Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Bertemu Kawan Lama Di antara Asa yang Menjelma


__ADS_3

Setelah melepas rindu yang diiringi oleh tangisan satu sama lain, Danu dan Elang nampak tak terpisahkan sedikitpun. Meski pada awalnya mereka sedikit canggung karena pertemuan tak terduga ini, namun ikatan darah di antara keduanya tak perlu diragukan lagi. Mereka bisa mencairkan suasana dengan berbagai macam topik yang tak ada habisnya untuk dibahas. Abby sendiri hanya diam memperhatikan dan sesekali akan menimpali jika salah-satu dari mereka membawa namanya dalam percakapan.


Dan sekarang, mereka sudah berada di tempat lain. Setengah jam yang lalu, Abby membawa keduanya untuk keluar dari yayasan. Selain ingin memberikan mereka waktu yang lebih lama untuk bercengkrama, Abby juga ingin Danu merasakan suasana di luar tempat yang hanya dihuni oleh para orang tua itu. Danu pasti merasa jenuh dan bosan di sana.


Mereka memasuki sebuah restoran besar yang menyediakan hidangan lokal. Keadaan di dalam cukup ramai karena ini sudah masuk jam makan siang, namun mereka masih bisa mendapatkan kursi kosong yang terletak paling sisi, dekat dengan dinding kaca. Sepertinya, restoran ini diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas jika dilihat dari interior mewah dan pelayanan yang luar biasa baik.


Seorang lelaki muda dengan pakaian rapinya datang menghampiri mereka, "selamat datang, Nona Abbysca dan juga Tuan-tuan. Suatu kehormatan bagi kami karena Anda bersedia mengunjungi tempat tidak seberapa ini. Perkenalkan, saya manajer di tempat ini yang akan melayani Anda sekalian secara langsung."


Abby berkedip bingung, merasa sedikit luar biasa karena orang ini mengenalinya. Apa wajahnya memang sudah tak asing lagi di kalangan masyarakat? perempuan itu juga menatap ke sekeliling, beberapa pengunjung restoran terlihat menatap penasaran ke arahnya.


"Tenang saja, Nona. Kami selalu berusaha untuk menjaga privasi pengunjung, mereka tidak akan berani mengambil foto Anda jika Anda tidak mengizinkan. Ataukah Anda ingin kursi VIP?" lelaki itu seperti merasakan ketidaknyamanan Abby.


Perempuan itu menggeleng, "tidak perlu, di sini sudah cukup. Saya ingin memesan semua menu yang direkomendasikan di sini. Masing-masing tiga porsi dengan minuman terbaiknya." Abby tidak terlalu hafal dengan jenis dan nama dari makanan di kota ini. Namun lidahnya kini sudah terbiasa mencicipi mereka.


Si manajer tersenyum lebar dengan wajah yang berbinar. Hal yang selalu dia harapkan saat mendapati pengunjung dari kelas atas yang tidak rewel. "Dengan senang hati, Nona. Tolong tunggu dua puluh menit ke depan karena kami selalu menyajikan makanan baru dan hangat."


"Ya, tolong. Terimakasih."


Lelaki muda itu sedikit menunduk sebelum pergi dari sana dengan senyuman yang tak hilang.


"Abby, aku baru sadar kalau selama ini aku berteman dengan seorang selebriti." Canda Elang dengan wajah yang sedikit mencemooh.


Abby sendiri hanya menggeleng pelan, "mereka hanya berlebihan." Netranya menatap Danu yang yang sedang memperhatikan jalan raya yang begitu jelas terlihat dari dinding kaca. "Kakek senang?" Ini mungkin saja pengalaman pertama Danu, terlihat jelas dari raut kagum dan binar bahagia yang terpancar di wajah berkerut itu.


Danu tersenyum kecil dengan sedikit malu, "terimakasih, Nona. Saya sebelumnya belum pernah pergi ke tempat seperti ini." Lelaki itu menimpali dengan kekehan, namun Elang yang mendengarnya merasa terenyuh dan tersentil.


"Maaf, Kakek. Elang telat menemukan kakek." Jika saja bukan karena bantuan dari Abby, mungkin saja mereka tidak akan bertemu sampai kapanpun.


"Tidak, bukan salah kamu. Ini sudah ketentuan Tuhan, Elang." Matanya begitu teduh saat menatap Elang dan Abby bergantian, "semua ini berkat Nona Abbysca dan Tuan Arjuna. Mereka membawa Kakek dari kemiskinan dan ketidakmampuan. Mereka memberi Kakek hidup yang lebih layak. Seolah belum cukup, mereka bahkan bisa mempertemukan Kakek dengan kamu. Kakek sangat bersyukur akan hal itu." Mata Danu kembali berkaca-kaca, menatap Abby dengan raut penuh terimakasih. Karena dia tidak tahu bagaimana membalas kebaikan mereka selain mengucapakan terimakasih yang tulus.


Elang ikut menatap Abby dengan raut yang sama, "ya, Abby. Terimakasih banyak atas kebaikanmu dan juga Tuan Arjuna. Kalian adakah orang-orang yang berbesar hati." Sangat jarang bagi Elang untuk menjumpai manusia dari kalangan atas yang mau membantu mereka yang lemah dan tidak mampu, apalagi ini terjun secara langsung. Dan mereka melakukannya bukan untuk sebuah citra, tapi memang karena rasa kemanusiaan.


Abby melambaikan tangan di depan wajahnya, "tidak seperti itu. Aku melakukan semua ini karena kakekmu yang lebih dulu menolongku, jasanya begitu besar. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik bagi penolongku, itu saja." Abby tidak merasa sebaik itu. Sejak dulu, prinsipnya tidak berubah. Dia akan berbuat baik pada mereka yang bersikap sama padanya. Kalaupun dia bisa mengasihani seseorang yang berlaku buruk padanya, maka itu tidak lebih dari secuil dari rasa kemanusiaannya.


"Terimakasih, Nona. Anda adalah orang yang baik." Danu malah semakin memujinya, membuat perempuan itu tidak bisa memberikan penjelasan apapun lagi selain senyuman tipis di bibirnya.


Elang baru akan berbicara lagi, namun kedatangan dua pelayan yang membawakan pesanan mereka datang, membuat dia kembali menutup mulut.


"Selamat siang, ini adalah menu yang kami rekomendasikan untuk Anda sekalian." Seorang perempuan kisaran awal dua puluh tahun menyimpan belasan wadah yang terdiri dari mangkuk dan piring ke atas meja mereka. "Ayam bakar madu, udang asam manis, cumi tepung bumbu, rendang sapi, ikan goreng bumbu segar, cah kangkung, sup iga dan bakmi goreng." Abby menahan diri agar tidak menganga saat melihat banyaknya makanan yang dibawakan untuk mereka. Apakah mereka tidak salah? makanan sebanyak ini, apakah akan habis oleh tiga orang? lelaki yang mengaku sebagai manajer tadi pasti bercanda.


"Selamat menikmati."

__ADS_1


"Terimakasih."


Ketiganya terdiam setelah dua pelayan tadi pergi membawa troli kosong yang isinya sudah mereka simpan di atas meja. Abby berkedip beberapa kali saat melihat Danu dan Elang yang memiliki ekspresi bengong yang sama. Sepertinya mereka memiliki pemikiran yang tak jauh beda dengan Abby.


"Emm..mari makan!" Abby mempersilahkan keduanya untuk mengambil makanan yang mereka mau. Setelahnya, perempuan itu mengambil hidangan terdekat dan menyimpannya di atas piring kosong miliknya, "ya..semoga saja kita tidak kelebihan lemak setelah memakannya nanti."


