
Abby membawa Gara ke taman indah yang malam itu dihiasi oleh pernak-pernik lampu hias. Suasana hati lelaki itu sedang tidak bagus, akan sangat tidak baik kalau Gara kembali ke dalam dengan amarah yang tengah berkumpul di ubun-ubun. Setidaknya, Gara harus bisa mengontrol ekspresi wajahnya lebih dulu menjadi lebih normal.
Perempuan itu berkerut bingung saat Gara mendahului langkahnya dengan agak cepat sampai membuat Abby tertinggal cukup jauh di belakang. Meski merasa penasaran, Abby tidak mengatakan apa-apa. Hanya diam dan mengikuti lelaki itu dengan tenang.
Kurang dari satu menit, keduanya sampai di depan air mancur yang begitu memukau karena warnanya. Abby baru saja akan mendudukkan dirinya di atas bangku yang ada di sana, namun dia urungkan karena sudah lebih dulu terkejut dengan apa yang Gara lakukan.
Apa lelaki itu tengah kehilangan akalnya?
Gara memasukkan dua tangannya ke dalam air tanpa ragu, kemudian menggosok mereka dengan kuat, terkesan agak kasar di mata Abby. Gara seperti ingin menghilangkan jejak seseorang di pergelangan tangannya. Wajah tampan itu memerah dengan rahang yang mengeras, jelas sekali kalau Gara sedang marah.
Tadinya, Abby hanya akan terus diam memperhatikan. Namun, saat sadar kalau Gara seperti akan membuat tangannya sendiri lepas karena saking kuatnya lelaki itu menggosok, Abby tergerak untuk mendekat. Sedikit meringis ngilu saat melihat betapa merahnya lengan Gara.
"Gara, hentikan!" Abby berujar pelan, matanya bahkan begitu aktif memperhatikan wajah Gara dan apa yang tengah dilakukannya secara bergantian.
Gara tidak berhenti. Dengan nafas yang mulai tersengal, lelaki itu terus 'membersihkan' tangannya di sana. Aura di sekitarnya semakin menakutkan. Abby bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebat cepat, mengirimkan sinyal pada otak agar segera meninggalkan tempat itu. Gara sedang dalam mode bahaya.
"Gara!" namun mulutnya berkata lain, dia malah mengikuti keinginan hatinya yang menyuruh agar tetap tinggal. Sungguh konyol, Abby lelah dengan perdebatan batin yang sering terjadi di dalam dirinya kala menghadapi Gara.
Dan ya, lelaki itu berlagak tuli. Tetap dengan kegiatannya yang semakin brutal. Abby jadi yakin kalau tangan itu benar-benar akan putus kalau tidak dihentikan sekarang juga.
"Sagara!" nada suaranya naik satu oktaf. Berhasil, Gara berhenti. Dan sekarang lelaki itu menatap Abby dengan kedua mata yang hampir keluar dari tempatnya. Seperti terkejut dan bingung menjadi satu.
Wajah Abby berubah menjadi serius, tatapannya memberikan tanda peringatan pada lelaki itu agar berhenti. "Berhenti! kamu tidak berniat menghilangkan tanganmu sendiri bukan?"
Yang diajak bicara tidak menjawab, Gara masih menatap Abby dengan nafas yang tidak beraturan. "Aku jijik, aku muak, tangan kotor itu berani menyentuhku. Aku.." lelaki itu tidak melanjutkan ucapannya.
Raut Abby perlahan melunak. Sedikit kasihan dengan keadaan Gara yang kacau. Hatinya bergemuruh tidak nyaman saat mengingat kembali bagaimana marahnya Gara dulu saat dia menyentuh kening lelaki itu tanpa terkontrol. Emosinya sama, Abby dapat membaca itu. Mungkin, Gara memang tidak menyukai hal seperti itu.
__ADS_1
Netra jernihnya membulat saat Gara kembali mencelupkan tangan ke dalam air dan menggosoknya. Abby tidak mengerti dengan kondisi Gara, dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Namun, mereka harus secepatnya kembali ke dalam karena acara intinya akan segera dimulai.
"Gara, ayo kembali! tanganmu pasti sudah bersih." Abby perlahan mendekat, berdiri tepat di depan Gara yang kacau.
"Tolong.." bisik Gara entah pada siapa karena matanya masih menatap apa yang tengah dilakukannya. Namun wajahnya semakin tidak baik. Itu begitu pucat dan kehilangan rona. Bulir keringat kecil muncul di antara kening dan pelipisnya.
