
Ini hampir tengah malam, dan cuaca begitu dingin. Orang-orang pun sepertinya sudah terbang ke alam mimpi, termasuk para pelayan di kediaman Anggara. Dan Abby, adalah pengecualian.
Setelah menyelesaikan tugas kuliahnya yang lumayan menumpuk, Abby malah turun ke lantai bawah untuk membuat minuman hangat. Sadar kalau dirinya tak berhak mengganggu istirahat para pelayan yang selalu menyiapkan segala hal untuknya, maka malam itu Abby membuatnya dengan tangannya sendiri.
Dan bukannya langsung kembali ke kamar, Abby malah berdiri di depan sebuah foto keluarga dengan figura besar di ruang keluarga. Netra jernihnya terpaku, menatap lekat satu persatu orang yang berada di dalam foto tersebut. Itu adalah dirinya, Juna juga kedua orang tua mereka.
Sebelumnya, Abby tak pernah memiliki keinginan untuk menatap lama-lama gambar itu. Biasanya, dia hanya akan meliriknya sekilas jika matanya tak sengaja mengarah ke arah sana. Namun, setelah pembicaraannya dengan Lina waktu itu, Abby merasa cukup sensitif jika menemukan hal tentang mereka.
Jika melihat sosok dirinya yang masih awal belasan tahun dan Juna yang masih remaja, maka perkiraannya foto ini diambil sembilan atau sepuluh tahun yang lalu. Seperti yang diharapkan, Juna memang mewarisi ketampanan dan kegagahan ayah mereka- Septhian Anggara. Dan tak jauh berbeda, Abby pun sepertinya terlahir sebagai kopian dari sang ibu- Juliana Mahessa.
Melihat wajah orangtuanya yang terlihat muda, sehat dan segar kala itu, siapa yang akan menyangka kalau ajal begitu dekat dengan mereka? Abby sendiri tak memiliki banyak ingatan tentang mereka. Hanya ada beberapa hal kecil yang berkeliaran di otaknya. Tapi Abby bersyukur, setidaknya dia bisa merasakan kasih sayang mereka walau tak lama.
Pandangannya memburam, tangannya yang sedang memegang gelas pun ikut mengerat. Merasakan gemuruh kepedihan dan penyesalan yang tiba-tiba hadir. Membayangkan bagaimana sakitnya Juna saat mereka pergi dan harus memendam semuanya seorang diri selama ini. Tidakkah itu sangat menyakitkan?
Air mata perlahan turun menuruni pipi pucatnya, namun dengan cepat Abby menghapusnya dengan punggung tangan yang terhalangi bagian ujung lengan dari pakaian hangat yang dikenakannya.
"Maaf, aku begitu lancang mengambil alih kehidupan putri kalian. Tapi dengan penuh ketulusan, aku berharap kalian selalu berada di dalam kebahagiaan." Bisiknya pada malam yang begitu sunyi.
Matanya terpejam, seiring dengan air mata yang tak mau berhenti keluar meski Abby berkali-kali menghapusnya. Perasaan gelisah, rindu dan sesak ini sepertinya datang dari si pemilik raga yang sebenarnya. Tak jauh berbeda dengan Juna, Abby pun memiliki duka dan luka yang sama untuk orangtuanya.
"Abbysca, setidaknya beri aku petunjuk. Kamu belum mati bukan?"
Dan seperti sebuah keajaiban, pertanyaan yang Abby ajukan di dalam hati itu terjawab meski tak langsung. Angin yang cukup kencang datang dan membuat ribut karena menerpa setiap benda yang berada di sana. Tirai yang menutupi dinding kaca itu berkibar, pintu-pintu lemari pun terbuka dan tertutup kembali, menghasilkan suara keras yang sebenarnya cukup mengerikan untuk dialami seorang diri.
Namun karena itu adalah Abbysca. Perempuan itu hanya diam dan menatap semua keributan dengan tenang meski sisa air mata di pipi belum sepenuhnya hilang.
"Abbysca..apakah itu kamu?"
__ADS_1
. . .
Tidak seperti Abby yang menghabiskan malamnya untuk merenung dan bergulat dengan pikirannya sendiri. Gara malah terlihat cukup santai saat berbaur dengan orang-orang di sekelilingnya.
Saat itu, demi menghormati undangan dari salah-satu temannya yang kini menjadi rekan kerjanya, Gara menyempatkan diri untuk hadir di pesta kecil-kecilan itu. Menurut yang dia dengar, temannya itu mengadakan pesta khusus untuk mengakhiri masa lajangnya karena beberapa hari lagi akan menikah. Yang datang pun hanya kaum lelaki saja.
Melihat orang-orang yang begitu menikmati pesta di keramaian, seperti menari bebas di lantai dansa atau minum sepuasnya hingga mabuk. Gara masih bisa mempertahankan kewarasannya. Dia hanya minum beberapa tenggakan, itupun bukan alkohol berkadar tinggi.
Duduk di kursi paling pojok bersama dua orang yang cukup dikenakannya terasa lebih baik daripada dia harus berbaur dengan 'mereka' yang kini tengah bertingkah layaknya orang gila.
"Sayang sekali ini pesta khusus lelaki, padahal aku ingin melihat tunangan Gara yang terkenal cantik itu." Celetuk seorang lelaki bermata sipit yang duduk di ujung sofa, menatap Gara dengan wajah jahilnya.
Gara yang sedari tadi diam tidak bisa untuk tidak melirik, "aku pikir kamu pernah melihatnya." Jawab Gara tenang.
Lelaki yang duduk di dekatnya mendengus sembari mengunyah kacang di mulutnya, "dia tidak ikut ke acara besar perusahaanmu waktu itu."
"Oh." Gara mengangguk mengerti. Namun setelahnya wajah tenang itu tergantikan dengan raut kesal yang tak mampu dia tutupi, "kamu pikir aku mau membawanya masuk ke sarang buaya begitu saja?"
"Wow, kamu lupa bahwa kamu juga bagian dari buaya?" tanya si lelaki sipit dengan senyuman yang belum pudar.
Raut wajah Gara kembali datar, "maaf, aku tidak sama dengan kalian." Ujarnya singkat namun memang penuh dengan fakta.
Di antara semua teman-teman kuliahnya, hanya Gara yang tak memiliki sepak terjang dalam urusan perempuan. Gara terlalu lurus dan datar untuk ukuran seorang lelaki tampan, kaya, cerdas dan mapan. Bukankah seharusnya Gara memanfaatkan itu semua untuk menggaet seorang perempuan dengan mudah?
"Ya, benar. Aku bahkan masih ingat bagaimana seorang Nona muda Anggara harus menurunkan harga dirinya demi mendapatkan perhatian darimu." Celetuk si lelaki tengah.
"Kamu benar-benar kejam. Kenapa dia harus jatuh cinta pada lelaki tak berperasaan sepertimu?" si lelaki sipit itu memandang Gara dengan penuh cemoohan. "Sayang sekali teman kita ini sudah sadar dari tingkah gilanya. Jika tidak, mungkin aku akan dengan senang hati memberi Abbysca kasih sayang." Lanjutnya dengan penuh keluhan. Seperti menyesal karena tidak bergerak lebih cepat.
__ADS_1
Gara hanya mendengus kesal, tak mengatakan apa-apa. Lelaki itu malah menyandarkan tubuhnya pada bantalan sofa yang nyaman. Harusnya dia tidak usah datang ke sini jika hanya untuk mendengarkan ocehan tak bermutu dari teman-temannya.
Namun sepertinya dua lelaki itu tak mau menyadari keengganan Gara dalam membahas Abbysca. Mereka malah dengan semangat melanjutkan percakapan.
"Benar, pesona Nona muda Anggara memang tak dapat diragukan lagi."
"Namanya semakin bersinar akhir-akhir ini karena kegiatan sosial yang selalu dia lakukan dengan sembunyi-sembunyi."
"Selain cantik, anggun, kaya dan rendah hati, Abbysca juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Wajar saja para lelaki muda dari kalangan atas sering membicarakannya di pesta."
"Sayang, pawangnya golira dan juga singa. Mana berani mereka membuat masalah dengan dua pimpinan dari perusahaan besar?"
Kekehan yang tak dapat ditahan itu kembali terdengar membuat Gara yang tengah terpejam itu yakin kalau dua temannya begitu menikmati keusilan mereka.
Dalam diamnya, Gara membenarkan ucapan mereka. Semakin ke sini, pesona Abbysca memang tak mampu dibendung. Aura kesempurnaan begitu terpancar dari dalam diri Abby tanpa perempuan itu buat-buat.
Bibir tipisnya memperlihatkan senyuman miring saat menyadari kalau dirinya kini dilanda ketakutan. Takut kalau ada lelaki yang lebih berkuasa darinya merebut Abby dari sisinya. Takut kalau cinta dan ketulusan yang Abby miliki untuknya perlahan pudar seiring waktu, apalagi mengingat perbuatan bejatnya dulu.
Dan yang lebih membuatnya takut adalah, Abby yang tak memberinya waktu lebih untuk memperjuangkan hubungan mereka yang hampir kandas beberapa bulan ke belakang. Gara memang harus bekerja lebih keras saat ini.
. . .
TBC
Selamat pagi. Salam sehat untuk kita semua. Terimakasih atas dan cinta dari teman-teman setia pembaca Abbysca. Maaf, belum sempat membalas dukungan komentar dari teman-teman.
Jangan lupa vote dan dukungannya! ^_^
__ADS_1
Salam,
Nasal Dinarta