Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Tidak Bermaksud Untuk Mencari Lawan


__ADS_3

Abby menatap kediaman megah nan unik di hadapannya saat mobil yang mereka tumpangi berhenti setelah melewati gerbang yang cukup tinggi. Suara pintu mobil yang dibuka membuat perempuan itu menoleh, ternyata Gara sudah turun lebih dulu. Dengan senyuman lebar menyebalkan, lelaki itu berdiri sembari mengulurkan tangannya untuk Abby raih. Mungkin agar Abby tak kesulitan saat turun.


Meski dalam hati sibuk mengutuk perbuatan Gara yang sedikit berlebihan, namun Abby tetap menerima uluran tersebut. Gara langsung memindahkan tangannya ke sekeliling pinggang Abby saat keduanya sudah berdiri berdampingan.


"Aku tidak akan jatuh meski kamu tak menyangga tubuhku." Komentar Abby saat merasakan lilitan tangan Gara.


Tak ada jawaban, tak ada pula perubahan. Gara tetap bertingkah sesuka hati. Netra elang lelaki itu menajam awas saat melihat beberapa keramaian di depan sana. Tak seperti yang dia pikirkan sebelumnya, pesta 'pribadi' ini sepertinya dirayakan dengan cukup meriah. Diam-diam dia bersyukur karena memilihkan pakaian yang sedikit tertutup untuk Abby.


Gara melirik perempuan di sampingnya. Lihatlah, meski tak ada kesan glamor di sana, Abby tetap memancarkan aura yang dapat menarik perhatian semua orang. Riasannya begitu sederhana dengan rambut yang sepenuhnya digerai. Sedangkan netra jernih itu memancarkan ketenangan yang akhir-akhir ini selalu Gara lihat di sana.


"Harusnya aku tidak mengajakmu." Ujarnya pelan dengan nada yang penuh penyesalan.


Abby meliriknya sekilas, kemudian menjawab dengan ringan. "Aku bisa langsung pulang sekarang, Kak Erik masih di belakang kita omong-omong."


Itu benar, Erik tidak akan pergi sebelum memastikan mereka berdua masuk ke dalam sana. Ide yang Abby cetuskan sebenarnya cukup menarik, dengan begitu Gara tak perlu was-was kalau ada lelaki lain yang berniat menyeret Abby ke samping mereka mengingat secantik apa perempuan itu sekarang. Namun, dia merasa itu terlalu kekanakan.


Gara menghela nafas kasar, "sudahlah, ayo masuk!" ajaknya sembari mengeratkan rangkulannya.


"Kami masuk dulu, Kak Erik. Terimakasih." Abby menyempatkan diri untuk melirik Erik sebelum membiarkan dirinya diseret oleh Gara.


"Aku pikir kamu mau menyetir sendiri." Celetuk Abby saat keduanya beriringan menuju pintu utama yang cukup dipenuhi orang-orang.


Gara melakukan sedikit peregangan pada lengan kanannya, "aku agak terkilir waktu itu, jadi belum bisa menyetir dengan benar." Jawabnya.


Perempuan itu sontak menghentikan langkah, "benarkah? kenapa bisa terkilir? apa sekarang masih sakit? kamu sudah memeriksanya?" tanya Abby dengan beruntun, reaksi yang begitu alami saat mengkhawatirkan seseorang yang berarti untuknya.


Untuk sesaat, Gara hanya bisa tertegun dan terpaku menatap Abby. Hatinya menghangat saat sadar kalau Abby tidak sepenuhnya membuang nama Gara dalam hati dan pikirannya.

__ADS_1


Lelaki itu tersenyum tipis, "aku baik-baik saja. Dan.." perlahan wajahnya menyeringai, ".. jangan memasang wajah manis itu lagi atau aku benar-benar akan membawamu pulang. Kamu sedang menggodaku ya?"


Abby melotot di depannya. Siapa yang sedang menggoda siapa sebenarnya di sini? apa Gara memang sering bertindak kurang waras belakangan ini?


"Ayo cepat masuk sebelum kamu benar-benar gila karena omong kosongmu sendiri!" kali ini Abby yang menyeret Gara. Meski agak kesulitan karena tubuh lelaki itu jauh lebih besar darinya, namun Abby tidak menyerah. Jika dibiarkan, bisa saja Gara mengucapkan hal yang lebih konyol dari yang barusan. Dan Abby tidak mau menanggung malu karena ketahuan merona saat dipuji oleh tunangannya itu.


Yang diseret tidak mengatakan apa-apa. Dia juga tak terlihat keberatan. Malah jika ditilik dari ekspresinya, Gara begitu riang sampai tidak sadar kalau senyuman di wajahnya tak menghilang sedikitpun.


Dari balik pilar besar yang menghubungkan teras kediaman yang luas dan pintu masuk utama, dua manusia muda nampak memperhatikan Abby dan Gara dengan pandangan yang berbeda-beda. Jika si lelaki hanya berwajah datar dan sesekali menyeringai sembari menatap adiknya, maka si perempuan terlihat tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.


"Sudah aku bilang, jangan percaya dengan rumor!" Itu adalah Abimana, si putra sulung dari pemilik acara tersebut.


Sedangkan Karina- sang adik yang sejak tadi belum melepaskan tatapannya dari pasangan itu hanya diam sembari mengepalkan dua tangannya di sisi tubuh. Menahan gejolak kemarahan dan setitik kecemburuan yang tiba-tiba hadir di dalam hatinya.


"Aku masih belum menyerah. Mari kita lihat setelah aku memastikannya nanti!" bibir yang dipoles merah menyala itu menampilkan senyum main-main seraya melirik kakaknya.


Abimana pergi setelah menyelesaikan ucapannya. Meninggalkan Karina yang hanya bisa menghela nafas kasar, merasa tidak setuju dengan apa yang lelaki itu ucapkan. Tapi tidak apa, dia sudah terbiasa mendapatkan apa yang dia mau. Jadi, yang kali ini pun pasti akan berhasil. Dengan atau tanpa persetujuan dari siapapun.


. . .


"Wah, Tuan Sagara. Suatu kehormatan karena Anda mau menghadiri pesta kecil-kecilan ini." Tuan besar Mahesa menyambut kedatangan Gara dan Abby di tengah-tengah ruangan- bersama sang istri. "Dan saya lebih terkejut karena Nona Abbysca juga bersedia hadir. Terimakasih banyak."


Lelaki paruh baya itu terlihat ramah dan seperti sosok yang mudah didekati meski memiliki latar belakang yang tak kalah kuatnya dengan mereka, mengingatkan Gara akan sosok Abimana yang memiliki perangai yang sama persis.


"Saya tidak mungkin tidak datang." Jawab Gara singkat sembari menyalami Mahesa dan juga istrinya yang tak memudarkan senyum sedikitpun.


"Terimakasih atas undangannya. Semoga pernikahan Anda sekalian selalu diberkati kebahagiaan. Saya Abbysca." Tidak seperti Gara yang merespon singkat dan ogah-ogahan, Abby mengambil peran sebagai seorang perempuan yang berdedikasi. Ekspresi dan cara bicaranya begitu lembut dan penuh dengan aura menakjubkan, hal yang membuat pasangan paruh baya itu tidak bisa melepaskan pandangan.

__ADS_1


"Wah, seperti yang dikatakan media, Anda begitu menawan Nona Abbysca. Perkenalkan, saya Indira." Nyonya rumah yang terlihat cantik dan glamor itu begitu semangat saat menyalami tangan Abby. "Banyak berita baik tentang Anda. Melakukan kegiatan sosial di mana-mana, berbagi kebaikan pada sesama, memberikan lapangan pekerjaan pada yang membutuhkan. Anda sungguh seperti dewi." Tak ada ekspresi yang dibuat-buat di wajah Indira layaknya seseorang yang ingin menjilat dan mengambil keuntungan.


Abby mempertahankan senyum manisnya sembari menatap Indira yang terlihat antusias layaknya tengah bertemu dengan seorang selebriti papan atas. "Terimakasih Nyonya Indira, senang berkenalan dengan Anda. Namun saya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Nyonya Indira. Saya mengagumi Anda yang selalu sukses setiap meluncurkan gaun rancangan terbaru. Itu luar biasa. Bukankah Anda juga baru menghadiri ajang busana di Prancis?"


Tentu saja, Abby tidak mungkin datang ke acara ini tanpa persiapan apapun. Mau itu luar ataupun mentalnya. Saat Gara mengatakan acara yang akan mereka hadiri adalah milik dari seseorang yang cukup penting bagi perusahaan lelaki itu, Abby langsung mencari tahu tentang latar belakang keluarga ini. Dan adalah suatu keberuntungan karena berita mengenai keluarga Mahesa cukup berjejer di media masa.


Beberapa detik hanya diam karena terkejut dengan apa yang Abby katakan, setelahnya Indira langsung mendekati Abby dan menggandeng lengan perempuan muda itu dari samping. Bersikap layaknya mereka sudah kenal cukup lama.


"Tuan Gara, bolehkah saya mengambil tunangan Anda sebentar? saya ingin sekali mengobrol banyak dengannya. Nona Abbysca benar-benar menakjubkan." Tanya Indira dengan riang.


"Ma, biarkan mereka duduk dan mencicipi hidangan dulu." Tegur Mahesa dengan sopan.


"Tidak apa, Abby sepertinya memang butuh teman bicara perempuan di sini." Jawab Gara tidak sesuai dengan apa yang Abby harapkan. "Bukan begitu sayang? pergilah!" lelaki itu mengelus pipi tunangannya dengan lembut sembari memberikan pandangan mengusir. Kurang ajar, Gara pasti ingin membuat Abby terjebak di antara obrolan para wanita menjengkelkan nanti.


Dan seperti yang sudah dapat ditebak, percakapan dua pasangan beda generasi itu membuat atensi semua orang mengarah pada mereka. Tak terkecuali Karina yang tadinya ingin ikut bergabung, namun malah menahan langkah saat melihat ibunya sendiri begitu tertarik dengan sosok Abbysca.


Sebenarnya, apa yang dimiliki oleh perempuan itu?


. . .


TBC


Selamat pagi, apa kabar teman-teman? semoga sehat selalu. Saya kembali dengan bab terbaru. Semoga masih ada yang nunggu.


Terimakasih atas dukungan dan cinta dari teman-teman untuk cerita ini, sayang kalian banyak-banyak. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta.


__ADS_2