Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 10. Ulah Renaldo


__ADS_3

Ruangan kelas langsung hening seketika setelah mendengar sentakan dari ibu Maryam. Seluruh siswa yang ada di dalam kelas tidak ada yang berani bicara lagi karena takut mendapatkan sanksi.


“Renaldo, kamu maju ke depan sekarang dan minta maaf sama Nadia!” suruh ibu guru dengan tatapan nyalangnya pada sang ketua kelas.


“Tapi Bu, saya kan nggak ad–” Kalimat yang diucapkan Renaldo dipotong langsung oleh ibu Maryam membuat siswa itu merasa sangat kesal, tapi mau bagaimana lagi karena memang dia tanpa sengaja melemparkan tong sampah yang malah mengenai kepala siswi baru di kelasnya.


“Sebagai seorang ketua kelas, kamu harus bisa menunjukkan pada seluruh teman-temanmu bahwa saat kita telah melakukan suatu tindakan maka apapun konsekuensi dari tindakan itu harus bisa dipertanggungjawabkan karena itu akan menjadi contoh untuk siswa yang lain! Jadi sekarang Ibu tidak ingin mendengar apapun alasanmu tapi maju ke depan dan segera minta maaf sama Nadia karena kamu telah melemparkan tong sampah ke kepala siswi baru ini! Atau saya akan menyuruh orang tua kamu datang ke sekolah!” perintah ibu Maryam yang diiringi dengan sedikit ancaman walau orang tua Renaldo termasuk donatur yang lumayan banyak memberikan sumbangan terhadap sekolah Tunas Bangsa.


‘Sialan memang, tapi nggak apalah. Kan gue jadi bisa tuh ngerasain gimana kulit tuh cewek, apakah kasar karena dia bertani di desa ataukah malah lembut seperti kulit para gadis di kota ini yang selalu terawat di salon kecantikan.’ Renaldo membatin di dalam hati sembari berdiri dan melangkahkan kaki dengan sedikit malas tetapi tetap melakukannya karena tidak ingin memperpanjang masalah hingga berakibat dimarahi oleh orang tuanya.


“Sorry!” Renaldo hanya mengucapkan satu kata saja tanpa embel-embel di belakangnya seperti orang yang tidak ikhlas dalam meminta maaf, padahal jelas-jelas Nadia sampai mengaduh kesakitan akibat ulahnya.


‘Dasar orang kota, Masa iya minta maaf cuma satu kata doang? Apa jangan-jangan orang kaya nggak pernah diajarin orang tuanya cara meminta maaf kali ya?’ gumam Nadia di dalam hati dengan Pancaran mata merasa kasihan ketika melihat wajah Rinaldo.


Tentu saja Gadis itu merasa kasihan karena ternyata kekayaan tidak bisa membuat seseorang menjadi jauh lebih baik dari orang miskin seperti dirinya yang hanya tinggal di desa.


“Minta maaf itu yang tulus, Renaldo! Ulang caramu meminta maaf dan lakukan dengan tulus serta ikhlas, bukan dengan cara terpaksa seperti barusan!” titah Ibu Maryam menyuruh Ronaldo kembali mengulang untuk meminta maaf pada siswi baru itu.


‘Oh my God, kenapa gue harus berurusan seperti ini segala sih di pagi hari? Bikin mood jadi buruk aja nih, tapi kalau diperhatiin cewek kampung ini cantik juga eh!’ gumamnya di dalam hati, mencoba untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh sang wali kelas.


Renaldo akhirnya mengulurkan tangan ke arah Nadia yang langsung disambut hangat sama siswi dengan rambut berkepang dua tersebut, selaras senyum manis tersampir di wajahnya yang polos.


“Maaf Nadia,” ucapnya.


‘Gila bener ternyata telapak tangannya halus dan lembut!’ ucap Renaldo tanpa sadar berdecak kagum di dalam hati.


“Nama saya Renaldo, saya ketua kelas di lokal ini! Saya minta maaf sekali lagi karena tadi tidak sengaja melukai kepalamu sebab tujuan saya hanya ingin membuat seluruh siswa di lokal ini langsung diam dengan cara melempar tong sampah, tapi nggak taunya malah mengenai kepalamu,” ucapnya meminta maaf dengan begitu santai bahkan sudah terlihat memberikan ulasan senyum di bibirnya yang tipis.


“Huuuu, modus aja lo, Rei!” celetuk salah seorang siswi perempuan.

__ADS_1


“Halaah … palingan Renaldo hanya tebar pesona doang sama siswi baru tuh,” imbuh yang lain ikut bersuara.


“Eleeh, pakai perkenalan ngasih tau sebagai ketua kelas segala hahaha!” sela Reva mengejek.


Ibu Maryam hanya menggelengkan kepala sebab kelas yang dia pegang memang terkenal kelas yang paling nakal di antara kelas-kelas yang lainnya di sekolah Tunas Bangsa.


“Aku udah memaafkannya kok, santai aja dan makasih udah mau kenalan denganku!” sahut Nadia bernada lembut tanpa ada sedikitpun terdengar simpanan dendam lewat kalimat yang diucapkannya.


“Ya sudah kalau begitu, Renaldo kamu kembali duduk ke kursimu dan Nadia kamu bisa duduk di samping Nando!” perintah ibu Maryam pada dua siswanya yang tadi sempat berdiri di depan.


Namun, ada yang aneh sedang terjadi karena tanpa mereka sadari ada sesuatu yang berbeda saat ini pada Renaldo. Cowok itu sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya yang tadi meminta maaf terhadap Nadia.


