Transmigrasi Abbysca

Transmigrasi Abbysca
Sebenarnya, Awal Itu Tak Pernah Benar-benar Menjadi Awal


__ADS_3

"Aku harap kamu tidak lupa kalau semua hal di dunia ini bersifat fana, tidak abadi."


Untuk kedua kali dalam mimpinya, Abby bisa bertemu dengan sosok Abbysca. Tak seperti sebelumnya di mana keduanya bertemu dan saling berbicara di dalam kamar. Kali ini, sebuah bukit yang baru pertama kali Abby injak namun begitu familiar adalah tempat yang menjadi pertemuan mereka.


"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, mengingat akulah orang yang hidup di dunia ini ribuan tahun lebih dulu darimu." Abby memandang Abbysca tanpa sedikitpun keraguan. Rasa wibawa dan ketegasan yang akhir-akhir ini serasa menghilang perlahan, kini kembali hadir. Sosok cantiknya begitu anggun dengan pakaian bangsawan tempo dulu yang melekat di tubuhnya.


Abbysca terlihat mendengus namun tidak menyangkal, "aku melihat jika kamu begitu terbuai akan kasih dan sayang yang mereka berikan." Abbysca kembali menimpali, "hal yang tak pernah aku dapatkan dari dua orang itu." Netra itu memancarkan kesenduan, kesepian dan juga kekecewaan.


Abby sedikit membatu di tempatnya, "sepertinya kamu benar. Aku cukup menikmati semua ini. Maaf, seharusnya kamu yang berada di sini." Perempuan itu memandang perempuan cantik di depannya dengan menyesal.


Abbysca menghela nafas sebelum menggeleng kecil, "apa yang terjadi padamu saat ini adalah apa yang seharusnya menjadi milikmu. Kalaupun itu aku, aku tidak yakin jika mereka masih bisa bersikap sama."


Abbysca memandang padang rumput hijau di depannya dengan kosong, sedangkan Abby terlihat tengah merenung. Mereka membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa diisi oleh percakapan apapun selama beberapa menit. Tak lama, Abby mengikuti arah pandang Abbysca dan seketika mengernyit. Merasa tidak asing dengan tempat yang sedang mereka pijak.


"Aku seperti pernah ke sini sebelumnya, tapi tidak tahu kapan." Celetuk Abby sembari menatap ke sekeliling, lalu menyadari kalau tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua. Sepertinya tempat ini cukup jauh dari pemukiman penduduk.


"Bukankah kamu sering menghabiskan waktumu di sini dulu?" Abbysca menoleh, menatap perempuan yang wajahnya baru bisa dia lihat dari jarak sedekat ini. Rupa seorang keturunan bangsawan asli memang tak perlu diragukan lagi. "Seperti kamu yang tinggal di tempat asalku, maka aku juga tidak akan bisa jauh dari tempat asalmu."


Ucapan Abbysca menyadarkan Abby dari lamunannya. Seketika dia ikut menoleh dan langsung mendapati wajah Abbysca yang juga tengah menatapnya. "Apa memang seperti itu?"


Abbysca mengangguk.


"Kamu hanya di sini dan tidak ke mana-mana?"


Abbysca kembali mengangguk, "lebih tepatnya, aku tidak bisa ke mana-mana kecuali pergi ke tempat di mana kamu pernah berada di sana."


Helaian rambut panjang sepinggang milik Abby berterbangan karena tertiup angin, namun perempuan itu sepertinya tidak terganggu sama sekali. Otaknya tengah mencerna apa yang Abbysca katakan. "Sebenarnya, dari mana semua hal ini dimulai?" Tanyanya entah pada siapa. Namun karena hanya ada Abbysca di sana, maka sudah berarti pertanyaan itu adalah untuknya.


"Siapa yang tahu? Aku pun sama tidak tahunya sepertimu. Hanya saja, ada beberapa hal yang mungkin sudah aku ketahui lebih dulu daripada kamu." Jawab Abbysca dengan nada yang ringan meski hal yang dia ucapkan membuat Abby hampir sakit kepala.


"Paman Hari, apa dia mengetahui banyak hal?"


Abbysca mengangguk.


"Tapi dia tidak mengatakan banyak hal padaku."


Terdengar dengusan rendah dari Abbysca, "kamu pikir aku mengetahui sesuatu dari orang itu?"


Alis tebal milik Abby sedikit terangkat, "memangnya bukan?" itu cukup mustahil karena Hari sudah lama mengabdi pada keluarga Anggara. Apa memang benar lelaki tua itu tak memberitahu banyak hal?

__ADS_1


"Seseorang yang memiliki usia yang sama dengan Paman Hari, lalu akhir-akhir ini cukup dekat denganmu. Sepertinya dia lebih bisa membantu."


Abby terdiam, tidak mengerti.


"Apa maksudmu?"


"Abby!"


"Abby!"


Netra jernih itu terbuka saat merasakan goncangan pelan pada bahunya. Dia sedikit menyipitkan mata saat cahaya lampu yang cukup terang menyerang indera penglihatannya. Abby berkedip beberapa kali sembari mengumpulkan kesadaran.


Dia menoleh ke arah samping. Di sana ada Juna yang sedang menatapnya dengan raut wajah yang agak khawatir. Perempuan itu kembali memejamkan mata sejenak, lalu tahu kalau percakapannya dengan Abbysca sebelumnya tidaklah nyata. Dia tidak benar-benar ada di sana tadi.


"Kamu terlihat gelisah saat tidur, jadi aku membangunkanmu. Apa kamu mimpi buruk?" tanya Juna perhatian sembari mengusap kening dan bagian wajah Abby yang dipenuhi keringat dengan beberapa lembar tisu. Padahal, pendingin ruangan sejak tadi tak berhenti menyala.


Abby tidak menjawab. Perempuan itu memilih untuk berusaha bangun saat rasa pening di kepalanya sudah mereda. Juna yang melihat hal tersebut, spontan membantu adiknya.


"Minumlah dulu!" lelaki itu memberikan satu gelas air putih pada Abby saat perempuan itu sudah bersandar dengan nyaman. Abby tak menolaknya sama sekali, tenggorokannya memang terasa kering. Dia mengembalikan gelas tersebut saat sudah menghabiskan hampir setengah dari isinya.


"Terimakasih, Kak." Ucap Abby. Dia menatap ke sekeliling ruangan dan tahu kalau semua orang sudah pulang. "Apa sejak tadi Kakak tidak beranjak?"


Abby sedikit linglung saat memutar kembali ingatan dalam kepalanya,"sebenarnya, itu tidak terlalu buruk. Hanya bertemu seseorang yang sudah tiada."


Juna diam mendengarkan, sesekali tangannya akan naik untuk merapikan rambut adiknya yang sedikit kusut karena baru bangun. "Apa aku mengenal orangnya?"


Anggukan kecil dari Abby adalah jawaban untuk pertanyaan Juna. Lelaki itu terlihat cukup terkejut, padahal dia hanya bertanya asal tadi. "Siapa memangnya?"


Melihat jika Abby belum menjawab, Juna melanjutkan tebakannya. "Papa?" menyebutkan satu nama yang terlintas.


Abby menggeleng.


"Mama?" hanya dua nama itu yang terlintas di kepala Juna. Seseorang yang sama-sama mereka kenali dan sudah pergi dari dunia ini adalah orang tua mereka.


Perempuan itu kembali menggeleng, namun enggan untuk menjawab. Sadar kalau Abby tidak ingin memberitahunya, Juna menyerah dan memilih untuk tidak melanjutkan percakapan mereka. "Baiklah, kamu tidak perlu mengatakannya. Tapi aku pernah mendengar satu hal yang menarik tentang bertemu dengan seseorang di dalam mimpi."


Bibir tipis itu tersenyum saat melihat Abby yang nampak menunggu kelanjutannya, "jika kita bertemu seseorang yang sudah tiada di dalam mimpi, itu berarti orang tersebut merindukan kita, atau merindukan sesuatu yang berhubungan dengan kita."


