
Abby menuruni anak tangga dengan langkah yang lesu, pun dengan wajahnya yang menyiratkan sedikit sendu. Langkahnya terhenti di ujung tangga kala mendapati sosok Juna yang tengah menikmati sarapan dengan damai.
Keraguan menyelimuti hati Abby, ucapan Juna semalam memberikan efek yang besar pada suasana hatinya. Dia seperti kehilangan sebagian dari warna hidupnya. Membayangkan Juna yang akan kembali bersikap dingin seperti dulu membuatnya menggigil tanpa sadar.
Pada akhirnya, Abby mencoba untuk bersikap biasa. Perempuan itu membenarkan tali ransel yang dia bawa, kemudian menghampiri meja makan dan menarik satu kursi yang kosong.
Mira yang memang baru selesai melayani Juna segera mendekati Abby. "Nona, Anda ingin sarapan apa?"
Abby melirik kakaknya diam-diam dari sudut mata, lalu segera berpaling untuk menatap hidangan di atas meja makan. "Apa tidak ada nasi goreng?" dia belum makan nasi sejak kemarin, jadi dia butuh asupan karbohidrat yang agak tinggi sekarang.
"Orang dapur pasti sedang menyiapkannya, tolong tunggu sepuluh menit, Nona. Anda bisa memakan ini lebih dulu." Pelayan itu menyimpan sepiring kecil potongan apel merah di depan Abby.
"Terimakasih."
Mila tersenyum sopan sebelum pergi ke arah dapur untuk menyiapkan apa yang Abby inginkan.
"Makanlah yang ada!"
Celetukan Juna membuat Abby yang tengah menikmati buah apel itu mendongak penasaran. "Ha?"
"Biasakan untuk memakan hidangan yang ada tanpa harus meminta ini-itu." Wajah Juna masih terlihat tenang meski baru saja mengucapkan hal yang tidak mengenakan. "Lihat! ada roti panggang, susu, juga beragam jus buah. Tidakkah seharusnya itu cukup untukmu?"
Abby sendiri terdiam dengan tangan yang menggenggam garpu dengan erat, sembari meresapi ucapan sang kakak. Rasa apel yang tadinya segar dan manis, kini hanya tersisa pahit di lidahnya.
"Jangan merepotkan orang lain!" Juna menarik kursinya cukup kencang, lalu mengambil jas kerjanya dari atas sandaran kursi. "Kamu bahkan tidak melakukan hal yang cukup berarti di rumah ini. Jadi setidaknya, jangan menambah beban!"
Jangan menambah beban!
Dalam hati, Abby mengulang ucapan terakhir Juna. Dan setelahnya, dia benar-benar tidak bisa melanjutkan suapannya. Perempuan itu menunduk sembari menyandarkan punggungnya pada kursi. Wajah cantiknya sedikit pucat dan menyiratkan sinar sendu.
Tidak ada yang salah dengan ucapan Juna. Tapi mendengarnya langsung dari sang kakak, Abby merasa cukup sakit hati. Tanpa diingatkan pun dia tahu kalau dirinya tak lebih dari beban di rumah ini. Hidup nyaman di saat Juna banting tulang- bekerja keras mengurusi perusahaan keluarga.
"Maaf, Kak." Bisik Abby pada angin, karena nyatanya Juna sudah pergi meninggalkannya seorang diri di ruang makan. Lengkap dengan rasa hampa dan sesak yang menghimpit dada.
__ADS_1
Jika sudah seperti ini, Abby tidak bisa menyangkal lagi kalau sosok hangat Juna memang telah hilang. Sedangkan sisi tak warasnya mengatakan hal lain, dia sangat berharap bahwa sikap Juna yang sekarang hanyalah mimpi semata.
. . .
Itu adalah sore hari yang sedikit mendung. Abby menolak tawaran Elang yang ingin mengajaknya makan bersama teman-teman mereka yang lain. Alasannya karena ini. Menjenguk restoran pemberian Gara.
Sebagai pemilik baru restoran tersebut, Abby memiliki tanggung jawab yang cukup besar. Meski Gara sendiri tidak terlalu lepas tangan dalam mengawasinya, namun mengelolanya adalah bagian Abby. Bersama sang manajer yang sudah lebih dulu mengetahui seluk beluk restoran itu, Abby perlahan belajar mengelola sebuah usaha.
