
Hujan deras mengguyur ibukota. Kala itu, Abby sedang melangkah di tengah koridor rumah sakit dengan pakaian sederhana miliknya. Hanya celana kain dengan sweater berwarna krem yang membungkus tubuh rampingnya. Sesekali, dia akan memasang senyum tipis saat berpapasan dengan orang-orang yang menyapanya dengan ramah.
Sebenarnya, Abby merasa canggung jika harus berjalan seorang diri, apalagi niatnya datang ke tempat tersebut adalah untuk menemui seseorang. Namun karena Erik menolak tegas ajakannya dan lebih memilih menunggu di kantin rumah sakit, maka terpaksa dia masuk tanpa teman.
Tangan kirinya menjinjing dua bingkisan, sedangkan tangan kanannya menggenggam sebuah ponsel mahal yang tak lain adalah miliknya. Jemarinya bergulir, menekan ikon pesan dan langsung menampilkan percakapan terakhirnya dengan Juna. Kakaknya itu tengah memberitahu di mana letak kamar yang sedang Abby tuju.
Kabar bagusnya, Abby tidak harus menaiki lift karena ruangannya berada di lantai satu. Tidak sampai lima belas menit sejak dia turun dari mobil tadi, kakinya kini sudah berhenti melangkah. Keningnya sedikit mengerut saat melihat kehadiran Juna yang seperti tengah menunggu kedatangannya. Lelaki itu berdiri sembari bersandar pada dinding koridor. Wajahnya menunduk dengan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Pakaian lelaki itu masih sama dengan yang dia gunakan pagi tadi sebelum bekerja. Bedanya, jas nya sudah hilang entah kemana. Hanya menyisakan kemeja putih yang lumayan mencetak tubuh kekarnya. Abby mendengus lirih saat melihat beberapa perawat wanita memperhatikan Juna dengan senyuman malu dan wajah memerah.
Abby sudah berada tepat di depan Juna yang kini tengah menaikkan pandangan ke arahnya, "Kakak, kamu terlihat seperti seorang penakluk wanita." Ujarnya dengan wajah mencemooh yang tidak bisa disembunyikan.
Yang disindir hanya tersenyum tipis, sangat tipis sampai orang-orang tidak akan melihatnya jika tidak memiliki mata yang tajam. "Aku memang tampan, terimakasih." Jawab Juna ringan membuat sang adik tidak bisa untuk tidak memutar kedua bola matanya.
Juna melirik bungkusan di tangan Abby, "oh lihat, adikku ini datang untuk menjenguk tunangannya. Sungguh perhatian sekali." Giliran lelaki itu yang menang sekarang.
Perempuan itu mencebik, "memangnya dia benar sakit?"
"Coba lihat di depan pintu apa sekarang kita berada, Abby?" tunjuk Juna pada plang kecil di atas kepala mereka.
Abby yang kebingungan manut saja mengikuti arah mata Juna. Dalam hati, perempuan itu membaca perlahan.
(spesialis kedokteran jiwa)
"Apa Gara mengalami guncangan jiwa?" pertanyaan spontan itu keluar begitu saja dari mulut Abby, Juna yang mendengarnya hampir memukul kepala sang adik. Ucapan Abby terdengar mengerikan meski itu tidak sepenuhnya salah.
Juna menghela nafas kasar, "ya, anggap saja begitu." Dia belum tahu cara menyampaikan hal yang lebih tepat pada Abby mengenai kondisi Gara saat ini.
"Lalu, kenapa Kakak malah di sini? tidak menemani Gara di dalam?" aneh saja jika melihat Juna berdiri santai di sini di saat temannya tengah diinterogasi dan dihipnotis di dalam. Ya, setidaknya hal itu yang dia tahu saat seseorang yang memiliki kecemasan tengah melakukan konsultasi. Meski sebenarnya Abby belum pernah melihatnya secara langsung.
"Lalu, apa aku harus menemaninya di dalam dan bersikap layaknya seorang ibu yang perhatian?" tanya Juna dengan agak kesal. Namun, raut wajahnya berubah menjadi seringaian yang membuat Abby memicing curiga, "bukankah seharusnya kamu yang menemaninya di dalam? siapa tahu dia butuh dukungan moril dari tunangan tercintanya?"
__ADS_1
Abby melongo dibuatnya. Dia kalah untuk kedua kali dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit oleh orang yang sama. Ternyata Juna lebih menyebalkan dari apa yang dia duga.
"Kamu pasti kelelahan Kak, ucapanmu terdengar aneh. Ayo pulang saja!" Abby berkata dengan serius karena merasa Juna sedikit aneh hari ini. Apa ini efek mereka jarang bicara akhir-akhir ini karena Juna yang selalu sibuk?
Juna menggeleng, "aku serius, Abby. Masuklah!" wajah menggelikan tadi sudah berganti menjadi raut datar Juna seperti biasa. Menatap adiknya dengan netra yang tegas.
"Apa?"
"Aku sudah berbicara dengan dokternya. Dan kamu boleh masuk, asal jangan terlalu berisik karena sesi terapinya masih berlangsung." Sepertinya Juna tidak bercanda, Abby bahkan bisa merasakan ketidaknyamanan di hatinya saat mendengar ucapan Juna.
