Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Mencari Celah Kebahagiaan Di tengah Kekurangan


__ADS_3

"Silahkan diambil, ini untuk kamu!"


Abby mengusap rambut lepek seorang anak laki-laki yang sedang mengantri di depannya. Ditilik dari penampilannya yang agak kusam dan sebuah tas kecil usang yang bertengger di pinggangnya, sepertinya anak ini merupakan salah-satu pedagang asongan yang berdiri di pinggir jalan dan menjajalkan dagangannya pada para pengendara yang berhenti atau pejalan kaki yang lewat.


"Terima kasih, Nona." Si anak menerimanya dengan senang hati. Itu adalah satu kantung cukup besar berisi bahan sembako juga pakaian sehari-hari.


"Wajah kamu sedikit familiar." Abby tidak mungkin salah. Meski setiap minggunya akan ada banyak tambahan orang baru, namun wajah-wajah lama cukup menempel di pikirannya.


Kekehan tidak enak anak itu berikan, "saya selalu datang setiap Minggu. Berkat kebaikan Anda, uang makan saya bisa saya tabungkan untuk kebutuhan yang lain. Terimakasih banyak." Kembali mengucapkan terima kasih dengan tulus.


Abby sedikit terdiam, tidak menyangka jika kebaikan kecil yang dia lakukan akan berdampak besar bagi orang lain. "Bagus, kamu bisa datang setiap minggunya. Ajak teman atau saudaramu yang lain. Kalian bisa makan sepuasnya nanti.


"Benarkah?"


Abby mengangguk, "tentu."


Jawaban Abby membuat wajah kecil yang terlihat kusam itu berbinar.


"Kamu yakin sudah kenyang?"


Anak itu mengangguk antusias sambil menepuk-nepuk perut kecilnya. "Sudah, Nona."


Abby memang mempersilahkan mereka untuk makan sepuasnya di tempat yang telah disediakan sebelum mengantri untuk mengambil jatah sembako. Dengan begitu, mereka tidak akan kelelahan saat menunggu antrian karena perutnya sudah terisi.


"Apa kamu memiliki keluarga atau sanak saudara yang sedang sakit? di mana kamu tinggal?"


Anak lelaki itu menunduk sebentar sebelum kembali menatap Abby dengan binar sendu di matanya, "saya tinggal di sebuah kontrakan dekat sini, Nona. Dan ya, ibu saya memang sedang sakit. Jadi, saya berjualan sendiri beberapa hari ini." Menjawab riang seolah itu bukan masalah besar untuknya.


Perempuan yang mengenakan gaun sederhana berwarna putih gading selutut itu tertegun sejenak, ada riak kesedihan di matanya yang sedang coba dia tutupi saat ini. "Apa kamu sekolah?"


Si anak mengangguk, "ya, Nona."


Kemungkinan besar, anak ini berdagang selepas sekolah, yaitu siang hari sampai matahari tenggelam.


"Aku berdoa agar ibumu segera diberi kesehatan. Segeralah pulang dan ajak ibumu makan!" Abby mengakhiri percakapan karena melihat masih banyak orang yang mengantri di belakang anak ini.

__ADS_1


"Anda begitu baik dan dermawan, Tuhan pasti sangat menyayangi Anda. Sekali lagi, terima kasih Nona."


Abby tertegun setelah mendengar ucapannya, namun tak mengatakan apapun selain tersenyum dan membiarkan anak itu pergi dengan langkah ringan. Detik berikutnya, perempuan itu melirik Erik yang berdiri di dekatnya. "Kak!"


Erik mendekat, "ya, Nona."


"Apakah kamu bisa mengirim seseorang untuk mengikutinya diam-diam?"


Lelaki tinggi itu mengangguk, "tentu Nona. Apa Anda ingin saya melakukannya seperti biasa?"


Abby mengangguk, "tolong ya, dan terima kasih."


Lelaki dewasa itu menggeleng, "itu adalah tugas saya, Nona."


Bibir kecil perempuan itu hanya tersenyum tak berdaya saat melihat Erik yang sudah berlalu dari hadapannya. Tanpa ditanyakan pun Abby tahu kalau Erik akan langsung mengerjakan apa yang dia minta barusan. Abby kembali menaruh atensinya pada orang-orang yang tengah mengantri, lalu melanjutkan kegiatannya yang tertunda—dengan senyuman tulus dan tutur kata ramah yang tak hilang.


Jumat berkah. Abby tidak tahu harus menamai kegiatannya ini dengan nama lain selain nama tersebut. Karena pada zaman ini orang-orang lebih senang berbagi pada hari Jumat, jadi dia hanya mengikuti mayoritas saja.


"Nona, Tuan Gara baru saja tiba."


Di sana, Gara datang dengan barang bawaan yang tak bisa dikatakan sedikit. Langkahnya memelan saat melihat Gara yang sudah berada di dekatnya.


"Gara." Entah disadari atau tidak, namun suara Abby melembut saat memanggil namanya. Siapa yang tahu kalau lelaki itu akan memenuhi undangannya. Abby kira, dia hanya akan menghabiskan hari Jumat di restoran ini dengan para pegawainya hingga sore.


"Hai, Sayang." Gara memangkas jarak dan mengambil tubuh Abby dalam pelukan satu tangan. Disusul dengan kecupan ringan di pipi, juga di ruang antara pelipis perempuan itu.


Wajah cantik Abby langsung bersemu. Padahal, Gara sudah cukup sering menggodanya belakangan ini. Namun respon tubuhnya sendiri agak murahan. Mungkin karena lelaki itu melakukannya di depan banyak orang.


Menyadari itu, Abby bergegas untuk mendorong pelan dada bidang Gara agar sedikit menjauh. "Kamu memang sengaja ya?" tanyanya tidak jelas.


Alis tebal lelaki itu sedikit naik, "apa maksudmu?" berujar seolah tak tahu apa-apa, namun terlihat seringai menyebalkan di bibirnya.


Melihat itu, Abby menghela nafas pasrah sambil mengambil sebagian barang bawaan Gara. "Ayo bergabung!"


"Tentu saja, menjelang akhir pekan adalah waktu yang tepat untuk aku habiskan denganmu." Raut wajahnya tetap tenang meski baru saja mengucapkan rayuan norak.

__ADS_1


"Hentikan, Gara!"


Akhirnya, kekehan menyenangkan mengiringi langkah keduanya menuju tempat berkumpulnya orang-orang.


Bersama para pegawai restoran yang sengaja diliburkan, Erik, juga Gara, Abby mendapatkan kenangan baru yang rasanya akan sulit untuk dia dapatkan kembali.


Memang tak ada hal istimewa yang mereka lakukan. Hanya makan bersama di halaman belakang restoran yang tertutup setelah selesai membuka warung Jumat berkah. Namun keceriaan dan kekonyolan yang spontan, membuat suasana menjadi lebih hidup.


Abby yang kala itu sudah lelah berdiri, memilih duduk di bangku pojok. Memperhatikan orang-orang yang masih semangat membakar daging ayam dan bersenang-senang.


Tanpa dikehendaki, hatinya berseru masam. Andai saja Juna ada di sini juga, semuanya pasti akan terasa lebih lengkap dan berwarna. Sayang, lelaki itu memilih bersikap abai seolah mereka berdua hanyalah orang asing yang tak sepantasnya bersinggungan.


Di tengah lamunannya, Abby mengerjap karena sesuatu tiba-tiba menghalangi pandangannya. Matanya naik dan menemukan sosok Gara yang tengah berdiri menjulang di depannya.


"Jangan memasang wajah jelek seperti itu!" itu terdengar menjengkelkan, namun raut wajah Gara jelas mengandung kekhawatiran.


Lelaki jangkung itu mengambil tempat di samping Abby dan ikut memperhatikan ke arah depan.


"Juna masih belum pulang?" tahu kalau penyebab mendungnya wajah cantik itu karena sang kakak.


Abby menggeleng, "dia..begitu sibuk?" Jawabnya tak yakin. Entah sesibuk apa sampai Juna tak bisa memenuhi undangannya hari ini. Padahal menurut penuturan Damar, Juna sudah kembali bekerja di kantor pusat dua hari belakangan ini.


Gara seperti tengah memikirkan sesuatu setelah mendengar nada sendu dalam perkataan tunangannya. Abby sepertinya memang merindukan Juna, dan lelaki yang sudah lama menjadi temannya itu cukup keterlaluan dalam mengambil sikap akhir-akhir ini. Juna berubah seperti seseorang yang tak dia kenal.


"Jika malam ini dia tidak juga pulang, aku akan mengantarmu padanya."


. . .


TBC


Hai, terimakasih untuk teman-teman yang setia menunggu dan mendukung cerita ini. Semoga sehat selalu. ^_^


Enjoy!


Salam,

__ADS_1


Nadal Dinarta


__ADS_2