Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Semanis Teh Madu Dan Sepahit Empedu


__ADS_3

Arjuna Anggara.


Juna mengeja setiap bait namanya dengan penuh penekanan dalam hati. Betapa gagah dan berani nama yang dia miliki. Lelaki tampan itu meneguhkan hati, menyakinkan diri bahwa hanya dialah yang mampu menyandang nama belakang Anggara dengan segudang tanggung jawab besar di pundaknya.


Benar, hanya dia yang mampu. Tak ada yang lain, sekalipun itu adik kandungnya sendiri. Memikirkan jika ada orang lain yang menyandang nama Anggara tapi tak memiliki tanggung jawab yang sama sepertinya, Juna merasakan emosi lain di dalam dirinya.


Di saat dirinya banting tulang, menjadikan kepala di kaki dan kaki di kepala, demi membuat perusahaan keluarga tetap stabil dan menunjukkan kemajuan pesat, ada seorang Abbysca Anggara yang leha-leha menikmati hidup. Tanpa harus bekerja keras sepertinya, perempuan itu tetap bisa hidup enak, nyaman dan dihormati oleh orang banyak.


Dulu, Juna sangat memakluminya. Namun untuk sekarang, lelaki itu perlahan merasa muak dengan kelakuan adiknya sendiri. Dia pikir, setelah bangun dari tidur panjangnya waktu itu, Abby akan berubah lebih baik seperti bersedia membantunya berpikir. Tapi, seperti yang dia tebak, Abby malah semakin lengket dengan Gara. Mengulangi kekonyolan seperti di masa lalu.


Mana katanya yang ingin melupakan Gara? Abby seperti menjilat ludahnya sendiri. Tidakkah itu sangat menjijikkan?


Genggaman pada berkas yang sedang dipegangnya mengerat, Juna merasakan kebencian yang semakin melambung di dalam sana. Entah kenapa dan untuk siapa, dia pun tak mengerti. Dia jelas sedang sibuk dengan tumpukan pekerjaan, tapi kenapa hati dan pikirannya tidak bisa fokus?


"Ini minuman Anda, Pak."


Netra tajamnya yang tengah menelusuri berkas di atas meja, kini naik hanya untuk menemukan seorang perempuan cantik yang sudah hampir satu bulan ini menemani kesepiannya. Alih-alih sebagai sekretaris, Andita berperan cukup banyak dalam menyeimbangkan emosi Juna yang begitu labil akhir-akhir ini. Juna seperti menemukan sosok Juliana di dalam diri Andita.


Wajah tampan itu tersenyum tipis, seolah raut datar dan keras yang tadi terlihat hanyalah ilusi belaka. Netranya menatap dengan hangat dan teduh pada si penyeduh teh miliknya. Juna memang tengah membutuhkan minuman sehatnya sekarang.


Tanpa ragu, tangan kekar itu mengambil cangkir yang terasa hangat lalu menyesap isinya perlahan. Harum teh, manisnya madu dan segarnya perasan jeruk begitu memanjakan Juna. Pun dengan perutnya yang kini terasa nyaman dan tidak kaku.


Andita begitu paham akan apa yang dia butuhkan.


Tanpa melepaskan pandangannya dari si perempuan, Juna kembali menyimpan cangkirnya di atas meja. "Kemari!" ujarnya pada Andita dengan suara rendah.


Perempuan yang mengenakan kemeja pendek dan rok hitam setengah paha itu mendekat ke arah Juna dengan pandangan bingung. Dia berdiri persis di depan Juna, hanya dipisahkan jarak dua jengkal saja.


Maka dari itu, Juna dengan mudah menarik tangan Andita agar lebih dekat dengannya. Harum manis vanila langsung tercium saat keduanya begitu dekat dengan posisi Juna yang masih duduk dan Andita yang berdiri kaku, sedangkan tangannya tidak lepas dari genggaman sang atasan.

__ADS_1


"Pak." Panggil Andita pelan, merasa resah dengan diamnya Juna dan juga tatapan lekat yang lelaki itu arahkan padanya.


"Hm?" jawab Juna main-main. Senyuman tipis terlihat di sudut bibir Juna, seperti menikmati apa yang tengah dia lakukan.


Dalam sekali sentakan, Andita sudah berada di dalam pangkuan Juna dengan posisi menyamping. Otomatis, perempuan itu melingkarkan kedua tangannya di sekeliling leher Juna karena kaget.


"Pak.." hanya itu yang dapat Andita katakan sekarang. Dia kaget tapi tidak ingin beranjak karena dia pun menikmatinya.


Satu tangan Juna memeluk pinggang ramping itu agar merapat padanya, sedangkan satu tangannya yang lain naik untuk mengelus rahang Andita yang terasa halus.


"Aku ingin ketenangan, Andita. Kamu tahu? otak ini.." menunjuk kepalanya sendiri dengan telunjuk kanannya, "..begitu sibuk memikirkan kemungkinan yang akan terjadi ke depannya. Dan aku tak memiliki solusi lain agar aku bisa tidur, kecuali dengan memelukmu."


Jantung Andita berdegup, apalagi saat melihat wajah tampan Juna yang tepat berada di bawahnya beberapa sentimeter. Juna memang cukup sering memeluknya akhir-akhir ini, namun sebelumnya mereka tak pernah seintens ini.


Juna merasa tak perlu meminta izin dari Andita. Jadi, lelaki itu langsung menyimpan wajahnya di antara perpotongan leher dan pundak Andita sembari mengeratkan pelukan di tubuh ramping itu.


Memejamkan mata, menghirup aroma parfum yang terasa manis adalah hal yang sedang Juna lakukan saat ini. Dalam hati, dia berpikir. Kenapa baru sekarang dia menemukan seseorang yang bisa dijadikan 'tempat pulang'?


"Pak, ini di kantor." Menahan erangannya sendiri saat kecupan Juna di lehernya berubah menjadi gigitan.


"Hanya kantor cabang, bukan? tak akan ada yang berani masuk." Suara Juna terdengar dalam namun serak, seperti tengah menahan sesuatu di dalam dirinya.


Andita tidak tahu jika kepribadian Juna yang sebenarnya memang seperti ini saat sudah dekat dengannya. Begitu manja, lembut dan hampir sama dengan lelaki lain yang selalu menginginkan sentuhan dari perempuan.


Namun bukankah itu sesuai dengan apa yang Andita inginkan?


Di tengah kegiatan mereka yang sudah melenceng dari tugas pekerjaan, suara getaran ponsel menggema dan cukup menyakitkan telinga. Andita yang posisinya kebetulan dekat dengan meja, langsung menoleh.


"Pak, ponsel Anda berbunyi." Berusaha berbicara normal.

__ADS_1


"Biarkan saja. Itu pasti telepon tidak penting." Jawab Juna yang kini sudah memejamkan mata di bahu sempit Andita.


"Tapi itu dari Nona Abbysca, Pak."


Dengusan samar langsung terdengar.


"Benar bukan? itu lebih tidak penting dari dugaanku."


"Pak!"


"Diamlah, aku ingin tidur."


Andita tidak berani mengatakan apapun lagi saat deru nafas Juna yang tenang mengisi pendengarannya. Lelaki itu mulai tertidur.


Melihat hal itu, Andita berinsiatif untuk memberikan kenyamanan lebih pada Juna. Tangan lentiknya bergerak untuk mengusap punggung dan kepala Juna dengan lembut, membuat lelaki itu semakin pulas saja.


Dalam keheningan yang terasa tenang itu, tak ada yang tahu jika Andita memiliki ekspresi aneh dan salah di wajahnya.


Andita melirik teh buatannya yang kini tinggal setengahnya, kemudian menatap ponsel Juna yang masih memperlihatkan panggilan masuk dari Abbysca, lalu beralih pada Juna yang tertidur sambil memeluknya.


Senyuman sinis dan penuh kebanggaan mulai memenuhi wajah Andita yang terbiasa memperlihatkan raut lembut di depan Juna. Tak ada yang tahu dengan apa yang tengah dia pikirkan, ataupun apa yang tengah hatinya rencanakan.


Namun percayalah, meski itu orang bodoh pun, mereka akan tahu kalau Andita terlihat mengerikan sekarang. Ekspresi wajah itu menggambarkan kelicikan dan keserakahan yang kuat. Dan seperti apa yang sudah ditetapkan, tak ada sedikitpun kebaikan di dalam keserakahan.


. . .


TBC


Halo, selamat pagi. Semoga teman-teman pembaca sehat selalu. Terimakasih banyak atas dukungan dan kesetiaan teman-teman dalam menunggu lanjutan bab cerita ini. ^_^

__ADS_1


Salam,


Nadal Dinarta.


__ADS_2