Elang lebih dulu melayani Danu, dia menanyakan apa saja yang ingin kakeknya makan. Dan untungnya, meski usia Danu sudah tidak muda lagi, giginya masih sehat dan kuat. Membuat Abby diam-diam mengucap syukur dalam hati karena rasa bersalahnya. Seharusnya, tadi dia bertanya dulu pada mereka sebelum memesan.


"Maaf, aku tidak menanyakan apa yang ingin Kakek Danu makan tadi." Perempuan itu sedikit meringis.


Danu menggeleng, "saya pemakan segalanya, Nona. Terimakasih."


"Tenang saja, Abby. Aku yang akan menghabiskannya nanti." Canda Elang.


Setelahnya, mereka makan siang dengan suasana hangat dan cukup menyenangkan. Sesekali, Danu maupun Elang akan terlibat percakapan seru seolah keduanya memang sering bertemu dan tak terpisahkan oleh waktu selama ini.


Abby mengunyah makanannya dalam diam dengan ujung mata yang menatap ke sekitar, hanya untuk melihat beragam jenis manusia yang juga tengah menyantap makanan seperti dirinya . Namun, netra jernih itu sedikit membulat saat mendapati sosok yang sangat dikenalnya tengah berdiri melayani pengunjung yang berada tepat di sampingnya.


Bukankah itu Lilyana? sedang apa mantan temannya itu di sini? tapi jika melihat dari pakaian yang dikenakan dan juga hal yang dia lakukan, Abby sedikit bisa menebak kalau perempuan itu bekerja di sini. Pantas saja dia jarang melihatnya. Selain karena mereka tengah menikmati libur tengah semester, saat di kampus pun Abby jarang melihatnya akhir-akhir ini.


"Oh, bukankah itu teman yang kamu tolong waktu itu?" Elang ikut menatap apa yang Abby perhatikan.


"Abbysca."


Gerakan mulut Lilyana dapat Abby dengar meski tanpa suara sekalipun.


. . .


Dan di sinilah Abby sekarang, duduk bersama Lilyana di sebuah taman kecil yang terletak di samping restoran. Elang sudah pulang lebih dulu bersama Danu sekitar dua puluh menit yang lalu, omong-omong lelaki itu juga turut membungkus makanan mereka yang tak habis di meja tadi. Sayang katanya.


"Kamu sudah lama bekerja di sini?" Abby sedikit melirik Lilyana dari sudut matanya. Perempuan berambut sebahu itu nampak lebih segar meski hanya dengan seragam pelayannya. Lebam dan luka di wajahnya sudah sembuh sepenuhnya. Diam-diam Abby merasa tenang dalam hati.


Lilyana menggeleng, "satu minggu setelah ibuku masuk penjara, aku langsung mencari pekerjaan. Dan untungnya, di tempat ini sedang membuka lowongan saat itu." Tidak ada raut kesedihan maupun sinar sendu di wajahnya yang hanya dipoles riasan tipis itu. Lilyana tidak seperti sedang membicarakan sang ibu yang harus dibui karena kelakuan jahatnya.


"Kamu terlihat lumayan senang." Abby tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan hal yang dipikirkannya tentang Lilyana, jadi hanya kalimat itulah yang keluar dari mulutnya.


Lilyana sedikit terkekeh, "aku merasa bisa bernafas dengan baik sekarang. Meski aku juga sedih dan lumayan kehilangan, tapi ini adalah yang terbaik untuk aku dan ibu."


Abby lumayan bisa mengerti bagaimana perasaan Lilyana sekarang. Selama ini, hidup perempuan itu selalu dikekang. Dituntut untuk melakukan ini dan itu, hingga Liliyana lupa akan jati dirinya sendiri. Parahnya, wanita yang menjadi ibu dari Lilyana itu tidak segan menjerumuskan anaknya sendiri dalam lubang kesengsaraan. Siapa memangnya yang mau menjual harga diri meski itu untuk setumpuk uang sekalipun?