Abby menghembuskan nafas perlahan, mencoba bersikap tenang agar bisa mengajak lelaki itu bernegosiasi. "Apa yang bisa aku lakukan, Gara?" pikirannya benar-benar kosong sekarang.
"Hilangkan..hilangkan kotoran ini! kamu, kamu bisa bukan?" kini Gara menatapnya. Dan Abby dapat meyakini kalau mata elang yang biasa menatap tajam itu hilang, menyisakan sinar sendu dan ketakutan yang baru pertama kali Abby lihat. Kenapa Gara berekspresi seperti itu?
Menghilangkan kotoran? apanya yang kotor? dan bagaimana caranya Abby membantu di saat Gara sendiri merasa jijik dengan sentuhan orang lain? Abby mendengus kesal dalam hati.
Dan lagi-lagi, anggota tubuhnya bergerak tanpa diminta. Dia sudah berniat meninggalkan Gara demi keselamatan dirinya sendiri, namun kakinya malah melangkah semakin dekat ke arah Gara. Dia tanpa ragu menggenggam jemari besar dan panjang itu, lalu mengusapnya menggunakan air dengan perlahan. Menggantikan pekerjaan Gara sebelumnya.
Tidak lama, itu hanya berlangsung beberapa detik. Setelahnya, Abby membawa tangan basah itu ke permukaan. Karena di sana tidak ada lap maupun tisu, akhirnya Abby menggunakan ujung gaunnya yang bertekstur lembut untuk mengeringkan tangan Gara.
Sedetik kemudian, Abby sadar dengan apa yang telah dilakukannya. "Maaf Gara, aku tidak memiliki maksud apa-apa." Bodohnya Abby, kenapa dia harus kembali melakukan tindakan diluar nalar? Gara pasti akan semakin marah.
Kakinya bergerak mundur tanpa dikomando, dia harus pergi secepatnya sebelum singa yang berada di dalam tubuh Gara keluar.
Namun baru beberapa langkah dia ambil, tubuhnya ditarik dengan pelan dan berakhir di dalam dekapan hangat tak terelakkan. Matanya melotot sempurna saat sadar bahwa kini dia tengah dipeluk oleh lelaki itu. Lengan berotot itu membelit pinggang rampingnya, wajah tampan itu bersembunyi di ceruk lehernya yang terbuka, lalu hembusan nafas hangat yang tak beraturan itu terasa menggelitik menerpa bahu telanjangnya.
Untuk sesaat, tak ada yang angkat bicara. Abby dengan segala kebingungannya dan Gara dengan tindakan tak terduganya.
"Gara.." Abby mencoba melepaskan diri dari jeratan Gara. Namun tenaganya tentu tak sebanding dengan kekuatan lelaki itu.
"Sebentar, sebentar saja." Hanya itu yang Gara ucapkan. Nada suaranya terdengar lelah dan putus asa, seolah dia telah melewati berbagai beban hidup yang begitu berat.
__ADS_1
Abby sontak menahan nafas saat pelukan itu semakin mengerat, membuatnya cukup sulit untuk bernafas karena wajahnya semakin terbenam di dada bidang lelaki itu. Abby bahkan bisa mendengar dan merasakan detak jantung Gara yang cepat, hampir sama dengan miliknya.
"Tolong peluk aku, Abbysca." Gara memohon dengan suara yang menyerupai bisikan.
Kurang ajar! apa lelaki itu tidak punya otak?
Tapi sekali lagi, tindakannya selalu mengkhianati otak. Abby kalah.
Perlahan, tangan mungil itu terangkat untuk mengelilingi tubuh Gara yang besar dan tinggi. Dia merasa seperti kurcaci jika seperti ini.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja." Tangan Abby menyusuri punggung tegap Gara perlahan, kemudian menepuk-nepuk dengan tempo tak beraturan namun menenangkan.
Gara mengeluarkan nafas sesaknya yang sejak tadi dia tahan. Dengan tangan yang semakin menarik Abby ke dalam pelukan, Gara memejamkan kedua mata.
"Aku akan meminta imbalan nanti." Bisik Abby.
. . .
TBC
Halo, selamat pagi semua. Semoga selalu diberikan berkah dan kesehatan. Bab ini hanya diisi oleh dua pemeran utama dan kelakuan tak terduga mereka. Semoga menjadi penyemangat karena ini ada manis-manisnya. ^_^
Terimakasih atas dukungan dan cinta yang teman-teman berikan. Jangan lupa vote dan dukungannya! Love you. ^_^
Salam,
Nasal Dinarta
__ADS_1