
Seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitamnya memasuki halaman yayasan dengan langkah agak berat, seolah pundaknya menanggung beban yang tak sedikit. Meski separuh dari usianya ia gunakan untuk melayani sebuah keluarga ningrat, namun dia tak pernah lupa akan tempat 'asalnya'.
Satu bulan sekali dia akan mengunjungi tempat tersebut demi mengunjungi orang-orang yang telah berjasa di masa mudanya dulu. Banyak di antara mereka yang telah tiada, mengingat tahun ini dirinya pun sudah menginjak angka enam puluh. Namun itu tak menyurutkan keinginannya untuk 'pulang', meski yang dapat dia ingat dari tempat tersebut tidak jauh dari kepedihan.
Helaan nafas berat terdengar saat dia sadar kalau kedatangannya ke tempat tersebut bukan karena satu hal semata. Matanya yang agak memerah itu menyipit saat mendapati seorang lelaki seusianya tengah duduk di teras tanpa alas. Ada sebuah buku di tangan lelaki itu, juga secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Orang itu jelas sedang menunggu kedatangannya.
Hari berhenti beberapa langkah dari Danu yang sepertinya menyadari kehadirannya, terbukti dengan lelaki itu yang menyimpan benda di tangannya dan berdiri dengan perlahan untuk menyambut Hari. "Selamat pagi, Tuan Hari."
"Selamat pagi, Tuan Danu." Hari menyambut uluran tangan Danu dengan cukup ramah, senyuman tipis terlihat di bibirnya.
"Kita bisa pindah ke tempat yang lebih nyaman jika Anda keberatan.." Danu menggantung ucapannya sembari melirik teras yang tadi didudukinya.
Hari menggeleng pelan, "itu bukan masalah, terimakasih." lalu mengambil tempat kosong di samping Danu yang sudah duduk kembali. "Lambung Anda sepertinya masih kuat dengan kopi." Komentarnya saat melihat kopi di gelas tua tersebut tinggal menyisakan setengahnya.
Kekehan ringan terdengar dari Danu yang dengan santainya menyeruput kopi seolah menyetujui apa yang Hari katakan, "saya belum membuatkan Anda minuman karena takut tidak sesuai dengan selera Anda."
"Tidak perlu repot-repot. Memikirkan apa yang akan kita bicarakan sudah membuat perut saya kembung." Jawab Hari setengah bercanda, namun wajahnya jelas menunjukkan kalau dia sedang serius.
Danu diam-diam mengangguk, ikut memikirkan alasan keduanya bertemu. Sebelumnya, mereka tak memiliki keperluan apapun untuk saling bersinggungan satu sama lainnya. Danu mengenal Hari hanya sebatas bawahan dari perempuan muda yang dia tolong dan juga menolongnya, sedangkan Hari mengenalnya sebagai sosok yang ditolong dan menolong tuannya.
Namun siapa sangka jika itu semua merupakan awal dari terkuaknya satu kisah yang menjadi bagian dari takdir hidup mereka.
"Saya tidak pernah menyangka akan bertemu dengan sosok yang memanggil keturunan terakhir dari Bangsawan Lionel ke masa depan." Hari memulai percakapan serius di antara mereka.
Danu yang duduk di sampingnya terlihat menerawang jauh dengan mata tuanya, "aku hanya pengelana yang kebetulan mengemban sebuah amanat, tidak lebih dari itu."
"Apa semuanya dimulai saat Nona Abbysca kecelakaan waktu itu?" tanya Hari dengan raut penasaran.
Helaan nafas berat terdengar, "ya dan tidak."
Hari menautkan alis bingung.
"Niat saya waktu itu memang ingin menolongnya karena kecelakaan itu terjadi tepat di depan saya. Namun siapa yang menyangka kalau itu adalah jalan Sang Kuasa agar saya segera menyelesaikan tugas terakhir saya." Danu menjeda kalimatnya saat merasa kerongkongannya tiba-tiba kering, "melepaskan takdir pedih dan mengantarkan takdir semu."
Lelaki tua itu melirik tamunya yang diam mendengarkan, seolah enggan untuk sekedar menanyakan kebingungannya. "Apa yang kamu tahu tentang keluarga bangsawan itu?" Danu bertanya.