Sejauh ini, kerja kerasnya membuahkan hasil. Meski belum bisa menaikkan pelanggan setiap harinya, namun dia mampu mempertahankan konsumen tetap agar tak berpaling. Menurutnya, itu merupakan keberhasilan.
Tok tok!
"Masuk!"
Abby yang tengah duduk di meja kerjanya melirik ke arah pintu yang terbuka. Ada lelaki muda yang menjabat sebagai orang kepercayaannya di sana. "Ada apa?"
"Ini adalah menu baru yang Anda minta, Nona." Lelaki dengan seragam hitam putih itu menyimpan sebuah piring berisikan hidangan baru yang akan mengisi buku menu mereka Minggu depan nanti.
Abby memperhatikannya dalam diam, kemudian mengambil sendok yang disediakan dan mengambil satu bagian kecil untuk dia cicipi.
Sosok pemuda itu mengangguk kecil, "benar, Nona. Ini adalah hidangan beliau. Seperti yang Anda katakan, kepala koki memang tidak memakai daging berkualitas menengah. Itu karena Anda sendiri yang berkata bahwa hidangan ini disajikan untuk konsumen menengah ke atas."
Abby tersenyum mengerti, "tidak masalah, lakukan saja percobaan Minggu depan. Aku harap mereka akan menyukainya."
"Apa kita harus menghentikan penggunaan daging berkualitas menengah nanti?"
Abby sontak menggeleng, "tidak perlu. Jika kita menghapus menu yang sebelumnya, orang-orang yang sudah biasa memesannya akan merasa tidak nyaman. Lebih bahayanya lagi kalau mereka menolak menu baru karena harganya tidak sesuai dengan kantong mereka." Harga jual otomatis akan naik jika bahan yang digunakan lebih berkualitas dari yang sebelumnya.
"Bukankah para pedagang kecil dan juga anak-anak pengamen sering membeli di sini?"
"Benar, Nona. Setiap hari mereka pasti akan datang." Itu wajar karena restoran ini memang diperuntukkan untuk semua kalangan.
"Jumat berkah juga berjalan lancar bukan?" Abby mengingat kegiatan mingguan yang diadakan oleh restorannya.
__ADS_1
"Tentu, Nona. Setiap minggunya, orang-orang yang mengantri terus bertambah."
Abby tersenyum lebih tulus, dia senang mendengarnya. Bisa berbagi dengan mereka yang membutuhkan adalah hal yang paling ingin dia lakukan sejak dulu.
"Mungkin Jumat ini aku akan ikut." Dia sebenarnya sudah merencanakan ini dari lama. Menghadiri langsung kegiatan amal di depan restorannya sendiri adalah salah-satu keinginannya. Namun apa daya, jadwal kuliahnya selalu penuh.
Abby juga berniat untuk mengajak orang-orang terdekatnya. Seperti Gara, Elang, Danu, para pekerja di rumahnya, juga Juna.
Wajahnya kembali sendu saat mengingat nama Juna. Akankah lelaki itu mau mengiyakan ajakannya nanti di saat sikapnya berubah dingin seperti ini?
"Anda merasa tidak enak badan, Nona?"
Abby seolah sadar dari lamunannya. Dia mendengus dalam hati saat ingat kalau dirinya tidaklah sendiri di tempat ini.
"Tidak, aku baik-baik saja. Kamu boleh kembali."
"Baik, Nona."
Perempuan itu menumpukan wajahnya di atas lipatan tangannya sendiri. Merasa suasana hatinya begitu buruk. Sedikitpun tidak menyadari jika ada senyuman dan ekspresi aneh di wajah laki-laki muda tersebut.
. . .
TBC
Selamat siang. Salam sehat untuk kita semua. Saya kembali dengan bab terbaru. Semoga teman-teman menikmatinya.
Terimakasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan untuk teman-teman setia pembaca Abbysca yang tidak bosan menunggu kelanjutan cerita ini. Kalian adalah penyemangat saya. ^_^
Maaf karena belum sempat membaca komentar dan membalasnya satu persatu, tapi saya sangat berterimakasih atas dukungan dan cinta yang teman-teman berikan.
Enjoy!
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta.