Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Benang Merah Yang Mulai Terhubung


__ADS_3

Pagi ini, tidak ada yang dapat Abby ajak bicara di dalam kelas saat dosen belum tiba. Dia memang berangkat lebih awal karena ada beberapa hal yang ingin dia tanyakan pada Elang. Namun siapa yang menyangka kalau lelaki itu absen hari ini.


Abby memandang bosan ke arah depan. Melihat beberapa mahasiswa yang begitu asyik bercengkrama dengan teman dekat mereka. Para perempuan terlihat ramai karena tengah membicarakan seorang aktor tampan yang baru saja mengeluarkan film terbaru, dan tentu saja Abby tidak mengerti. Sedangkan para lelaki hanya bergerombol sebagian dan sisanya memilih sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Ya, setidaknya bukan hanya dia yang menikmati waktunya seorang diri.


Sebenarnya, Abby cukup tahu bahwa mereka curi-curi pandang ke arahnya. Mungkin karena ingin mengajaknya bicara sebagai teman satu kelas, atau mungkin saja hanya ingin mengajak kenalan karena dia sering dibicarakan media akhir-akhir ini. Namun apapun itu, Abby senang karena mereka memilih tidak mendekat dan tetap memberi jarak. Bukannya ingin sombong, Abby hanya butuh privasi.


Suara bising di kelas tersebut langsung senyap kala dosen masuk dengan seorang asisten di belakangnya. Ternyata, di sini pun sama dengan dunianya dulu. Seorang pengajar tetap membutuhkan tenaga orang lain untuk memperlancar tugasnya. Tapi, dari apa yang Abby dengar dari Elang, nilai akhirmu akan cukup memuaskan kalau bisa menjadi seorang asisten dosen. Haruskah dia seperti itu juga?


Seperti yang sudah dibahas minggu kemarin, pertemuan kali ini dosen akan membagikan hasil evaluasi mahasiswa dari program Ujian Tengah Semester. Itu adalah hal yang membuat Abby belajar mati-matian beberapa Minggu terakhir. Meski dia merasa optimis karena sudah belajar dengan keras, namun rasa pesimis itu datang menghampiri. Sudah lama sekali dia tidak merasakan adrenalin seperti ini. Rasanya cukup menyenangkan.


Satu per satu mahasiswa di panggil ke depan oleh dosen. Dan dapat dia lihat kalau orang-orang itu akan kembali ke bangku mereka dengan berbagai ekspresi di wajahnya. Ada yang terlihat senang, kecewa, bahkan kebanyakan dari mereka terlihat biasa-biasa saja seolah apa yang tengah dibagikan itu bukanlah apa-apa.


"Abbysca Anggara."


Abby langsung bangun dan berjalan melewati kursi-kursi mahasiswa lainnya karena dia duduk di area paling belakang. Meski namanya berawalan dari huruf A, namun dia dipanggil paling terakhir. Untuk yang satu ini, Abby tidak mengerti sistemnya. Mungkin dosen hanya memanggil secara acak saja.


"Nilai kamu semakin membaik. Tolong agar terus ditingkatkan." Abby mengambil kertas ujiannya dengan sopan dan memberikan senyuman kecil pada dosen, "terimakasih."


Abby kembali ke belakang sembari menatap kertas ujiannya yang diberi nilai A. Senyuman tulus terbit di bibirnya, senang karena usahanya selama ini berhasil. Saking fokusnya menatap kertas tersebut, Abby sampai lupa dengan jalan yang tengah dilaluinya. Perempuan itu hampir terjatuh jika saja tidak ada seseorang yang menahan sikunya.


"Hati-hati!" Abby menatap lelaki berwajah tirus dengan tindik di telinga kirinya sungkan. Bagus sekali, dia hampir mempermalukan dirinya sendiri.


"Maaf, terimakasih." Dia kembali melanjutkan langkah dengan hati-hati. Wajah cantik itu terlihat rumit saat sudah sampai di kursinya. Memikirkan kembali lelaki yang baru saja menolongnya.


Tatapan mata itu, Abby merasa tidak asing. Tapi di mana dia pernah melihatnya? Abby berpikir cukup lama.


Namun di detik berikutnya, perempuan itu mendengus, mencoba untuk tidak peduli.


"Abbysca!"


Dua orang perempuan mendekatinya dengan wajah malu-malu. Abby melirik ke arah depan dan perlahan mengerti. Dosen sudah pergi meninggalkan kelas, jadi mereka berani beranjak dari kursi.


"Ya? ada yang bisa aku bantu?" Abby mencoba terlihat ramah. Ini adalah pertama kalinya ada teman sekelas yang mau mengajaknya bicara selain Elang dan lelaki tadi yang menolongnya.


"Wah, kamu memang sangat cantik. Seperti apa yang aku lihat di televisi." Si perempuan berambut sebahu menatap lekat pada wajah Abby dengan mata yang berbinar.


Abby tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ada orang yang memuji penampilannya, "terimakasih." Ya, selain mengatakan itu.


"Benar. Sebenarnya, kami sudah cukup lama ingin mengajakmu bicara. Tapi Elang selalu berada di sisimu." Perempuan yang satunya lagi angkat bicara. Rambut ekor kudanya bergoyang saat dia bicara, itu terlihat lucu.


Lalu, kenapa memangnya kalau ada Elang di sampingnya? apa lelaki itu memang terlihat semenakutkan itu? namun Abby hanya diam dan memandang keduanya. Membiarkan mereka mengatakan tujuannya daripada menanyakan perihal Elang.


"Aku juga melihatmu tengah mengunjungi salah-satu toko mahal di pusat perbelanjaan kemarin. Kamu begitu mempesona meski hanya mengenakan kemeja polos." Lanjut si perempuan pertama tanpa mengalihkan tatapannya.

__ADS_1


"Kalau aku paling suka rambut panjangmu. Itu terlihat halus dan berkibar cantik saat tertiup angin." Timpal perempuan yang satunya lagi.


Hah? kemarin?


Dari mana mereka tahu?


Melihat Abby yang kebingungan, perempuan yang ke dua langsung membuka ponselnya dan menunjukkan foto Abby yang diambil dari dekat saat tengah berbicara dengan seorang lelaki berpakaian rapih. Itu memang benar dirinya.


Jika dilihat dari jaraknya yang begitu dekat, sepertinya orang yang memotretnya adalah salah-satu pegawai perempuan di toko itu. Abby juga membaca caption yang ditulis di sana.


"Abbysca Anggara mengunjungi Toko Pr*da kami, itu adalah suatu kehormatan. Abbysca begitu ramah dan dermawan, dia tidak merepotkan kami sama sekali saat tengah memilih barang. Anda terlihat cantik Nona, tolong biarkan saya membagikan foto Anda agar semua orang tahu kalau kecantikan Anda seperti Dewi." ^_^


Itu sangat menggelikan. Namun anehnya, fotonya disukai banyak orang. Kolom komentar pun dipenuhi dengan respon positif yang kebanyakan memuji kecantikannya yang alami.


Ini..Abbysca tidak tahu harus senang atau tidak.


"Emm..bolehkah kami mengambil foto bersamamu?"


"Kami ingin menunjukan pada orang-orang kalau teman sekelas kami adalah seorang Abbysca Anggara."


Mereka berseru dengan semangat. Meski merasa kesal karena dirinya akan dijadikan ajang pamer, namun Abby tak kuasa menolak.


"Tapi, hanya sekali ya?" dia akan berbaik hati untuk kali ini saja.


Dua perempuan itu mendekat ke arah Abby yang masih duduk di kursinya. Yang satu ke sisi kanan Abby, dan yang satunya lagi mendekat ke sisi kiri Abby.


"Ayo lihat ke kamera! 1,2,3!"


Abby belum siap, namun dia berusaha untuk tersenyum meski dia yakin kalau hasilnya nanti akan aneh.


. . .


Karena perutnya sudah meronta minta diisi, Abby memilih pergi ke kantin alih-alih langsung pulang setelah kelasnya selesai hari ini. Dan seperti biasa, dia akan duduk sendiri jika tidak ada Elang bersamanya.


Sudut matanya melirik ponsel miliknya yang bergetar di atas meja, nama Elang memenuhi layar di sana. Tangannya dengan spontan menaruh sendok makannya kembali, kemudian mengangkat panggilan tersebut.


"Ya, Elang?"


"Abby, aku sangat merindukanmu." Suara khas Elang langsung menyapa telinga Abby, tak lupa dengan kekehan Elang dia akhir ucapannya. Lelaki itu bahkan terang-terangan menggodanya.


"Jangan membual! ada apa menghubungiku?" Abby terlalu malas meladeni bualan Elang.


Kekehan Elang berubah menjadi suara tawa yang nyaring, lelaki itu terdengar bahagia bisa membuat Abby kesal.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bertanya ke mana aku pergi?"


Abby termenung sejenak, "apakah harus?" tanyanya polos, namun Elang malah mengira Abby tengah berucap sarkas padanya.


"Kamu memang kejam." Elang menjeda sebentar sebelum melanjutkan, "aku sedang dalam misi mencari seseorang." Jelasnya tanpa dipinta.


"Kamu bisa melakukannya di hari libur." Ucap Abby masuk akal. Kenapa temannya itu memilih hari yang salah? mereka masih memiliki hari libur di Minggu ini.


Elang menghela nafas, "aku melakukannya hari ini karena ibuku sedang pergi ke luar kota. Kalau dia tahu aku tengah mencari orang itu, dia pasti akan sangat marah." Jelas Elang begitu serius.


Sepertinya, ada sedikit pertentangan antara Elang dan ibunya mengenai orang yang sedang lelaki itu cari. Namun Abby tidak akan menanyakan alasannya. Dia malah penasaran dengan orang yang dicari Elang.


"Memangnya siapa yang kamu cari?"


"Kakek. Aku mencari kakekku, Abby." Suara Elang begitu lesu, "aku sangat merindukannya. Sudah sepuluh tahun aku tidak bertemu dengannya. Namun setiap aku bertanya pada ibu, di mana alamat kakek, ibu selalu menghindar."


Abby mengedipkan matanya beberapa kali, "jadi, bagaimana cara kamu mencarinya? apa kakekmu tinggal di kota ini?"


"Ya, aku dulu pernah mengunjunginya saat Nenek meninggal. Tapi ingatanku masih kecil waktu itu, jadi aku tidak dapat mengingat tempatnya dengan baik."


"Jadi, kamu mencarinya hanya berdasarkan nama saja?" mungkin itu akan memakan waktu yang cukup lama, namun itu tidak akan sia-sia sama sekali. Abby pun pernah melakukan itu di kehidupannya dulu.


"Iya, hanya itu yang bisa aku andalkan. Tapi, aku sangat berharap akan adanya keajaiban." Secercah harapan itu bahkan dapat Abby dengar. Begitu tulus.


"Kalau boleh tahu, siapa nama kakekmu? mungkin saja kakakku dapat membantu." Tidak ada yang tidak bisa Juna lakukan dengan uang dan kekuasaannya.


"Ha? kamu tidak perlu melakukannya, Abby. Aku tidak ingin merepotkanmu." Elang pasti sungkan.


"Cukup katakan saja namanya, Elang!"


"Danu. Danu Suwardi."


. . .


TBC


Selamat siang. Semoga akhir pekan teman-teman menyenangkan. Terimakasih selalu datang dan mendukung cerita Abbysca.


Jangan lupa untuk vote dan komentarnya ya, teman-teman! ^_^


Salam,


Nasal Dinarta

__ADS_1


__ADS_2