
Sudah dua puluh menit Gara di sana. Menghabiskan waktunya di sebuah ruangan persegi empat yang cukup luas, dalam diam. Netra elangnya tak sedikitpun bergeser dari sosok lelaki setengah baya berpakaian pasien yang tengah menatap kosong ke luar jendela kamar yang terbuka.
Setelah berhasil menghabiskan setengah porsi dari jatah makan siangnya dengan dibantu seorang perawat, lelaki yang masih tampan walau sudah tak muda lagi tersebut tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melirik Gara dengan sungkan seolah yang ditatapnya adalah orang asing. Lalu, dia akan kembali memalingkan wajah ke arah lain dengan kedua tangan yang saling bertaut. Persis seperti anak kecil.
"Papa.."
Meski Gara tahu kalau hatinya sudah lama membeku dan susah untuk tersentuh, namun dadanya masih bisa merasakan denyutan nyeri saat melihat sosok yang menjadi panutannya selama ini harus berakhir di tempat ini. Tempat di mana orang-orang yang kehilangan kewarasannya tinggal.
"Papa terlihat sehat." Gara memperhatikan sang ayah dengan teliti. Meski tidak sebugar dulu saat masih normal, namun ayahnya tidak pernah kekurangan perawatan. Gara sengaja menempatkannya di tempat terbaik dengan pelayanan dan pengobatan tingkat atas. Lelaki itu bahkan sengaja membayar mahal seorang dokter kejiwaan yang berpengalaman dengan lisensi terbaik untuk ayahnya. Dengan harapan, suatu saat nanti sang ayah akan kembali dengan segala hal yang dilupakannya.
"Maaf, aku tidak bisa melihat Papa setiap hari." Satu hal yang disesalinya, dia cukup kesulitan untuk keluar masuk ke tempat ini. Selain karena sibuknya dia mengurus perusahaan, dia pun harus berseteru dengan Melly jika ibunya tahu dia menjenguk sang ayah. Dan itu adalah sesuatu yang dia benci sampai saat ini.
Gara mendekat dan mengambil tempat tepat di depan ayahnya yang tengah duduk di atas kursi roda. Lelaki itu meneliti wajah ayahnya yang perlahan menua di makan usia, namun menurutnya sang ayah masih terlihat sama.
"Papa, sebentar lagi ulang tahun perusahaan akan berlangsung. Dan para penjilat itu pasti akan bertindak menyebalkan nanti." Gara membiarkan dirinya terlihat seperti anak kecil yang tengah mengadu, "aku membutuhkan Papa agar mereka tidak berani mendekat dan merecoki hidupku." Mata elangnya sedikit meredup, "karena Mama hampir bersikap sama seperti mereka beberapa tahun terakhir ini. Aku bahkan tidak bisa mengenalinya."
Tangan Gara terangkat, mengambil tangan lemah sang ayah yang masih diam. Namun dia tahu kalau ayahnya itu pasti sedang mendengarnya, terlepas dari mengerti atau tidaknya ayahnya dengan kalimat yang dia ucapkan.
Reaksi tubuhnya yang buruk saat bersentuhan dengan orang lain tidak berlaku jika itu bersama ayahnya. Hanya bersama sang ayah Gara mampu bersikap layaknya manusia normal. Karena hanya tangan inilah yang mampu dia sentuh dan pegang tanpa ada rasa jijik sedikitpun di dalam hatinya.
"Walau harus terus menunggu tanpa adanya kepastian, tapi aku tidak berhenti berharap kalau suatu saat nanti, kita bisa kembali seperti dulu, Papa." Air matanya turun membasahi pipi, bersamaan dengan netra ayahnya yang kini perlahan fokus pada Gara.
Untuk sesaat, Gara merasa kalau ayahnya sudah kembali.
__ADS_1
. . .
"Kapan Kakak akan berhenti?" seorang lelaki dengan pakaian rapinya kini tengah berhadapan dengan wanita yang sudah menjadi kakak iparnya sejak lama. Mengeluarkan satu kalimat yang sudah terlalu sering dia ucapkan kala pertemuan itu datang.
Yang ditanya hanya memalingkan wajah ke arah lain tanpa merubah ekspresi datarnya. "Apa yang harus aku hentikan?" berdecak kesal dengan amarah yang perlahan naik ke ubun-ubun.
Si lelaki itu menghela nafas tak percaya mendengar pertanyaan tersebut, "Kakak jelas tahu apa yang aku maksud. Apa Kakak tidak merasa kasihan dengan Gara?"
"Jangan sebut nama anakku jika kamu masih mengaitkannya dengan lelaki yang berkhianat itu!" sanggah Melly. Teriakannya cukup kencang, membuat para pelayan yang berada tak jauh dari sana merasa was-was. Takut kalau akan ada pertengkaran yang tak diinginkan terjadi. "Lagipula kenapa kamu datang ke sini? apa kamu ingin Gara melihat semua ini?"
"Lalu aku harus datang ke mana? ini rumah kakakku, tempat tinggal keponakanku. Dan Kakak juga berada di sini. Apa aku harus mengikuti perjalananmu ke setiap negeri agar aku bisa berbicara denganmu?" dia sudah mencoba untuk sabar, namun wanita di depannya selalu bersikap acuh. Hal yang membuatnya selalu hampir kehilangan kontrol.
"Kamu memang tidak waras Prama! kamu bersikap seolah aku yang salah. Padahal itu semua kelakuan kakakmu. Dia yang berkhianat padaku, jadi silahkan nikmati karmanya sendiri." Melly tersenyum sinis dengan cemoohan yang tak dapat dia sembunyikan.
"Dia sendiri yang memilih menjadi tidak waras, Prama. Jangan mengada-ada! dia bahkan sampai tega membunuh perempuan itu demi menghilangkan bukti." Gigi Melly saling bergesekan menahan rasa marah yang kembali menguasai dirinya. Hal yang sering terjadi jika dia mengingat masa lalunya yang begitu kelam.
"Kakakku tidak pernah menjadi seorang pembunuh. Kamu yang membuat perempuan itu bunuh diri!" Prama sudah tidak tahan dengan keegoisan Melly yang mengerikan. "Kamu bahkan tidak sadar kalau kelakuanmu ini membuat Gara menjadi sosok yang bukan dirinya." Hilang sudah panggilan sopan yang Prama gunakan sejak tadi.
"Jangan sok tahu dengan kehidupan putraku!"
"Tapi kamu harus tahu. Tidakkah kamu sadar bahwa selama ini Gara bersikap seolah baik-baik saja hanya karena tidak ingin membuat semuanya tambah rumit? dia tahu, Gara tahu tentang ini." Prama tidak mengerti harus dengan cara apalagi dia menasehati kakak iparnya.
"Dasar pembohong ulung! merasa menjadi pahlawan kamu sekarang?" Melly menatap Prama dengan nyalang. Tentu tidak suka dengan apa yang lelaki itu ucapkan.
__ADS_1
"Kamu yang pembohong Kak, kamu begitu sombong! sampai nasehat dari orang-orang terdekatmu kamu abaikan demi kesenangan egomu sendiri."
Melly terdiam sejenak dengan nafas yang agak tersengal. Namun matanya tak beralih sedikitpun dari adik iparnya yang entah sejak kapan sudah tidak dia anggap lagi sebagai adik ipar.
"Terserah! silahkan sanggah apapun semau kamu, karena nyatanya apa yang aku yakini adalah kebenaran." Wanita itu mundur perlahan dan berbalik, "kalian memang adik kakak yang luar biasa. Sama-sama tidak waras." Lanjutnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruang keluarga Aditama dalam keheningan. Para pelayan yang mendengar semuanya bahkan terlalu takut untuk bernafas.
Sedangkan di dekat pintu masuk utama, Abby berdiri mematung dengan pandangan yang tak berarti. Dia sudah berdiri sejak sepuluh menit yang lalu di sana. Dan tentu saja percakapan dua orang itu mampu dia dengar mengingat sekencang apa keduanya beradu urat barusan.
Jika saja bukan karena ingin memenuhi keinginan Melly yang meminta Abby datang ke kediaman ini karena rencana mereka waktu itu, maka dia tentu tidak akan melihat pertunjukan seru yang terjadi barusan.
"Wow, apa ada hal yang aku lewatkan?"
. . .
TBC
Selamat pagi teman-teman. Saya up sebelum masuk kerja. Semoga bab ini bisa menjadi penyemangat teman-teman dalam menjalani hari. ^_^
Terimakasih atas dukungan dan cinta yang luar biasa dari teman-teman pembaca. Semoga sehat selalu.
Jangan lupa vote dan komentarnya teman-teman! ^_^
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta.