Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Sesuatu yang Seharusnya Disadari Sejak Lama


__ADS_3

Setelah menemukan kejanggalan pada sikap Juna yang berubah secara tiba-tiba, maka sejak itu pula perasaan dan pikirannya menjadi lebih sensitif. Otaknya selalu memunculkan kemungkinan-kemungkinan yang menjadi penyebab utama perubahan sang kakak. Cukup banyak orang yang berkeliaran di sekitar Juna, namun tak ada yang memiliki potensi besar untuk memulai semua kekacauan ini selain perempuan itu.


Maka dengan modal keyakinan yang penuh, Abby mulai menyelediki hal-hal kecil yang terjadi di antara keduanya secara diam-diam. Semuanya tak luput dari pengamatan Abby yang begitu pintar menempatkan 'seseorang' di sana. Alhasil, tak hanya beberapa bukti yang dia temukan, fakta bahwa dua orang itu sudah memiliki hubungan yang cukup romantis pun membuat Abby tak bisa berkata-kata. Apa mereka memang benar sudah sejauh itu?


"Jadi menurut Anda, hal ini seharusnya sudah hilang sejak lama?" tanya Abby memastikan saat laki-laki tua di depannya menatap benda yang dia bawa dengan serius.


Danu mengangguk kecil dengan ekspresi wajah yang tidak menyenangkan, "saya merasa kalau benda ini dibawa dari masa lampau?" ujarnya tak yakin.


Abby termenung untuk sesaat sambil bergumam, "masa lampau?" otaknya seolah berhenti bekerja. Entahlah, mungkin karena dirinya juga berasal dari 'masa lampau' jadi saat mendengar seseorang menyinggung kalimat tersebut, perasaannya selalu tak karuan. Seperti merasakan sebuah nostalgia.


"Apa mungkin ada seseorang yang mengulang kehidupan kembali sepertiku di sini?" Abby kembali menatap Danu setelah kehilangan ketenangannya untuk sesaat.


Yang ditanya tidak langsung menjawab, alih-alih malah bangkit dan masuk ke dalam kamarnya sebelum kembali dengan cepat bersama sebuah buku tebal di tangannya. Lalu tak lama, Danu membuka halaman demi halaman demi menemukan bagian yang dia cari.


Abby tidak berani mengganggu yang lain meski rasa penasarannya cukup tinggi, hanya diam dan sesekali melihat sekeliling dinding rumah yang entah mengapa membawa kesan menenangkan. Sejak tahu kalau sosok Danu tidak sesederhana seperti apa yang dia pikirkan, maka sikap yang dia tunjukkan pun berbeda dari sebelumnya. Selain membawa kesan ramah karena Danu adalah kakek dari temannya, laki-laki paruh baya itu juga kemungkinan besar mengetahui hal yang seharusnya tak dapat diketahui oleh orang biasa. Jadi sebisa mungkin Abby akan bersikap patuh dan tidak menimbulkan masalah yang tidak perlu.


Danu mengangkat pandangannya setelah beberapa lama berkutat dengan buku tua miliknya. Lalu menatap Abby dengan tenang meski sorot kasihan tak dapat disembunyikan di sana. Gadis itu tentu sedikit merasa tidak nyaman namun tak mengatakan apapun selain menunggu yang lain berbicara.


"Bahan yang digunakan ini sebenarnya tidak terlalu memberikan efek selain sedikit halusinasi jangka panjang. Namun orang itu menambahkan 'sesuatu' yang tidak baik ke dalamnya sehingga orang yang meminumnya akan langsung terkena dampak buruk." Danu menjeda kalimatnya sembari menghela nafas, "kamu tentu tidak asing dengan ilmu sihir bukan?"


Abby cukup terhenyak mendengarnya, "ya, tapi aku tak pernah mempelajarinya karena hal itu sudah dilarang pada masa itu. Apa orang itu menggunakan sihir untuk merubah setiap emosi kakakku?"


Danu mengangguk kecil, "itu kemungkinan terbesarnya."

__ADS_1


Jika memang ada kandungan sihir di sana, maka seharusnya ada sosok lain di balik ini bukan? sedikit tidak mungkin jika Andita melakukan semua ini sendiri. Hal besar seperti ini dan di zaman moderen seperti sekarang ini.


"Apa ada tujuan lain selain ingin menguasai harta kekayaan kakakku?" seharusnya itulah alasan utama Andita melakukannya. Namun jika benar perempuan itu tidak bekerja sendiri, seharusnya ada alasan lain yang lebih kuat yang membuat pihak lain menargetkan semua ini.


"Hal yang kau sebutkan barusan hanya satu alasan kecil orang itu melakukan hal ini. Aku khawatir bahwa sebenarnya yang mereka targetkan adalah dirimu sendiri." Danu mengatakannya dengan sungguh-sungguh sehingga Abby yang merasa tidak percaya pun tidak dapat mencari celah kebohongan di netra tua itu.


"Aku?" Abby bergumam menunjuk dirinya sendiri. Lalu tak lama kembali berperang dengan pikirannya sendiri. Memangnya hal besar apa yang telah dia lakukan? apa dia pernah melakukan kesalahan fatal dan menyinggung banyak orang. Dia bahkan cukup berhati-hati dengan tindakannya selama ini. Apa mungkin Abbysca yang lain yang melakukannya? Gadis itu segera menatap Danu dengan mata yang membeliak.


Namun seperti sudah menebak pikiran Abby, laki-laki paruh baya itu tersenyum kecil. "Ada dua kemungkinan. Jika bukan karena 'jiwa' sebelumnya, maka orang itu mungkin menjadikan Anda sebagai target karena ingin menghancurkan orang-orang di sekitar Anda."


Abby terlihat linglung dan sedikit kehilangan ketenangannya, Erik yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka juga dengan cepat menghampiri dan menanyakan keadaan sang majikan. Namun gadis itu hanya melambaikan tangan dan berkata semua baik-baik saja.


Danu melirik keduanya dalam diam, namun pandangannya berhenti selama beberapa detik saat menatap Erik."Jika Anda mencurigai seseorang, maka segera lakukan penyelidikan secara diam-diam. Lebih cepat lebih baik agar solusinya segera ditemukan. Bukankah pemuda ini adalah ahlinya?"


Abby mengikuti pandangan Danu untuk sama-sama menatap Erik yang wajahnya tidak memiliki riak sedikitpun. Namun jujur saja laki-laki muda itu memiliki tebakan kalau setelah ini dia akan mendapat mandat yang cukup merepotkan.


. . .


Abby baru saja akan keluar dari mobil saat ponselnya yang berada di dalam tasnya bergetar, hampir lupa kalau sejak pagi tadi pagi dirinya memang mengabaikan keberadaan benda tersebut karena terlalu fokus dengan tujuannya menemui Danu.


Kerutan nampak jelas di keningnya saat melihat begitu banyak pesan tak terbaca dan juga belasan panggilan tak terjawab. Perasaannya mendadak tidak nyaman.


"Ya, Gara?"

__ADS_1


Suara laki-laki di seberang sana terdengar khawatir dan tersengal. Sesuatu yang membuat Abby tidak bisa untuk tidak merasa heran. Apa ada sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi?


"Maaf, aku baru saja kembali dari Kota A untuk mengurus sesuatu. Jadi sejak pagi aku tidak memegang ponsel. Apa ada yang ter-"


Kalimat Abby terhenti saat Gara menyela ucapannya dengan cepat. Mula-mula gadis itu hanya mengerutkan kening merasa bingung, namun perlahan ekspresi wajahnya menjadi tidak baik setelah mendengar penjelasan yang lain. Dia berubah linglung dan hampir kehilangan suaranya.


"..apa?"


Dan pada akhirnya hanya itu yang dapat dia katakan.


. . .


TBC


Halo selamat pagi, lama tidak berjumpa. Saya harap teman-teman pembaca selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Maaf karena saya baru kembali hari ini untuk memperbaharui episode terbaru.


Saya mengucapkan terima kasih banyak karena para pembaca begitu antusias untuk menunggu kelanjutan cerita ini. Saya juga sangat merasa bersyukur karena mendapatkan banyak dukungan. Karena beberapa hal di RL saya sudah dapat dikendalikan dengan cukup baik, maka saya akan kembali ke dunia penulisan ini dengan harapan dapat memberikan karya yang lebih baik.


Di samping itu, saya juga telah membaca ulang kembali tulisan ini dan saya menemukan beberapa hal yang 'kurang' dan bermaksud untuk direvisi pelan-pelan.


Terimakasih, salam sukses.


Nasaldinarta,

__ADS_1


02/08/2023


__ADS_2