Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Awal Perjalanan Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Abby duduk satu meja dengan Juna. Acara inti telah dimulai sejak dua puluh menit yang lalu. Kini, keduanya tengah memerhatikan Gara yang berdiri di atas panggung, menyampaikan kata-kata sambutan yang terdengar membosankan di telinga mereka.


"Tolong ingatkan aku untuk menginjak kakinya nanti, Kak." Ucap Abby sembari memasukan kue kering yang tersedia di atas meja ke dalam mulutnya. Dan seperti yang sudah dia duga dari sebuah acara besar yang menelan biaya fantastis, rasa kue itu begitu menakjubkan meski tampilannya terkesan sederhana. Abby cukup menyukainya.


Juna mengalihkan pandangan dari Gara ke arah Abby, "apa yang dia lakukan padamu tadi?"


Abby menggeleng kecil, "pokoknya dia menyebalkan, aku harus memberi hadiah padanya nanti." Kini, giliran minuman yang masuk ke tenggorokannya. Itu terasa segar dengan manis yang tak berlebihan. "Apa Kakak juga bertanggungjawab untuk makanan yang disediakan di sini?" bertanya dengan raut penasaran.


Pemuda itu mengernyitkan alis, merasa heran karena adiknya mengalihkan pembicaraan. Namun, Juna nampaknya tidak keberatan. "Ya, sedikit. Tapi Gara lebih memberikan banyak masukan tentang itu."


"Oh ya? lelaki seperti dia mau repot-repot melakukannya?" Abby sedikit tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


"Lalu, bagiamana kalau aku bilang bahwa Gara sempat bertanya tentang makanan yang kamu sukai agar dihidangkan di sini?" Juna menatap adiknya dengan pandangan sedikit mengejek. Lalu, terkekeh pelan saat Abby melotot sempurna setelah mendengar ucapannya.


Tidak mungkin! Abby berteriak dalam hati. Gara bukan tipe orang seperti itu. Apa dia sendiri yang sebenarnya tidak mengenal Gara dengan cukup baik?


Abby berdehem kecil menghilangkan kecanggungan yang dirasa, "itu lebih terdengar seperti aku akan lulus bulan ini." Alias mustahil sekali. Gara tidak mungkin melakukan hal konyol seperti itu.


Kakaknya itu mengangkat bahu tidak peduli, "terserah. Tapi sepertinya, Gara memang tengah berusaha dari awal. Kamu akan membiarkannya?" Juna sedikit penasaran karena akhir-akhir ini Abby terlihat tidak berminat untuk mendekati Gara, perempuan itu bahkan sudah pernah mengembalikan cincin pertunangan mereka ke pemilik asalnya. Bukti bahwa Abby telah lelah dengan semua perjuangannya yang sia-sia. Namun Gara bersikap sebaliknya sekarang. Temannya itu seperti enggan jika harus berpisah dengan Abby meski sikapnya tidak terlalu banyak berubah. Juna jadi ingin membongkar kepala Gara agar dapat melihat apa yang sedang lelaki itu rencanakan.


"Aku tidak tahu." Abby menghela nafas lelah, kemudian kembali menatap ke arah depan. Podium itu kini tengah diisi oleh Melly. "Aku sudah berniat mengakhiri semuanya dengan sungguh-sungguh. Tapi, pihak kedua nampaknya tidak bisa diajak kerja sama." Merujuk pada Gara yang menurut Abby sedikit membingungkan. Dia semakin bimbang saat melihat beberapa hal baru yang Gara tunjukan akhir-akhir ini.


"Ya, apapun itu. Aku harap kamu membuat keputusan yang benar." Juna tidak ingin adiknya merasakan hal yang sama untuk kedua kali. Tapi, Juna juga ingin agar Abby melihat sisi lain dari seorang Gara agar tak ada penyesalan di akhir nanti.


Setelahnya, mereka diam dan kembali memperhatikan sosok yang tengah mengambil alih panggung.


"Terimakasih saya ucapkan pada hadirin sekalian yang berkenan hadir di acara sederhana ini. Semoga ke depannya kita bisa tetap menjalin hubungan yang baik." Wanita setengah baya itu menatap ke sekeliling, seolah tengah mencari seseorang. Dan wajahnya langsung tersenyum simpul saat menemukan sosok Abby. "Terimakasih yang paling besar saya ucapkan untuk Abbysca, calon menantu saya yang sebentar lagi akan bergabung menjadi bagian dari keluarga Aditama." Senyuman lebar tetap tersemat di wajah Melly setelah berhasil membuat semua orang terkejut di tempatnya. "Semoga hadirin sekalian menikmati pestanya. Terimakasih, selamat malam."

__ADS_1


Juna maupun Abby sama-sama diam setelah mendengar apa yang Melly ucapkan. Hal yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya, kini terpapar nyata di depan mereka. Abby mengepalkan kedua tangan yang bersembunyi di bawah meja. Dadanya bergemuruh tidak nyaman, ucapkan Melly sama sekali tidak membuatnya bahagia.


Bisik-bisik para tamu yang begitu heboh membicarakan kalimat penutup Melly masuk ke telinga Abby, membuat perempuan itu ingin menyumpal mulut mereka detik ini juga. Apalagi saat merasakan ratusan tatapan yang mengarah pada meja mereka berdua. Abby ingin menghilang saja.


