
Dinding kayu yang sudah lapuk, langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu yang sudah reyot, barang-barang bekas yang berserakan tak teratur. Pemandangan itu begitu membuat Abby miris.
Rumah yang sebenarnya gubuk ini berukuran sangat kecil. Letaknya berada di ujung pemukiman padat ibukota yang sepertinya akan sulit untuk dijangkau oleh manusia. Abby dan Erik bahkan harus berjalan kaki cukup jauh karena tak ada jalur kendaraan roda empat untuk masuk ke sini.
"Maaf, Nona. Rumah saya memang seperti ini. Tapi, jika Anda berkenan, Anda bisa duduk sejenak. Saya akan menyajikan air minum." Kakek menunjuk sopan pada satu-satunya kursi yang ada di sana. Memang sudah jelek dan usang, namun masih bisa dipakai.
"Nona, udara di sini tidak baik bagi kesehatan Anda. Tidakkah sebaiknya kita pergi sekarang?" Erik berbisik di dekat Abby yang kini sudah duduk dengan nyaman tanpa mempedulikan ucapan Erik. Dia masih menatap si kakek yang tengah menuangkan air minum dari sebuah teko tua ke dalam dua cangkir plastik.
"Ini, silahkan di minum! maaf, hanya itu yang bisa saya sajikan." Abby menerima gelas dari kakek dan langsung menenggaknya setengah, membaut si kakek dan juga Erik merasa cukup kaget karena Abby menerimanya tanpa sungkan.
"Terimakasih, saya memang haus." Abby tersenyum meski harus menahan rasa aneh di tenggorokannya karena air yang diminumnya barusan memiliki aroma apek, mungkin karena air itu dimasak menggunakan kayu bakar.
Kakek tersenyum, kemudian duduk di atas ranjang kecil yang berhadapan langsung dengan dua tamunya. "Maaf, Tuan. Kursinya hanya ada satu. Anda bisa duduk di sini jika mau." Menatap Erik yang berdiri tegap di belakang Abby dengan cangkir plastik di genggamannya. Wajah tampannya kaku, mungkin tidak tahu akan diapakan minuman tersebut olehnya.
"Tidak apa, Kak Erik sudah biasa berdiri." Menjawab lebih dulu tanpa melihat reaksi Erik karena Abby tahu kalau pegawai kakaknya itu tidak akan mau duduk di sana. Meski hanyalah seorang anak kepala pelayan, namun sejak kecil Erik sudah hidup dengan layak di kediaman besar Anggara. Jadi, sepertinya lelaki itu merasa sedikit tidak nyaman sekarang. Sedangkan untuk Abby sendiri, jiwanya di masa lalu sudah melalang buana untuk mengunjungi rumah orang-orang tak mampu demi menuntaskan kemiskinan di kota terpencil di kerajaan. Jadi, dia tidak keberatan sama sekali.
"Kakek tinggal sendiri?" itu adalah hal yang paling ingin Abby tanyakan sejak tadi.
"Ya, istri saya sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu." Kakek menjawab dengan senyuman yang tak hilang seolah yang dia bicarakan bukanlah kematian.
Abby mengangguk, "emm..lalu, keluarga Kakek yang lain?"
"Saya tidak ingat memiliki saudara atau tidak, karena sejak kecil saya hanya tinggal bersama nenek saya. Kalau anak, saya punya satu anak perempuan. Tapi dia sudah menikah dan tinggal jauh bersama suaminya. Jadi, saya sendiri." Ada kesedihan di mata kakek saat membahas anaknya. Mungkin itu rindu yang sulit untuk disampaikan.
Abby tertegun. Kakek hidup sendirian dengan kondisi ekonomi yang jauh dari kata mampu. Dan untuk makan pun harus berjuang keras dengan mencari koran bekas sepanjang hari. Lalu, satu-satunya keluarga yang dimilikinya pergi karena harus ikut pasangannya. Tapi, tidakkah anak perempuan si kakek memiliki rasa kasihan karena harus meninggalkan ayahnya seorang diri?
"Apa..apa anak Kakek suka datang menjenguk?"
Kini, si kakek yang terdiam. Mata merahnya yang sedikit kecokelatan terlihat menerawang ke arah yang jauh, seolah tengah berusaha menjangkau sang anak yang tak terlihat kehadirannya. "Terakhir, dia datang saat ibunya meninggal. Setelah itu, dia tidak pernah kembali." Kakek menunduk karena merasa matanya memanas, namun dia berusaha untuk tidak menangis di depan orang asing.
__ADS_1
Abby menghela nafas pelan, kemudian menengok ke arah Erik yang sepertinya juga ikut tersentuh. Lengannya naik dan menarik ujung pakaian lelaki itu. "Kak, kamu bisa meminta Paman Hari untuk datang dan membawakan beberapa bahan makanan?" bisik Abby.
Erik menatap majikannya sejenak sebelum mengangguk dan mengiyakan. Setelahnya, lelaki itu keluar dari sana sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Kembali pada Abby yang kini kembali menatap kakek. "Kakek pasti kesepian." Tidak ada hal yang lebih menyakitkan daripada rasa sepi di hati namun tak mampu untuk diobati. Jika rasa rindu akan sembuh jika melihat sosok yang dirindukan, maka sepi tidak bisa seperti itu.
Untuk beberapa saat, kakek tidak menjawab. Mungkin tengah menata perasaannya kembali yang barusan tidak karuan.
"Maaf jika pertanyaan saya membuat Kakek harus membuka luka lama."
Kakek menggeleng, "tidak, saya baik-baik saja. Hanya saja, sebelumnya tak pernah ada yang bertanya seperti itu kepada saya."
Hidup sebatang kara di tempat terpencil seperti ini membaut kakek tidak memiliki tetangga karena lingkungan rumahnya hanya dikelilingi pohon pisang milik orang. Bila ada beberapa rumah di sekitarnya pun, mereka tidak pernah benar-benar memperhatikan kakek. Selain karena tidak peduli, mereka juga sama-sama dari kalangan berekonomi sulit. Lantas, dengan apa mereka bisa membantu kakek? mungkin seperti itu.
Abby tengah membayangkan, bagaimana jika kakek di depannya ini merupakan orangtuanya sendiri? mungkin dia tidak akan tega membiarkan ayahnya harus menanggung kepedihan di hari tuanya. Mungkin dia juga akan berusaha menghidupi ayahnya walau harus berjuang lebih keras. Yang pasti, dia tidak akan membiarkan ayahnya hidup seperti ini.
Dua puluh menit mereka habiskan dengan saling bertukar cerita. Atau lebih tepatnya, Abby yang menjadi pewawancara, lalu kakek akan menjawab seadanya tanpa ditutup-tutupi. Dari pertanyaan seperti, darimana asal kakek, bagiamana awal kakek bisa berada di sana, atau bagiamana kakek menghadapi hari jika sedang tidak sehat dan tidak bisa bekerja. Dan dari semua pembahasan itu, tak ada satupun yang tak membuat hati Abby menangis pilu.
"Nona, saya datang." Hari menghampiri Abby yang kini tengah berdiri memperhatikan orang-orang yang sibuk menyimpan barang di atas lantai rumah kakek yang lapuk.
"Terimakasih Paman Hari, maaf sudah merepotkan." Senyuman menghiasi bibir tipis Abby. Merasa senang karena keinginannya dipenuhi tanpa harus menunggu lama.
Hari menggeleng, "sudah kewajiban saya, Nona." Lelaki tua itu menatap seorang kakek yang juga tengah menatapnya dengan pandangan berpikir.
"Namun, bagaimana Anda bisa berakhir di sini Nona?" Hari tak kuasa menahan penasarannya. Adik dari Arjuna tersebut tidak memiliki jiwa sosial dan kemanusiaan seperti ini, jadi dia merasa sangat aneh saat mendapat telepon dari putranya tadi.
Abby terkekeh pelan, "aku hanya kebetulan bertemu kakek ini." Perempuan itu kembali menatap kakek yang tengah kebingungan menatap belasan kardus yang kini memenuhi rumah sempitnya. "Kakek, ini Paman Hari."
"Selamat pagi, Tuan. Maaf, membuat Anda harus datang ke tempat seperti ini." Berujar ringan dengan raut wajah yang sedikit sungkan.
__ADS_1
Hari sedikit menunduk, "selamat pagi, Pak. Itu bukan masalah. Nona Abby sendiri yang meminta saya."
"Lalu, ini semua maksudnya apa ya kalau boleh tahu?" Kakek menatap Abby dan Hari bergantian.
"Bukan apa-apa, hanya sedikit bingkisan untuk kakek. Tolong jangan merasa tidak enak! ini hanya itikad baik saya." Abby berujar hati-hati, tidak ingin menyakiti hati si kakek.
"Maaf menyela Nona, tapi saya merasa tidak asing dengan kakek ini." Hari tiba-tiba berujar. Matanya menatap kakek dengan wajah berpikir dan pandangan menyelidik.
"Oh ya? Paman Hari pernah bertemu dengan kakek?" Abby tidak bisa tidak penasaran.
"Anda.." Hari melirik gerobak tua yang terparkir di depan rumah dari celah pintu yang terbuka, kemudian kembali menatap si kakek."..Anda adalah orang yang menolong Nona Abby waktu itu bukan?"
Abby terperanjat kaget, "hah? bagaimana?"
Sedangkan kakek seperti linglung, sedikit tidak mengerti dengan pertanyaan Hari. "Maaf, maksud Anda bagaimana? saya cukup sering melupakan hal yang sudah terjadi. Maklum, sudah tua." Haru bahagia juga rasa tidak enak di hatinya kini sedikit hilang, digantikan dengan rasa bingung saat mendengar ucapan Hari.
"Benar, saya tidak mungkin salah. Anda adalah orang yang mengeluarkan Nona Abby dari mobil saat kecelakaan waktu itu. Jika Anda tidak menolongnya, mungkin Nona Abby tidak akan di sini sekarang." Hari masih menatap kakek sambil mengingat kejadian waktu itu. Hari ingin sekali berterimakasih namun karena suasana kala itu sangat kacau, dia memilih masuk ke dalam ambulance yang membawa Abby dan bertekad untuk mencari orang tersebut di lain waktu. Namun siapa sangka kalau dia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menemukannya.
Abby merasakan matanya panas saat mendengar penjelasan Hari. Benarkah apa yang dia dengar ini? Kakek ini adalah orang yang menolongnya? orang yang membuat hidupnya bisa bertahan sampai saat ini? meski lagi-lagi dia ingat kalau tubuh ini bukanlah tubuhnya yang sebenarnya, namun pikiran dan perasaan keduanya sudah menyatu. Jadi, bagaimana mungkin dia tidak merasakan apa-apa sekarang saat bisa dipertemukan dengan orang yang menyelamatkan nyawanya?
. . .
TBC
Huwaa..seneng sekali sudah sampai bab ini. Terimakasih buat semuanya yang selalu datang dan mendukung Abby. Sehat selalu untuk teman-teman.
Jangan lupa vote ya, cantik! ^-^
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta.