
Gara menatap rintik hujan yang menerpa kaca mobil yang sedang ditumpanginya dalam diam. Netranya berkedip beberapa kali dengan dahi yang mengerut saat peristiwa demi peristiwa yang telah terjadi sebelumnya menerpa ingatan. Itu sudah hampir satu minggu semenjak pesta perayaan ulang tahun perusahaan, namun dampak dari ucapan Melly menghasilkan begitu banyak kerumitan.
Beberapa berkas laporan yang sengaja dikirimkan oleh Mahen kemarin tergeletak di atas pangkuannya begitu saja tanpa tersentuh sama sekali. Otaknya terlalu penuh untuk berpikir, namun pekerjaannya terus menumpuk tanpa henti.
Apalagi setelah pengumuman Melly tentang pertunangannya dengan Abby akan segera berakhir di pelaminan, saham perusahaan Aditama langsung naik pesat. Orang-orang sepertinya sudah melihat keuntungan yang begitu memuaskan jika Aditama dan Anggara bersatu di masa depan.
Gara mendengus sembari memijat kepalanya pelan. Bahu dan punggungnya bersandar dengan kedua mata yang terpejam. Dia lelah bukan main. Bukan hanya perusahaan dan karyawan yang menjadi beban pikirannya, namun mengenai hubungannya dengan Abby pun tak luput dari perhatiannya.
Meski memang Gara sudah berhasil memberitahu maksud dan tujuannya pada perempuan itu, namun tak ada perubahan yang terjadi sejauh ini. Gara tak berniat menghubungi, pun dengan Abby yang sepertinya acuh tak acuh setelah ajakan Gara waktu itu.
Gara cukup paham dengan apa yang Abby rasakan. Perempuan itu begitu sabar menunggunya selama kurang lebih lima tahun setelah pertunangan mereka, Abby jelas menunjukkan dengan terang-terangan kalau dia mencintai Gara. Bersedia mengalah menuruti ego Gara, tetap bertahan meski diabaikan, juga tak pantang mundur meski ucapan Gara terkadang lebih menyakitkan daripada ibu tiri.
Dan setelah Abby menyerah dengan maksud ingin mundur, Gara perlahan maju dan ingin meraihnya kembali. Gara sendiri tentu mengakui kalau dirinya tidak lebih dari seorang pengecut dah juga kurang ajar. Namun, tak ada yang dapat dia lakukan selain memulai semuanya dari awal meski itu harus membuat harga dirinya turun karena mungkin dia akan berjuang untuk membuktikan diri. Karena sejak dulu, Gara hanya diam di tempat sembari melihat Abby yang jatuh bangun berjuang untuknya.
"Apa jadwalku setelah menemui pimpinan Grup Delta?" melirik sekilas ke arah Mahen yang tengah duduk di samping supir.
"Anda sudah memajukan semua jadwal pertemuan agar selesai selama satu minggu, jadi tidak akan ada lagi janji temu selama tiga hari ke depan, Pak. Hanya setumpuk laporan yang menunggu Anda di atas meja." Mahen menjelaskan secara rinci tanpa diminta. Sekretaris Gara tersebut sangat tahu kalau atasannya itu kelelahan bukan main setelah belasan pertemuan penting yang mereka lalui. Jadi, dia ingin membuat Gara merasa sedikit tenang dengan ucapannya.
Gara tidak menjawab namun diam-diam bersyukur dalam hati. Dia ingin mengistirahatkan hati dan pikirannya setelah ini. Tapi selain itu, tubuhnya lebih membutuhkan hal tersebut. Lihat saja kedua tangannya yang sedikit bergetar, juga wajahnya yang agak pucat. Kondisinya jauh dari kata baik.
"Haruskah saya membawa Anda ke rumah sakit, Pak?" tanya Mahen hati-hati saat melihat keadaan Gara dari kaca spion.
Lelaki itu menggeleng sembari menatap pergelangan tangannya yang memerah karena terlalu sering dia gosok. Meski kejadian itu sudah berlalu beberapa malam yang lalu, namun ingatan tentang tangan wanita asing yang menyentuhnya seenaknya waktu itu, selalu berhasil membuat Gara marah. Dan akibatnya, tangannya sendiri yang menjadi sasaran.
Yang kemarin itu lebih baik daripada sebelumnya. Dulu, Gara bahkan pernah memiliki niat untuk memotong tangannya sendiri saat mendapat kejadian yang sama saking dirinya merasa jijik dengan sentuhan orang lain. Dan waktu itu, emosinya bisa sedikit lebih baik setelah ditenangkan oleh Abby.
"Atur saja pertemuanku dengan dokter yang terakhir kali menanganiku waktu itu." Gara sepertinya memang memerlukan terapi, hal yang tidak pernah bosan Juna ingatkan padanya. Namun dirinya sendiri yang keras kepala karena merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan nyatanya, tubuh Gara tidak menggambarkan hal itu sama sekali.
"Baik, Pak. Saya siap mengantar jika Anda membutuhkannya sekarang." Dan Mahen merasa menyesal telah mengatakan itu.
Lihatlah tatapan mata Gara yang begitu tajam itu. Tanpa mengatakan hal apapun, Mahen tahu kalau Gara menyuruhnya untuk diam saat itu juga. Sepertinya, pagi ini dia begitu banyak bicara.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Saya mengerti."
Setelahnya, Mahen diam tidak berani bertanya lagi, namun matanya tak lepas dari Gara. Mengawasi gerak-gerik atasannya, siaga satu jika Gara ternyata memang membutuhkan tenaga medis ke depannya.