Perempuan itu terdiam sejenak, memangnya apa yang bisa dia lakukan di dalam sana? melihat dokter yang tengah mengobati pasiennya, seperti orang yang tidak memiliki pekerjaan lain begitu?
"Memangnya apa yang bisa kulakukan di sana, Kak?" tanya Abby tidak mengerti. Dia tidak paham dengan maksud Juna.
"Gara sepertinya membutuhkanmu sebentar lagi." Kalimat itu terdengar ambigu, apalagi Juna seperti sengaja tidak melanjutkan ucapannya membuat Abby kesal bukan main.
"Tidak, terimakasih. Kakak saja yang masuk sana!" perempuan itu malah mendorong tubuh kekar Juna agar lebih dekat pada pintu masuk. Dan tentu saja kekuatan Abby tidak apa-apanya. Lihatlah tubuh tinggi dan besar Juna yang tidak bergeser sedikitpun dari tempatnya meski Abby sudah mengeluarkan tenaga semampunya.
"Aku pikir Gara dalam kondisi yang sedikit baik meski sedang berada di di rumah sakit, jadi aku ke ini karena ada hal yang ingin aku tanyakan padanya. Tapi siapa sangka jika aku malah berdiri di depan ruangan ahli kejiwaan?" kalau sudah begini, Abby tidak mungkin memaksa masuk dan mengedepankan keinginannya sekarang. Dia bisa mengajak Gara bicara lain kali.
"Aku titip ini saja. Mungkin aku akan kembali lain kali setelah kondisinya membaik." Abby menyerahkan dua bingkisan di tangannya ke arah Juna, sayangnya sang kakak hanya diam memandangnya dengan ekspresi rumit.
"Abby, kamu benar-benar tidak ingin melihat kondisinya?"
Abby menggeleng, "tidak." Tidak perlu. Memangnya untuk apa?
"Kamu tidak khawatir dengan keadaan Gara?" Abby adalah orang yang paling sibuk saat mendengar Gara tumbang atau sakit sebelumnya. Adiknya itu bahkan tidak peduli jika harus tampil acak-acakan asal bisa segera melihat Gara. Dengan senang hati dan penuh kelembutan, Abby akan merawat Gara layaknya seorang ibu. Meski pada akhirnya akan kembali mendapat penolakan dari Gara. Jadi, melihatnya begitu santai dan tenang saat Gara sakit seperti ini, Juna tidak bisa untuk tidak berpikir aneh. Ada yang salah dengan otak Abby sepertinya.
Abby bingung bagaimana menjawabnya. Dia memang lumayan khawatir, mungkin itu karena bawaan tubuh ini yang terbiasa memberikan perhatian sekecil apapun pada Gara. Tapi selain itu, Abby tidak memiliki hal lain yang harus diperhatikan. Otaknya lebih dulu berjalan, untuk apa dia bersikap peduli pada seseorang yang selalu menyakitinya di masa lalu?
__ADS_1
Melihat Abby yang bingung seperti tengah perang dengan batin dan otaknya sendiri, Juna kembali menghela nafas. Dia agaknya mengerti dengan kebingungan yang mendera Abby sekarang.
"Aku pernah mengatakan satu hal penting padamu waktu itu, Abby." Juna kembali menarik kesadaran adiknya. Dan berhasil, kini perempuan itu menatap ke arahnya dengan wajah bingung.
"Aku ingin kamu melihat satu hal yang selama ini Gara sembunyikan. Aku tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari karena tidak mengetahui ini. Dan sekarang adalah waktunya. Kamu mengerti maksudku bukan?"
Kerutan di kening Abby semakin banyak. Dia sedang dilema. Perempuan itu bahkan tidak menyadari kehadiran orang lain di sana saking seriusnya memikirkan ucapan Juna.
"Selamat siang. Sudah waktunya Anda kembali, Pak." Itu adalah Damar yang datang dengan pakaian rapinya. Sepertinya sekretaris Juna itu datang kemari karena ingin mengingatkan jadwal sang atasan yang padat. Wajar saja, mungkin Juna kabur dari kantor karena ingin melihat kondisi temannya secara langsung.
"Hm, baiklah." Jawab Juna datar, matanya kembali melirik ke arah Abby yang masih diam menunduk. "Sana masuk! untuk kali ini, tolong ikuti ucapanku, Abbysca." Lelaki itu menepuk kepala sang adik dengan pelan, kemudian memberikan usapan lembut di sana sebelum pergi.
"Saya pamit, Nona Abbysca. Selamat siang." Damar mengikuti langkah Juna setelah memberi salam pada perempuan cantik yang merupakan adik dari atasannya itu.
Abby tidak menjawab, dia hanya diam memperhatikan keduanya yang semakin mengecil dari pandangan.
"Hah.." dia menghela nafas pelan. Matanya beralih pada bingkisan di tangan, lalu menatap pintu di depannya yang sedikit terbuka.
Haruskah dia masuk agar dapat memastikan ucapan Juna?
Atau sebaliknya dia pergi menuruti egonya?
. . .
TBC
Selamat malam. Ketemu lagi setelah satu hari kemarin saya menghilang. Mohon maaf teman-teman, semoga tetap setia menunggu. Terimakasih untuk dukungan dan cinta dari para pembaca. ^_^
Salam,
__ADS_1
Nasal Dinarta