Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Abbysca Dan Abbysca


__ADS_3

Sore itu, Abby terlihat duduk di atas ayunan dengan sebuah kertas dan pensil di tangannya. Cuaca yang cukup cerah membuatnya betah berada di luar ruangan saat akhir pekan datang. Tidak seperti biasanya di mana Abby akan menghabiskan waktu untuk melihat restoran, kali ini dia memilih sibuk dengan pikirannya sendiri.


Netra jernih yang sejak tadi menatap ke arah depan- pada jajaran pohon yang berdiri menjulang di tengah-tengah taman itu, kini menurunkan pandangan. Memperhatikan sosok perempuan yang mirip seperti dirinya namun dengan wajah yang lebih tirus. Itu adalah hasil dari goresan pensil Abby selama kurang dari setengah jam.


Malam tadi Abby tidak bisa tidur dengan nyenyak. Mengingat akhir-akhir ini otaknya terlalu banyak berpikir. Matanya memang terpejam, tubuhnya memang berbaring di atas ranjang yang empuk dan nyaman. Namun bukannya ketenangan yang didapat, Abby malah semakin gelisah. Apalagi saat mimpi buruk itu kembali menyapa.


Entah apa alasannya, tapi sudah beberapa hari ini Abby selalu bermimpi seolah dirinya kembali ke masa lalu. Bukan ke masa dirinya menjadi seorang kesatria di sebuah kerajaan, tapi ke masa saat dirinya menjadi Abbysca Anggara kecil. Kehangatan keluarga, canda tawa bersama Juna, cerita dongeng setiap malam oleh Juliana, juga kebahagiaan saat Septhian datang dari tugas luar kota dan membawa banyak hadiah untuknya.


Dan yang paling buruk dari semua mimpi itu adalah adanya Abbysca asli di dalamnya. Tak seperti saat dirinya melihat wajah sendiri dari balik cermin, sosok Abbysca yang asli terlihat pucat dengan perawakan yang lebih kurus darinya. Meski begitu, dirinya mengakui kalau wajah itu cukup cantik untuk ukuran seorang arwah yang tak memiliki raga. Karena dia pun tahu diri kalau raga itu kini ditempati olehnya.


Setelah beberapa menit hanya diam menatap lukisan itu, Abby kembali bersandar dan memejamkan mata. Satu tungkai kakinya turun agar menyentuh rumput hijau di bawahnya hanya untuk mengayunkan ayunan yang sedang dia duduki.


Sembari menikmati semilir angin sore yang agak dingin, pikiran Abby kembali mengingat percakapannya dengan Abbysca Anggara tadi malam. Meski itu hanya sebuah mimpi, tapi Abby yakin kalau arwah perempuan itu ingin menyampaikan sesuatu untuknya. Hal yang Abby tunggu sejak dirinya terbangun dalam raga baru.


"Kamu cukup tenang untuk ukuran seseorang yang tengah dipermainkan oleh takdir." Abbysca nampak cantik dengan gaun selutut berwarna merah muda yang sudah agak pudar. Perempuan itu duduk menyamping di atas ranjang sembari menatap ke arah Abby. "Bagaimana rasanya terlempar ke masa depan?" lanjutnya dengan raut wajah penasaran. Namun Abby yakin sempat melihat kilatan cemoohan di sana.


"Abbysca Anggara. Akhirnya kamu datang padaku juga." Abby yang kala itu tengah berdiri di dekat jendela, perlahan mendekat ke arah Abbysca. "Apa hadirnya aku di dalam ragamu adalah tanggung jawabmu sepenuhnya?"


Senyuman di bibir pucat itu melebar seiring dengan pancaran matanya yang berbinar, seperti menemukan sosok yang selama ini dia cari. "Wah, memang seperti yang diharapkan dari seorang wanita bangsawan yang mengabdi pada Raja. Kamu tak mengenal basa-basi sama sekali. Tapi aku menyukainya."

__ADS_1


Abbysca berdiri mendekati Abby. Dan kini, dua wajah yang begitu mirip itu saling berhadapan dengan sorot mata yang sama-sama tak terkalahkan. "Abbysca Lionel. Senang sekali rasanya bisa bertemu dengan leluhurku secara langsung. Perkenalkan, saya Abbysca Anggara." Perempuan itu menyilangkan satu tangannya di depan dada, kemudian sedikit membungkuk pada Abby yang masih diam di tempatnya.


