
Setelah mengganti pakaian laknatnya dengan baju yang lebih tertutup, Abby lekas turun untuk menemui Gara yang katanya ingin membicarakan hal penting. Mengingat kejadian memalukan tadi, Abby benar-benar mengutuk Gara yang menerobos kamarnya begitu saja. Apa otak lelaki sudah itu hilang?
Abby mendengus tatkala melihat Gara yang tengah menikmati secangkir kopi dan juga beberapa kudapan dengan santai, malah kelewat santai seolah lelaki itu sedang berada di dalam rumahnya sendiri. Langkahnya terhenti saat melirik Mira yang sepertinya hendak ke dapur, tangannya dengan cepat menarik lengan perempuan itu agar berhenti. "Kamu yang mengizinkan Gara masuk ke kamarku?"
Mira dengan cepat menggeleng, "tidak, Nona. Tuan Gara hanya bertanya apa Nona ada di dalam atau tidak, lalu saya menjawab ada. Setelahnya, Tuan Gara langsung naik tanpa mengatakan apa-apa."
Abby berdecih kesal, "dan kamu membiarkannya begitu saja?" desisnya dengan tajam.
Mira sedikit gelagapan, kurang mengerti dengan sikap Abby yang tiba-tiba menyeramkan. "Emm..itu karena biasanya Tuan Gara memang seperti itu, jadi saya pikir Nona tidak akan marah."
Abby menghela nafas kasar, lalu perlahan tangannya menjauh. "Baiklah, lain kali kamu tendang saja burungnya jika lelaki itu tetap memaksa masuk! mengerti?"
Mira menganga kaget, "No..nona, bagiamana mungkin sa..saya bisa melakukan itu?" tanyanya dengan nada ketakutan.
Perempuan yang mengenakan pakaian hangat itu kembali berdecih sembari memperlihatkan wajah mencemooh yang kentara, "kamu benar-benar tidak tertolong." Ujarnya sembari berlalu dari hadapan Mira yang masih syok.
"Wah, kamu tidak terlihat seperti seorang tamu." Sindir Abby ketika dirinya sudah duduk di depan Gara.
Yang disindir terlihat tidak terganggu, dengan tenang dia menjawab. "Apakah aku harus bersikap layaknya seorang tamu di rumah tunanganku sendiri?" wajah itu menyeringai, begitu senang dengan apa yang baru saja dia katakan.
Abby terpejam sejenak sembari menghela nafas kasar- yang entah untuk ke berapa kalinya hari ini. "Jadi, apa yang ingin kamu katakan?"
Gara menyimpan minumannya ke atas meja, sebelum kembali menatap Abby yang seperti ingin melahapnya habis saat itu. Lelaki itu terkekeh, "aku akan menghadiri sebuah pesta pribadi yang diadakan oleh keluarga Mahesa." Tuturnya dengan pelan.
"Dan mereka adalah?" timpal Abby.
"Keluarga yang menaungi perusahaan yang bekerjasama denganku. Aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya." Lanjut Gara.
"Lalu, kamu tinggal pergi bukan?" tanya Abby dengan mudah.
__ADS_1
"Ya, dan aku tak mungkin pergi sendiri."
Wajah cantik Abby mengerjap bingung, "karena?"
"Karena di sana pasti ada sesuatu yang hanya akan selesai jika aku membawamu." Gara bersandar pada sofa yang terasa lembut di punggungnya, "jadi, kamu mau membantu tunanganmu ini bukan?"
"Kamu sedang memanfaatkanku?" tanya Abby dengan raut wajah yang kelewat datar.
"Tidak, tolong jangan salah sangka. Aku hanya sedang minta tolong. Jangan terus berprasangka buruk padaku, Sayang!"
Abby membiarkan mulutnya setengah terbuka, merasa kaget dengan panggilan Gara yang begitu menggelitik di telinganya. "Hentikan itu, kamu membuatku takut."
Lelaki itu memasang wajah tak peduli, "acaranya besok malam, dan kamu hanya perlu memakai gaun yang akan aku kirimkan besok." Gara melirik jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya, "ini hampir malam dan aku harus pergi."
Gara bangkit sembari menenteng jas hitamnya yang sejak kedatangannya tadi tergeletak di atas sofa, "tadinya aku ingin makan malam di sini, tapi aku memiliki hal lain yang harus diurus." Wajahnya terlihat begitu menyesal.
"Pulang saja sana, para pelayan sepertinya hanya membuat dua porsi makanan malam ini." Timpal Abby tak masuk akal. Tentu saja tak masuk akal karena para pelayan selalu menyiapkan makan malam dengan porsi besar dan banyak. Meski yang akan makan malam di rumah ini ditambah menjadi sepuluh orang pun, mereka tak akan kesulitan.
"Haha. Tidak." Abby tertawa kaku sembari mengalihkan pandangan, "tidak baik bagi seorang lelaki untuk bertamu malam-malam di rumah perempuan, bukan?"
Alis tebal lelaki itu terangkat, merasa geli sendiri dengan apa yang Abby ucapkan. Begitu banyak orang di rumah ini, bukan hanya mereka berdua. Lagipula, kalaupun hanya ada mereka di rumah ini, memangnya siapa yang akan berani membicarakan? kediaman Anggara berada di sebuah perumahan elit nan mewah yang di dalamnya hanya ada sekitar lima belas unit saja, itu pun terpisahkan oleh halaman dan lapangan yang begitu luas. Siapa yang akan mengawasi mereka kalau begitu? semua orang akan sibuk dengan urusan masing-masing.
"Ucapanmu sungguh tidak masuk akal." Timpal Gara pada akhirnya.
Lelaki itu mendekati Abby yang kini sudah berdiri tak jauh darinya. Gara tak membuang waktu saat mereka sudah saling berhadapan, tangannya langsung menarik pinggang Abby dan membuat perempuan itu terkurung dalam pelukannya. Entahlah, Gara tak pernah bisa menahan keinginan untuk selalu menyentuh Abby jika mereka sedang berdekatan. Tak seperti respon tubuhnya yang begitu jijik kala disentuh atau menyentuh orang lain, Abby adalah segala hal dari bentuk pengecualian.
"Cepatlah lulus agar aku bisa segera menikahimu." Ujar Gara saat pelukan mereka terlepas. Lelaki itu mengelus pipi dan pelipis Abby sebelum melanjutkan ucapannya, "aku pergi dulu, Sayang. Selamat malam."
Dengan enggan, Gara menjauhkan diri dan memberikan senyuman tipis pada Abby sebelum benar-benar keluar dari kediaman Anggara.
__ADS_1
Abby hanya diam dengan tubuh kaku sembari menatap kepergian Gara yang perlahan menghilang dari pandangannya. Meski sudah cukup terbiasa dengan tindakan lelaki itu yang selalu mengambil kesempatan untuk menyentuhnya, namun efek yang dirasakannya tak pernah berkurang sedikitpun.
Jantung berdegup kencang, wajah yang memanas, tangan yang terkepal. Semua itu selalu terjadi saat Gara memberikan sentuhan-sentuhan kecil padanya. Apa perasaannya pada Gara tumbuh kembali? atau sebenarnya rasa itu masih ada namun tertutupi oleh rasa sakit. Semudah itukah Abby memaafkan kesalahan Gara dan mulai menerimanya kembali?
Abby hanya berharap kalau kejadian sebelumnya tak akan terulang kembali. Saat ini, Abby sudah memberikan kepercayaan pada Gara untuk memperbaiki hubungan mereka yang hampir rusak. Pendiriannya tak akan mudah goyah meski di masa depan nanti, akan ada banyak hal yang membuat mereka berselisih paham.
Namun itu akan berbeda jika Gara yang bertindak secara langsung di depan matanya sendiri. Abby tidak akan mentolerir hal tersebut. Dia tidak sebaik itu untuk memberikan kesempatan yang ketiga pada orang yang sama.
Abby memejamkan mata sembari menetralkan degup jantungnya yang tiba-tiba menggila. Helaan nafas cepat terdengar dari mulutnya yang sedikit terbuka. Abby tidak paham, kenapa dirinya tiba-tiba diliputi kemarahan?
"Ah!"
Perempuan itu sontak mundur karena kaget saat merasakan hawa panas yang keluar dari kalung yang dia kenakan. Abby bahkan sampai terduduk di lantai karena tak mampu menyesuaikan keseimbangan.
Meski sengatan panas itu tak lama, namun Abby masih merasakan efeknya yang luar biasa. Tangannya terulur untuk menggenggam bandul merah tersebut, rasa hangat masih terasa di sana. Bukti kalau hawa panas yang dia rasakan barusan bukanlah ilusi semata.
"Yang barusan itu, apa?"
. . .
TBC
Selamat pagi teman-teman. Apa kabar?
Terimakasih untuk dukungan dan cinta dari pembaca setia. Semoga sehat selalu. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^
Love you.
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta