Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Mampu Memaafkan Tapi Belum Sanggup Melupakan


__ADS_3

Setelah percakapannya yang cukup panjang dan alot bersama Hari, Abby tidak beranjak dari tempatnya sedikitpun. Sedangkan lelaki paruh bayu itu pamit undur diri karena mengaku memiliki tugas yang harus diselesaikan.


Makan siangnya yang berada di atas meja sudah dia habiskan setengahnya sejak dua setengah jam yang lalu. Mira dan Lina juga sudah membereskannya tadi. Hanya menyisakan cemilan manis, dua toples keripik kentang, juga minuman segar di sana.


Meski hari sudah mulai sore, dan cuaca juga perlahan terasa dingin, Abby enggan untuk pergi dari sana. Tak ada yang dia lakukan sebenarnya selain diam dengan pikiran yang tak menentu.


Otaknya seakan mendidih dan dipaksa untuk berpikir dua kali lipat setelah mendengarkan penjelasan tak masuk akal dari Hari. Namun jika dipikir kembali, daripada ucapan Hari, kedatangannya ke dunia ini lebih terasa tidak masuk akal.


Lalu sekarang, dia harus bagiamana?


Abby menghela nafas kasar sembari memijat keningnya agak kencang. Hal yang akhir-akhir ini cukup sering dia lakukan karena terlalu banyak berpikir keras.


"Nona, Anda baik-baik saja? haruskah kita kembali ke dalam? saya akan memanggilkan dokter." Mira yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya bertanya dengan nada khawatir.


Abby menggeleng, "aku lebih suka di sini."


"Kalau begitu, sebaiknya Anda mengenakan ini." Mira menyelimuti pundak Abby dengan pakaian hangat yang dia ambil dari lemari.


"Terimakasih."


Mira baru akan menjawab sebelum terpotong oleh kedatangan Lina yang melangkah ke arah mereka dengan agak tergesa, "Nona, ada Tuan Gara berkunjung."


Abby belum sempat memberikan reaksi, namun orang yang dibicarakan sudah muncul dari arah pintu taman yang terbuka. Gara terlihat tampan dengan kemeja hitam yang membungkus tubuh kekarnya. Sedangkan jasnya hanya dijinjing sembarangan oleh lelaki itu, bersamaan dengan satu paper bag yang dibawanya.


"Tolong kupas dan potong kecil-kecil lalu bawa ke sini, buah naga baik untuk Abby." Gara menyerahkan barang yang dia bawa pada Lina. Lalu seolah mengerti, dua pelayan itu dengan kompak pergi dari sana. Memberikan pasangan itu sedikit privasi.


Abby mendongak, menatap Gara yang masih berdiri. "Kamu datang." Lelaki itu entah kenapa jadi sering mengunjunginya akhir-akhir ini, mungkin karena mereka sudah setuju untuk memperbaiki hubungan yang hampir kandas.


Juna menunduk, memandang Abby dengan tatapan teduhnya. Hal yang tak pernah sekalipun lelaki itu lakukan dulu. Jemari panjangnya mengelus pelipis dan pipi halus Abby dengan lembut. Setelahnya, wajah tampan itu mendekat dan melabuhkan kecupan ringan di pipi kanan Abby.

__ADS_1


"Aku menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat karena ingin melihatmu." Ujar Gara lembut sembari mengambil tempat duduk tepat di samping Abby yang terdiam kaku. Sepertinya perempuan itu cukup kaget dengan apa yang Gara lakukan. Luar biasa, lelaki itu semakin berani saja setelah mengutarakan perasaannya tempo hari. Dan Abby tak kuasa untuk sekedar mengelak.


Demi menutupi rasa canggungnya, Abby berdehem kecil sembari memalingkan wajah ke arah lain. Berharap kegugupan dan yang melandanya akan segera hilang. "Aku merasa sedikit aneh dengan perubahan sikapmu." Ungkap Abby begitu jujur.


"Ya, sepertinya semua orang sepakat dengan itu." Gara terkekeh kecil saat melihat rona merah muda yang kini menghiasi pipi pucat tunangannya. Entah karena hawa sore yang dingin atau karena kelakuannya barusan, Gara berharap kalau hal itu terjadi karena alasan yang ke dua.


Menyadari Gara yang semakin hari semakin memperlihatkan keseriusannya, Abby jadi berpikir keras. Lelaki itu jelas sudah tertarik padanya, melakukan sentuhan fisik yang menyatakan kepemilikannya, juga sering mengajak Abby bicara dari hati ke hati. Hal yang akan dilakukan oleh seorang lelaki pada perempuan yang dipujanya.


Entah Abby harus merasa senang atau sedih. Padahal, niatnya hanya untuk menjalani hidup dengan tenang tanpa harus terlibat dengan drama kehidupan orang lain. Namun siapa yang menyangka kalau dirinya tak mampu menghalau permainan takdir yang begitu kuat.


Memikirkan tentang perubahan Gara, juga cukup pesatnya perkembangan hubungan mereka, Abby jadi mengingat kembali pertemuannya dengan Abbysca. Netra jernihnya melirik ke arah Gara yang kini tengah menenggak jus segar miliknya yang tinggal setengah.


"Gara.." panggil Abby.


Yang dipanggil langsung mengangkat pandangan. Bibir tipisnya tersenyum lembut, seiring dengan pancaran matanya yang masih teduh. Abby merasa sedikit asing dengan itu semua. "Ada apa? kamu membutuhkan sesuatu?"


"Aku sebenarnya ingin menanyakan ini dari dulu, tapi.." Abby menghentikan ucapannya, otaknya tengah berpikir keras, memilah dan memilih kalimat seperti apa yang seharusnya dia ucapkan pada Gara.


Abby meneguk ludahnya kasar, "apa kamu benar-benar membenciku sebelumnya?" untuk sesaat, dirinya merasa sedikit menyesal karena mempertanyakan hal sensitif di saat hubungan keduanya perlahan membaik. Namun entah kenapa dia begitu penasaran dengan hal tersebut. Seolah itu memang hal yang ingin Abbysca Anggara ketahui juga, meski sekarang sosok itu entah di mana berada.


Hening untuk sesaat. Dua manusia itu saling memandang dengan jarak yang tak begitu jauh, namun pikiran keduanya sama-sama sedang rumit.


"Maaf. Aku pasti banyak menyakitimu selama ini. Tapi kamu harus tahu, apa yang aku rasakan waktu itu bukanlah sebuah kebencian. Karena bagaimanapun, namamu tak pernah hilang dari hidupku." Gara memalingkan wajah sembari menghela nafas berat, "meski begitu banyak kalimat buruk yang aku katakan padamu, tapi hatiku tidak sepenuhnya berkata seperti itu. Aku hanya.." lelaki itu tak sanggup untuk melanjutkan.


Abby yang mengerti langsung menyambung, "hanya muak. Kamu muak denganku. Begitu, Gara?" tanyanya dengan suara yang kelewat tenang. Bukannya senang, Gara justru merasa was-was melihat Abby yang mampu mengendalikan diri.


Gara memejamkan mata sembari membuang nafas secara berulang, mencoba menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadanya kala mengingat kelakuan buruknya pada Abby dulu. Lelaki itu menunduk, menyanggah kepalanya dengan dua tangan yang bertumpu pada lutut.


"Maaf, Abbysca. Maafkan aku, aku salah."

__ADS_1


Gara terlihat menyesal. Dan Abby ingin sekali mengumpat pada dirinya sendiri yang begitu terenyuh hanya karena melihat penyesalan dan ratapan sendu lelaki itu. Sungguh lemah sekali hatinya ini.


"Bagaimana kalau kamu tahu kalau aku bukan Abbysca yang sebenarnya?" bisik Abby dengan tak sadar. Gara pun tak mampu menangkap ucapan itu dengan jelas.


"Kamu mengatakan sesuatu?"


Abby menggeleng, "kamu melakukan itu karena ada alasannya, dan itu karena kelakuanku yang buruk. Lagipula, semua orang pernah melakukan kesalahan. Aku tak memiliki hak untuk menghakimi kamu, Gara." Perempuan itu menjelaskan semuanya dari sudut pandang seorang Abbysca Lionel.


Masih dengan pikirannya yang tak di sana, lamunan Abby harus teralihkan oleh tindakan Gara yang cukup mengejutkan. Lelaki itu turun dari kursi dan berjongkok di depannya yang tengah duduk, sehingga dua orang itu kini saling mendongak dan menunduk.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Abby pelan.


Kini Gara yang menggeleng, lelaki itu mengambil dua tangan Abby yang dingin. Jemari lentik dan halus itu terasa mungil di antara jemarinya yang besar dan panjang. Gara menggenggamnya erat namun penuh kelembutan.


"Aku tidak akan bosan untuk mengatakan ini, Abby." Mata elangnya menatap netra jernih Abby dengan lekat, membuat perempuan itu merasakan getaran aneh yang baru kali ini dia rasakan. "Aku minta maaf untuk semua rasa sakit yang kamu terima, untuk semua luka yang aku torehkan. Izinkan aku untuk menebus semuanya." Ucap Gara sungguh-sungguh.


Abby memandang Gara dengan mata yang agak gamang, berpikir bagiamana reaksi Abbysca jika perempuan itu yang berada di sini. Akankah perempuan itu merasa senang? atau justru merasa muak?


Jalan seperti ini, tak pernah Abby lalui sebelumnya.


"Wah, apa ini Gara? kamu melamar adikku di saat aku tidak ada di rumah?"


. . .


TBC


Hallo teman-teman. Sebagai ganti karena saya kemarin tidak up, jadi saya up dua kali hari ini. Semoga teman-teman bahagia. ^_^


Terimakasih atas dukungan dan cintanya. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta.


__ADS_2