"Aku harap Tante Melly sedang bercanda barusan." Abby terduduk lesu di tempatnya. Sejak tadi, dia memang sudah tidak bersemangat saat akan menghadiri acara ini. Namun sekarang, dia menjadi lebih tak bersemangat. Adakah seseorang yang dapat membawanya pulang saat ini juga?


Suara musik jazz yang terdengar indah mengalun di seluruh penjuru ruangan. Kini, panggung telah dikuasai oleh penyanyi wanita bersama anggota band nya. Suara bisik-bisik yang menghasilkan ketegangan tadi kini berubah menjadi lebih santai. Abby bahkan dapat melihat orang-orang mulai berdiri dan mendekati panggung untuk menikmati pertunjukan lebih dekat.


Bagus, dengan begitu Abby tidak akan terlalu menjadi pusat perhatian jika meninggalkan tempat ini. Dia sudah tidak tahan dengan kegelisahan yang mendera hatinya. Tanpa angin tanpa hujan, dia mendengar kabar yang sangat mengejutkan. Meski dia sedikit memaklumi karena mungkin Melly tidak tahu menahu tentang buruknya hubungan Gara dengannya. Namun, dia tidak menyangka kalau pemikiran Melly sudah sejauh itu. Abby merasa hatinya sesak dan tidak nyaman. Dia butuh udara segar.


"Kakak tidak apa sendiri?"


Juna yang paham dengan keadaan Abby hanya mengangguk, "jangan pergi terlalu jauh. Jika ingin pulang, pulang saja lebih dulu. Erik ada di luar." Dia bisa memberikan alasan Abby tidak enak badan jika pemilik acara bertanya nanti.


"Terimakasih, aku pergi." Memberikan seulas senyuman tipis sebelum pergi dari sana dengan langkah yang agak cepat. Meninggalkan Juna sendirian yang kini tengah menatap punggung adiknya dalam diam.


Sebisa mungkin, Abby membuat dirinya tak terlihat saat harus melewati meja para undangan dengan mengambil jalan yang lebih melipir ke pinggir. Memberikan senyuman manis dengan agak terpaksa saat tak sengaja bertatapan dengan mereka yang menyapanya. Kemudian, baru bisa menghela nafas lega saat sudah sampai di luar ruangan. Sedikit menunduk saat beberapa penjaga keamanan melakukan hal serupa padanya.


Cukup lama Abby menunggu nada dering yang mengalun sampai suara yang dikenalnya mengudara.


"Selamat malam, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"


"Kak Erik di mana? aku ingin pu-"


Ucapan Abby terhenti saat tarikan yang pelan terasa di lengan kirinya. Tubuh dan wajahnya otomatis menoleh dengan bingung, ponselnya bahkan masih bertengger di telinganya. Abby menatap sosok tinggi di depannya yang kini tengah terengah-engah.


"Kamu pasti marah." Gara berucap sembari menatap mata Abby dalam. Wajahnya menyiratkan kebingungan dan kekhawatiran yang menyatu padu. Dia sendiri kaget mendengar ucapan ibunya yang tiba-tiba, apalagi Abby.

__ADS_1


"Gara, kenapa kamu di sini?" Abby menatap ke sekeliling. Halaman luas yang dijadikan tempat parkir ribuan mobil mewah itu terlihat sepi karena acara di dalam belum berakhir. Lalu, kenapa Gara ada di sini?


"Maaf."


Abby melongo, "hah?"


"Aku sama sekali tidak tahu kalau Mama akan mengatakan hal seperti itu di depan banyak orang." Ekspresi wajahnya tidak berubah, namun Abby dapat melihat sinar kelembutan di netra elang Gara. Tidak mungkin, dia pasti salah lihat.


Abby mencoba menarik tangannya yang masih Gara genggam, namun lelaki itu enggan untuk melepaskannya. Mana wajah jijik Gara saat disentuh oleh orang lain? kenapa sekarang malah lelaki itu yang tidak segan menyentuhnya. Lelaki ini bahkan berani memeluknya tadi. Kenapa Gara begitu tidak konsisten?


"Gara, mari kita bicarakan itu nanti." Abby merasa lelah dan pikirannya begitu penuh sekarang. Dia ingin istirahat lebih cepat.


Gara menggeleng, "Ini pasti terdengar gila. Tapi, aku tidak ingin kamu pergi dengan membawa rasa marah padaku." Ucapannya terdengar jujur. Abby merasa semakin tidak karuan jika seperti ini.


Namun ini semua tidak akan selesai kalau dibiarkan begitu saja, "apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?"


Gara terdiam sejenak. Kemudian dengan wajah yakin, lelaki itu menjawab, "mari kita mulai dari awal lagi."


Kini, Abby yang terdiam membatu di tempatnya. Baiklah, Gara sepertinya sedang tidak waras malam ini.


. . .


TBC


Selamat pagi semua. Bab baru datang. Perjalanan sesungguhnya dari Abby dan Gara baru akan dimulai setelah ini ya, teman-teman. Mohon untuk terus dinantikan.


Terimakasih atas dukungan dan cinta dari teman-teman. Semoga sehat selalu. Jangan lupa vote dan dukungannya! ^_^

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta


__ADS_2