
Mobil jenis sedan yang Elang kendarai memasuki gerbang besar berwarna putih yang dijaga oleh seorang pihak keamanan berseragam biru tua. Dari plang nama yang terpampang saja Elang bisa menebak kalau tempat yang akan mereka masuki adalah yayasan sosial. Entah apa yang membuat Abby membawanya ke sini.
Keduanya langsung turun saat mendapati beberapa orang yang keluar dari dalam gedung datang menyambut kedatangan mereka. Abby sebenarnya ingin menghindar karena tidak memiliki keahlian dalam berbasa-basi, tapi dia tahu kalau itu tidak mungkin. Jadi, dia menghampiri para petugas dengan senyuman kecil yang tersinggung di bibirnya.
"Selamat pagi." Perempuan yang hari ini mengenakan setelan baby blouse dengan lengan pendek tersebut menyalami mereka satu persatu. Sedangkan Elang mengikuti setelahnya.
"Selamat pagi, Nona. Selamat datang. Maaf, kami tidak menyiapkan apa-apa untuk menyambut kedatangan Anda. Pak Hari menyampaikan berita ini dengan begitu mendadak." Seorang wanita kisaran empat puluhan memberikan penjelasan dengan wajah nada segan namun sangat sopan.
Abby hampir mendengus dibuatnya. Memangnya apa yang akan mereka lakukan jika mengetahui kabar kedatangannya lebih awal? lagipula, Abby tidak mengharapakan apa-apa. Dia bukan tamu penting yang harus disambut juga. Ada-ada saja mereka ini. "Saya bukan pejabat, Bu. Tidak perlu melakukan apapun." Jawab Abby dengan mata yang menatap ketiganya dengan sedikit jenaka.
Mereka tidak menjawab, hanya menanggapi dengan senyum. Namun, mata mereka yang kerap kali mencuri pandang ke arah Abby membuat perempuan itu merasa sedikit konyol. Apa yang dia lihat barusan adalah tatapan kekaguman? ayolah, Abby tidak seistimewa itu.
Abby berdehem kecil, "ini teman saya, Elang. Saya ingin membawanya berkeliling ke dalam. Apakah bisa?" meski yayasan ini milik keluarganya, namun orang-orang ini adalah pegawai yang bertanggungjawab di tempat ini. Akan sangat tidak sopan kalau Abby masuk ke dalam begitu saja.
"Tentu, Nona. Anda tidak perlu mendapat izin dari kami untuk melakukan apapun. Silahkan masuk! perlukah salah-satu dari kami mengantar Anda?" si wanita berambut pendek kembali menimpal.
Yang ditanya terlihat menggeleng, "tidak perlu. Terimakasih atas izinnya. Saya dan teman saya akan masuk."
Setelahnya, Abby benar-benar pergi dari hadapan mereka bersama Elang yang sejak tadi diam.
Perempuan itu merasa hatinya menghangat saat langkah mereka semakin dekat menuju tempat yang dituju. Apakah rencananya akan berhasil sekarang? Abby melirik Elang yang berjalan di sampingnya, "apa kamu tidak penasaran kenapa aku membawamu ke sini?"
Elang mendengus sambil tersenyum kecil, "aku sudah bertanya dari tadi omong-omong. Tapi kamu tidak mau menjawab." Mata lelaki itu menatap ke kanan dan kiri, senyumannya melebar saat mendapati beberapa lansia tengah duduk dengan santai di bangku taman bersama seorang perawat di samping mereka.
Abby ikut memperhatikan apa yang Elang lihat. Dan dia tidak bisa untuk tidak tersenyum haru. Para orang tua yang ditinggalkan anaknya seperti mereka masih bisa tersenyum dengan lebar meski hatinya pasti merasa tidak baik-baik saja. "Mereka terlihat tulus." Komentar Abby setelah cukup lama hanya diam memperhatikan.
"Mereka adalah orang-orang kesepian yang merindukan keluarganya. Namun, hanya perawat-lah yang setia mendatangi mereka setiap hari." Netra gelap Elang berembun saat dia jadi mengingat seseorang, "Kakek.." panggilnya pada angin pagi yang menyapa.
"Kamu merindukan kakekmu?"
"Ya, tentu saja." Jawab Elang dengan spontan.
__ADS_1
"Ingin bertemu dengannya?"
"Setiap berdoa, itulah hal yang aku pinta pada Tuhan."
Abby mempertajam penglihatannya saat mendapati sosok yang dia cari tengah duduk di bawah pohon dengan sebuah buku tebal di pangkuannya. "Kamu masih mengingat wajahnya?"
Elang diam sejenak sambil mengingat-ingat rupa sang kakek yang sudah lama tak dilihatnya, "tidak terlalu, tapi aku pasti akan langsung mengenalinya jika kami bertemu." Dia yakin akan hal itu.
"Oh, benarkah? ayo kita buktikan!" jawab Abby ambigu. Namun langkah perempuan itu begitu yakin saat membawa Elang pada tempat yang ditujunya.
"Apa ada seseorang yang akan kamu temui?" tanya Elang penasaran dengan kaki yang tidak berhenti mengikuti Abby.
"Bukan aku sebenarnya, tapi kamu."
Alis laki-laki itu naik memperlihatkan raut bingung, "aku?" menunjuk dirinya sendiri.
Abby hanya terkekeh kecil tidak menjawab.
Mereka berhenti tepat di samping bangku panjang yang terbuat dari kayu. Abby mendengus dalam hati saat mengingat dirinya pernah duduk di sana bersama seseorang.
"Nona Abbysca." Danu menyimpan bukunya kemudian bangkit perlahan seiring dengan Abby yang datang menghampirinya.
"Abby, Kek." Entah berapa kali Abby mengingatkan Danu agar berhenti memanggil namanya dengan embel-embel 'Nona'. Tapi Danu seperti tidak mendengarkannya.
Abby langsung memeluk tubuh penyelamatannya tersebut saat sudah saling berhadapan, mengabaikan Elang yang kebingungan.
"Kakek terlihat sehat." Mata Abby meneliti penampilan Danu yang bersih dan terawat. Orang-orang di sini sepertinya menjalankan tugasnya dengan baik.
"Tentu saja, saya sangat bersyukur. Itu semua berkat Anda." Danu tidak sengaja melirik Elang yang terdiam kaku di samping Abby, "teman Anda?" menatap Abby dan Elang bergantian.
"Ya, Kek. Elang juga ingin menemui kakeknya di sini." Jawaban Abby membuat Elang sendiri terkejut. Kapan dia berkata seperti itu? namun lelaki itu tidak bisa memalingkan mata dari sosok Danu yang terasa tidak asing.
__ADS_1
Danu mengangguk mengerti, "oh, kakeknya juga berada di sini?" matanya tidak lepas dari wajah Elang yang sedikit familiar di ingatannya. Dia merasa pernah melihatnya, namun usianya yang sudah lanjut membuat Danu sering melupakan banyak hal.
"Kamu bilang ingin bertemu dengan kakekmu? bahkan tadi kamu bilang kalau kamu bisa langsung mengenalinya jika bertemu. Kamu memang pembohong ulung." Abby nampak mencemooh Elang, namun wajahnya memperlihatkan sebaliknya.
"Hah?" Elang semakin bingung dibuatnya. Apalagi, saat mendengar ucapan terakhir Abby. Dadanya tiba-tiba bergemuruh, matanya memanas saat kemungkinan-kemungkinan yang berkeliaran di pikirannya sejak tadi bisa saja menjadi nyata.
"Ini Kakek Danu. Danu Suwardi. Orang yang kamu cari, Elang." Jelas Abby perlahan.
Danu maupun Elang sama-sama terhenyak di tempatnya. Dua lelaki dari berbeda generasi tersebut saling menatap dengan dalam.
"Cucu..kamu cucuku?" suara Danu tercekat di tenggorokan.
Elang sendiri masih terlihat linglung. Dia menatap Abby dengan pandangan menuntut penjelasan. Namun dia yakin kalau temannya itu tidak berbohong. Jadi, apakah yang di depannya ini memang kakek yang dia cari selama ini?
"Be-benarkah? Kakek? a..aku.."
Ucapan Elang yang terbata-bata itu terhenti begitu saja kala Danu lebih dulu mendekat dan membawanya ke dalam pelukan. Bahu pemuda itu terasa basah saat Danu menyimpan wajahnya di sana. Dan Elang bersumpah kalau air matanya langsung turun saat itu juga. Tangannya terulur untuk mendekap tubuh renta Danu ke dalam pelukan erat.
Abby terenyuh melihat pemandangan di depannya sampai tak terasa kalau matanya ikut memanas. Dengan cepat, perempuan itu memalingkan wajah ke arah lain. Ke mana saja selain harus menatap sepasang kakek dan cucu yang tengah melampiaskan rindu karena terpisahkan lama oleh waktu.
Netra jernihnya memandang langit pagi yang terlihat agak mendung. Hujan gerimis yang menerpa ibukota sudah berhenti sejak mereka sampai di sana. Itu bagus, sepertinya cuaca pun mendukung pertemuan Danu dan Elang.
Abby meremas ujung pakaiannya saat mengingat keluarga yang dia tinggalkan jauh di sana, terbatas oleh masa yang ada. Akankah mereka pun merindukannya?
. . .
TBC
Selamat pagi. Maaf, saya tidak hadir selama dua hari berturut-turut. Saya agak sibuk dengan acara keluarga besar. Mohon maaf sekali lagi buat teman-teman yang selalu setia menunggu. 🙏
Terimakasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan buat pembaca yang selalu mendukung dan memberikan banyak cinta. Love you.^_^
__ADS_1
Salam,
Nasal Dinarta