
Karena tak dapat menemukan Gara dengan mudah di antara kerumunan orang-orang yang sedang berkumpul bersama, Abby memutuskan untuk pergi ke taman demi menenangkan diri. Sebenarnya, dia tidak terlalu terganggu dengan ucapan Karina, namun entah kenapa dia hanya ingin memberi perempuan sombong itu sebuah pelajaran.
Terbiasa dimanja dan dipenuhi segala keinginannya sejak kecil sepertinya membuat Karina besar kepala dan bertingkah sesuka hati. Khas dari seorang perempuan yang tumbuh dalam lingkungan keluarga kaya raya. Tak bisa dipungkiri kalau Abbysca pun dulunya memiliki sifat seperti itu sebelum dirinyalah yang mengambil alih hidupnya.
Abby menghembuskan nafas kasar disertai dengan pandangan yang mendongak ke arah langit malam. Baguslah, malam ini tidak mendung seperti malam-malam sebelumnya. Hatinya sedikit terenyuh saat melihat rasi bintang yang nampak sama, persis seperti dulu saat dirinya melihat pemandangan langit malam di kehidupan sebelumnya.
Wajah yang berbeda, hidup yang berbeda, garis takdir yang berbeda, namun masih menginjak bumi yang sama. Rindunya akan 'rumah' terasa sedikit terobati.
Perempuan itu menurunkan pandangan ketika merasakan hawa dingin yang cukup menusuk kulitnya. Meski Abby tidak mengenakan pakaian terbuka, namun dia juga tak melapisi tubuhnya dengan baju hangat.
Gerakan tangannya yang sedang mengusap-usap lengan sendiri terhenti saat melihat sepasang sepatu mungil yang tiba-tiba muncul di depannya. Abby langsung saja menoleh pada si empunya sepatu, dan cukup terkejut karena wajah itu bukan sosok yang asing.
"Hei, kamu di sini juga?" tanya Abby pada gadis kecil yang masih betah berdiri di depannya. Tak seperti saat pertemuan mereka di panti- di mana gadis kecil itu membawa sebungkus bingkisan, kali ini anak itu menjinjing sebuah boneka beruang berukuran kecil dengan warna coklat tua.
Si anak memiringkan kepalanya, "kenapa harus taman lagi?"
Abby yang tidak mengerti sontak mengerutkan kening, "apa maksud kamu?" melihat tidak ada tanda-tanda gadis kecil itu akan menimpali ucapannya, Abby melanjutkan, "ayo duduk di sebelahku!" sembari menepuk tempat kosong di sampingnya.
Bagusnya, gadis kecil itu tidak menolak. Meski agak kesusahan karena tubuh pendeknya, anak tersebut tetap berusaha naik ke atas bangku yang Abby duduki. Dan berhasil di percobaan kelima.
"Baiklah, sekarang katakan padaku! kenapa kamu bisa ada di sini? apa kamu datang bersama ibu panti?" tanya Abby cukup penasaran. Gadis kecil ini adalah penghuni panti asuhan yang beberapa hari yang lalu mereka kunjungi, adalah hal yang sedikit aneh melihat anak tersebut berada di acara ini kecuali bersama pengasuhnya yang mungkin saja juga diundang. Atau, ada kemungkinan lain seperti, "apa kamu datang bersama orang tua barumu?"
Gadis kecil itu hanya menjawab dengan gelengan, dia menunduk- menatap kedua kaki Abby yang disilangkan. Setelah termenung sejenak, anak itu mengikuti gaya Abby dan kembali menatap ke arah depan. "Kenapa Kakak sendiri?"
"Aku sedang ingin menyendiri."
"Em, apa itu semacam penjernihan pikiran?"
Abby terkekeh, "darimana kamu tahu bahasa seperti itu?"
"Aku cukup sering mendengarnya saat kakakku ingin sendiri dan tak bisa menemaniku bermain."
"Oh..kamu punya kakak?"
Gadis kecil itu mengangguk, "kakak laki-laki, aku sangat menyayanginya." Senyum manis terpancar di bibir mungilnya.
"Apa kalian sama-sama tinggal di panti?"
Anak itu tidak menjawab, hanya diam menatap Abby dengan mata yang seolah ingin menyampaikan sesuatu. Namun Abby sendiri tak mempermasalahkan hal itu. Menurutnya, sangat wajar bagi seorang anak kecil untuk menjawab atau tidak sebuah pertanyaan yang diajukan. Itu tergantung suasana dan keinginan hatinya.
"Bonekamu bagus, darimana kamu mendapatkannya?" Abby melirik boneka kecil yang sejak tadi anak itu peluk.
__ADS_1
Dahi mungil gadis itu mengerut saat menatap Abby, "kenapa bisa lupa? bukankah kakak laki-laki yang memberikannya?" malah bertanya balik.
Abby bengong, "ha?" perempuan muda itu berkedip beberapa kali saat menatap si gadis kecil dengan boneka tersebut secara bergantian. Dia tidak mengerti dengan maksud perkataannya.
"Kamu ini bicara apa? kakak laki-laki mana yang kamu mak-"
"Abby!"
Panggilan rendah dari seseorang yang sangat dikenalnya membuat Abby menghentikan ucapan dan langsung menoleh ke arah suara. Di sana, Gara berjalan dengan agak tergesa dan nafas yang sedikit tersengal.
"Gara."
"Ck, kamu di sini ternyata. Aku mencarimu ke mana-mana." Meski nada suaranya datar, namun lelaki itu sepertinya memang khawatir.
"Maaf, aku tidak bisa menemukanmu tadi. Jadi, aku ke sini saja." Abby mendongak, menatap Gara yang kini sudah berdiri menjulang di depannya.
Gara belum menjawab, dia malah mengangkat tangannya untuk mengelus pipi Abby yang terasa dingin di jemarinya. "Sudah berapa lama kamu di sini? tidak takut sendirian?" tanyanya dengan ketus, namun ucapannya berbanding terbalik dengan tindakannya yang saat ini tengah melepaskan jas hitam yang sejak tadi melekat di tubuhnya. Setelah itu, Gara menyimpannya di bahu Abby. Perempuan itu pasti kedinginan.
Abby sedikit menunduk untuk menyembunyikan rona merah di pipinya, entah kenapa akhir-akhir ini dia sering merasa malu saat menghadapi perhatian Gara yang begitu kentara. "Terimakasih."
Tak lama, perempuan itu mendongak saat mengingat sesuatu. "Aku tidak sendiri, anak ini menemaniku." Tunjuk Abby pada sosok di sampingnya. Namun sayang, orang yang dimaksud sudah tidak ada. Hanya udara kosong yang ada di sana.
"Anak?" Gara membeo. Apa tunangannya ini sedang melantur? tak ada siapapun di sana selain mereka berdua. "Aku rasa di sampingmu tidak ada siapa-siapa." Lanjutnya sembari menatap Abby dengan terlampau datar.
Melihat raut bingung di wajah cantik Abby, Gara tentu saja ikut merasa bingung. Namun rasa khawatirnya tentang udara dingin di sana lebih besar. "Sudah, lupakan saja! ayo kita pulang!"
"Gara, aku tidak berbohong. Tadi ada anak kecil yang menemaniku bicara, dia bahkan membawa sebuah boneka." Abby terlihat yakin dengan pendiriannya. Dia tidak mungkin bermimpi tadi.
Tidak ingin memperpanjang masalah, Gara akhirnya mengiyakan. "Baiklah, mungkin tadi memang ada anak kecil di sana. Tapi dia langsung pergi setelah melihatku." Lelaki itu memberikan pernyataan yang cukup masuk akal.
"Kenapa dia harus pergi?" tanya Abby.
"Mungkin karena dia takut melihatku?" timpal Gara dengan asal.
Abby cukup kesal, "Gara!"
Gara memalingkan wajah, baru kali ini dia merasa kesulitan saat menghadapi orang lain. Dia tidak menjawab salah, memberikan jawaban pun masih salah juga. Apakah perempuan memang memiliki pemikiran yang rumit? sulit dimengerti.
"Abbysca, ayo pulang! di sini dingin." Setelah kembali mendapatkan ketenangannya, Gara akhirnya kembali membuka suara. Nadanya terdengar lebih tegas dan tak ingin dibantah. Sengaja, agar Abby segera mengikuti keinginannya.
Dan seperti yang Gara tebak, Abby terlihat cukup kaget dengan perubahan ekspresi di wajah lelaki itu. Meski bibirnya agak mencebik, namun Abby tak mengatakan apapun.
__ADS_1
Dengan linglung, Abby mengikuti langkah Gara yang memimpinnya menuju arah luar. Merasakan suasana yang agak sepi, perempuan itu lekas bertanya, "apa acaranya sudah selesai?"
Gara menggeleng, "hampir semua orang berada di dalam karena acara intinya sedang dimulai."
"Lalu, apa tidak apa-apa kalau kita pulang sekarang?" akan sangat tidak sopan jika pulang sebelum acara selesai.
"Lalu, apa aku harus tetap berada di sana setelah apa yang perempuan itu lakukan padamu?" Gara menghentikan langkah di saat keduanya sudah sampai di halaman luas yang diisi oleh puluhan mobil mewah.
Abby yang ikut berhenti menatap Gara dengan pandangan tidak enak, "maaf, aku tidak bermaksud untuk mengatakan hal jelek padanya. Sebenernya, tadi aku-"
"Aku tahu." Sela Gara lebih dulu. "Aku tahu semuanya, jadi jangan menyalakan dirimu sendiri! aku juga marah dengan apa yang dia ucapkan. Namun aku dapat meyakini seratus persen kalau kalimat yang keluar dari mulut perempuan itu salah."
Perempuan cantik yang sedang mengeratkan jas tebal Gara di tubuhnya itu hanya diam dengan senyuman tipis. Membiarkan Gara menjelaskan hal yang sebenarnya tak perlu dijelaskan.
"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Amanda. Lalu, untuk apa aku menceritakan hal tentang dirimu padanya?" Gara menghela nafas kasar dengan mata yang menyorot tajam, "anak perempuan Mahesa itu cukup berani karena menyinggung dirimu dengan terang-terangan."
Tidak seperti yang Gara bayangkan, Abby malah terkekeh kecil seolah baru saja mendengar hal yang lucu.
Gara mengernyit heran, "kamu masih bisa tertawa?"
"Dua perempuan itu hanya tertarik padamu, jadi mereka mencoba menjatuhkan aku. Itu hal yang cukup normal di kalangan kami." Abby mengibaskan tangan, "untung saja aku tidak segila mereka saat mengejarmu dulu."
"Ayo pulang!" ajaknya berjalan mendahului Gara yang malah diam.
Untuk beberapa detik, Gara terlihat merenung. Mungkin sedang memikirkan ucapan Abby. Hatinya tiba-tiba merasa sempit dan sesak saat memikirkan perjuangan Abby yang selalu mendekatinya dengan berbagai cara, namun pada akhirnya hanya mendapatkan penolakan darinya.
Ya, seperti apa yang perempuan itu ucapkan. Meski selalu bertindak berani saat memperjuangkan cintanya untuk Gara, Abby tak pernah sekalipun mencari kelemahan lawan di saat tahu kalau ribuan wanita di luar sana juga menginginkan Gara. Abby hanya berusaha dengan apa yang dia miliki dan di jalan yang memang seharusnya dia tempuh.
Jadi, jika dibandingkan dengan dua perempuan setengah gila itu, kewarasan Abby masih bisa dipertahankan.
"Dan aku begitu mencintainya. Hah, bagiamana ini?"
. . .
TBC
Selamat pagi teman-teman. Apa kabar? sudah tiga hari kita tidak bertemu, semoga sehat selalu.
Terimakasih bagi teman-teman yang selalu setia menunggu update terbaru dari cerita ini, juga bagi teman-teman yang selalu meluangkan waktunya untuk memberikan dukungan.
Semoga tidak ada yang bosan dengan cerita ini. Jangan lupa vote dan komentarnya!
__ADS_1
Salam,
Nasal Dinarta.