
Pagi itu, pagi terasa agak panas. Mungkin karena sudah masuk musim kemarau bulan ini. Abby terlihat berjalan-jalan sendirian di area taman rumah sakit tanpa teman ataupun pelayan. Sebenarnya, tadi dia ingin langsung pulang saja mengingat kondisinya sudah agak membaik meski rasa sakit itu masih terasa ngilu, namun Juna bilang akan menjemputnya nanti siang. Jadi, dia menurut saja.
Abby terlihat cantik meski hanya dengan baju pasien berwarna biru muda yang melekat di tubuhnya. Rambut panjang bergelombang miliknya sudah diikat dengan rapi oleh Mira tadi. Omong-omong, dua pelayannya itu sedang sarapan di kantin, jadi mereka tak ada di sini. Abby yang menyuruhnya tadi.
Dia bersyukur karena Juna tidak kembali menempatkannya di kamar teratas rumah sakit seperti sebelumnya. Dengan begitu, Abby dapat pergi ke tempat yang diinginkannya dengan mudah tanpa harus repot menaiki lift atau tangga darurat.
Bibir merah mudanya tersenyum tipis kala menghirup udara segar, bau harum dari tanaman bunga pun dapat dia cium dengan mudah di sana. Beberapa orang dengan pakaian yang sama dengannya nampak melakukan hal yang sama. Duduk di atas kursi yang tersedia di taman, kemudian diam merasakan suasana yang ada. Meski Abby tahu kalau mereka memiliki rasa sakitnya masing-masing, namun wajah mereka tidak terlalu memperlihatkan itu.
Lamunannya terhenti saat merasakan seseorang datang dengan langkah kecil. Abby menoleh dan langsung terkejut saat mendapati gadis kecil sedang berusaha duduk di sampingnya. Kaki mungil dan pendek itu berjinjit agar bokongnya dapat menyentuh kursi yang Abby duduki. Dalam diamnya, Abby hanya memperhatikan anak kecil itu tanpa ekspresi yang berarti. Ingin menolong, tapi bahunya sedang terluka.
Tak lama, gadis kecil itu menghela nafas setelah perjuangannya berhasil. Dengan cepat dia menatap ke arah Abby yang masih diam memperhatikannya. Matanya membulat lucu saat melihat Abby, "wah, Kakak cantik. Seperti peri." Ucapnya riang.
Yang dipuji tersenyum, "benarkah? kamu lebih cantik dariku." Tangannya naik untuk mengambil daun kering yang menempel di rambut halus anak kecil di depannya. "Siapa namamu?" dia memang tidak terlalu mahir saat berhadapan dengan anak kecil, tapi bukan berarti dia tidak bisa berbicara dengan mereka.
Anak itu tersipu malu. Pipi bulatnya merona, namun bibirnya tersenyum memperlihatkan giginya yang cukup rapi. "Namaku Adel. Kakak cantik namanya siapa?" terlihat semakin antusias saat melihat Abby tidak menjauhinya.
"Adel? namamu cantik. Aku Abbysca, kamu bisa memanggilku Abby." Dia seharusnya menyebut dirinya sendiri dengan 'kakak' alih-alih menyebut 'aku' saat berhadapan dengan anak kecil. Namun dia tidak terbiasa, Juna sendiri yang memberinya contoh seperti itu.
Adel mengangguk, ikatan ekor kudanya sedikit bergoyang saat gadis kecil itu bergerak. Terlihat menggemaskan. Apa anak kecil semuanya seperti itu?
"Kak Abby sakit apa?"
"Hanya sedikit terluka." Abby menatap seragam pasien yang dikenakan oleh anak itu, "Adel sakit juga?"
Kini, Adel menggeleng. "Adel tidak tahu, tapi Adel sudah lama di sini." Jawabnya sedikit ambigu, membuat Abby mengerutkan alis bingung. Maksudnya bagaimana?
Abby ingin kembali bertanya saat suara lain lebih dulu menyela.
"Adelia."
Dua perempuan berbeda generasi itu kompak menoleh. Di sana, seorang lelaki seumuran Abby datang dengan raut khawatir yang kentara.
"Kakak!" Adel buru-buru turun dari bangku sampai kakinya hampir terpeleset namun tak jadi karena Abby sudah lebih dulu menghalaunya.
"Hati-hati!" Abby membantu gadis kecil itu agar kembali berdiri tegak.
"Terimakasih, Kak Abby cantik." Tersenyum ceria, kemudian menghampiri sang kakak yang sekarang sudah berdiri tidak jauh di belakangnya.
"Kenapa kamu selalu ceroboh?" lelaki itu mengusap kepala Adel dengan lembut.
"Hehe, Adel tidak apa-apa. Apa Kakak mencari Adel?" gadis kecil itu mendongak, menatap kakaknya yang bertubuh tinggi.
"Tentu saja. Siapa yang tahu kalau kamu akan kembali mengacau?" nada suaranya terdengar bergurau.
__ADS_1
Adel ikut tertawa dengan suara renyah hingga kembali memperlihatkan deretan giginya.
Sedangkan Abby memperhatikan interaksi dua orang itu dalam diam. Wajahnya terlihat sedikit bingung saat orang itu berbalik untuk menatap Abby. Lelaki itu, bukankah dia teman satu kelas Abby di kampus?
"Kamu..yang waktu itu bukan?" Abby mengingat saat dirinya hampir jatuh dan lelaki di depannya ini menahan lengannya. Ya benar, Abby tidak mungkin salah.
Lelaki itu menunduk kecil dengan senyuman simetris di bibirnya, "Hai, Abbysca."
"Oh? Kakak mengenal Kak Abby cantik juga?" Adel kebingungan.
Namun tidak seperti yang Adel harapkan, lelaki itu malah menggendong sang adik dengan hati-hati tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
Wajahnya kembali beralih pada Abby, "terimakasih sudah mau membagi waktumu dengan Adel. Kami harus pergi sekarang, sampai jumpa." Setelahnya, lelaki yang belum Abby ketahui namanya tersebut berbalik dengan langkah yang agak cepat. Meninggalkan Abby sendirian dengan kebingungan yang semakin terasa.
Dari jarak yang sudah cukup jauh, Adel melambaikan tangan pada Abby yang kemudian dibalas dengan cara yang sama olehnya.
"Sampai ketemu lagi, Kakak peri." Teriak Adel cukup kencang. Dan Abby hanya menimpali dengan senyuman kecil.
Pikirannya masih dipenuhi dengan tingkah lelaki itu yang terlihat seolah menghindar. Mereka memang tidak saling mengenal satu sama lain meski ternyata kakak dari gadis kecil itu mengetahui namanya. Namun, apakah harus memperlihatkan rasa enggannya dengan kentara seperti itu?
Abby mendengus sebelum ikut pergi meninggalkan taman.
. . .
Selama perjalanan pun, dua orang itu hanya diam tanpa mengeluarkan kata. Bahkan saat mobil miliknya sampai di dekat gerbang sederhana milik Lilyana, mereka belum bereaksi apa-apa. Elang maupun Lilyana sama-sama diam menatap pemandangan di depan sana.
Mereka memang sudah diberitahu kalau hari ini, ibu dari Lilyana akan dijemput dari rumahnya oleh tim kepolisian atas tindakan kekerasan dan juga keterlibatannya dalam memasukan para gadis ke tempat hiburan secara ilegal. Namun, mereka tidak menyangka akan melihatnya secara langsung di waktu yang sangat tepat.
Ada dua mobil polisi yang terparkir di sana. Beberapa petugas terlihat berjaga di luar, sedangkan dua yang lainnya terlihat keluar dari dalam rumah dengan seorang wanita setengah baya yang tengah memberontak di tangan mereka. Ibu Lilyana sepertinya tidak terima dengan tindakan yang mengejutkan ini, wanita itu histeris dan berteriak layaknya orang gila.
Warga yang tinggal di sekitar sana sudah berkumpul sejak tadi. Dan kerumunan itu terlihat semakin penuh saat ibunya Lilyana diborgol lalu dimasukan secara paksa ke dalam mobil polisi.
Elang melirik perempuan di sampingnya yang hanya diam menatap ke arah depan dengan mata kosong. Lilyana tidak terlihat sedih ataupun kasihan. Namun, tidak ada raut kebahagiaan juga di wajah itu. Untuk sejenak, Elang cukup mengasihani nasib Lilyana yang kurang beruntung itu meski nyatanya dia tidak mengatakan apa-apa.
"Pak Juna bilang, kamu akan aman setelah ini. Orang yang suka menyiksamu, orang yang suka mengejarmu, mereka semua sudah masuk penjara dengan bukti yang cukup kuat." Elang tidak tahu apa yang membuat seorang Juna Anggara mau membuang waktunya untuk membantu perempuan yang sudah jelas selalu memanfaatkan adiknya dulu. Mungkin karena rasa kemanusiaan atau karena permintaan Abby sendiri? Elang tidak tahu. Tapi kalau dia memiliki kekuasaan seperti Juna, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama.
Lilyana menunduk dengan helaan nafas yang tak dapat disembunyikan, "aku..aku tidak tahu harus bagaimana."
Satu alis Elang naik, "apanya yang bagaimana?" sebenarnya dia hanya sedikit basa-basi. Tadinya, Elang ingin segera mengusir perempuan itu dari mobilnya, toh sekarang keadaan sudah aman. Namun dia sedikit tidak tega untuk melakukannya, Lilyana sepertinya tengah berada di titik kebingungan yang tak berujung.
"Kenapa Abbysca masih mau menolongku setelah apa yang aku lakukan padanya?" itu lebih terdengar seperti bisikan, namun tentu Elang dapat mendengarnya.
"Bukankah itu sudah jelas? dia bahkan mengatakan alasannya padamu kemarin." Elang ingat dengan ekspresi Abby saat menimpali ucapan maaf dan terimakasih dari Lilyana kemarin malam. Itu begitu datar namun sedikit tulus. Bagaimana Elang harus mendeskripsikannya?
__ADS_1
Lilyana tidak langsung menimpali. Perempuan itu perlahan mengangkat pandangan dari dua tangannya yang sejak tadi saling bertaut di atas pangkuan. "Abby terlalu baik."
Untuk yang satu itu, Elang setuju. Perempuan yang belum lama ini menjadi temannya itu memang terlalu baik.
. . .
Sedangkan yang tengah dibicarakan, kini sedang duduk manis bersama Juna di sampingnya. Untuk kali ini, kakaknya tidak mengemudi, Erik yang mengambil alih. Mungkin karena Juna kelelahan.
Abby melirik Juna yang bersandar pada kursi mobil sembari memejamkan mata. "Kakak pasti kurang tidur."
"Hm. Aku hanya tidur satu jam kemarin malam." Juna memang pulang ke rumah tadi malam setelah memastikan Abby tidur dengan nyenyak, namun bukan untuk istirahat, dia kembali menggeluti berkas yang menumpuk di ruang kerjanya. Akhir-akhir ini dia semakin sibuk, ditambah dengan keterlibatan dirinya dalam acara besar keluarga Aditama.
Mengingat hal itu, mata Juna tiba-tiba terbuka dan langsung menatap Abby. "Pesta ulang tahun perusahaan Aditama tinggal tiga hari dari sekarang. Apa kamu tidak apa-apa dengan kondisi seperti ini?" Luka di bahu Abby membutuhkan waktu kurang lebih satu Minggu agar mengering. Dia tidak yakin kalau adiknya itu dapat hadir dalam keadaan prima nanti.
"Aku tidak datang pun tidak apa-apa." Jawab Abby ringan.
Juna langsung berdecih, "hah, tidak mungkin. Kehadiranmu adalah hal yang sangat Tante Melly tunggu." Setiap bertemu, wanita itu pasti selalu menanyakan Abby dan Abby.
"Tante Melly tidak tahu dengan keadaanku bukan?" bisa repot kalau wanita itu tahu.
Juna menggeleng, "aku dan Gara sepakat untuk tidak memberitahunya." Pandangan lelaki itu tidak sengaja berhenti pada jemari Abby, "kamu kembali mengenakannya?" dia ingat kalau Abby sudah melepaskan cincin pertunangannya waktu itu.
Kini, Abby yang mendengus, "tanyakan saja pada teman Kakak itu."
"Kamu tidak perlu menuruti kemauannya, Abby."
Abby menggeleng, "aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin memberinya satu kesempatan lagi. Kakak sendiri yang menyarankan."
Juna membuang nafas kasar sembari menatap ke luar jendela mobil dengan sembarang, "tinggalkan saja jika dia kembali melakukan hal yang sama."
"Tentu."
. . .
TBC
Hai, selamat siang. Saya kembali dengan bab baru. Semoga bisa menghibur teman-teman yang sedang bersantai di akhir pekan ini.
Terimakasih tidak bosan saya ucapkan buat teman-teman setia pembaca Abbysca yang selalu memberikan dukungan dan cinta. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^
Salam,
Nasal Dinarta
__ADS_1