
"Abby.." Juna langsung menutup mulutnya, tak melanjutkan ucapan saat melihat Gara yang memberinya isyarat diam. Temannya itu tengah duduk di atas sofa dengan pakaian kerjanya yang sudah diganti dengan baju pasien, lengkap dengan selang infus yang menancap di tangannya.
Juna termangu di tengah pintu yang terbuka saat merasa kalau pemandangan di depannya sungguh terbalik. Kenapa yang tidur di ranjang pasien malah adiknya? Apa Abby juga sakit?
Karena tak bisa menahan rasa penasaran, Juna mendekat, "Abby baik-baik saja bukan?" kemudian mengambil tempat duduk tepat di samping Gara. Kembali memperhatikan Abby yang begitu lelap di sana.
Gara mengangguk, "dia kelelahan, biarkan saja." Ujarnya dengan ringan membuat kerutan di dahi Juna semakin bertambah. Namun karena tak ingin ambil pusing selama Abby baik-baik saja, maka Juna lebih memilih bertanya hal lain.
"Aku dengar kamu tak sadarkan diri tadi." Juna baru bisa ke sini lagi sekarang meski Abby mengirimkan pesan tentang kondisi Gara sejak tadi siang. Maklum, pekerjaannya yang menumpuk benar-benar membutuhkan perhatian.
"Aku hanya tertidur selama beberapa jam setelah melakukan sesi terapi, tak ada hal lain." Terlalu gengsi untuk menyebut kata pingsan pada temannya itu.
Alih-alih mencemooh, Juna terlihat agak prihatin, "yang tadi itu sedikit melelahkan bukan?"
Gara terdiam sejenak, merasa sedikit kesal karena Juna lebih peka dari apa yang dia pikirkan. "Aku tidak bisa mengendalikan diri dengan baik tadi." Akhirnya dia berkata jujur.
Juna mengangguk, "itu adalah hal yang wajar." Lelaki itu menatap wajah Gara yang masih pucat, kemudian beralih pada tiang infus yang berdiri di samping Gara, "apa sekarang kamu merasa baik?"
Gara mengikuti tatapan Juna, "aku sudah melepasnya tadi, tapi dokter itu malah memarahiku dan menerapkannya kembali." Seumur-umur, baru kali ini Gara diam saja saat ada seseorang yang berbuat semena-mena padanya. Dokter itu cukup menyebalkan.
Terdengar kekehan kecil dari Juna, "ya, memang sudah seharusnya seperti itu."
Tak lama, keduanya terlibat percakapan cukup penting tentang pekerjaan. Hal yang agak membosankan untuk dibahas sebenarnya. Apalagi dengan keadaan Gara yang belum baik-baik saja dan Juna yang terlihat stres karena baru saja selesai bertarung dengan kertas-kertas di atas meja kerjanya. Tapi itu tidak mengherankan karena keduanya memang sama-sama gila kerja.
Sampai jarum jam pendek menunjukkan angka tujuh kurang lima belas menit, percakapan mereka terhenti saat melihat Abby yang sudah bangun. Dan kini, perempuan itu tengah duduk di atas ranjang pasien sembari menatap linglung ke arah kakak dan tunangannya.
"Kamu sudah bangun?"
"Wah, putri tidur kita sudah sadar. Ayo bangun!"
Dua kalimat itu menyambut pendengaran Abby yang belum sepenuhnya sadar dengan keadaan. Dengan lugunya, perempuan itu malah menunduk dengan wajah agak bengong dan mata yang berkedip-kedip bingung. Sialan, Abby terlihat manis di mata mereka sekarang.
"Aku lapar." Bukannya menanyakan keadaan, Abby malah memberitahu bagiamana keadaan perutnya yang sedang berdemo pada dua lelaki itu.
__ADS_1
"Apa?" Juna belum bisa memahami situasi.
"Kamu ingin makan apa?" sedangkan Gara merasa tidak ada yang aneh. Lelaki itu dengan cepat mengotak-atik ponsel pintarnya untuk menghubungi Mahen.
Dan dengan polosnya Abby menjawab, "aku ingin nasi Padang."
Gara mengangguk, "Mahen, kamu di mana?" lelaki itu terdiam sejenak saat mendengar sahutan sekretarisnya, "oh, tolong mampir ke restoran lokal dulu sebelum ke sini. Ya, beli menu paling enak di sana."
"Tunggu sebentar. Mahen akan datang." Gara kembali menatap Abby.
"Abby, kamu.." Juna tidak dapat meneruskan ucapannya. Dia seperti bingung dengan keadaan di sekitarnya.
"Aku akan pergi ke kamar mandi." Ucap Abby tiba-tiba.
Sebenarnya siapa yang konyol di sini?
. . .
