Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Ketentraman yang Susah Didapatkan


__ADS_3

Abby adalah perempuan biasa yang memiliki perasaan tak jauh beda dengan perempuan lainnya di belahan bumi ini. Jadi, tentu saja dia paham bagaimana perasaan dua perempuan yang diacuhkan oleh Gara tersebut. Terlebih, lelaki yang berstatus tunangannya itu dengan terang-terangan memperlihatkan rasa tidak senangnya.


Netra jernihnya melirik Manda yang tengah menatap tajam padanya, lalu beralih pada Karina yang lebih mampu menjaga sikap meski raut tercengang terlihat jelas di sana. Sayang sekali, sepertinya apa yang terjadi tak sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Gara memang terlalu kaku.


Untuk permintaan maaf dari Karina sendiri, Abby tidak bisa menganggapnya sebagai ketulusan. Semua orang juga dapat melihat kalau perempuan yang menggerai rambut indahnya itu hanya menginginkan maaf dari Gara seorang, terbukti dengan matanya yang tidak berpaling dari lelaki itu sedikitpun. Namun mulutnya dengan lihai mengatakan kalau dia meminta maaf padanya. Sungguh tidak sejalan.


Abby berdehem pelan, merasa tidak nyaman dengan keadaan canggung di sana. Atau mungkin, yang merasa seperti itu hanya dirinya seorang. Karena nyatanya, Juna yang tidak beranjak dari sampingnya, kini tengah berkutat dengan sebuah tablet. Lalu Gara, lelaki itu sedang mengeluarkan butir-butir kapsul dari wadah kecil yang merupakan obat untuk Abby.


"Minum ini dulu! setelahnya, kamu harus istirahat lagi." Gara mengulurkan telapak tangannya yang berisi tiga butir kapsul yang diterima dengan baik oleh Abby. Lalu, lelaki itu menyodorkan satu gelas air putih di depan Abby agar perempuan itu mudah menelannya.


Abby yang patuh dan tidak banyak protes terlihat menggemaskan di mata Gara, karenanya lelaki itu tidak bisa menahan diri untuk sekedar memberikan sentuhan ringan pada perempuan itu. Usapan ringan pada rambut, elusan lembut pada pipi, atau sekedar mengambil jemari mungil nan lentik itu untuk dimainkan olehnya.


Entah Gara sadar atau tidak, namun kelakuannya begitu menggambarkan dengan jelas bahwa dirinya memang sedang jatuh cinta. Abby tahu itu, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.


Sedangkan dua perempuan yang bergelar 'tamu' di sana hanya diam seperti patung dengan ekspresi wajah yang keruh. Kehadiran mereka seolah tak dianggap ada, begitu kasat mata.


Abby tentu sadar dengan kemarahan mereka, namun dia tidak ingin memusingkan hal tersebut. Jika saja Gara yang bersangkutan terlihat tidak peduli, maka kenapa Abby tak bisa bersikap demikian?


Tok tok!


Untuk kedua kalinya, pintu ruangan rawat Abby diketuk dari luar. Dan pelakunya adalah orang yang sama. Erik.


Tanpa diberi aba-aba atau apapun, semua orang yang ada di sana serempak menoleh saat Erik masuk.


"Maaf, Tuan." Lelaki yang mengenakan jaket kulit hitam itu mendekati Juna yang sepertinya cukup sibuk dengan pekerjaannya, namun Juna masih bisa memberikan atensi pada pegawainya itu.


"Ada apa?"


Erik terlihat sedikit bingung saat akan menyampaikan hal tersebut. Dan Juna cukup kesal melihatnya, terbukti dengan keningnya yang mengernyit.


"Katakan!"


Erik menatap Juna tepat di matanya untuk beberapa detik sebelum kembali menunduk, "ada Tuan Damar dan seorang perempuan muda di luar. Mereka bilang ingin bertemu dengan Anda."


Keheningan sempat terjadi, "apa ada hal penting?" Juna menegakan tubuhnya yang sejak tadi bersandar pada kepala kursi. Tidak mungkin sekretarisnya itu datang langsung ke sini tanpa memberitahunya apapun jika bukan karena ada hal yang penting.


"Biarkan mereka masuk!" Titah Juna yang langsung dimengerti oleh Erik.

__ADS_1


Netra Juna yang tadinya ingin kembali menatap tablet di tangannya berhenti saat mendapati dua perempuan yang tak terlalu dikenalnya sedang duduk bersisian di sofa yang tak jauh darinya.


"Masih di sini rupanya." Juna berujar tak jelas sembari melirik Gara yang tak beranjak sedikitpun dari tempatnya sejak tadi. Detik berikutnya, dia mendengus agak keras saat melihat lelaki itu begitu tidak peduli dengan kehadiran orang lain di sana selain Abby. Gara sepertinya sedang menjelma menjadi budak cinta.


"Selamat pagi, Pak."


"Pagi, Pak Juna."


Dua sapaan dari orang yang berbeda terdengar memenuhi ruangan rawat Abby yang entah kapan malah menjadi pertemuan tak sewajarnya. Untung saja rumah sakit ini masih bagian dari kekayaan yang Gara miliki, jadi tak akan ada yang menegur hadirnya banyak orang di sini.


Juna melirik Damar, wajah tampannya tampak mengerut saat melihat sekretaris keduanya ikut hadir. "Apa ada hal penting?" pandangannya turun pada beberapa berkas yang Damar bawa.


Damar mengangguk mantap, "ponsel Anda tidak bisa dihubungi. Sedangkan ada beberapa hal yang harus diselesaikan oleh Anda sebelum jam makan siang. Maaf, jika mengganggu waktu Anda." Lelaki itu menyerahkan barang yang dia bawa pada Juna.


Kakak dari Abby itu hanya menerimanya dalam diam, mengerti dengan apa yang Damar sampaikan. Namun dia tak langsung membukanya. Alih-alih, dia malah memandang perempuan yang berdiri kaku di samping Juna dan sesekali akan melirik ke arahnya dengan canggung. Andita.


"Apa kemarin sore kalian melakukannya dengan baik?" Juna mengingat acara yang seharusnya dia hadiri. Namun, karena dia memiliki kesibukan lain yang tak bukan adalah menemani Abby, jadi dia menyuruh dua bawahannya langsung untuk pergi ke acara formal tersebut.


"Ya, Pak. Itu berjalan lancar. Laporannya sudah ada bersama berkas yang saya berikan pada Bapak." Jawab Damar.


Juna mengangguk, "kedatanganmu adalah untuk itu. Lalu Andita, apa ada hal yang perlu kamu sampaikan padaku?" nada bicaranya sedikit lebih rendah, membawa hawa dingin yang entah kenapa cukup terasa. Lelaki itu memandang perempuan yang rapi dengan pakaian kerjanya tersebut dengan mata tenangnya.


Damar yang baru menyadari orang lain di sana langsung memberikan salam, "selamat pagi, Nona Abbysca. Tuan Gara." Lelaki itu sedikit menunduk ke arah keduanya. Sedangkan Andita yang tidak mengerti akan situasi hanya mengikuti apa yang Damar lakukan. Lalu setelahnya, dia menatap Gara dan Abby dengan seksama. Dua wajah itu tak pernah dia lihat sebelumnya, apa hubungan mereka dengan atasannya itu?


Juna menghela nafas, "duduklah! sofa itu sepertinya masih muat." Dia menunjuk ke arah di mana Karina dan Manda yang terlihat enggan pergi, masih duduk di atas sofa di ujung ruangan.


Diam-diam, Gara menyeringai saat tidak sengaja melirik ekspresi perempuan yang datang bersama Damar. Perempuan itu nampak enggan untuk melepaskan matanya dari sosok Juna.


"Sepertinya, kamu akan segera memiliki ipar." Gara menoleh pada Abby yang kebingungan. Tangannya yang memang sejak tadi tak bisa diam, kini menggapai pipi lembut Abby dan memberikan sedikit cubitan di sana. Gemas sendiri dengan apapun yang Abby lakukan.


Teringat akan sesuatu, lelaki itu melirik ke ujung ruangan. Wajahnya agak mengeras dengan mata yang menyorot tajam, "kalian sebaiknya pulang. Tidak ada gunanya juga kalian di sini."


Damar dan Andita yang baru saja akan duduk, menghentikan gerakannya dan menatap ke arah Gara dengan bingung, segan dan sedikit takut. Gara yang menyadari itu mendengus malas, "bukan kalian.." dia menunjuk dua perempuan yang tengah menatap ke arahnya dengan dagu, "..tapi mereka. Pergilah! ini adalah terakhir kalinya kalian bisa masuk sesuka hati ke tempat yang tak seharusnya kalian datangi. Dan ingat ucapanku tadi, aku tidak main-main."


Juna sadar kalau Gara adalah tipe orang yang memiliki kesabaran tak seberapa. Akan sangat merepotkan kalau dua perempuan itu tak menurut atau malah membuat semuanya nampak runyam. Maka dari itu, dia melirik Erik yang setia berdiri di dekat pintu. Dan seperti sudah mengerti dengan apa yang tuannya inginkan, Erik melangkah ke arah Karina dan Manda.


"Silahkan ikut saya, Nona-nona." Tidak ada eskpresi yang berarti di wajahnya. Hanya datar namun dengan sedikit peringatan di matanya.

__ADS_1


Manda jelas menolak,"Gara, kamu tidak bisa bersikap seperti ini padaku. Kita teman dekat bukan? bukankah seharusnya kamu menyambutku dengan hangat?"


Gara tidak menjawab, seolah tidak mendengar apa yang perempuan itu ucapkan.


Namun Karina yang sedikit pintar dan tak ingin ceroboh, bersikap lain. Dia memegang pergelangan tangan Manda dan menarik perempuan itu agar berdiri mengikutinya. "Benar, sebaiknya kita pulang, Kak." Ujar Karina dengan pelan.


"Maaf jika mengganggu waktu Anda sekalian. Kami sangat berharap akan kesembuhan Nona Abbysca. Juga, semoga permintaan maaf saya diterima." Matanya beralih pada Gara yang tidak sedang menatapnya, tangannya yang dia sembunyikan di balik pakaian yang dikenakannya terkepal. Semuanya terasa sulit. "Dan terimakasih atas kemurahan hati Anda, Tuan Gara."


"Kami permisi." Karina buru-buru pergi dari ruangan tersebut dengan menyeret Manda yang terlihat memberontak.


"Tidak, lepaskan! aku belum selesai dengan Gara."


"Hei, aku bilang lepaskan! aku harus bicara dengannya lebih banyak."


Suasana di ruangan itu seketika hening saat Erik menutup pintu dari luar. Orang-orang yang tersisa di dalamnya seperti enggan untuk membuka percakapan.


"Kalian bisa memulainya sekarang." Celetuk Abby.


Tidak seperti ucapannya, Abby malah berbaring dengan nyaman di atas ranjang pasien. Dia membiarkan Gara menyelimutinya dan bersiap untuk tidur, dia sangat mengantuk. Abby bahkan merasa enggan untuk membuka matanya lagi meski merasakan bibir dingin Gara mendarat di kening dan pipinya.


Samar-samar, Abby dapat mendengar percakapan Gara dan Juna sebelum dirinya menyelami alam mimpi.


"Tolong untuk tidak terlalu berisik! aku akan kembali sore nanti."


"Pergi sana!"


. . .


TBC


Hallo, selamat pagi teman-teman. Saya kembali dengan bab terbaru. Terimakasih atas dukungan dan kesetiaan teman-teman pembaca Abbysca. Semoga sehat selalu.


Part ini cukup panjang, itu sebagai permintaan maaf karena kemarin tidak up. -_-


Maaf. ^_^


Jangan lupa vote dan komentarnya! dan jangan bosan untuk menunggu kelanjutan cerita ini.

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta.


__ADS_2