"Saya tidak tahu sebanyak Anda. Hanya saja, kekuatan mereka hampir sebanding dengan keluarga kekaisaran pada masanya. Militer, sihir, ekonomi dan juga politik, mereka semua memiliki itu. Dan tak ada satupun yang bisa menghalangi apa yang ingin mereka lakukan." Jawaban Hari persis seperti sedang membacakan tulisan dalam buku, saking jelas dan lugasnya dia berbicara. Namun ketahuilah, bahwa dia sudah menghafal semua itu di luar kepala. "Termasuk melindungi diri dari takdir rumit yang membelenggunya."
__ADS_1
Danu mengangguk dan tersenyum seperti seorang guru yang bangga akan jawaban muridnya. "Perjalanan manusia memang tidak akan lepas dari takdir, entah itu baik atau buruk. Menurut keyakinan mereka, takdir buruk adalah ketika seseorang tak bisa mendapatkan balasan atas kebaikan yang dia perbuat. Padahal, bisa saja itu belum waktunya."
"Pengkhianatan dari orang-orang terkasih, putus asa karena dianggap tak layak. Bukankah itu juga sebuah takdir buruk?" tanya Hari.
Danu tersenyum yang bukan benar-benar senyum, "dan keturunan terakhir mereka mengalami itu semua. Maka dari itu, tali keberuntungan yang nenek moyangnya buat, menjadi miliknya. Ya, meski dia harus melalui perjalanan jauh untuk mendapatkannya." Dibandingkan dengan Danu yang terlihat santai seolah sedang membicarakan menu makan siang, Hari nyatanya merasa frustasi saat mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Danu. Berbagai ekspresi yang sebelumnya tak pernah keluar, kini terlihat dengan jelas di wajah tuanya.
"Keturunan terakhir tersebut adalah.." Hari menggantung kalimatnya saat memikirkan kebenaran dari apa yang akan dia ucapkan, "jiwa yang mengisi Nona Abbysca saat ini."
"Kamu tahu jelas dengan hal itu." Puji Danu dengan sedikit bangga.
Kening Hari terlihat mengkerut, "namun banyak yang tidak saya mengerti, Tuan."
Danu tersenyum maklum, "tapi kamu bisa paham dengan kalung dengan bandul merah itu."
"Itu adalah kalung turun temurun dari leluhur keluarga Anggara yang akan diberikan pada setiap keturunan perempuan mereka. Benda itu sudah ada di tangan Nona Abbysca sejak kecil. Ibu dari Tuan Septhian sendiri yang memberikannya." Hari menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk melayani keluarga Anggara. Jadi, mengetahui hal sekecil apapun tentang orang-orang di dalamnya bukanlah hal yang sulit untuknya. "Namun menurut apa yang saya tahu, benda itu bisa dikenakan oleh Nona Abbysca jika si pemilik asli sudah datang untuk menyambung kembali jalan takdir."
Maka tidak heran, jika Hari merasa terkejut saat melihat nonanya mengenakan kalung dengan bandul kecil berwarna merah tersebut. Dia senang karena kalung itu dikenakan oleh orang yang seharusnya , namun dia juga sedih karena harus kehilangan seseorang yang cukup berarti baginya. Entah itu pergi sementara atau untuk selamanya, keduanya terdengar tidak bagus di telinganya.
"Sepertinya, kamu juga bisa menyadari siapa sebenarnya sosok Nona Abbysca yang beberapa bulan ini kamu kenal." Celetuk Danu.
Hening. Ada sedikit jeda di antara mereka. Membicarakan hal yang penuh dengan kemustahilan seperti ini cukup membuat Hari pening. Meski seharusnya Hari terbiasa karena sejak kecil pun dia selalu dikelilingi oleh hal-hal ajaib yang tidak mampu dimengerti oleh nalar manusia.
"Ya, kamu benar. Dan benda itulah yang saya maksud dengan tali keberuntungan." Danu mengambil kembali buku tua yang sempat dia acuhkan, lalu membuka halaman yang diinginkannya. Setelah menemukan apa yang dia cari, lelaki tua itu memperlihatkannya pada Hari yang menatapnya penuh keinginan tahuan. "Lihat! bandul itu berisikan sebuah mantra kuno yang cukup kuat. Baik dan buruknya benda itu bereaksi, tergantung dengan emosi si pemilik. Leluhur mereka membuatnya dengan cukup bijak, bukan karena keegoisan semata."
"Apa itu bagus?" tanya Hari setelah selesai dari lamunannya.
"Semua hal bersifat seimbang di dunia yang fana ini. Termasuk dari kegunaan sebuah benda. Sehebat apapun harapan dan kekuatan yang terkandung di dalamnya, itu pasti memiliki kekurangan." Jemari Danu perlahan turun dan berhenti di paragraf paling akhir, "dia memiliki batas waktu."
Hari memang tak mengerti dengan tulisan yang tertera di dalam buku tersebut, apalagi dengan beberapa bagian yang nyaris robek dan rusak. Namun matanya tak lepas barang sedikitpun dari sana. Seolah dia akan paham jika terus memperhatikannya. "Itu terdengar mengerikan." Ucap Hari pada akhirnya.
"Bagaimana mungkin tidak terdengar mengerikan jika jiwa yang tidak seharusnya ada di sini malah harus berjuang sendirian melawan takdir?" Danu berujar sedikit putus asa.
"Apakah semuanya akan baik-baik saja? apakah Nona Abbysca yang saya layani sejak kecil akan kembali?" itu adalah hal yang sangat ingin dia tanyakan sejak pertama kali menyadari eksistensi seorang Danu yang ternyata bukan hanya seorang kakek dari teman nonanya.
"Itu tergantung dengan usaha yang dia lakukan. Saya sendiri tidak tahu alasan dibalik semua ini. Namun satu hal yang pasti, apa yang akan kita tuai adalah apa yang kita tanam." Danu menatap Hari tepat di matanya, "Dan hal lainnya yang sudah menjadi ketetapan adalah, di saat jiwa pergi meninggalkan raga, maka jiwa tersebut tidak akan kembali pada raga yang sama."
Hari yang mendengar semua kalimat penuh makna itu tidak bisa untuk tidak memegang kepalanya yang sakit. Teka-teki ini lebih sulit daripada menertibkan para pelayan kurang ajar di kediaman Anggara.
__ADS_1
"Itu artinya Nona Abbysca memang sudah benar-benar pergi?"
Anggukan dari Danu membuat Hari merasa sedih bercampur kecewa. Kenapa nonanya harus pergi dalam keadaaan seperti ini? mereka yang disebut keluarga dan orang-orang terkasih bahkan tak sadar kalau mereka baru saja kehilangan sosok penting. Tidakkah ini sangat keterlaluan?
"Lalu, apa yang akan terjadi setelah ini?"
Danu memberikan senyuman teduh, "siapa yang tahu tentang hal itu kecuali Sang Kuasa? kita hanya bisa menjalaninya."
"Apa Anda juga seperti itu?" tanya Hari kembali.
Danu menoleh, memberikan raut bertanya.
"Saya jadi bertanya-tanya. Siapakah Anda sebenarnya? dari manakah Anda berasal? apakah Anda sama-sama datang dari masa lalu?"
Danu terdiam sembari mengedipkan mata tuanya beberapa kali. Sebelumnya, tak pernah ada yang menanyakan hal seperti itu padanya karena memang tak seharusnya mereka tahu. Namun ini adalah Hari yang memiliki satu kelebihan lebih banyak daripada manusia pada umumnya.
"Perempuan muda itu datang dari masa dan waktu yang sangat jauh. Sedangkan saya, hanya orang biasa yang sedikit mengetahui tentang masa dan waktu tersebut." Jawab Danu pada akhirnya. Lalu, dia kembali melanjutkan, "kami jelas berbeda, Tuan."
Hari tidak mengatakan apapun lagi setelah mengerti akan apa yang Danu ucapkan. Hatinya memang ingin terus bertanya, namun otaknya menyuruh untuk diam.
Ada jeda kembali yang cukup panjang di antara keduanya, sampai Danu memecahkan keheningan tersebut. "Semoga semuanya mendapatkan akhir yang diinginkan."
. . .
TBC
Selamat pagi teman-teman. Semoga kesehatan dan keselamatan selalu menyertai kita semua.
Saya datang dengan bab terbaru dan bagian yang paling rumit. Saya sampai harus revisi berkali-kali sejak hari kemarin agar teman-teman tak terlalu pusing dengan apa yang ingin saya sampaikan di bab ini.
Untuk itu, saya mohon apresiasinya untuk kerja keras saya yang membuat pening kepala ini. ^_^
Jangan lupa vote dan komentarnya!
Salam,
Nasal Dinarta.
__ADS_1