Dan Abbysca memang merindukan semuanya, Juna. Dia merindukanmu, merindukan Gara, merindukan semua orang. Dia juga terlihat sedih karena kalian semua tak pernah memberinya perhatian dan kasih sayang tulus selama hidupnya. Dan malah aku yang menikmatinya sekarang.

__ADS_1


Abby menghela nafas tanpa sadar saat hatinya merasa tak nyaman. Sesuatu yang menyengat dadanya muncul kala mengingat semua hal yang dia nikmati, dia miliki dan dia terima selama ini tak seharusnya menjadi miliknya. Dia seperti telah merebut hak seseorang yang tak seharusnya dia nikmati.


Netranya menatap Juna yang tengah mengutak-atik ponsel, lelaki itu sepertinya tidak bisa benar-benar meninggalkan pekerjaannya. Karena detik berikutnya, Juna berdiri untuk mengangkat panggilan setelah memberinya usapan lembut di kepala.


Lalu, tatapan Abby turun pada pergelangan tangannya yang terdapat jarum infus yang ditusuk dengan selang yang menggantung pada tiang. Abby merasa sedikit heran akan sesuatu. Kenapa saat otaknya memproses sesuatu tentang apa saja alasan yang menyebabkan dia datang ke dunia ini, atau setelah dia melihat sesuatu yang mengingatkannya akan masa lalu, dia selalu berakhir dengan kondisi menyedihkan?


Padahal, dia cukup sering berlatih fisik meski tak serutin dulu. Tapi seharusnya, itu memberikan sebuah efek yang baik bukan? kenapa tubuhnya malah makin lemah? kalau begini, dia tidak yakin bisa berpetualang untuk mencari jalan takdirnya sendiri. Yang lebih mungkin adalah, dia mati sebelum tahu akan kebenaran tentang kedatangannya. Itu tidak terdengar lebih baik daripada terlempar ke masa depan tanpa persiapan apapun.


"Seseorang yang memiliki usia yang sama dengan Paman Hari, lalu akhir-akhir ini cukup dekat denganmu. Sepertinya dia lebih bisa membantu."


Seolah baru saja mendapatkan pencerahan akan kerumitan otaknya, wajah cantik itu menampilkan sedikit binar saat mengingat ucapan seseorang dalam mimpinya tadi. Karena Abby yakin kalau pertemuannya dengan Abbysca bukanlah sekedar mimpi belaka, maka apa yang perempuan itu ucapkan bisa dia percayai bukan?


"Kakak."


Juna yang masih berdiri di depan kaca jendela menoleh dengan tatapan bertanya, "hm?"


"Apa aku sudah sembuh?"


Si lelaki nampak bingung namun dengan cepat menjawab, "hanya perlu istirahat selama beberapa hari. Kamu tidak diperbolehkan untuk melakukan aktifitas berat lebih dulu selama satu minggu ini." Siapa yang menyangka kalau Juna akan menjawab rinci sesuai dengan apa yang dokter katakan padanya tadi.


"Apa itu artinya aku bisa pulang?" tanya Abby lagi.


"Kamu ingin pulang?"


Abby mengalihkan mata pada pemandangan taman hijau yang terlihat segar dari balik jendela, "aku ingin menemui seseorang.." setelahnya, dia kembali menatap Juna, "..apakah boleh?"


. . .


TBC


Hallo, Selamat pagi teman-teman. Bertemu lagi dengan saya setelah terakhir update hari Jumat. -_-


Terimakasih untuk kesetiaan teman-teman yang mau menunggu dengan sabar, saya memang sedikit pusing Minggu ini. Tapi karena saya tidak ingin mengecewakan teman-teman lebih dalam lagi, saya berusaha untuk tetap update meski itu hanya satu atau dua kali dalam seminggu. Semoga teman-teman memiliki hati yang lapang agar tidak menghujat saya. Hehe. ^_^


Setelah pikiran dan hati saya kembali normal dan berjalan selaras seperti sedia kala, saya memiliki niat untuk segera menyelesaikan cerita ini agar teman-teman tidak merasa digantung lagi. Semoga segera terlaksana. ^_^


Terimakasih, jangan lupa vote dan komentarnya!


Salam,

__ADS_1


Nasal Dinarta.


__ADS_2