Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Kecemburuan Dan Kerinduan


__ADS_3

Setelah menyelesaikan kelas mereka, Abby maupun Elang berjalan beriringan menuju parkiran kampus yang diisi dengan ratusan kendaraan milik mahasiswa maupun dosen. Bukan hal baru bagi keduanya terlihat bersama, namun tentu itu tak berlaku sama bagi orang lain yang baru pertama kali melihatnya.


Di sisi lain, simpang siur tentang kedekatan mereka sebenarnya sudah menyebar di kampus sejak beberapa minggu yang lalu. Namun Abby terlihat tidak peduli sama sekali, dan Elang sepertinya terlalu sibuk belajar hingga tak memiliki waktu untuk meladeni hal yang tak penting seperti itu.


"Kamu dijemput?"


Abby mengangguk, "aku ada janji dengan seseorang."


Riak wajah Elang terlihat sedikit menggoda, "Apa itu Pak Gara?"


Perempuan yang hari ini mengenakan pakaian santai itu mendengus, "memangnya siapa lagi?"


"Baik, baik. Kalau begitu aku pergi lebih dulu." Mereka mendekati sebuah motor besar yang terparkir di ujung paling samping, "kamu menunggu sendirian tidak apa-apa?" Elang memastikan.


Abby kembali mengangguk tanpa ragu. "Pergilah! jangan lupa tentang tugas kelompok kita Minggu ini."


Lelaki itu mengangkat jempol tangannya setelah berhasil memakai helem. Lalu tak lama, Elang melesat pergi meninggalkan Abby seorang diri.


Karena tak memiliki urusan lagi di tempat tersebut, Abby melanjutkan langkahnya menuju gerbang utama. Namun hal lain yang tak menyenangkan tiba-tiba datang tanpa diundang.


Di depannya, ada sekelompok perempuan dengan penampilan berlebihan tengah menunggunya. Abby terlihat tenang meski hatinya bertanya-tanya akan maksud dan tujuan mereka yang sepertinya masih mahasiswa di sini tersebut.


Ditatap lekat dengan aura permusuhan seperti itu, tidak membuat Abby kelabakan ataupun ketakutan. Dia dengan santainya menghampiri mereka dan memberikan tatapan bertanya. "Ada apa?" ujarnya tanpa basa-basi.


Dengusan kasar terdengar dari celah bibir mereka yang merah menyala.


"Sombong sekali!"


"Memang sesuai dengan deskripsi orang-orang tentangnya."


Alis indah perempuan itu agak naik saat mendengar hinaan dari orang-orang tersebut. Dia tidak merasa memiliki musuh di sini. Lalu siapa mereka?


"Kalian punya masalah denganku?"


"Tentu saja kami punya."


Perempuan yang paling tinggi di antara mereka, kini menelisik penampilan Abby dari atas sampai bawah, persis seperti tengah menilai seseorang. Dan itu adalah perilaku yang tidak sopan, juga menyebalkan.


"Hanya bermodalkan wajah cantik dan kekayaan milik keluarganya, tapi begitu besar kepala hingga tak tahu malu menempel pada setiap lelaki."


"Jika saja tidak memiliki nama belakang Anggara, mungkin kamu tidak akan berani mengangkat kepalamu dengan sombong seperti ini."


"Aku dengar, nilai ujianmu juga semakin meningkat. Berapa uang yang kamu keluarkan untuk menyogok rektor kita?"

__ADS_1


"Mustahil. Rektor kita di sini tidak bisa disogok dengan uang, itu sudah terbukti. Mungkin dia disogok dengan hal lain yang lebih berharga dari itu. Seperti.." perempuan yang berdiri paling tengah itu sengaja menggantungkan ucapannya.


"Seperti?" temannya yang lain seolah paham dan dengan sengaja mendramatisir keadaan.


"Menjual tubuh?"


Hening sejenak sebelum suara tawa dari empat orang itu menggelegar, memenuhi area parkiran yang masih ramai kala itu. Sedangkan Abby, dia merasa seperti tengah menonton sekumpulan babi yang tengah bersenang-senang, tidak sadar kalau sebentar lagi akan diburu.


Plak!


Suara tamparan yang begitu nyaring otomatis menghentikan kesenangan mereka. Terkejut saat melihat salah-satu temannya tersungkur tiba-tiba.


Abby yang menjadi pelaku tidak memberikan reaksi apa-apa. Sejak tadi, wajahnya tak beriak sama sekali. Begitu tenang dan datar, seolah yang sedang dia tatap memanglah bukan manusia.


"Hanya sekumpulan serangga dengki yang ingin menaiki tangga paling tinggi tapi tak memiliki apapun sebagai penyangga." Abby berujar rendah, membawa hawa dingin di antara mereka. Tiga perempuan yang tengah menolong teman mereka agar berdiri kembali itu, begitu kompak membeku.


"Seperti yang kalian katakan. Aku punya kecantikan, kecerdasan, juga kekayaan yang tak bisa kalian miliki. Untuk itu, seharusnya kalian juga tahu, aku bisa melakukan apapun pada kalian dengan semua hal yang aku miliki tersebut. Termasuk.." sedikit senyuman sinis kini dia berikan, lalu dengan sedikit mencondongkan tubuh, dia melanjutkan, "menghancurkan keluarga kalian. Jadi, hati-hatilah saat bicara!"


Abby pergi dari sana tanpa repot-repot melirik wajah mereka yang merah, menahan malu dan amarah. Mereka ingin menyumpahi Abby karena telah menghina mereka tanpa pandang bulu, namun tiba-tiba keberanian mereka menciut.


Sedangkan orang yang baru saja pergi, kini sudah duduk manis di dalam mobil mewah milik Gara. Lelaki itu datang tepat ketika Abby sampai di gerbang utama, tanpa adanya sopir yang mengantar seperti biasanya.


"Wajahmu tidak terlihat baik." Komentar Gara tak lama saat mereka sudah meninggalkan area kampus.


Gara hanya meliriknya tanpa merespon, sampai tiba-tiba menyimpan sebuah amplop cokelat di atas pangkuan tunangannya. "Mungkin yang mengirimkan itu padaku juga sekumpulan babi ataupun serangga yang kamu maksud."


Perempuan cantik itu membukanya dalam diam, cukup penasaran akan hal yang Gara maksud. Dia sedikit tertegun saat melihat isi dari amplop tersebut. Netranya melirik hati-hati pada Gara yang tengah menyetir, tak ada kemarahan apapun di wajah tampan itu. Namun jujur, diamnya Gara itu terasa lebih menakutkan.


"Itu memang kami. Tak ada maksud apa-apa selain untuk mengerjakan tugas bersama. Maaf jika itu membuatmu salah paham." Jelas Abby dengan tenang, tak ingin membuat Gara semakin marah.


Gara tentu mengerti dengan apa yang Abby katakan. Namun saat sadar kalau dua orang yang berada di dalam foto tersebut terlihat cocok, dia merasa kesal sendiri. Abby mungkin tidak memiliki perasaan apapun pada si lelaki, namun bagaimana dengan sebaliknya? apa tunangannya itu tidak tahu sekuat apa pesona yang dimilikinya? itu cukup untuk menghancurkan sebuah kota.


"Aku mengerti."


Abby tahu kalau Gara tak akan mudah dibujuk, namun dia tak terburu-buru. Gadis itu malah menatap kembali foto dirinya bersama Elang yang entah diambil oleh siapa. Namun jika memikirkan tentang tujuannya, sepertinya Abby cukup paham. Seseorang tidak menyukainya, lalu berusaha untuk membuat dirinya dan juga Gara salah paham. Sebenarnya taktik ini mudah sekali dibaca, hanya saja Abby tidak menyangka kalau kejadian murahan seperti ini akan terjadi padanya.


"Aku benar-benar minta maaf, Gara." Ulang Abby sekali lagi. Dia pernah mendengar kalau meminta maaf lebih dari satu kali, itu tandanya menunjukkan ketulusan.


Gara belum menjawab, lelaki itu malah membawa mobilnya ke arah pinggir dan menekan rem secara tiba-tiba, membuat kendaraan itu berhenti tepat di sisi jalan. Abby yang kaget hanya bisa melotot sembari memegang sabuk pengamannya erat-erat, melupakan benda yang sejak tadi dia amati.


Tubuh Gara tiba-tiba mendekat, membuat perempuan itu menahan nafasnya. Tak ada yang lelaki itu lakukan selain membuka sabuk pengaman milik Abby dan meloloskan tubuh mungilnya agar mengarah padanya. Detik berikutnya, Gara sudah membawa Abby dalam dekapan, hal yang sejak tadi sangat ingin dia lakukan. Semua kemarahan, keresahan dan juga rasa cemburu yang berkumpul di ulu hati, kini dia lampiaskan pada setiap rematan tangannya di pinggang ramping sang tunangan.


"Aku marah, aku cemburu, namun aku lebih khawatir seandainya memang kamu merasa lebih bahagia dengan lelaki lain." Kalimat jujur itu menyentuh hati Abby yang merasa bersalah karena berpikir dirinya kurang peka terhadap situasi yang Gara hadapi.

__ADS_1


Perlahan, tangannya naik untuk memeluk punggung tegap Gara dan menepuk pelan di sana, memberikan kehangatan seolah mengatakan kalau semuanya tidak seperti yang Gara pikirkan. Aroma harum yang menguar dari tubuh tegap itu membuat Abby memejamkan matanya sejenak. Dia memang tak pernah sedekat ini dengan lelaki manapun selain Gara. Itupun selalu diawali dengan inisiatif Gara sendiri.


"Jangan khawatir, aku tidak mungkin berpaling di saat tahu kalau ada seseorang yang tengah memperjuangkan ku."


. . .


Hari sudah mulai gelap saat Gara mengajak Abby turun di sebuah kawasan rumah sakit. Setelah mereka menghabiskan makan siang yang diselingi dengan obrolan ringan, Abby sepakat untuk mengiyakan ajakan Gara yang mengatakan akan membawanya menemui seseorang. Entah siapa orang yang akan mereka temui, namun sepertinya dia sosok yang penting bagi Gara.


"Orang ini, apa dia sedang sakit?" tanya Abby saat mereka melewati pintu lift menuju lantai atas.


"Hm." Jawab Gara dengan pandangan mata yang agak kosong, hal yang membuat Abby merasa sedikit aneh. "Dia sakit sejak lama."


Perempuan itu membulatkan mulutnya yang kecil, mengerti dengan ucapan Gara namun terlalu sungkan untuk bertanya lebih jauh.


Tak sampai tiga menit, mereka tiba di depan pintu paling ujung di lantai enam. Ruangan dengan tulisan VIP itu cukup menyadarkan Abby bahwa orang yang akan mereka temui sebentar lagi bukanlah orang sembarangan. Tepat di samping pintunya, berdiri seorang lelaki berbadan kekar dengan pakaian serba hitam yang menunduk hormat saat mereka tiba. Sepertinya dia adalah seorang penjaga yang sengaja ditugaskan.


Gara masuk perlahan setelah penjaga tersebut membukakan pintu dengan sigap. Sedangkan Abby mengikuti dari belakang dengan langkah yang tak kalah pelan. Seorang lelaki paruh baya yang tengah duduk di atas kursi adalah pemandangan pertama yang dia lihat. Wajahnya mengerut samar saat sadar kalau orang tersebut terasa familiar di otaknya.


"Papa."


Panggilan rendah yang sarat akan kerinduan itu membuat Abby tak bisa menahan diri untuk menoleh pada Gara yang kini tengah bersimpuh di depan si lelaki paruh baya.


"Papa?" tanyanya entah pada siapa. Namun kakinya dengan setia mengikuti Gara dan berdiri tak jauh di belakang punggung tegap tunangannya tersebut. Diam memperhatikan keduanya yang memiliki ekspresi berbeda di wajah.


Karena jaraknya cukup dekat, Abby jadi bisa melihat dengan jelas bagiamana rupa dari lelaki yang Gara panggil 'papa' tersebut. Cukup lama Abby merenung dengan pandangan yang tak lepas dari sana sampai dia bisa menyimpulkan kalau wajah itu pasti mirip dengan Gara saat muda dulu.


Lalu beberapa detik kemudian, sebuah kilasan memori yang datang dari masa lalu datang menghantam Abby. Taman hijau yang dipenuhi dengan bunga dan ilalang, suara tawa yang menghangatkan hati setiap orang yang mendengarnya, dua sosok yang saling mengejar penuh bahagia, lalu seorang lelaki dewasa yang berdiri di dekat air mancur dan melihat semuanya dengan ceria.


Abby memejamkan matanya sesaat kala sadar kalau sosok yang berada di dalam ingatannya barusan adalah lelaki paruh baya yang kini berada di depannya.


Bertepatan dengan Abby yang mengangkat pandangan, di saat itu pula dirinya mendapati mata tua yang tengah menatap ke arahnya dengan sendu dan penuh kerinduan.


"A-abby..Abbysca."


Paman.


. . .


TBC


28/12/2020


Nasal Dinarta.

__ADS_1


__ADS_2