Omong-omong tentang mereka, Abby bahkan tidak peduli dengan kehadiran dua lelaki yang sejak tadi tidak berhenti memperhatikannya dengan terang-terangan itu. Lebih tepatnya, Abby mencoba untuk tidak peduli. Dia tidak bertanya kenapa dia bisa bisa berada di atas ranjang pasien yang seharusnya Gara tempati. Dia juga tidak bertanya siapa yang memindahkannya. Dia bahkan tidak bertanya kapan Juna datang. Dia pasti lebih dari konyol sekarang.
Gara menyimpan potongan daging sapi berbumbu ke dalam piring Abby yang mulai kosong. Dengan penuh perhatian lelaki itu berujar, "kamu terlihat lahap, makanlah yang banyak!" sembari menepuk kepala perempuan itu pelan.
Yang diperhatikan hanya bisa tertegun sejenak, kemudian berkedip dua kali
Setelahnya, dia kembali mengunyah. Terlihat tidak terganggu dengan apa yang Gara lakukan.
Juna sendiri tidak bisa untuk tidak terkejut, matanya menatap penuh selidik pada Gara dan juga Abby secara bergantian. Namun daripada itu, dia merasa lebih kesal karena hadirnya tidak dianggap. Permisi, apa mereka lupa kalau ada orang lain di sana?
"Kenapa? kamu ingin aku suapi?" tanya Gara dengan raut datar, menatap Juna tanpa emosi apapun di wajahnya.
Juna mendengus, "ya, makanlah dengan banyak Abby. Meski aku heran sejak kapan kamu menyukai makanan berlemak seperti ini, tapi tidak apa. Siapa tahu kamu bisa sebesar babi nanti." Menyimpan lauk pauk yang lain di atas piring Abby, mengikuti apa yang Gara lakukan sebelumnya. Tak lupa, dia mengusap rambut panjang Abby dengan lembut sembari memberikan senyum ejekan pada Gara yang kini tengah memandangnya tajam.
"Kamu bilang ada urusan dengan Gara, apa kamu sudah mengatakannya?" tanya Juna setelah melihat Abby hampir selesai dengan makan malamnya.
__ADS_1
Abby mengusap sudut bibirnya dengan tisu, kemudian menerima botol air mineral dingin dari Gara dan langsung menenggaknya. Setelah mengucapkan terimakasih pada lelaki itu, baru Abby menatap ke arah Juna. "Aku belum mengatakan apapun karena Gara langsung tak sadarkan diri tadi." Jawabnya jujur. Tak peduli pada Gara yang berdehem kecil, maupun Juna yang tersenyum puas.
"Memangnya apa yang ingin kamu katakan?" Gara sebenarnya cukup merasa penasaran. Selama beberapa bulan terakhir semenjak Abby mengalami perubahan yang cukup signifikan, perempuan itu tidak pernah berinisiatif untuk memulai percakapan dengannya. Hal yang dilakukan Abby hanyalah diam dan menjauh.
"Apa restoran lokal yang berada di Jalan Pahlawan itu punyamu?" Abby yang tadinya menatap ke ara depan, kini memandang Gara tepat di matanya. Sesuatu yang membuat lelaki itu tertegun sejenak. Kapan
terakhir kali ia ditatap sedemikian rupa oleh netra jernih itu?
Di saat Gara yang malah diam, di situ Juna yang menjawab, "restoran mana yang kamu maksud? tapi jika dipikir-pikir, hampir semua toko kuliner yang berada di jalan itu memang miliknya." Menunjuk Gara dengan dagu tajamnya.
"Oh.." Abby terlihat berpikir, "yang waktu itu aku makan dengan Elang dan Kakek Danu. Emm..di sampingnya ada taman hijau yang tidak terlalu besar."
Mendengar nama Elang disebut oleh Abby, entah mengapa perasaan Gara sedikit tidak nyaman. Dia tidak suka dengan cara Abby menyebut nama lelaki lain di depannya. "Oh, ya. Yang itu memang milikku. Ada apa?" lelaki itu kembali mendapatkan pikiran rasionalnya setelah beberapa detik hanya diam.
Wajah Abby terlihat berbinar mendengar jawaban yang diinginkannya. "Kakak, apa aku punya uang banyak?" dia kembali menatap ke arah Juna.
Meski bingung dengan pertanyaan itu, Juna tetap menjawab, "sudah tiga bulan kamu tidak menggunakan kartu hitam milikmu. Jadi, aku rasa jumlahnya cukup besar." Setiap bulan Juna akan mengirimkan nominal yang tidak sedikit pada rekening Abby sebagai uang bulanan adiknya itu. Dia juga selalu memantau pengeluaran Abby melalui kartu tersebut. Jadi, agaknya dia yakin kalau nominal di dalamnya cukup besar. "Kenapa kamu menanyakan itu?" Juna pada akhirnya tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Dengan senyuman lebar, Abby menjawab. "Aku ingin membeli restoran Gara." Setelahnya, perempuan itu menatap ke arah Gara lagi, "apakah bisa?"
"Apa?"
. . .
TBC
Selamat siang. ^_^
Jangan lupa vote dan dukungannya!
Salam,
Nasal Dinarta.
__ADS_1