Nadia merasa sangat risih dan mencoba menarik jemarinya yang masih digenggam erat sama Renaldo tetapi sepertinya cowok itu sedang terlena dengan lamunan sendiri hingga tidak menyadari perintah ibu Maryam yang sudah menyuruhnya duduk kembali.


‘Nggak nyangka banget gue kalau kulitnya selembut ini. Padahal tadi Gue kirain pasti telapak tangan nih cewek ada sisiknya kayak ular hahaha piton, ternyata gue malah ketagihan menggenggam jemarinya yang lembut serasa kulit bayi,’ gumam Renaldo di dalam hati sembari tersenyum sendiri.


“Maaf Renaldo, boleh minta tolong lepaskan tanganku, gak?” pinta Nadia dengan kalimat pertanyaan karena tidak ingin membuat sang ketua kelas merasa tersinggung.


“Iya, kamu nggak salah kok tapi saya yag suka melakukannya!” jawab Renaldo yang persis seolah-olah sesuai dengan jawaban dari pertanyaan Nadia, padahal cowok itu masih berada dalam lamunan panjangnya.


Pletak!


Tiba-tiba saja Roger salah seorang teman Renaldo yang juga termasuk dari anggota geng motornya, melemparkan pena yang langsung mendarat di pipi cowok itu.


“Lo itu ketagihan menggenggam tangan nya si gadis cupu itu, ya? Hahaha,” ledeknya dengan tawa terbahak.


“Cie-cie yang naggak mau lepas sama tangannya si cupu, hahaha!” imbuh Romi ikut tertawa.


Hahaha!

__ADS_1


Seluruh siswa yang ada di kelas itu akhirnya ikut tertawa melihat kelakuan Sang ketua kelas yang begitu unik kali ini, padahal beberapa bulan yang lalu juga ada salah seorang siswi pindahan baru di kelas ini tetapi Ronaldo sama sekali tidak melakukan hal yang aneh seperti sekarang.


“Waktu Riri yang cantik indah gemulai dengan tubuh tinggi semampai masuk ke kelas ini 2 bulan lalu … kenapa pak ketua kita nggak tertarik kayak sekarang ya? Curiga eke loh, jan bilang paka ketua syuka sama nih cupu,” celetuk Rido yang kalau malam hari mengubah namanya menjadi Rida.


“Renaldo! Apa kamu sudah tak bisa mendengar? Sekarang cepat lepaskan tangan Nadia dan kembali duduk ke kursimu!” geram Ibu Maryam memerintahkan sang ketua kelas agar segera kembali ke bangkunya.


Wajah Renaldo benar-benar terlihat merah karena dirinya merasa sangat malu akibat lamunannya sendiri yang terlalu panjang hingga tidak menyadari jika kejadian itu ternyata di depan kelasnya sendiri.


‘Sialan bener hidup gue, gara-gara ngehalu tak jelas, eeh ternyata malah kejadian beneran di depan kelas. Untung aja gue seorang ketua kelas, coba kalau anggota, habis pasti gue di bully sama seluruh siswa!’ rutuknya di dalam hati menggeram marah pada diri sendiri.


Akbar kembali duduk ke bangkunya yang ada di bagian paling belakang, sementara Nadia masih bingung ketika melangkah sebab ada tatapan yang tidak suka saat dirinya mendekati bangku kosong yang ada di samping Nando, persis di barisan pertama yang hanya beberapa jengkal di depannya.


“Silakan duduk di situ aja, Nadia!” Ibu Maryam kembali saat melihat siswi barunya terlihat ragu-ragu.


“Iya Bu, makasih.”


Nadia pun bersiap melepaskan tas ransel yang ada di punggungnya tetapi baru saja gadis itu ingin mendaratkan tubuh di atas kursi yang terlihat memang kosong, tiba-tiba saja sebuah permen karet bekas, dilemparkan tepat di atas bangku yang ingin didudukinya. Tentu saja sang gadis mengurungkan niatnya untuk duduk di kursi samping Nando.


‘Astagfirullah, kenapa sih mau sekolah di sini tuh ribet banget?’ Nadia merasa sedih tetapi gadis itu tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya di depan teman-teman yang baru hari ini dikenalnya.


Nadia mengangkat telunjuknya ke udara, “Maaf Ibu Maryam, sepertinya aku nggak bisa duduk di bangku ini karena baru saja ada yang sengaja melemparkan bekas permen karet!” adu Nadia dengan nada santai.


Mendengar pengaduan dari siswi barunya membuat Ibu Maryam sedikit merasa malu karena ternyata masih saja ada yang berbuat nakal di dalam kelas yang diasuhnya. Guru itu berdiri dari tempat duduknya lalu melangkahkan kaki ke arah bangku yang ditunjuk Nadia, terlihat bongkahan permen karet bekas melekat di kursi tersebut.


“Siapa yang telah melemparkan permen karet bekas ini ke bangku Nadia?” Ibu Maryam mengedarkan pandangannya ke seluruh siswa tetapi tidak ada satupun yang mau mengakuinya.


“Ya sudah, kalau tidak ada yang mau mengaku maka saya punya cara lain untuk mengetahuinya. Kelas ini dilengkapi dengan kamera CCTV dan kalian semua juga sudah tahu, jadi siapapun orang yang diketahui melakukan perbuatan ini maka bisa saya pastikan akan saya depak dari kelas ini” ancam Ibu Maryam menakut-nakuti karena hanya dengan cara itu pelakunya bisa diketahui.


“It-itu perbuatan sa-saya, Bu.”

__ADS_1


__ADS_2