"Kamu mengambil cuti?" pertanyaan Abby merujuk pada Lilyana yang jarang dia lihat saat di kampus. Biasanya mereka akan berpapasan, entah itu di kantin ataupun di koridor.

__ADS_1


"Aku tidak mengambil kelas reguler lagi sekarang. Sayang sekali aku tidak bisa mengganggumu lagi." Ucapan Lilyana langsung mendapat dengusan bosan dari Abby.


"Ya, sayang sekali. Aku belum membalaskan perbuatanmu padaku." Abby tidak serius mengucapkannya, tapi sepertinya Lilyana menanggapi dengan lain. Wajah perempuan itu langsung terkejut, seperti baru disadarkan oleh sesuatu.


"Maafkan aku, Abby. Aku memang keterlaluan, tapi kamu masih mau mengulurkan tangan untukku." Ujar Lilyana lirih sembari menatap kedua tangannya yang bertaut di atas pangkuan.


Abby tidak bermaksud seperti itu, tapi dia juga malas jika harus menjelaskan. Jadinya, dia hanya diam dengan mata yang menatap ke arah jalanan. Kendaraan padat merayap yang bersisian dengan para pengguna jalan yang melangkah di atas trotoar.


Kening perempuan itu agak mengerut saat melihat beberapa anak kecil berpakaian lusuh yang menjajalkan dagangan mereka pada siapapun yang lewat di depan mata. Di sisi trotoar yang lain nampak seorang lelaki kisaran empat puluh sedang mendorong gerobak mirip punya Danu. Namun yang membedakannya adalah, ada seorang anak kecil yang tertawa girang di dalamnya. Pakaian mereka tidak ada bedanya dengan orang-orang yang tengah bernyanyi di pinggir jalan dengan gitar kecil mereka. Mereka jelas tengah berjuang mencari rupiah yang tak seberapa di tengah kejamnya ibukota.


Sungguh pemandangan yang timpang jika itu dibandingkan dengan gedung-gedung bertingkat yang berada di sekeliling mereka, pun dengan kendaraan mewah yang berlalu-lalang di hadapan mereka. Tidakkah ini sedikit keterlaluan? ternyata di dunia yang sedang diinjaknya ini pun kesejahteraan hanya milik mereka yang 'ber-uang' saja. Tidak jauh berbeda dengan dunianya dulu. Kapan kesetaraan sosial akan digaungkan?


Apa Abby bisa melakukan sesuatu untuk mereka?


"Lilyana.." panggil Abby pelan.


"Ya?"


"Siapa pemilik restoran tempatmu bekerja?"


Lilyana diam sebentar seperti berpikir, namun tak lama dia menjawab. "Bukankah restoran ini salah-satu aset milik keluarga Aditama?"


Abby jelas terkejut, "apa?"


"Meski bukan tunangan kamu yang menanganinya langsung, tapi pemiliknya tetaplah dia." Lilyana menjeda ucapannya saat melihat Abby yang hanya diam dengan wajah bengong, "ada apa denganmu? aku pikir kamu makan di sini karena tahu kalau restoran ini milik Tuan Sagara, mengingat kamu begitu tergila-gila mengejarnya saat itu."


Abby mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba mendera kepalanya.


Kenapa setiap hal yang dia lakukan pasti ada hubungannya dengan Gara? tidakkah ini sedikit konyol?


. . .


TBC


Selamat malam semuanya. Salam sehat untuk kita semua. Terimakasih buat teman-teman yang setia menunggu lanjutan cerita ini dan tidak bosan untuk memberikan dukungan. Maaf, saya baru bisa update malam ini. Semoga bab terbaru ini bisa menjadi pengantar tidur teman-teman. ^_^


Jangan lupa komentarnya! Love you.


Salam,


Nasal Dinarta

__ADS_1


__ADS_2