
"SELAMAT ULANG TAHUN!"
Abby terkejut saat pintu utama berwarna coklat di depannya sudah sepenuhnya terbuka. Perempuan itu bahkan memegang ujung pakaian kakaknya, refleks - saking terkejutnya dia setelah mendengar ucapan serempak yang diiringi dengan tiupan terompet.
Netra jernih milik Abby mengerjap beberapa kali sembari menatap semua orang yang berdiri di depan sana. Tidak bisa dikatakan sedikit karena ruang tamu besar di kediamannya itu hampir penuh oleh manusia. Mulai dari orang yang sangat dia kenal, sampai menemukan wajah-wajah yang sayangnya hanya pernah dia lihat satu kali saja.
Bibir tipisnya tersenyum kecil saat menemukan gambar besar dirinya yang disimpan di ujung ruangan, namun begitu menarik perhatian. Pernak-pernik khas pesta, juga belasan balon berbentuk hati. Abby mengakui kalau semua itu cukup kekanakan, tapi dia senang melihatnya.
"Apa ini untukku?" tanya Abby pada Juna yang tengah menatap ke arahnya.
Dan anggukan dari lelaki itu adalah jawaban yang membuat Abby tenang. Dia hanya takut terlalu percaya diri, siapa tahu kejutan ini bukan untuknya.
Abby perlahan mendekat ke arah orang-orang yang tengah menatapnya dengan senyuman, "terimakasih untuk semuanya, ini sangat berharga." Ucapnya dengan tulus, juga dengan pandangan yang berbinar.
Tak lama, datang Hari dan Erik dari arah samping sembari mendorong troli berisikan kue ulang tahun dengan bentuk yang cukup sederhana namun menyegarkan mata. Dengan dibalut krim berwarna biru muda, juga dua buah lilin dengan angka dua puluh di atasnya.
Abby sedikit merasa geli kala ingat kalau kue tersebut dibuat khusus untuknya. Sungguh, dia tak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Jadi, tidak aneh kalau perasaannya sedikit tak menentu. Seperti bingung, terharu dan juga bahagia yang tiba-tiba menyatu.
"Selamat ulang tahun, Nona. Semoga bahagia selalu." Ujar Erik dengan cengiran khas di wajah manisnya.
Juna yang sepertinya sudah siap sedia, segera menyalakan api di lilin tersebut. "Tiup lilinnya setelah kamu selesai memanjatkan harapan."
Tanpa membantah ataupun bertanya, perempuan yang mengenakan pakaian hangat itu menangkup dua tangannya di depan dada. Namun, saat akan memejamkan matanya, dia terpaku pada sepasang netra tua yang sedang menatap ke arahnya dengan senyuman sendu.
Cukup lama Abby terpaku, namun detik berikutnya dia mencoba mengenyahkan rasa gemuruh yang tiba-tiba hadir di hatinya. Sembari memejamkan mata, dia berkata dalam hati.
Aku hanya menginginkan ketenangan dan kebahagiaan yang cukup. Tolong berikan jalan yang pasti. Untukku, juga untuk orang-orang di sekelilingku.
Tak sampai sepuluh detik, dia kembali membuka mata dan meniup api kecil di lilin tersebut dengan pelan. Namun bukan tepuk tangan ataupun sorak sorai kebahagiaan yang Abby dapat. Melainkan sepi, hening dan rasa hampalah yang menerpa.
Waktu seolah berhenti, orang-orang di sekelilingnya tiba-tiba terdiam seperti patung. Ada kebingungan dan kecemasan yang melanda Abby, namun dia terlihat cukup tenang saat pandangannya bertemu dengan Danu yang sepertinya tak terpengaruh dengan apa yang terjadi di sana.
Abby menahan tubuhnya agar tetap berdiri dengan tegap saat Danu tiba-tiba sudah berada tepat di hadapannya. Entah kapan lelaki tua itu melangkah, Abby tidak mengerti.
"Sekarang, kamu sudah tahu tentang apa yang kamu inginkan. Maka sebenarnya, itulah yang harus kamu lakukan." Pandangan Danu bergulir pada kalung dengan bandul merah yang Abby kenakan. Itu terlihat menyala dengan sempurna, seolah ada api kecil yang hidup di dalamnya. Namun perempuan yang mengenakannya, nampak tak terpengaruh sama sekali. Itulah hebatnya mengetahui apa yang menjadi tujuan hidupmu.
"Jika hal yang kamu inginkan bisa kamu raih, maka kesempatan untuk menempuh waktu bersama mereka akan hadir. Dan itu berlaku sebaliknya.." Danu menjeda sejenak hanya untuk memberikan penegasan pada kalimat penutup yang akan dia ucapkan. "..kamu mungkin akan menghilang bersama masa lampau yang telah lama mendekam, jika semua itu tidak bisa kamu dapatkan."
Detik kembali bergulir, waktu kembali berjalan seperti seharusnya. Mereka yang tadinya diam bak patung- yang bernafas saja tak mampu, kini tengah membuat keramaian. Seolah tak ada yang terjadi beberapa detik sebelumnya.Tepuk tangan dan seruan kebahagiaan sedang mereka dengungkan. Menyambut hari di mana bertambahnya usia seseorang- yang kini tengah dilanda kebimbangan.
Abby ingin berteriak pada semua orang bahwa mereka baru saja dikendalikan oleh waktu. Namun sayang, mereka tak akan mengerti. Dan Abby pun tak memiliki kemampuan untuk menunjukkan bukti yang berarti.
__ADS_1
"Terimakasih atas kesediaan teman-teman untuk hadir di pesta kecil-kecilan ini. Selamat bersenang-senang!"
Juna menutup keformalan tersebut dengan cepat. Tahu kalau kecanggungan akan segera melanda, jika dia membiarkan semua ini tertata. Lelaki dewasa itu tersenyum gembira, tak menyadari raut wajah sang adik yang kini tak lagi memancarkan binar yang sama.
"Ini adalah pesta untukmu, jadi nikmatilah! tapi ingat, jangan terlalu kelelahan karena kamu sedang masa penyembuhan." Juna mengusap lembut pipi halus Abby yang memiliki sedikit rona merah, "aku akan mengangkat telepon dulu. Berbaurlah dengan yang lain!"
Abby memaksakan senyumnya karena tak ingin membuat kakaknya khawatir. "Tentu, terimakasih Kak."
Selepas kepergian Juna, tak ada hal yang benar-benar ingin Abby lakukan. Semangatnya telah menghilang, bersama sosok Danu yang tak bisa dia temukan di antara kerumunan. Orang-orang yang datang, kini tengah menikmati hidangan yang telah disediakan. Tak cukup peduli dengan si pemilik acara yang masih berdiri kaku di dekat pintu.
Cukup lama Abby terdiam, sampai merasakan sentuhan hangat di telapak tangannya yang menggantung di sisi tubuh. Perempuan itu menoleh, dan langsung tertegun saat menjumpai wajah seseorang yang tak dia sangka akan berada di sini.
"Gara."
Gara tersenyum kecil, namun belum mengatakan apa-apa. Lelaki itu menarik pelan tangan Abby, lalu membawanya keluar dari ruangan yang tengah ramai tersebut.
Sepertinya, taman adalah tujuan Gara. Karena saat mereka sampai di dekat air mancur kecil, Gara menghentikan langkah dan otomatis membuat Abby berhenti juga. Dua insan itu berdiri saling berhadapan dengan pandangan yang berbeda. Jika netra jernih Abby memperlihatkan kebingungan, maka netra kelam itu memancarkan kesungguhan.
"Usiamu sudah dua puluh tahun." Ucap Gara tiba-tiba.
Abby tetap merespon meski itu bukanlah sebuah pertanyaan, "ya, itu benar. "
"Kamu juga belajar dengan sungguh-sungguh selama ini. Aku tidak akan terkejut kalau setengah tahun dari sekarang kamu sudah menyelesaikan tugas akhirmu." Itu kalimat yang tak pernah Abby sangka akan keluar dari mulut Gara.
Perempuan itu sedang menyelami tatapan Gara, mencari sesuatu yang bisa dia jadikan alasan atas sikap Gara yang tak biasa. "Tapi, ada apa denganmu?"
Bukanya menjawab, Gara malah mengambil langkah ke depan hingga dua orang itu hanya terpisahkan oleh jarak satu jengkal saja. Gara yang memiliki tinggi di atas rata-rata, membuat Abby harus mendongak agar bisa melihat lelaki itu tepat di matanya.
Perlahan, Gara mengambil jemari lentik milik Abby dan mengusap tepat di mana cincin pertunangan mereka melingkar di sana. "Apa kamu sunguh telah memaafkanku?"
Dengan yakin Abby menjawab, "ya."
Memaafkan seseorang atas kesalahan yang mereka perbuat sebenarnya tak pernah menjadi bagian dari kamus hidup Abby. Namun untuk saat ini, Abby ingin menghilangkan rasa ego tersebut. Jika orang telah meminta maaf dan berjanji akan memperbaiki semuanya, maka tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua. Apalagi melihat perjuangan Gara sejauh ini yang terlihat begitu nyata dan bersungguh-sungguh.