"Apa maksudmu?" alih-alih tersanjung dengan salam perkenalan yang dirasanya berlebihan, Abby malah langsung menanyakan tujuan Abbysca.


"Kamu adalah yang terpilih. Takdir memilihmu, meski itu harus melalui aku sebagai perantara." Bahasa formal yang sebelumnya perempuan itu gunakan kini hilang. Tergantikan dengan kalimat sederhana, seolah keduanya memang sudah sering bertemu dan berbicara sebelumnya.


"Kamu terus mengatakan omong kosong." Desis Abby dengan nada jengkel. Pembawaan Abby kini terlihat seperti dirinya yang dulu saat dia mengintrogasi para pengkhianat sebelum mengeksekusinya. Begitu tenang, anggun namun penuh kengerian. Dan sepertinya Abbysca merasakan hal itu . Bukannya takut, perempuan yang mengaku sebagai keturunannya itu malah lebih berani mendekatinya.


"Ada sebuah kalung dengan bandul berwarna merah di dalam laci paling bawah di lemari pakaianku, pakai itu! setelahnya, tunjukkan benda itu pada Paman Hari dan katakan satu buah pengakuan tentang asal-usulmu yang sebenarnya padanya." Raut wajah Abbysca terlihat dua kali lebih serius saat ini, "kamu akan mengetahui hal apa yang memang seharusnya kamu ketahui nanti."


Hilang. Abbysca hilang dari pandangan Abby seiringan dengan sebuah cahaya yang menyilaukan mata dan angin kencang yang memporak-porandakan jiwa.


Abby kembali membuka mata saat dirasa kepalanya tak kuat menahan rasa sakit yang mendera. Kertas dan pensil di pangkuannya bahkan sudah jatuh ke tanah karena gerakan Abby yang begitu tiba-tiba saat menegakkan tubuhnya.


"Ahh..sa..sakit..!" Tubuh Abby tiba-tiba menggigil, tangannya pun kini terasa dingin seolah baru saja disiram air es.


Belum satu menit perjuangan Abby menahan semua rasa tersebut, kesadarannya sudah harus direnggut oleh kegelapan. Tubuh rapuh dan mungil itu akhirnya terkapar tak berdaya di atas rerumputan yang masih menyisakan jejak basah dari sisa hujan semalam.


Abby pingsan bersamaan dengan darah segar yang keluar dari indera penciuman.

__ADS_1


. . .


Juna memasuki kediaman Anggara dengan rasa lelah yang dipikulnya. Bahu tegap itu bahkan terlihat lemas, kehilangan kekuatannya. Jas yang sejak pagi membungkus tubuhnya dengan rapi, kini malah tersampir di siku lengannya.


Netranya menatap ke sekeliling, merasa heran karena para pelayan tak terlihat keberadaannya. Padahal ini baru pukul enam sore. Ke mana orang-orang pergi?


Juna mengentikan langkah, kemudian membalikkan badan hanya untuk menatap Erik yang sejak tadi mengikutinya. "Kenapa rumah ini terasa sepi? bukankah itu cukup aneh?"


"Maaf, Tuan. Saya kurang tahu." Jawab Erik jujur. Sejak pagi dia tidak ada di rumah ini, dia terus bersama Damar yang notabene sekretaris Juna. Di saat orang-orang beristirahat di akhir pekan seperti ini, Erik malah harus menemani Juna di perusahaan karena ternyata majikannya itu tak memiliki jatah libur. Pekerjannya terlalu banyak, dan waktu lima hari begitu kurang bagi pimpinan perusahaan seperti Juna untuk menyelesaikannya.


Saat ingin bertanya kembali, atensi Juna teralihkan oleh suara langkah yang datang dari arah tangga. Serempak dua orang itu menolah pada Hari yang tidak sendiri. Alis tebal pemuda itu naik saat melihat sosok tak asing di belakang Hari. Orang itu tidak mungkin datang tanpa dipanggil.


"Siapa yang sakit?"


. . .


TBC


Selamat malam, semoga teman-teman menikmati bacaan ini. Terimakasih atas cinta dan dukungannya. Jangan lupa vote! ^_^

__ADS_1


Salam,


Nasal Dinarta.


__ADS_2