Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Tidak Pantas Untuk Mempertahankan Hal yang Tidak Layak


__ADS_3

"Jadi itu kamu?"


"Awalnya aku tidak ingat karena tidak terlalu memperhatikan wajahmu."


"Kamu yang bertabrakan denganku di bandara waktu itu. Barang kita juga sempat terjatuh."


"Melihat benda yang melingkar di pergelangan tanganmu yang cukup familiar, aku jadi yakin kalau barang kita memang tertukar."


"Tapi aku tidak mengerti. Alih-alih mengembalikan barang itu pada pemiliknya yang jelas-jelas adalah aku, kamu malah memakainya dan menganggap benda itu adalah milikmu."


Sepanjang perjalanan menuju kantor mereka, Andita tak berhenti memikirkan ucapan Juna tadi. Raut wajah lelaki itu terlihat kesal dan tidak senang. Lalu ucapannya cukup menyakitkan, seolah dirinya adalah seorang tersangka di sini.


Dia menatap gelang cantik dengan ukiran sederhana yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Orang bodoh pun akan tahu kalau gelang yang dia pakai merupakan keluaran terbaru dari salah-satu merek ternama. Harganya juga begitu fantastis. Namun itu bukan miliknya.


Andita tidak pernah menyangka kalau pertemuannya dengan seorang lelaki tampan di sebuah bandara akan menjadi awal untuk pertemuan-pertemuan selanjutnya. Siapa yang tahu kalau lelaki itu akan menjadi atasannya di masa depan? Andita yang niatnya merantau ke ibukota karena baru saja mendapat gelar sarjana dengan nilai memuaskan, seperti mendapatkan keberuntungan karena diterima di sebuah perusahaan besar yang terkenal.


Namun hal yang lebih membuatnya bahagia adalah, dia bisa bertemu kembali dengan lelaki yang berhasil membuatnya berdegup. Andita benar-benar jatuh pada Juna sejak pertama kali mereka bertemu.


Dan gelang ini adalah milik lelaki itu. Andita tak pernah bermaksud untuk menjadikan gelang itu sebagai miliknya. Namun saat melihat ada inisial huruf 'A' yang diukir di gelang tersebut, Andita merasa kalau benda itu ditakdirkan untuknya. Otaknya menyangkal hal itu karena jelas gelang itu bukan miliknya, namun dia enggan untuk memberikannya pada Juna meski lelaki itu ada di dekatnya.


Dan hari ini, dia mendapat serangan langsung dari orangnya. Juna tidak terlihat marah, hanya saja lelaki itu menatap Andita dengan cukup rendah. Juna juga tidak meminta agar barangnya dikembalikan, hanya memberinya kata-kata yang cukup menyadarkan Andita kalau gelang itu cukup berharga baginya. Dan Andita tidak suka dengan kenyataan itu.


Memikirkan kalau gelang itu dibuat khusus untuk seseorang yang berarti bagi Juna, Andita tidak bisa menahan gemuruh tidak nyaman di dalam hatinya. Lalu pikirannya melayang pada sosok perempuan cantik yang terduduk lemas di atas ranjang pasien tadi, Andita semakin merasa tidak nyaman.


Apakah dia sosok yang berarti bagi Juna? sikap perempuan itu begitu tenang dan tidak mudah terganggu, namun membawa kesan anggun dan segan bagi siapapun yang melihatnya meski berada dalam kondisi yang tidak prima sekalipun. Perempuan seperti itu sangat cocok dengan sikap Juna yang tegas, jarang bicara dan menganggap orang lain kurang berharga.


Andita lalu melihat dirinya sendiri. Apa yang dia punya sampai berani mengharapakan seorang Arjuna Anggara? wajah, tubuh, harta, maupun perilaku. Andita hanya memiliki sebagian kecil dari itu semua.


Helaan nafas pasrah terdengar dari celah bibirnya. Hal yang membuat Damar melirik. Namun lelaki itu tidak mengatakan apapun, hanya diam dengan fokus pada jalanan yang mereka lalui. Keduanya memang cukup dekat dan saling mengandalkan dalam pekerjaan, namun mereka hanya orang asing jika di luar itu. Jadi, Damar tidak bisa beramah tamah pada Andita tanpa adanya alasan.


Perjalanan mereka berakhir, mobil yang mereka tumpangi turun di parkiran perusahaan. Damar tetap diam saat melihat Andita mengambil tasnya dan bersiap untuk turun. Namun saat mengingat sesuatu tentang ucapan Juna tadi, Damar pikir dia harus memberitahu perempuan di sampingnya tentang hal yang cukup penting.

__ADS_1


"Andita!"


Yang dipanggil mengehentikan gerakannya yang akan membuka pintu mobil. Perempuan itu menoleh ke arah Damar yang sedang menatap lurus ke depan, dengan pandangan bertanya.


"Jika kamu tahu kalau sesuatu yang kamu miliki saat ini bukanlah milikmu, maka segera kembalikan pada pemilik yang sebenarnya." Damar sedikit menjeda ucapannya, lelaki itu akhirnya mengalihkan pandangan dan ikut menatapnya. "Tidak ada yang lebih berharga bagi Pak Juna selain kebahagiaan Nona Abbysca, jadi jangan memulai sesuatu yang pastinya akan kamu sesali nantinya!"


. . .


"Nyonya menghubungi saya beberapa saat yang lalu dan menanyakan kabar Anda, Pak."


Gara tetap berkutat dengan pekerjaannya. Tangannya tidak berhenti bergerak di atas lembaran-lembaran kertas yang terasa menyiksa otaknya. Kening mulus itu juga beberapa kali mengerut dengan rahang yang sedikit mengeras. Gara yang sedang serius memang tidak bisa diganggu dan terlihat cukup menyeramkan.


Mahen yang sejak tadi berdiri di depan meja kebesaran Gara, hanya terdiam kaku saat melihat tak ada respon sedikitpun dari atasannya. Padahal, Gara sendiri yang meminta Mahen agar melaporkan segala sesuatu yang terjadi padanya.


"Nyonya juga berkata, kalau beliau akan pulang malam nanti untuk menghadiri peringatan kematian orang tua Nona Abbysca."


Kali ini, gerakan Gara terhenti. Lelaki itu sepertinya cukup terganggu dengan kabar yang dia dengar.


"Nyonya sudah mengirimkan belasan paket sebagai hadiah ulang tahun Nona Abbysca." Lanjut Mahen.


"Kapan?" Gara kini menatap ke arah sekretarisnya.


"Tepat pada hari ulang tahun Nona, Pak."


Atensi Gara sepenuhnya beralih pada Mahen. Tangannya bahkan sudah membuang pena mahalnya ke sembarang arah karena merasa kabar yang dia dengar lebih penting daripada apapun.


"Mama mengirimnya tepat pada hari itu?" Gara bertanya dengan nada penuh penekanan. Mahen merasa punggungnya dingin sekarang.


"Ya, Pak. Benar. Dan menurut informasi dari Pak Hari, kediaman mereka menerima paket itu tepat di hari tersebut." Jawab Mahen.


Hening untuk sesaat.

__ADS_1


"Apa Mama tidak waras?"


Hari kematian orang tua Abby bertepatan dengan hari ulang tahun Abby. Itu artinya, ada dua makna dalam satu hari peringatan. Dia dan Juna sudah sepakat untuk merayakan hari ulang tahun Abby beberapa hari setelah acara peringatan kematian karena tidak ingin membuat Abby sedih dan tertekan.


Meski perempuan itu terlihat tidak peduli dengan apa yang terjadi, namun Gara tahu kalau Abby diam-diam menyalahkan diri sendiri atas kepergian orangtuanya. Apalagi, mengingat hubungannya dengan Juna baru membaik akhir-akhir ini setelah Abby sembuh dari kecelakaan. Lelaki yang bergelar saudara kandung Abby tersebut juga pernah menyalahkan Abby atas apa yang terjadi pada orang tua mereka dulu, dan mungkin sampai sekarang pun masih sama. Siapa yang tahu.


Gara memejamkan mata sembari menghela nafas lelah. Apa yang ibunya lakukan bisa saja memicu perpecahan di antara kakak adik yang baru berbaikan itu. Apa otak ibunya hilang? kenapa Gara merasa kalau ibunya semakin ke sini semakin tidak memiliki empati? apa yang harus dia katakan pada Juna dan Abby nanti sebagai permintaan maaf?


"Ada lagi?" tanyanya sambil kembali melanjutkan pekerjaannya.


Mahen tidak langsung menjawab, raut wajahnya memperlihatkan keraguan. Apa yang akan dia sampaikan selanjutnya seolah akan menjadi penentuan hidup dan matinya. Mahen tidak bisa membayangkan kemarahan Gara nanti.


"Pergi jika tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan." Gara sedang tidak ingin diganggu. Terlebih, pikirannya tidak begitu fokus pada pekerjaan. Dia mengkhawatirkan Abby yang sedang terbaring di rumah sakit. Dan Gara ingin segera pulang untuk melihatnya.


"Pihak Perusahaan Aladin memutuskan kerjasama sepihak hari ini, Pak. Mereka merasa tidak senang dengan apa yang Anda lakukan pada putri bungsu mereka pagi tadi." Keringat dingin sudah bercucuran dari kening Mahen. Dia siap kalau dipecat saat ini juga.


Tapi bukannya kemarahan yang Mahen dapat, dia malah menemukan Gara yang tertawa senang namun penuh dengan ejekan. Seolah apa yang diucapkan Mahen adalah lelucon paling lucu di abad ini.


Gara menghentikan tawa dan merubah raut wajahnya menjadi sinis, "lalu, biarkan saja seperti itu. Mereka tidak layak untuk dipertahankan."


Tidak masalah kalau dirinya harus dirugikan dengan uang miliaran, itu tak seberapa dengan tindakan yang telah Manda lakukan pada tunangannya. Fitnah yang dia layangkan dan hinaan yang dia sematkan pada Abby, begitu menyakiti perasaan dan ego Gara. Padahal, dulunya dia berperan sebagai penyumbang rasa sakit terbesar Abby. Namun saat ini, dia akan marah besar kalau ada orang yang melakukan hal seperti itu pada Abby.


. . .


TBC


Hallo, selamat pagi. Semoga teman-teman sehat selalu. Terimakasih karena tidak bosan untuk menunggu kelanjutan dari cerita ini. Terimakasih juga untuk dukungan dan komentar dari teman-teman yang disematkan di setiap bab, saya sangat menghargai itu. Sayang banyak-banyak. ^_^


Semoga menikmati cerita ini. Bahagia selalu.


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta.


__ADS_2