
Lima belas menit telah berlalu dengan sia-sia, dan dua lelaki dewasa yang sudah lama saling mengenal itu tak melakukan apapun selain hanya diam dan sesekali melirik yang selalu diakhiri dengan dengusan kesal.
Saat ini Juna dan Gara tengah berada di salah-satu ruangan VIP di restoran lokal milik Gara yang kini telah sepenuhnya Abby kelola. Entah apa yang membuat keduanya bisa berakhir di sana tanpa adanya janji temu.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Gara dengan tatapan menyelidik.
Alis tebal milik Juna naik, "apa maksudmu? harusnya aku yang bertanya padamu. Aku yang lebih dulu datang. Jadi, untuk apa kamu ke sini?" Juna membalikkan pertanyaan dengan mudah.
"Memangnya kenapa? restoran ini sebelumnya milikku, jadi kenapa aku tidak boleh ada di sini?" Gara sendiri enggan untuk mengatakan alasan sebenarnya. Sama seperti halnya Juna yang berdalih, maka dia akan melakukan hal yang sama. Dua lelaki dewasa itu memang memiliki tingkat gengsi yang cukup tinggi.
Juna menenggak minumannya sejenak sebelum kembali berujar, "kamu tak terlihat seperti kamu sekarang." Menatap Gara dengan pandangan yang lebih serius.
Yang ditatap tak langsung menjawab, lelaki itu malah bersandar pada kepala kursi sembari menyilangkan dua tangannya di depan dada. "Aku ingin melihat Abby." Bisiknya dengan tiba-tiba.
Dan tanpa diduga, bukannya cemoohan yang Gara dapat dari Juna, melainkan ucapan yang sama persis sepertinya, "aku juga ingin melihat Abby."
Gara tidak bisa untuk tidak membulatkan netra elangnya, "kamu bahkan setiap hari bertemu dengannya."
Sudah hampir tiga bulan ini, Juna tak pernah kembali ke apartemennya karena memilih kembali tinggal di rumahnya bersama Abby. Jadi, mengapa bisa lelaki itu berkata seolah keduanya jarang bertemu. Kalau dirinya, ya memang faktanya seperti itu.
Lalu, sebuah pikiran lain muncul di otak Gara. "Apa kamu yakin Abby akan ke sini? aku saja hanya sekedar menebak."
Memang dirinya saja yang terlalu bodoh tadi. Kenapa tidak menghubungi Abby lebih dulu atau mengirimkan pesan pada gadis itu kalau dirinya menunggu di sana, bukannya malah bertindak sesuai insting saja. Bagaimana jika Abby ternyata langsung pulang ke rumah tanpa ada niatan untuk berkunjung ke restoran?
"Mereka pasti ke sini. Kurasa masih di jalan."
Kening Gara berkerut bingung, "mereka?"
Juna mengangguk, "Abby dan Elang. Anak itu memberitahuku kalau Abby dan dirinya akan ke sini." Menjawab dengan tenang, tanpa peduli dengan wajah tampan Gara yang perlahan merengut tak suka.
"Sejak kapan kamu mengenal orang itu? lalu, kenapa kalian tampak akrab?" entah sejak kapan Gara sedikit tidak menyukai kehadiran sosok Elang di samping Abby. Meski mereka berdua memang hanya sekedar teman, tapi Gara tentu tak bisa membiarkannya begitu saja.
Juna mendengus, "memang kenapa? lelaki itu terlihat lebih bisa dipercaya daripada dirimu." Ucapnya jujur. Dan kalimat itu mampu menyentil perasaan Gara yang memang sedikit acak-acakan beberapa hari terakhir ini.
"Maaf, aku memang bukan orang baik. Tapi perjuanganku untuk Abby saat ini bukanlah omong kosong belaka. Meski aku paham kalau aku tidak bisa menebus rasa sakit Abby selama ini, tapi aku harap kamu tidak menghalangi usahaku." Gara sungguh-sungguh dengan perkataannya. Juna sendiri dapat melihat kejujuran itu. Tapi bukan berarti dia bisa mempercayai temannya itu begitu saja. Apalagi dirinya pernah menyaksikan sendiri bagaimana kasarnya perilaku Gara pada Abby dulu. Namun pikiran warasnya kembali hadir, dia tak seharusnya ikut campur terlalu dalam.
