
Abby meninggalkan ruangan kerja Juna tanpa satu kata patahpun setelah kakaknya itu menohoknya dengan kalimat yang cukup menyakitkan. Dari semua hal terburuk yang pernah Juna lakukan padanya di masa lalu, Abby tak pernah menduga kalau perkataan jahat itu akan keluar juga. Sudah sejauh mana kebencian Juna padanya saat ini?
Netranya menajam saat melihat seorang perempuan yang akhir-akhir ini dekat dengan Juna, tengah tersenyum tipis di balik layar komputer di depannya. Entah apa yang sedang Andita lakukan dan pikirkan, namun Abby cukup tidak menyukai kehadiran perempuan itu. Auranya begitu gelap, Abby bahkan bisa merasakan berbagai emosi negatif yang mengelili Andita.
Dan jangan salahkan Abby kalau dirinya menjadikan Andita sebagai salah-satu penyebab perubahan besar Juna. Karena sejauh ini, intuisinya jarang meleset.
Dengan kejengkelan yang mencokol di hati, Abby mendekati meja Andita yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari pintu masuk ruangan Juna. Tanpa mengatakan apa-apa, perempuan cantik itu berdiri angkuh dengan pandangan datar sambil menunggu Andita menyadari kehadirannya.
Tak lama, karena sekretaris kesayangan kakaknya itu dengan cepat menyadari kedatangan Abby.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona Abbysca?" tutur katanya begitu lembut dan sopan, membuat orang yang mendengarnya akan mudah luluh dan terbujuk. Sayang, Abby bukan bagian dari mereka yang berotak dangkal. Dia jelas dapat melihat perubahan ekpresi di wajah Andita yang sedang berusaha untuk disembunyikan.
"Sampai kapan kamu akan menggunakan topeng?" tanya Abby langsung pada intinya.
Andita terhenyak untuk sesaat, "maaf?"
__ADS_1
Abby cukup senang saat melihat perempuan di depannya kehilangan ketenangan untuk sesaat. Hanya tinggal menunggu waktu, maka semua ketenangan itu akan musnah dengan sendirinya.
"Memasang wajah polos dan lugu, bersikap baik dan lemah lembut. Kamu mengingatkanku dengan seseorang di masa lalu. Begitu naif, munafik dan manulatif." Abby tak merasa perlu repot-repot untuk menutupi ekspresi mengejek di wajahnya. "Entah sudah berapa banyak rencana-rencana busuk yang kamu susun di otakmu itu."
Abby mendengus sebal seraya memperhatikan kedua tangan Andita yang saling terkepal di sisi tubuh. Diam-diam, dia juga melirik ibu jari Andita yang terlihat agak membiru. Sudah dia duga, perempuan itu memang sengaja melakukannya. Dia akan mencari waktu yang tepat untuk melakukan penyelidikan secara diam-diam nanti.
"Katakan padaku, seberapa besar keinginanmu untuk menjadi seorang Nyonya Anggara sehingga membuatmu melangkah sejauh ini?"
Wajah Andita memerah, entah karena malu atau marah, Abby tidak peduli. Yang pasti, melihat seorang musuh tak berdaya untuk melawan, menjadi pemandangan yang menarik bagi Abby. "Tidak bisa menjawab karena ada yang mengetahui niat busukmu, atau tidak mau menjawab karena sedang menyusun rencana lain untuk menghancurkanku?"
"Cukup, Nona! saya tahu kalau Anda tidak menyukai saya, tapi kata-kata Anda begitu keterlaluan. Saya bisa melaporkannya pada Pak Juna karena ini termasuk fitnah." Ujar Andita dengan raut wajah yang sendu dan mata yang berkaca-kaca. Tak lama, air mata perlahan menuruni pipinya yang penuh dengan riasan palipurna. "Saya bahkan tidak tahu di mana letak kesalahan saya, saya juga yakin kalau kita tidak pernah saling bersinggungan sebelumnya. Lantas, apa alasan Anda berkata kasar seperti itu kepada saya?" Lanjutnya mengiba, penuh dengan kesedihan.
Lalu, apa Abby merasa kasihan? tentu saja tidak. Raut wajahnya bahkan tak berubah sedikitpun sejak tadi. Hanya datar dengan tatapan menilai, mengakui kehebatan Andita yang begitu mulus dalam memerankan sosok protagonis yang teraniaya dan menjadikan Abby sebagai antagonisnya.
"Laporkan saja, laporkan apa yang aku katakan barusan pada pujaanmu itu!" Abby menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu memberikan senyuman miring yang terlihat sinis. "Terus racuni dia dengan kata-kata dan perlakukanmu! karena saat kamu sudah merasa di atas awan nanti, aku akan ada di sana untuk menerjunkanmu sampai dasar jurang."
__ADS_1
Mata yang memerah itu terlihat membeliak, tak percaya dengan ucapan Abby. Ternyata, selama ini Andita salah menebak. Seorang Abbysca Anggara bukanlah lawan yang mudah untuk ditaklukan.
"Kamu benar-benar terlihat seperti badut. Idiot!"
Itu adalah kalimat pamungkas Abby sebelum perempuan itu benar-benar berlalu dari sana. Langkahnya terasa lebih ringan daripada tadi. Sepertinya memberikan sedikit peringatan pedas pada penyihir itu, cukup membuat perasaannya senang.
Sedangkan Andita yang ditinggalkan, hanya bisa menganga menatap kepergian adik dari tuannya itu. Setelah membuat emosinya naik ke permukaan, Abby pergi begitu saja seolah tak melakukan apa-apa. Apa dia baru saja dipermainkan?
"Abbysca, mari kita lihat sejauh mana kemampuanmu itu." Ucapnya dengan sorot mata yang tajam. Tak ada raut kesedihan, sendu maupun teraniaya. Di sana, hanya ada amarah, kelicikan dan dendam.
. . .
28/03/2023
nasaldinarta
__ADS_1