
Bulu mata lentik itu bergerak pelan, menandakan si pemilik tubuh perlahan mendapatkan kembali kesadarannya. Gara yang kala itu tengah fokus menatap tablet di tangannya terusik karena mendengar suara erangan kecil dari seseorang.
Netra Gara memancarkan pengharapan saat melihat Abby yang kini sudah membuka mata. Lelaki itu bangkit dari sofa setelah menyimpan tabletnya di atas meja. Setelahnya, dia menghampiri Abby tanpa rasa ragu.
"Kamu bangun." Itu bukan pertanyaan. Dua kata itu hanya pengingat untuk meyakinkan Gara kalau perempuan yang sejak tadi ditunggunya itu sudah dalam kondisi yang lebih baik.
"Apa yang kamu rasakan? di mana yang sakit? katakan saja!" seperti saat pertama Gara datang ke kamar ini, lelaki itu kembali duduk di atas ranjang yang kosong, tepat di samping Abby. Tangannya terangkat untuk meraba dahi dan leher perempuan itu. Hangat dan agak lembab.
Abby yang terlihat linglung dan sedikit bingung itu hanya diam menatap Gara. Netra jernihnya begitu sayu dan terlihat agak memerah. Mulut kecil itu terbuka, namun tertutup kembali. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi tak kuasa untuk mengeluarkan suara.
Gara yang melihatnya otomatis semakin mendekatkan wajah, "kenapa? kamu merasa tidak nyaman? hm?" jemari panjang yang sejak tadi belum beranjak itu beralih untuk mengelus sisi kanan wajah Abby yang terasa lembut dan hangat secara bersamaan.
Abby hanya berkedip dua kali sebagai jawaban sembari pandangan yang tidak beralih dari wajah Gara yang terasa dekat. Tak lama, matanya memanas dan memburam, membuat sosok Gara tak terlalu jelas di dalam penglihatannya. Detik berikutnya, air mata keluar secara tiba-tiba.
Entah apa yang terjadi pada Abby, dan apa yang perempuan itu rasakan. Namun Gara cukup terkejut melihatnya. Alih-alih bertanya, tangan pemuda itu lebih cepat bekerja, mengusap pelan pipi Abby yang basah .
"Tidak apa-apa. Aku di sini." Gara melabuhkan ciuman hangat di kening Abby tanpa rasa canggung. Setelahnya, dia kembali mengelus wajah halus itu. Berharap agar air mata tak kembali keluar, juga kesedihan di hati perempuan itu segera menguar.
"Ayo bangun! kamu harus minum, tenggorokan kamu pasti sakit." Gara membantu tubuh lemas Abby agar bersandar pada kepala ranjang yang sudah dia ganjal dengan satu bantal . Setelah memastikan perempuan itu duduk dengan nyaman, Gara membantu Abby untuk minum. Dan seperti yang lelaki itu harapkan, Abby menurut tanpa membantah.
Gara seratus persen sadar kalau sejak bangun tadi, Abby tak sedetikpun berhenti menatapnya. Namun Gara tidak merasa terganggu, karena akhir-akhir ini dia memang selalu berkeinginan untuk ditatap langsung oleh perempuan itu. Gara suka saat netra jernih itu hanya menjadikan dirinya sebagai satu-satunya objek untuk dilihat.
Tak kuasa merasakan getaran aneh saat ditatap lekat oleh Abby, Gara akhirnya merespon. Lelaki itu mengusap kelopak mata Abby agar terpejam. "Aku suka saat kamu melihatku seperti itu. Tapi jangan terlalu lama melakukannya!" ujar Gara dengan kekehan yang terdengar menyenangkan.
Abby yang belum mengeluarkan suara sejak tadi hanya mendengus lemah. Namun tangannya terangkat perlahan hanya untuk menangkap pergelangan tangan Gara yang terasa besar di jemarinya. Perempuan itu menunduk, menatap apa yang sedang dia lakukan. Bibirnya tersenyum tipis saat menemukan benda berkilau yang melingkar di jari manis Gara. "Sagara.." bisiknya.
__ADS_1
Gara yang melihat itu hanya diam memperhatikan. Dia juga tak menolak sentuhan tak terkira yang datang dari Abby. Sosok yang selama beberapa bulan terakhir ini cukup sulit untuk didekati. Jangankan berinisiatif untuk memulai, Abby bahkan hanya akan diam dan menunjukkan raut keberatan saat Gara memberikan sentuhan-sentuhan kecil padanya.
"Jangan salah. Aku suka saat melihatmu bertingkah manis seperti ini. Tapi, aku juga cukup gelisah karena kamu bersikap tak seperti biasanya. Kamu sudah merasa lebih baik bukan?" Gara ikut menggenggam jemari mungil Abby hingga dua manusia itu kini saling menggenggam satu sama lain.
Abby mengangguk, "aku baik. Terimakasih sudah datang." Dia tidak akan bertanya mengenai alasan Gara berada di kamarnya sekarang, karena itu pasti ada kaitannya dengan Juna. "Apa Kak Juna tidak ada di rumah?" Abby ingin melepaskan tangannya dari genggaman Gara, tapi lelaki itu sepertinya enggan. Terbukti dengan kaitan tangan mereka yang malah semakin kuat.
"Dia pergi ke luar kota untuk beberapa hari. Jadi dia memintaku untuk datang." Gara menaikkan pandangannya, sehingga kini dia bisa kembali menatap wajah Abby yang sialnya begitu cantik meski dalam keadaan pucat.
"Hm, aku mengerti. Kak Juna memang selalu sibuk, dia harusnya mengambil jatah libur nanti." Abby memijat keningnya yang terasa agak pening dengan tangan kiri yang bebas dari genggaman Gara. "Maaf karena merepotkanmu. Dan.. terimakasih."
Sadar kalau Abby merasa tidak nyaman dengan rasa sakitnya, Gara segera bergerak. Lelaki itu mempersempit jarak di antara keduanya lalu membawa tubuh Abby agar bersandar di pelukannya. Setelah itu, Gara memijat kening Abby perlahan dan hati-hati.
Abby sebenarnya memiliki keinginan kecil untuk menolak. Namun dia sadar kalau selama ini dirinya terkesan agak acuh dengan perhatian yang Gara berikan. Maka dari itu, kali ini dia akan membiarkan semuanya berjalan seperti seharusnya. Dia sendiri yang menyetujui ucapan Gara untuk memperbaiki hubungan mereka kala itu, jadi dia tidak mungkin terus menghindar.
Sedangkan Gara tidak bisa untuk tidak tersenyum lebar saat merasakan tubuh Abby yang merapat padanya. Dia senang karena akhirnya perempuan itu mau membuka diri.
"Terimakasih, Abby." Untuk kesempatan kedua yang perempuan itu berikan, Gara benar-benar berterimakasih. "Dan..maaf." Untuk semua perlakuan buruk di masa lalu yang banyaknya tak bisa dihitung menggunakan jari.
Abby terdiam untuk beberapa saat. Sebenarnya, hati dan pikirannya akan lebih aman bila membuang semua hal tentang Gara. Mengedepankan egois agar hidupnya tak rusak untuk yang kedua kali.
Namun mengingat nasihat Juna, melihat kesungguhan Gara, juga menyadari kalau pemilik tubuh ini berhak bahagia, maka Abby akan kembali bertaruh pada nasib. Berharap takdir akan memberinya jalan yang tak terlalu berliku dan berlubang.
"Gara.."
"Hm?"
__ADS_1
"Mungkin aku harus mengingatkanmu akan satu hal." Abby terpejam, menikmati buaian tangan Gara yang mengusap kepala juga punggungnya.
"Apa itu?"
"Jika nanti kamu melakukan kesalahan yang sama, entah itu disengaja atau tidak, maka di situ aku benar-benar akan menghilang." Pergi tanpa pamit adalah hal yang akan Abby lakukan di saat hatinya sudah tak mampu menampung rasa kesedihan dan kesakitan.
Gara sempat tertegun sejenak, mencoba memasukkan kalimat Abby agar senantiasa mengisi otaknya. Setelah dirasa cukup, lelaki itu kembali mengeratkan pelukan sembari menyimpan kepalanya di sela helaian rambut Abby yang terasa wangi. "Ya, aku mengerti."
Di waktu pagi menjelang siang itu, sebuah janji dan sumpah telah terucap dari dua insan yang memutuskan untuk kembali bersama. Berjuang agar benang takdir yang hampir putus itu kembali bersua.
Entah itu buruk atau tidak, Abby maupun Gara harus sama-sama siap menerima.
. . .
TBC
Selamat malam teman-teman. Saya harap kalian tidak mual membaca bab yang dipenuhi dengan adegan manis seperti ini. Maaf. -_-
Mungkin ke depannya saya akan lebih sering up cerita ini di malam hari. Hehe.
Terimakasih untuk dukungan dan cinta dari teman-teman. Semoga sehat selalu. Jangan lupa vote dan komentarnya! ^_^
Salam,
Nasal Dinarta.
__ADS_1