Suasana di antara mereka berubah menjadi sedikit canggung meski sebelumnya tak jauh berbeda.
"Aku hanya tak ingin Abby merasakan sakit yang sama untuk ke dua kali. Jadi, jangan menghancurkan kepercayaannya, Gara!" tentu Juna dapat melihat kalau Abby sendiri mulai membuka perasaannya kembali untuk Gara. Dan tak ada yang bisa Juna lakukan selain mendukung keputusan adiknya. Toh dia juga ikut andil dalam mempengaruhi Abby agar memikirkan kondisi Gara sebelum mengambil keputusan yang menurutnya tepat.
__ADS_1
"Aku mungkin tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri seandainya hal itu terjadi." Pandangan tajam lelaki itu terlihat kosong untuk sesaat. Juna bahkan tidak yakin bisa melihatnya jika dia bukan orang yang teliti dalam membaca raut wajah seseorang.
"Ya, aku pasti akan menghajarmu detik itu juga."
Setelahnya mereka kembali terdiam, persis seperti apa yang mereka lakukan tadi. Bukan karena tak ada topik pembicaraan yang bisa mereka angkat. Namun diam adalah cara mereka untuk berpikir jernih dan meraba kembali apa yang dirasa di dalam hati.
Sampai suara dari seseorang yang mereka tunggu membuat keduanya menoleh dengan serempak.
"Kalian terlihat seperti pasangan romantis. Apa aku mengganggu?" Abby terlihat berdiri di dekat daun pintu yang terbuka. Menatap Juna dan Gara dengan pandangan tenangnya.
Jika bukan karena Seno- sang manajer restoran- memberitahunya, mungkin Abby tidak akan menginjakkan kakinya di ruangan VIP ini. Tadinya, dia ingin langsung pergi ke dapur untuk memantau proses pembuatan makanan secara langsung, mengingat dirinya belum melakukan hal itu selama mengelola restoran ini.
"Kamu tidak bersama Elang?" Juna bereaksi lebih cepat dibandingkan Gara yang masih terdiam, menatap Abby dengan lekat.
Abby mendekat, "dia sedang berbicara dengan Lilyana di belakang."
"Oh, teman perempuanmu itu?"
Kini, Abby sudah berdiri di dekat meja mereka. "Ya, mereka terlihat cukup akur akhir-akhir ini."
Netra jernih perempuan itu beralih pada Gara, sadar kalau lelaki itu tak melepaskan pandangan darinya. "Gara, ada apa denganmu?"
Tak ada jawaban. Gara malah bertindak di luar dugaan. Lelaki itu bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Abby dan berdiri tepat di depan tunangannya. Setelahnya, Gara menarik tangan Abby dan membawa tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya.
Abby terdiam kaku dengan kedua tangan yang lunglai. Apa Gara sedang tidak waras? bagaimana bisa lelaki itu bertindak sesuka hati saat ada Juna di antara mereka?
Sedangkan Juna yang melihatnya hanya mendengus sembari menyipitkan mata. "Si bocah ini! harusnya aku dulu yang melakukannya. Aku kakaknya." Geram Juna, merasa kesal dengan tingkah Gara yang menyebalkan.
Karena tak ingin menjadi nyamuk atau lebih buruknya menjadi patung pajangan saja di sana, Juna akhirnya memilih bangkit dan memberi dua orang itu waktu.
"Nanti kita pulang bersama." Juna menyempatkan diri untuk mengelus surai lembut sang adik sebelum benar-benar pergi dari sana. Meninggalkan Abby dalam kebingungan, juga Gara yang menempel padanya layaknya ulat.
"Gara.." tegur Abby yang sepertinya hanya dianggap angin lalu oleh lelaki itu. Gara bahkan semakin mengeratkan pelukannya setelah mengambil dua lengan Abby agar melingkar di pinggangnya. Menyuruh perempuan itu untuk membalas pelukannya.
Bibir pemuda itu tersenyum saat merasakan Abby tak menolak sentuhannya. "Aku tidak bohong Abby, aku memang merindukanmu. Aku selalu ingin melihatmu." Ucapannya persis seperti seorang pembual handal. Buaya darat yang mampu menaklukan hati seorang wanita hanya dengan mulut manisnya.
"Katakan sekali lagi dan aku akan yakin kalau kamu memang pemain wanita." Abby geli sendiri saat mendengar gombalan Gara yang terasa mengerikan di telinganya. Gara yang seperti ini cukup susah Abby hadapi.
Gara mengangkat wajahnya dari bahu Abby, memberi jarak agar bisa melihat rupa tunangannya dengan jelas. Namun tangannya tak lepas dari pinggang Abby yang ramping.
__ADS_1
"Ya, kamu pasti tak akan percaya semudah itu." Ujar Gara dengan posisi yang cukup dekat. Abby bahkan bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu yang berbau mint di hidungnya. Tidakkah ini terlalu dekat?
Abby mencoba melepaskan diri, "kita bisa bicara sambil duduk bukan?" namun itu tak berhasil. Gara malah semakin menarik tubuhnya agar lebih dekat.
"Saat aku bilang akan memperjuangkan kamu, maka itu benar adanya. " Tangan kanan lelaki itu naik, mengusap punggung rapuh Abby yang hanya dibalut kemeja hitam yang malah membuat kulit putih Abby semakin terlihat pucat. "Dan saat aku melakukan hal seperti ini, maka berarti aku sedang menunjukkan kepemilikanku."
Abby terdiam kaku, tubuhnya seolah tak bisa digerakkan. Matanya menatap Gara yang terlihat berbeda. Dia tidak memiliki ingatan apapun tentang sosok Gara yang seperti ini. Apakah ini pertama kalinya Gara bersikap demikian?
Sedangkan Gara begitu menikmati kebersamaan mereka. Netra elangnya begitu dipuaskan dengan keindahan paras Abby. Cantik saja rasanya tidak cukup untuk menggambarkan visual Abby. Bagiamana mungkin dirinya baru sadar kalau perempuan di pelukannya ini begitu mengagumkan? ke mana saja dia selama ini?
"Well, aku baru ingat kalau kamu begitu trauma dengan sentuhan seseorang. Lalu, apa aku pengecualian?" tanya Abby dengan blak-blakan. Dia membiarkan dirinya terkurung di dalam pelukan Gara yang hangat. Dia juga memberanikan diri untuk mendongak, hanya untuk melihat sosok tampan yang baru saat ini bisa dia perhatikan dengan sangat dekat. Bagaimana bisa lelaki itu terlahir dengan wajah sempurna tanpa cacat seperti ini?
Gara tersenyum kecil, tangan kanannya mengelus pipi halus Abby dengan lembut. "Ya, kamu benar. Entah kenapa bisa seperti itu. Aku bahkan selalu ingin melihatmu dari dekat, mendengar suaramu dengan jelas, juga memelukmu setiap saat. Sebenarnya, apa yang kamu lakukan padaku?"
Baiklah, ucapan Gara semakin konyol untuk didengar. Abby bahkan yakin kalau lelaki itu memang sedang kerasukan sesuatu.
"Kamu yakin kamu sehat? apa tidak sebaiknya kamu pulang?" Abby memegang dahi Gara yang hangat. Memastikan kalau lelaki di depannya ini memang sedang tidak baik-baik saja.
Abby ingin kembali bertanya sebelum merasakan sapuan hangat dari benda kenyal di keningnya. Bibir dingin Gara mengecup dengan lembut dan agak lama di sana. Sontak saja netra Abby membulat, terkejut dengan apa yang baru saja Gara lakukan.
"Terimakasih, Abbysca." Ucap lelaki itu dengan suara lembut.
Terimakasih karena tidak menolak kehadiranku.
Terimakasih karena mau menyambut perjuanganku.
Terimakasih karena tidak membuangku seperti aku yang mencoba membuangmu dulu.
Dan terimakasih, karena ayahku mau merespon ucapanku meski itu hanya sekedar menyebut namamu.
. . .
TBC
Selamat malam. Ehem, ehem! ke depannya mungkin teman-teman akan cukup sering menjumpai scene manis seperti ini. Tapi saya dapat pastikan kalau itu tidak akan sampai membuat pembaca mual. -_-
Terimakasih sudah setia menunggu, mendukung dan memberikan banyak cinta untuk Abbysca dan Sagara. Cinta banyak buat teman-teman.^_^
Jangan lupa vote dan dukungannya!
__ADS_1
Salam,
Nasal Dinarta.