Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Menyisihkan Kepercayaan


__ADS_3

"Lagi?"


Gara yang kala itu tengah duduk di ruang kerjanya, di-herankan dengan kedatangan paket-paket kecil dari sosok yang tak dikenal. Tanpa nama pengirim, juga tanpa alamat pengirim. Hanya tertera untuk Sagara.


Lelaki dengan setelan jas mahalnya itu mendongak, menatap Mahen dengan penuh tuntutan. "Aku sudah bilang agar kamu membuangnya saja jika paket tidak penting ini datang kembali."


Mahen tidak menjawab, lelaki itu malah mengambil sesuatu dari sakunya, lalu dia serahkan pada Gara. "Saya menemukan surat ini, bersamaan dengan datangnya paket untuk Anda, Pak."


Gara mengambilnya dari tangan Mahen dan tanpa ragu membaca tulisan yang tertera di sana.


Tunggu saja kehancuranmu.


Detik berikutnya, selembar kertas itu sudah tak berbentuk karena Gara meremasnya kuat lalu membuangnya ke sembarang arah. "Kamu sudah melakukan apa yang aku pinta?"


"Sudah, Pak. Untuk sejauh ini, kami belum bisa menemukan siapa pengirimnya."


Jawaban Mahen sukses membuat Gara kesal. Jika dia tahu siapa orang dibalik semua ini, dirinya benar-benar tak akan memberikan ampun.


Seperti paket-paket sebelumnya, isinya adalah foto Abby yang tengah menghabiskan waktu berdua dengan Elang. Entah itu di perpustakaan, di kantin, ataupun di bangku taman. Jika dilihat dengan hati yang biasa saja, maka tak ada yang salah dengan semua itu. Namun pikiran dan hati Gara sedang tak baik-baik saja sekarang, jadi dia cukup marah saat melihatnya.


"Padahal aku tahu kalau mereka tak melakukan apapun selain belajar bersama, tapi kenapa aku harus cemburu?" gerutunya dengan mata yang tak lepas dari sosok Abby yang tengah tertawa manis di sana. Dia ingin menyangkal, tapi entah kenapa dia merasa kalau Abby terlihat begitu bahagia saat bersama Elang.


Gara menggeleng pelan, "buang semua benda ini!"


"Baik, Pak." Mahen membereskan barang yang berserakan di atas meja atasannya dan mengumpulkan semuanya jadi satu, setelah itu dia membuangnya ke tempat sampah terdekat.


"Apa ada kabar dari Arjuna?" tanyanya tiba-tiba saat ingat kalau teman sekaligus calon kakak iparnya itu sudah cukup lama tak bisa dihubungi.


"Terakhir, saya dengar dari Damar kalau Pak Arjuna sedang sibuk mengurus perusahaan cabang yang ada di luar kota, Pak." Mengingat kembali percakapannya dengan sekretaris Juna beberapa hari yang lalu.


"Oh ya? apa ada masalah yang tidak aku ketahui?" wajahnya terlihat heran. Merasa sedikit aneh karena biasanya hampir tiap hari mereka bertemu. Entah karena kepentingan pekerjaan atau hanya sekedar bertemu sesama teman.


Mahen menggeleng kecil, "kalau itu saya kurang tahu, Pak. Damar tidak mengatakan apa-apa lagi."

__ADS_1


"Damar? itu artinya dia tidak ikut dengan Juna?"


"Tidak, Pak. Damar ditugaskan untuk mengurus masalah internal perusahaan. Jadi, Pak Arjuna sepertinya membawa yang lain."


"Maksudmu, Juna membawa sekretaris perempuannya yang baru itu?" Gara terlihat tidak percaya.


"Ya, Pak. Posisi Damar dan perempuan itu ditukar, mungkin kurang dari satu bulan yang lalu. Sudah cukup lama." Menjawab dengan tidak yakin karena agak lupa dengan apa yang Damar katakan lewat telepon waktu itu.


Gara terdiam untuk sesaat, "ah, apa tebakanku waktu itu benar?" bertanya pada dirinya sendiri. Sepertinya memang ada sesuatu di antara Juna dan sekretaris barunya itu.


"Aku akan pulang lebih awal, tolong kamu selesaikan sisanya. Tak ada pertemuan penting lagi bukan setelah ini?" Gara berdiri dan menyambar jasnya yang dia simpan di sandaran kursi.


"Tidak ada, Pak."


. . .


"Sampai kapan aku harus melakukan ini?" tanya seorang perempuan pada pemuda di depannya.


Alis pemuda itu naik satu dengan senyuman miring di bibirnya, membuat wajahnya terlihat agak mengerikan. "Kenapa kamu harus bertanya padaku?"


"Hehe. Lilyana, aku sudah membayarmu dengan harga yang cukup besar. Jadi, itu tugasmu untuk melakukannya sampai akhir." Pemuda itu menjawab dengan tidak jelas, wajahnya juga terlihat agak bosan. Seperti mau tak mau meladeni perempuan di depannya.


Lilyana terpengarah di tempatnya, "apa maksudmu?" Suaranya hampir menyerupai bisikan.


Lelaki itu mendengus, "kenapa kamu bodoh sekali?" Ucapnya tanpa perasaan. "Lakukan terus sampai orang itu memercayainya."


"Kamu pikir orang itu akan percaya begitu saja dengan hal-hal konyol seperti itu?" Lilyana tidak mengerti dengan jalan pikiran orang ini.


"Itulah bedanya aku denganmu." Si lelaki mengambil sesuatu dari saku celananya saat merasakan hal yang kurang. Tak lama, dia membuka bungkusnya dan langsung memasukan permen dengan rasa melon itu ke dalam mulutnya.


Dengan pipi kanan yang mengembung, lelaki itu melanjutkan, "tetesan air hujan bahkan bisa menghancurkan sebuah batu yang berstruktur keras. Begitupun dengan perasaan manusia, kepercayaan mereka akan hancur perlahan jika menemukan pengkhianatan."


Kalimat yang dia lontarkan membawa hawa tak nyaman di sekitar Lilyana. Perempuan itu bahkan bersumpah, kalau dia merasakan punggungnya berkeringat dingin.

__ADS_1


"Dan tugasmu akan ku anggap selesai saat kamu berhasil menghancurkan kepercayaan mereka."


. . .


"Kamu cukup sering mengunjungi Kakek sekarang. Apa kamu tidak sekolah?"


Danu menatap cucunya yang kala itu tengah memandang rumah sederhana yang baru saja selesai. Ransel hitamnya masih bertengger di punggung tegap Elang, menandakan bahwa pemuda itu baru saja tiba beberapa saat yang lalu.


"Itu karena Kakek memilih tinggal di sini sekarang." Jawab Elang tanpa menoleh. Apa yang dia katakan memang benar. Sudah satu bulan ini, Danu memilih tinggal menyendiri di sebuah desa terpencil, cukup jauh dari ibukota. Meski di sekitar tempat tinggalnya yang sekarang hanya dikelilingi kebun dan persawahan, namun beberapa kilometer dari sana terdapat pemukiman warga juga. Jadi, Danu tidak benar-benar menyendiri.


Elang agak mencebik, cukup menentang keinginan Danu karena itu artinya mereka akan susah untuk bertemu. Namun dia tidak menanggapinya lagi, pemuda itu malah mengutarakan hal lain.


"Bagaimana mungkin rumah ini bisa selesai dalam waktu sebentar?" Elang masih ingat jika Jumat kemarin, rumah di depannya ini belum membentuk apa-apa selain atap dan penyangga.


Danu tersenyum tipis, "tentu saja karena dikerjakan banyak orang."


Elang menoleh, "berarti Kakek mengeluarkan banyak uang untuk ini?"


"Kakek tidak pernah bilang kalau ini rumah Kakek. Jadi, tentu saja pemiliknya yang mengeluarkan banyak uang." Danu terkekeh sembari menepuk bahu lebar cucunya. "Ayo masuk ke rumah Kakek, yang kamu tatap itu punya orang lain. Nanti pemiliknya marah."


Sepasang cucu dan kakek itu melangkah ringan sambil merangkul satu sama lain. "Jadi, pemiliknya akan segera datang?" Elang sepertinya tidak berniat untuk mengakhiri percakapan mereka tentang rumah di samping dengan cepat.


Danu mengangguk, netra tuanya menyorot sendu. "Meski Kakek tidak mengharapkan kedatangannya, tapi sepertinya dia memang akan segera datang."


. . .


TBC


Terimakasih untuk semua dukungan dan juga semangatnya. Semoga teman-teman pembaca sehat dan bahagia selalu. Sayang kalian banyak-banyak. ^_^


Enjoy!


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta


__ADS_2