Gara mencoba menenangkan dirinya. Memalingkan wajah ke arah mana saja asal bukan menunduk untuk menatap berkas laporannya. Namun bukan ketenangan yang Gara dapat, lelaki itu malah dibuat semakin sakit kepala saat melihat sesuatu yang mengejutkannya. Setelah tidak bertatap muka selama satu minggu, kenapa Gara harus melihat tunangannya bersama lelaki lain?
"Abbysca.." panggilnya lirih pada sosok perempuan cantik yang tengah berada di sebuah mobil yang berada tepat di samping mobilnya. Lampu merah belum berganti, jadi tentu saja kendaraan akan saling bersisian menunggu aba-aba lampu hijau menyala. Maka dari itu, Gara mampu melihat dengan jelas sosok Abby yang duduk di samping lelaki yang tengah mengambil alih kemudi.
Mendengar panggilan Gara, Mahen tidak bisa untuk tidak menoleh, ikut menatap apa yang tengah diperhatikan oleh atasannya. Wajahnya sedikit terkejut karena mendapati tunangan Gara sedang bersama laki-laki lain. Namun itu tak bertahan lama saat melihat sosok yang duduk di samping Abby. "Itu Elang, Pak. Teman Nona Abbysca." Ujar Mahen karena tidak tahan dengan hawa mencekam yang keluar dari tubuh Gara. Mahen bahkan merasa kalau suhu di dalam mobil menjadi lebih dingin daripada sebelumnya. Amarah Gara mampu membekukan sekitarnya, Mahen tahu itu.
Gara berdehem kecil sebagai jawaban, namun matanya masih menatap ke arah Abby. Meski itu sedikit terhalang oleh kaca mobil, namun Gara dapat melihat dengan jelas kalau perempuan itu sedang tertawa renyah. Mungkin mereka tengah saling bergurau? Gara tidak tahu. Lelaki itu sedikit mengepalkan tangannya yang berpangku di atas paha saat denyutan tidak nyaman terasa di hatinya. Satu pikiran konyol tentang dirinya yang keluar dari mobil dan menarik Abby dari sana terlintas di otaknya membuat Gara merasa sedikit bodoh.
"Mereka sepertinya akan mengunjungi yayasan keluarga Anggara." Celetuk Mahen saat mobil kembali melaju. Mobil yang membawa Abby sudah melesat lebih dulu, dan itu tidak luput dari perhatian Gara maupun Mahen.
"Darimana kamu tahu?" Gara terlihat bertanya dengan asal, tapi sebenarnya dia benar-benar ingin tahu kebenarannya.
"Saya cukup berteman baik dengan Pak Hari."
. . .
"Aku cukup kaget saat mendapat telepon darimu." Elang melirik Abby lewat ekor matanya.
"Aku agak sibuk akhir-akhir ini, jadi aku sempat melupakan janjiku padamu." Sibuk menata hati dan perasaannya setelah mendapat guncangan tak terduga dari sosok yang ingin sekali dia hindari.
"Hm, aku melihatmu dan lelaki itu di televisi. Ulasan pesta ulang tahun perusahaan Aditama begitu meriah. Aku bahkan sampai bosan mendengar ibuku yang setiap saat membicarakan betapa serasinya kalian berdua karena yang dia lihat setiap pagi adalah acara gosip." Elang terkekeh kecil di akhir kalimatnya.
Abby sebenarnya tidak terlalu kaget dengan berita tersebut mengingat ada begitu banyak wartawan yang meliput meski mereka tak bisa masuk. Dan video yang tersebar itu pasti rekaman milik para tamu undangan yang hadir di sana.
Namun alih-alih membahas hal tersebut, Abby malah tertarik dengan kalimat lain yang Elang ucapkan barusan. "Ibumu sudah pulang dari luar kota?" dia ingat kalau Elang berkata bahwa ibunya sedang tidak ada di rumah waktu itu.
Elang terlihat cukup kaget dengan pertanyaan tak terduga dari Abby, namun dia tetap menjawab. "Hm, sudah dari tiga hari yang lalu."
__ADS_1
"Apa kamu berkata akan pergi dengan temanmu pada ibumu?"
"Ya." Kembali menjawab meski keningnya semakin mengerut karena belum paham dengan arah pembicaraan Abby.
"Dan dia mengizinkan?"
Elang tidak bisa untuk tidak menoleh ke samping, "libur panjang kita masih belum berakhir, jadi tentu saja dia akan mengizinkanku ke mana pun aku ingin pergi. Lagipula, kenapa kamu menanyakan hal aneh seperti itu?"
Abby terdiam sejenak, dia ingin menjawab tapi merasa kalau dia harus menjelaskan terlalu banyak agar lelaki itu mengerti. Jadi, dia akan membiarkannya saja. Bukankah Elang juga akan tahu dengan sendirinya nanti?
Perempuan itu menggeleng, "tidak, hanya ingin bertanya saja." Jawab dia apa adanya.
Sedangkan Elang menatap tidak mengerti, namun hanya mendengus dan kembali menatap ke arah depan. "Bagaimana dengan bahumu?"
"Itu terasa lebih baik sekarang." Abby tidak sepenuhnya berbohong. Kondisi bahunya memang membaik setelah mendapat jahitan ulang karena dirinya terlalu banyak melakukan gerakan fisik yang berlebihan. Dan dia mendapat ceramah panjang dari Juna setelahnya.
"Baguslah. Omong-omong, ke mana kamu akan membawaku pergi?"
Kali ini Abby menyeringai, "kamu akan tahu."
. . .
TBC
Selamat siang. Selamat membaca dan mohon maaf karena saya telat up. Saya sedikit sibuk teman-teman. -_-
Terimakasih buat teman-teman setia pembaca yang selalu menunggu dan memberikan dukungan untuk Abby dan Gara. Semoga sehat selalu. ^_^
Jangan lupa vote dan dukungannya!
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta.