
"Kapan terakhir kali Anda merasakan hal itu?"
"Mungkin, itu sekitar dua bulan yang lalu. Aku muak dan jijik saat tangannya menyentuh keningku, dan karena itu pula aku benar-benar marah waktu itu."
"Setelahnya, apa Anda merasa baik-baik saja?"
"Ya, karena aku berusaha untuk menjaga jarak dengan siapapun. Aku tidak suka disentuh oleh mereka."
"Dan sekarang Anda bilang, bahwa Anda baru saja memeluk seseorang?"
"Hm, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi, tubuhku bergerak begitu saja. Lalu.." lelaki itu terlihat berpikir keras, "..aku tidak merasakan apa-apa."
"Anda tidak lagi merasa jijik dan muak seperti sebelumnya?"
Dia menggeleng, "tidak, tidak ada rasa seperti itu. Aku bahkan tidak mengerti dengan apa yang aku rasakan tadi."
Juna berdiri di sisi kiri untuk melihat Gara yang tengah duduk, berhadapan dengan seorang ahli psikiater terbaik di rumah sakit ini, untuk berkonsultasi. Setelah mendengar apa yang Gara cerita tadi, Juna cukup paham kalau lelaki itu mengalami sedikit keanehan. Entah itu berdampak buruk atau tidak pada gangguan yang dimilikinya, namun berkonsultasi dengan ahlinya akan menghasilkan sesuatu yang baik.
Sebenarnya, sudah sejak lama Juna menyarankan temannya itu untuk melakukan pengobatan. Terapi yang rutin dan konsultasi yang teratur akan membuahkan perubahan pada mental Gara. Namun lelaki itu selalu menolak dengan banyak alasan. Tidak punya waktu, terlalu sibuk bekerja, atupun menganggap bahwa dirinya baik-baik saja. Padahal Gara sangat jauh dari kata itu.
Terkadang, Juna ingin sekali memukul kepala Gara jika sifat keras kepala lelaki itu sudah keluar. Seharusnya Gara sadar kalau akibat dari gangguan kesehatannya yang terlalu lama dibiarkan itu, membuat seseorang yang sudah lama menunggunya harus berjuang lebih keras dan menanggung rasa sakit secara berulang.
Karena sedang bertarung dengan pikirannya sendiri, Juna tidak sadar jika sesi tanya jawab antara dokter dan pasien itu sudah hampir berakhir.
"Saya sangat menyarankan Anda agar melakukan sesi seperti ini setidaknya dua kali dalam seminggu, akan lebih baik kalau Anda setuju untuk melakukan terapi secepatnya."
Gara terdiam sejenak, "saya akan memikirkannya. Terimakasih."
Setelah berpamitan, Juna dan Gara keluar dari sana dengan langkah yang lebih ringan daripada tadi.
Helaan nafas keluar dari celah bibir Gara, "ini sedikit rumit." Bisiknya entah pada siapa, namun yakin kalau Juna pun dapat mendengarnya.
Saat ini, keduanya tengah melewati koridor lantai satu rumah sakit. Meski tempat ini merupakan salah-satu aset yang dimiliki oleh keluarga Aditama, namun Gara sendiri tidak terlalu mengenal seluk-beluk mereka yang bekerja di dalamnya. Jika bukan karena dia yang menceritakan keanehan yang menimpanya tadi pada Juna, mungkin dia tidak akan berakhir di ruangan psikiater yang notabene Ahli Psikiatri terbaik yang dimiliki oleh rumah sakit ini.
"Omong-omong, ada hal yang belum aku lakukan padamu." Juna berhenti melangkah, membuat Gara ikut berhenti dengan pandangan yang bingung.
__ADS_1
Dua lelaki dewasa yang memiliki tinggi hampir sama itu saling berhadapan di ujung koridor dekat teman.
Alis tebal Gara sedikit naik, memberikan tatapan bertanya pada Juna, "ada apa?"
Bukan jawaban yang dia dapatkan, melainkan sebuah pukulan yang cukup keras di area perutnya. Gara langsung meringis sembari membungkuk dengan satu tangan yang memegang perut. Setalah sadar apa yang Juna perbuat, dia langsung mengangkat pandangan dan menatap Juna dengan kesal bercampur bingung.
Sebelum Gara kembali berucap, Juna sudah lebih dulu mendahului, "itu karena kamu telah memeluk adikku sembarangan." Desis Juna penuh peringatan.
"Aku tidak peduli jika apa yang kamu lakukan pada Abby tadi sebagai bentuk ketidaksengajaan atau hanya bagian dari sikap alam bawah sadarmu saja.." tadi dia memang bersikap layaknya teman yang peduli, namun kini dia siap menghakimi Gara demi saudara perempuannya, "..namun satu hal yang aku ingatkan. Jangan membuat Abby kembali memupuk harapan padamu di saat dia sudah perlahan waras akan pikirannya sendiri!" Juna memang bukan kakak yang baik, namun dia tidak ingin adiknya mendapat laki-laki yang tidak baik juga. Setidaknya, Gara harus bisa mengendalikan dirinya sendiri terlebih dulu sebelum memutuskan untuk kembali melanjutkan atau mengakhiri semuanya di sini.
"Tolong jangan kembali menyakitinya!"
Juna pergi lebih dulu, meninggalkan Gara yang terdiam dengan ringisan yang masih terdengar. Pukulan lelaki itu cukup membuat perutnya ngilu. Kalimat yang Juna ucapkan kini tengah berputar di kepalanya. Dan itu sukses membuat Gara pusing bukan main.
Juna tidak mengerti dengan Gara. Namun Gara lebih tidak mengerti akan dirinya sendiri.
. . .
Hari berubah menjadi malam. Dan hal panjang yang Abby lalui hari ini sukses membuatnya tertidur pulas karena kelelahan dan faktor obat tidur mungkin. Abby menuruti ucapan dokter yang menanganinya tadi agar tinggal dulu selama beberapa waktu sampai kondisinya membaik.
Dan kini, Abby merasa lebih baik karena pakaiannya sudah diganti, wajah dan rambutnya juga sudah diseka. Meski harus lebih hati-hati karena bahunya baru selesai dijahit, namun Mira dan Lina bekerja dengan baik tadi, mereka bisa melayani Abby tanpa harus menyentuh luka yang Abby derita.
"Apa Kakak belum kembali?" sejak bangun, Abby belum melihat Juna lagi.
Mira yang kala itu sedang mengupas jeruk untuk Abby menjawab, "Tuan ada di sini selama Anda tidur, Nona. Namun saat ini beliau pulang lebih dulu dan akan kembali besok pagi." Itu adalah pesan yang Juna sampaikan pada Mira dan Lina tadi sore.
"Nona, ada dua teman Anda tengah menunggu di luar. Apa mereka boleh masuk?" Lina datang dengan membawa satu nampan berisikan bubur untuk nonanya.
Abby mengangguk setelah merasa sedikit bingung. Itu pasti mereka.
Pintu kembali terbuka, seorang perempuan yang duduk di atas kursi roda masuk lebih dulu. Itu Lilyana. Di belakangnya, Elang menyusul dengan wajah agak tertekuk karena harus mendorong kursi roda di depannya. Untuk sesaat, Abby ingin tertawa melihat pemandangan aneh itu. Ternyata, mereka tidak buruk juga kalau disatukan.
"Abbysca.." Elang langsung menghampiri Abby setelah menyimpan Lilyana tidak jauh dari ranjang pasien yang Abby duduki. Wajah tampan itu begitu kusut dan lelah. Raut bersalah juga dapat Abby lihat di sana. "Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu akan berakhir di sini hanya karena mobilku mogok." Elang merasa sangat bersalah.
Abby mengibaskan tangannya yang diakhiri dengan ringisan, lupa kalau bahunya sedang terluka. "Aku baik. Ini bukan apa-apa." Meski harus mendapat luka yang cukup dalam, namun pertarungan tak terduga itu membuat adrenalinnya kembali muncul setelah lama menghilang. Itu cukup mengobati rasa rindunya akan kehidupan di masa lalu.
__ADS_1
"Lagipula, aku berjalan-jalan ke arah sana adalah kemauanku sendiri." Apapun yang terjadi padanya hari ini adalah hasil dari apa yang dia lakukan. Dia tidak mungkin menyalahkan orang lain.
"Kamu menjaganya dengan baik bukan?" Abby melirik Lilyana yang hanya diam sembari menunduk menatap lantai. Perempuan itu seperti tengah kehilangan sedikit kewarasannya.
Elang ikut menatap apa yang Abby lihat, "aku tidak menghubungi keluarganya karena kakakmu melarangnya."
Abby mengangguk. Paham dengan maksud dari tindakan Juna. Dia memang sedikit terkejut saat tahu kalau Lilyana sering menjadi korban kekerasan ibunya sendiri. Wanita itu bahkan memaksa anaknya agar melayani pria hidung belang yang datang ke rumah mereka. Dengan kata lain, Lilyana dipaksa untuk menjadi seorang pelacur agar bisa menghasilkan uang.
Miris memang. Namun ini bukan pertama kalinya Abby menemukan kasus seperti ini. Dulu, dia bahkan pernah memasuki rumah wanita penghibur dengan cara menyamar seperti mereka demi menangkap dalang dari penjualan organ dalam manusia. Cukup mengerikan, namun itu adalah perintah yang harus dia lakukan.
Perlahan, Abby mengerti. Alasan mengapa Lilyana mendekatinya dan menjadikan Abby layaknya boneka mahal yang bisa disuruh-suruh maupun dipinta-pinta. Sepertinya, Lilyana sedang berada di bawah tekanan ibunya. Ya, dia memaklumi itu. Tapi bukan berarti dia akan memaafkan apa yang sudah Lilyana perbuat padanya.
Terpaksa oleh keadaan dan tekanan atau tidak, Lilyana berada dalam kondisi sadar sepenuhnya saat memanfaatkan kebodohan Abby dulu. Jadi, itu jelas merupakan kesalahan besar.
"Kamu merasa lebih baik?" Abby menatap Lilyana dengan tenang. Ekspresi wajahnya tidak berubah meski kini dia tahu kalau mantan temannya itu tak sepenuhnya buruk.
Yang ditanya perlahan mengangkat pandangan, "ya, maaf dan terimakasih, Abbysca." Ucap Lilyana tulus.
Untuk sejenak, Abby terpaku pada tatapan Lilyana yang agak berbeda. Sebelumnya, hanya ada mata merah penuh ambisi yang ada di sana. Namun kini, Abby dapat melihat sedikit sinar harapan yang sepertinya sudah lama tak menampakkan diri.
"Aku melakukannya hanya karena kebetulan dan juga rasa kemanusiaan."
Sekali lagi, Abby akan menegaskan satu hal. Kesalahan sebesar apapun memang masih bisa dia maafkan, namun dia tak pernah berjanji untuk melupakan.
. . .
TBC
Halo, selamat siang teman-teman. Saya kembali dengan bab baru di siang hari yang cerah ini. Semoga bisa menjadi penyemangat bagi teman-teman di akhir pekan. ^_^
Terimakasih atas dukungan dan antusiasme para pembaca setia Abbysca, semoga selalu diberikan kesehatan. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^
Salam,
Nasal Dinarta
__ADS_1