Terdengar helaan nafas lega dari Gara. Tak lama, terbit senyuman menawan di wajah tampan lelaki itu. Dan Abby mengakui, kalau dia merasa silau saat melihatnya. Namun dia sadar kalau saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk terpesona. Jadi, sebisa mungkin Abby kembali menjernihkan pikirannya.
Kalimat yang terucap oleh Danu beberapa saat yang lalu kembali menghantuinya.
Jika benar kebahagianlah yang seharusnya Abby cari dan miliki, maka bisakah lelaki di depannya ini menjadi alasannya untuk bahagia?
Pipinya memanas saat merasakan tatapan Gara yang begitu lekat saat menatapnya. Lelaki di depannya ini, Abby tidak tahu bagaimana cara menggambarkannya.
__ADS_1
"Gara." Panggil Abby pelan
"Hm?" Gara menyahut sembari mengelus rahang dan pipi milik Abby. Sejak dia sadar kalau hanya perempuan inilah yang dia inginkan, Gara tak pernah menyembunyikan perasaannya. Dia memperlihatkan pada Abby dan juga semua orang tentang apa yang dia rasakan. Tentang Abby yang begitu Gara inginkan.
"Apa kamu bahagia saat melihatku?" hatinya bergemuruh.
Tanpa keraguan Gara mengangguk, "aku selalu merasa kehilangan jika tak melihatmu barang sebentar saja."
Abby diam-diam meneguk ludahnya kasar, "kamu ingin selalu bersamaku?"
"Ya, aku bahkan ingin segera menikahimu agar kita selalu menghabiskan waktu bersama." Tangannya yang kekar menarik pinggang ramping Abby agar merapat pada tubuhnya yang tegap.
Sontak saja Abby menahan nafas, merasa agak sesak karena kedetakan mereka yang sedikit tak wajar. Sedang ada banyak orang di sini. Tidakkah harusnya Gara bisa menjaga sikap? namun alih-alih marah, Abby malah kembali bertanya. Hal yang selalu ingin dia tanyakan pada Gara setelah pengakuan yang lelaki itu ucapkan waktu itu.
"Apa..kamu mencintaiku?"
Detik berikutnya, Abby merasa menyesal dan ingin sekali menarik kata-kata tersebut agar Gara tak mendengarnya. Namun sayang, tunangannya itu terlanjur merespon. Senyuman miring yang artinya tak pernah Abby pahami, terpatri di sana.
"Ya, aku mencintaimu Abbysca. Jadi, jangan tanyakan kembali keseriusanku!" Setelahnya, hanya sapuan halus dari bibir Gara yang dapat Abby rasakan di sudut bibirnya. Diakhiri dengan rengkuhan hangat yang sayangnya malah terasa panas di tubuh Abby.
Dalam keheningan, Gara berbisik tepat di telinganya. "Selamat ulang tahun, Abbysca. Semoga tercapai semua hal yang kamu inginkan." Ada sedikit jeda saat lelaki itu menunduk, hanya untuk menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Abby. Dengan rakus, dia menghirup wangi segar yang menguar dari sana. "Aku sungguh mencintaimu."
Abby merinding bukan main, tapi dia tak melakukan apa-apa. Tangan kirinya naik untuk membalas pelukan Gara, sedangkan tangan kanannya meraba dadanya sendiri. Selain menghalangi agar tubuh keduanya tak terlalu merapat, Abby memang sedang menggenggam kalungnya yang terasa hangat. Bukan rasa panas menyakitkan yang seperti biasa dia rasa, melainkan kenyamanan yang hadir di sana.
Sagara.
Benarkah nama ini yang akan menjadi pelabuhannya?
. . .
TBC
Hallo, selamat siang. Apa kabar teman-teman semuanya? sudah lebih dari satu Minggu saya tidak update. Mohon maaf sekali buat teman-teman yang selalu setia nunggu. Bulak-balik lihat notifikasi dari cerita ini, tapi apalah daya bab baru tidak kunjung datang. •_•
Saya hadir kembali dengan kondisi yang sudah lebih baik, juga dengan semangat baru yang mulai terkumpul. Puji syukur. Itu pun berkat doa dari teman-teman semuanya. Terimakasih banyak saya ucapkan atas kesetiaan para pembaca yang tidak bosan menunggu, saya sangat menghargai itu.
Semoga ke depannya saya bisa rutin update lagi dan bisa kembali menghibur waktu luang teman-teman dengan cerita saya. Btw, alur cerita ini memang sedikit lambat ya teman-teman. Semoga sabar selalu. ^_^
Jangan lupa vote dan komentarnya!
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta.