejak tadi bersandar pada kepala sofa di ruang keluarga.


"Lagipula, aku tidak sebaik itu untuk menolong mereka semua yang bernasib sama di kota ini. Bukankah seharusnya itu urusan pemerintah?" Ujar Abby blak-blakan. Jika bukan karena kehadiran mereka yang tertangkap indera penglihatannya waktu itu, mungkin Abby tidak akan melakukan hal sebaik ini.


Erik mengatupkan bibirnya sambil membenarkan ucapan Abby di dalam hati.


Abby menghela nafas, kemudian bangkit dari duduknya. "Aku akan membicarakannya lebih dulu dengan Kakak nanti." Setelahnya, perempuan itu menoleh pada Erik yang masih setia berdiri tegap di depannya. "Kak Erik tidak sibuk hari ini?" tanya Abby penasaran.


Erik terdiam sejenak, "tidak, Nona." Memangnya kapan dia sibuk? selama ini pekerjannya adalah melakukan apa yang Abby perintahkan tanpa membantah ataupun bertanya. Intinya, dia mendedikasikan hidupnya untuk melayani Abby sepenuh hati.


Alis perempuan itu naik, "Aku dengar Kak Erik sering ke kantor Kak Juna akhir-akhir ini."


Erik menjawab setelah berkedip dua kali, "oh, itu.." dia bingung harus memberitahu apa pada Abby.

__ADS_1


Tidak ada yang Abby lakukan selain mendengus dan memalingkan wajah ke arah lain, "baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Aku pergi dulu, Kak. Tidak perlu mengantar karena temanku sudah di depan." Abby buru-buru mencegah Erik yang akan mengikutinya, mungkin ingin mengantarnya saat dia bilang akan pergi.


"Oh, mungkin aku nanti akan menghubungi Kak Erik." Memberikan senyuman manis sebelum benar-benar pergi meninggalkan Erik yang kebingungan.


"Baik, Nona. Saya mengerti."


. . .


"Jadi kamu sekarang pemilik restoran ini?" Elang tidak bisa untuk tidak menganga, terkejut dengan penjelasan yang Abby berikan saat keduanya memasuki restoran lokal yang waktu itu mereka kunjungi.


"Luar biasa." Lelaki itu sekarang tidak akan meragukan kekuasaan seorang konglomerat. Mereka bahkan lebih dari mampu untuk membeli sesuatu yang begitu mustahil untuk ukuran orang biasa, semudah membalikan telapak tangan.


Abby menggeleng tidak setuju, "kamu berlebihan ."


Elang berdiri kaku di belakang Abby saat semua pegawai di restoran itu menyambut kedatangan mereka dengan kompak. Raut sopan, segan dan senyuman lebar yang menurutnya agak berlebihan itu terpatri di wajah mereka. Dia juga melihat Lilyana yang berdiri paling belakang, tengah menatap ke arah mereka dengan penasaran.


Melihat dari suasana restoran yang begitu sepi dari pengunjung padahal ini sudah pukul sembilan pagi, sepertinya mereka memang sengaja akan buka lebih siang.


"Selamat pagi, Nona Abbysca."


Abby tersenyum kecil, "selamat pagi semuanya. Mari kita mulai rapatnya."


. . .


TBC


Selamat malam teman-teman. Terimakasih selalu mendukung dan menunggu kelanjutan cerita yang tak seberapa ini.


Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta.


__ADS_2